Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Semuanya tidak sama lagi...


__ADS_3

Mentari mengecek penampilannya satu kali lagi,, memastikan bahwa dirinya masih cantik dengan menggunakan baju batik yang dulu dipakai sewaktu dia praktek lapangan.


"Kok agak sempit yah?" ucap Mentari.


"Di bagian dada," ucap Ujang.


"Lalu bagaimana ini Abang?" tanya Mentari dengan frustasi.


"Kamu tinggal mengulurkan jilbabmu agak dalam," ucap Ujang.


Di sekolah tempat Mentari akan mengajar diwajibkan bagi guru perempuan memakai jilbab apabila beragama Islam,, karena peraturan itu juga diterapkan untuk semua murid.


"Kamu terlihat sangat sholeha dengan berpakaian seperti itu," ucap Ujang menambahkan lagi. Memang Mentari belum tergerak hatinya untuk menutup auratnya secara sempurna, tapi bukan berarti dia suka berpakaian sempit yang menonjolkan lekuk tubuhnya, mentari selalu sopan dalam berpakaian hanya tidak menggunakan jilbab saja.


Mentari terlihat sangat manis dengan menggunakan jilbab itu,, Ujang semakin tergila-gila pada istrinya.


"Jadi Tari pakai ini saja Abang?" tanya Mentari lagi menekankan pertanyaannya sambil melihat Ujang.


"Iya untuk sementara lagian kamu kan belum masuk kelas juga hanya menemui kepala sekolah saja dulu, nanti kita beli baju dinas yang lebih nyaman," ucap Ujang.


Mentari pun mengangguk karena apa yang dikatakan oleh Ujang memang benar,, dari pagi mereka bekerja sama dalam memandikan anak-anak dan menyuapi anak-anak mereka, menyiapkan bekal dan kue, karena hari ini untuk pertama kalinya anak-anak mereka dititipkan pada ibu Mentari ketika Mentari pergi mengajar di sekolah.


"Semoga anak-anak nggak rewel yah,, Abang," ucap Mentari.


"Tenang saja anak-anak kalau sama neneknya selalu aman,, beda jika dengan kamu mereka agak rewel sedikit," ucap Ujang.


Mentari mengerti apa lagi sekarang Aqeel dan Aqeela yang mulai mengerti tentang apa itu berkelahi dengan saudara kembar sendiri,, kadang Mentari kewalahan karena baru ditinggal sedikit mereka sudah berkelahi lagi.

__ADS_1


Ujang membawa dua anaknya untuk masuk ke dalam mobil sedangkan Mentari membawa si bungsu menuju ke mobil juga.


"Setiap pagi kita akan begini terus, Tari?" tanya Ujang.


"Iya," ucap Mentari. Biasanya setelah subuh mereka pasti akan bersantai-santai tapi tidak untuk sekarang mereka mesti sibuk menyiapkan diri dan anak-anak.


"Jika kamu lelah maka kamu bisa berhenti saja untuk mengajar," ucap Ujang sambil meletakkan Aqeela duduk di depan,, di samping kursi kemudi.


"Mulai saja belum Abang masa udah lelah,, tidak mungkin," ucap Mentari.


"Atau hamil lagi?" ucap Ujang.


"Abang jangan!!!" ucap Mentari yang langsung menjadi horor begitu mendengar ucapan Ujang.


Ujang hanya tersenyum.


"Apa Ibu Mentari tidak masalah dengan gaji guru honorer yang kecil," tanya kepala sekolah di tempat Mentari akan mengajar,, kepala sekolah itu masih muda dan juga sangat ramah.


"Gaji guru honor hanya enam ratus ribu saja satu bulan,, saya ingin memastikan dulu kepada Ibu Mentari,, supaya Ibu Mentari tidak terkejut nanti saat menerima gaji," ucap kepala sekolah itu.


Mentari tersenyum dia sudah tahu berapa standar gaji guru honorer di tempatnya,, karena banyak juga teman-teman yang menjadi guru honorer karena belum lulus menjadi ASN, lagi pula niat Mentari untuk mengajar bukan untuk uang,, dia hanya ingin mencari suasana baru saja supaya dia tidak suntuk berada di rumah.


"Tidak masalah Bu,, saya tidak keberatan dengan masalah gaji," ucap Mentari.


Kepala sekolah tersebut langsung tersenyum begitu mendengar ucapan Mentari.


"Baiklah kalau begitu Bu Mentari, sekarang Ibu bisa menemui Ibu Lisna, beliau adalah wakil kurikulum di sini dan beliau yang akan memberitahu kelas mana yang akan Ibu Mentari ajar," ucap kepala sekolah itu lagi.

__ADS_1


"Baik Bu,, terima kasih," ucap Mentari dengan semangat lalu segera menjabat tangan kepala sekolah itu.


Mentari merasa dirinya begitu bahagia hari ini,,, mereka sudah sepakat untuk tiga hari pertama Ujang akan menemani anak-anak dulu selama beberapa jam,, setelah mereka lengah barulah Ujang akan pergi sampai mereka terbiasa, Mentari yang bersemangat dan Ujang yang tengah bermain dengan anak-anak tidak mengetahui sama sekali bahwa ada dua orang asing yang telah sampai di lokasi hutan jati milik Ujang.


"Apa kamu yakin kita akan melakukan ini?" tanya Doni dengan wajah yang sudah sangat pucat. Dia benar-benar tidak menyangka akan melakukan hal jahat seperti ini, hati yang mengatakan tidak mau tapi dia juga kepepet dengan keadaan, dia sangat membutuhkan uang hingga harus melakukan hal jahat seperti ini apalagi dia akan melakukan ini pada Ujang yang jelas-jelas dia tahu bahwa Ujang adalah orang yang baik dan suka menolong sesama.


Indra menatap Doni dengan tatapan mata kesal begitu mendengar pertanyaan Doni.


"Kamu jangan sampai berubah pikiran,, kamu tahu kan kalau wanita itu sudah memberikan kita DP dan sisanya sebanyak sepuluh juta akan diberikan pada kita jika pekerjaan kita telah selesai," ucap Indra sambil mengangkat jergen yang sudah berisi dengan bensin, saat ini Indra benar-benar tidak sabar untuk segera menyelesaikan perintah ini agar dia segera mendapatkan uang lalu dia akan memakai untuk berfoya-foya.


"Tapi aku benar-benar tidak tega, kamu tahu sendiri Ujang adalah orang yang sangat baik," ucap Doni lagi yang masih belum bisa untuk melakukan perintah dari wanita itu karena bagi dia ini terlalu kejam untuk Ujang.


"Kamu dengar yah ini,, kita hanya akan membakar hutannya saja dan itu tentu tidak akan membuat Ujang menjadi jatuh miskin,, dia itu punya uang ratusan juta,, aku sangat yakin dia itu orang yang kaya,, jadi kamu tidak perlu khawatir, kita ini butuh uang jadi lebih baik kita selesaikan tugas ini,, lalu kita segera mendapatkan uang dan kamu juga bisa mengobati anakmu sampai sembuh,, tanpa perlu memikirkan biayanya yang mahal," ucap Indra lagi untuk meyakinkan Doni yang terlihat masih sangat ragu-ragu melakukan hal jahat,, padahal mereka sudah sampai di lokasi,, Indra tentu tidak ingin Doni terlihat ragu dan malah akan menghambat pekerjaan mereka.


"Kamu tahu darimana kalau Ujang punya uang ratusan juta? bagaimana kalau dia tidak punya uang, kan kasihan sekarang dia sudah memiliki istri dan juga memiliki anak-anak,, kasihan!!!" ucap Doni lagi.


"Ah sudahlah!!! jangan banyak cerita ayo kerjakan cepat mumpung lagi sepi nih,, ini kesempatan kita untuk mengerjakannya, karena sebentar lagi si Azis gila itu pasti akan datang ke sini untuk bekerja," ucap Indra.


Indra tanpa pikir panjang menyiram bensin di sekeliling hutan, dalam sekali gerakan dia melempar pemantik api ke sana. Api langsung berkobar dengan besar ditambah lagi karena musim panas yang membuat rumput kering dan mudah terbakar.


"Cepat pergi dari sini bodoh!!!" ucap Indra yang kesal setengah mati karena melihat Doni yang malah berdiri dengan wajah memucat melihat api besar itu.


"Cepat bodoh!!!" ucap Indra lagi.


Doni terkejut dan langsung naik ke atas motor Indra,, api yang mereka tinggalkan itu semakin berkobar dengan sempurna.


Malang tidak dapat ditolak untung tidak dapat diraih, niat mereka hanya ingin membakar hutan tapi api malah merembet sampai ke gudang perabot lalu menjalar ke rumah peninggalan orang tua Ujang.

__ADS_1


Itu adalah sebuah musibah yang akan membuat semuanya tidak sama lagi.


__ADS_2