
Marni baru saja memarkirkan motornya,, Marni tidak menyadari sama sekali jika ada seseorang yang sedang berlari kepadanya,, lalu memeluk dirinya tanpa ampun, Marni bahkan sampai terjatuh dari motornya sendiri, sedangkan motor itu ikut menimpanya. Kesadaran Marni belum pulih seutuhnya saat dia merasakan cambang kasar bergesekan dengan pipinya saat ini. Marni benar-benar kesal berkali-kali, ditimpa motor dan ditimpa tubuh besar yang baunya minta ampun di hidung.
"Akhirnya kita bisa bertemu juga Marni,, siang dan malam aku sangat merindukan mu, tapi istriku malam merantaiku seperti gajah. Tapi sekarang tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita,, aku sangat mencintaimu Marni. Aku sudah lama menunggu saat-saat begini,, aku sudah tidak waras karena terus saja memikirkan kamu," ucap Azis.
Marni merasa perutnya langsung bergejolak mual, aroma tidak sedap dari mulut itu membuatnya ingin muntah seketika. Marni berusaha menyingkirkan Azis yang terus saja meracau mengungkapkan rasa cinta untuknya.
"Minggir," ucap Marni sambil menendang ************ Azis, pria itu langsung mengadu kesakitan. Keributan itu mau tidak mau langsung memancing kedatangan para tetangga yang lain, mereka keluar dari rumah dan sebagian lagi memaksa dirinya untuk bangun dari tidur.
"Marni, jangan pergi!!" ucap Azis sambil merangkak, Marni menarik kakinya yang terkilir akibat tertimpa motor itu, sedangkan ketiga anaknya hanya melongo melihat kejadian yang barusan terjadi itu.
"Astagfirullah halazim Azis? ini Azis? kenapa dia bisa tiba-tiba berubah seperti ini?" ucap seorang pria yang rambutnya sudah memutih datang mendekati Azis, dia sangat mengenal Azis karena sering minum kopi di warungnya.
"Ada ini?" ucap seorang wanita juga yang sudah berumur empat puluh tahunan datang mendekati Azis, sedangkan Azis masih saja terus meracau mengungkapkan rasa cintanya pada Marni.
"Aku tidak tahu juga, tapi terdengar suara ribut-ribut dan ternyata Azis," ucap salah satu tetangga juga.
"Singkirkan pria gila itu dari sini," teriak Marni kesal bukan kepalang melihat Azis yang tergila-gila padanya bukan Ujang.
"Kenapa dia bisa begini?" tanya seorang wanita yang berdaster kepada Marni.
"Mana aku tahu," jawab Marni dengan sinis.
"Dia itu laki-laki gila yang tiba-tiba muncul saja ke sini," ucap Marni lagi.
"Dia muncul ke sini karena kamu yang sudah memberikan dia guna-guna," ucap suara lain yang tidak lain adalah istri Azis yang baru datang bersama Ujang. Istri Azis dan Ujang pun segera turun lalu Ujang mendekati Azis yang masih terus saja meracau saat ini mengungkapkan rasa cintanya.
"Apa kata istri Azis itu benar, Jang?" tanya seorang kakek-kakek.
"Iya Kek,, Azis terkena guna-guna," ucap Ujang.
Laki-laki tua yang biasa dipanggil Hasim itu langsung memandang penuh tanya pada Marni, laki-laki tua itu adalah kepala adat dan sangat disegani di kampung mereka.
"Kamu benar-benar memberikan guna-guna pada Azis, Marni?" tanya Kakek Hasim.
"Mana mungkin aku mengguna-guna laki-laki jelek dan bau itu," ucap Marni semakin panas mengingat dirinya salah sasaran.
"Jaga mulutmu wanita murahan,, apa kamu tidak puas menggoda suami orang, kenapa kamu malah mengguna-guna suamiku? dia tidak tampan sedikitpun,,, tidak punya banyak uang juga,, apa yang kamu harapkan dari dia? dia tidak akan mampu membelikan bedakmu,," ucap istri Azis sambil menangis.
"Aku tidak pernah menaruh hati pada suami mu itu,,, mengapa aku mau mengguna-guna dia sedangkan berdekatan dengan dia saja aku sudah jijik," ucap Marni.
"Kalau bukan kamu siapa lagi yang mau mengguna-guna Azis tidak mungkin aku," ucap Kakek Hasim. Dia memang sudah sering mendengar hal tidak baik tentang Marni, wanita itu memang sumber keributan yang membuat orang lain selalu terganggu.
"Mana aku tau," ucap Marni marah.
__ADS_1
Marni melirik Ujang,, Ujang terlihat bungkam dia tak ingin ikut campur sedikitpun,, sedangkan istri Azis masih menangis memeluk suaminya yang masih terus memanggil nama Marni.
"Begini saja bawa dulu Azis ke rumahku,, Ujang! tolong kamu cari Kakek Soleh malam ini juga, bilang saja aku yang menyuruh dia untuk datang," ucap Kakek Hasim pada Ujang.
"Ayo bujuk suamimu supaya ikut" ucap Kakek Hasim kepada istri Azis.
"Ayo bang kita ke rumah Kakek Hasim," ucap istri Azis.
"Tidak mau,, aku mau ke rumah Marni," ucap Azis.
"Marni menunggu Abang di dalam rumah Kakek Hasim," bujuk istri Azis lagi sambil menangis.
"Benarkah?" ucap Azis dengan wajah berseri sambil memandang Marni,, sedangkan wanita itu langsung meludah ke sebelah kanan sebagai kiasan penghinaan dan rasa jijik kepada Azis.
"Iya dia menunggu Abang di rumah Kakek Hasim," ucap istri Azis.
"Baiklah," ucapan sambil bangkit lalu memandang Marni yang masih duduk di tanah, kakinya belum bisa dibawa berjalan karena rasanya sakit sekali.
Beberapa warga yang terlihat berkerumun tadi ikut Azis dan istri Azis ke rumah Kakek Hasim mereka ikut masuk,, yang tersisa hanyalah Ujang dan Marni saja. Begitu semua orang pergi Marni menangis tersedu-sedu.
"Apa yang kamu tangis kan?" ucap Ujang dingin.
"Kenapa malah Azis yang meminumnya kenapa bukan kamu," ucap Marni sambil menangis putus asa dan kalut.
"Pantas saja dua suamimu tidak pernah bertahan dengan kamu, kamu benar-benar wanita yang jahat Marni,, bahkan setelah semua ini terjadi kamu tidak menyesal sedikitpun," ucap Ujang.
"Kau benar-benar sudah tidak waras Marni,, apa kamu tidak kasihan pada ketiga anakmu,, kalau kamu seperti ini siapa yang akan mengurus mereka? berhentilah berbuat jahat Marni, apa yang terjadi adalah ulahmu sendiri kamu berhak mendapatkan hukumannya," ucap Ujang.
Marni mengusap air matanya.
"Apakah sedikit pun tidak ada rasa di hatimu untuk aku Ujang?" tanya Marni.
"Tidak!!! tidak pernah ada!!! dan tidak akan pernah ada!!! jangan gila dan bermimpi, wanita yang berhasil membuatku jatuh cinta dan aku sangat mencintainya hanya satu yaitu Mentari istriku,," ucap Ujang tegas,, lalu pergi meninggalkan Marni.
Seperti perintah Kakek Hasim dia harus pergi ke rumah Kakek Soleh malam ini juga,, pria tua yang usianya sudah hampir seratus tahun itu, dan namanya sudah sangat terkenal karena bisa mengobati orang yang terkena segala macam ilmu yang tidak beres.
Marni masih saja duduk di atas tanah,, sedangkan tiga anaknya hanya diam tidak berkutik memandang ibunya.
###########
Mentari bergerak gelisah jam sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi,, tapi Ujang belum juga pulang, Mentari bahkan belum tidur sedikitpun,, beberapa menit kemudian, suara deru motor yang Mentari sangat hafal terdengar, wanita cantik itu langsung bernafas lega.
"Alhamdulillah,, Abang pulang juga," ucap Mentari sambil mengambil helm Ujang, Ujang lalu membuka jaketnya dan meletakkan di atas kursi.
__ADS_1
"Kok belum tidur,, hem?" tanya Ujang lembut sambil menatap istrinya.
"Nggak bisa tidur Abang, jadi gimana tadi?" tanya Mentari.
"Tadi aku menjemput Kakek Soleh,, beliau sudah sepuh,, jadi agak kerepotan membawanya dengan motor, sekarang Bang Azis di rumah kakek Hasim, malam ini Bang Azis diobati,, aku tidak menemaninya,, aku khawatir istriku sendirian di rumah hanya anak-anak saja yang menemani," ucap Ujang.
Senyuman Mentari langsung merekah,, itulah kelebihan Ujang,, suaminya itu tidak pandai merayu, tapi ucapan tulusnya selalu membuat Mentari tersanjung.
"Abang mau dibuatkan kopi?" tanya Mentari.
"Tidak usah,, ayo kita tidur saja,, kamu pasti sudah sangat mengantuk," ucap Ujang sambil merengkuh bahu istrinya. Ujang dan Mentari merebahkan tubuh mereka di atas ranjang, tidak menunggu lama, Ujang langsung tertidur dia kelelahan fisik dan juga pikiran, bagaimanapun Azis adalah orang terdekat bagi dirinya,, Ujang sudah menganggap Azis itu seperti kakak kandungnya sendiri.
Mentari mengamati wajah pria itu,, pria yang sudah hampir menemaninya dua tahun itu dalam suka dan duka, dia hanya pria sederhana jika dilihat sekilas, tapi ketika sudah mengenal dia lebih dekat, Ujang merupakan laki-laki yang sempurna. Ujang adalah cerminan seorang suami yang sangat ideal,, jiwa pemimpinnya sangat tinggi,, dia juga bertanggung jawab dan pekerja keras, pria itu tak pernah marah pada istrinya dan sangat sabar mendidik istrinya.
Ayahnya sangat hebat bisa mengenal pria itu lebih awal sehingga menjodohkan Ujang dengan dirinya. Dia wanita yang sangat beruntung,, Mentari mengelus rahang suaminya itu, mencium suaminya sekilas tapi ternyata ciuman saja tidak cukup untuk Mentari.
"Abang," panggil Mentari lirih.
"Emmm," sahut Ujang dengan mata yang masih terpejam.
"Anak-anak lagi tidur lelap,, Ayo Abang, Tari pengen," ucap Mentari.
"Abang," ucap Mentari lagi sambil menggoyang-goyangkan bahu Ujang.
"Besok saja yah, Abang ngantuk," ucap Ujang.
Mentari kesal luar biasa,, ditolak saat dirinya menginginkan lebih dulu, itu benar-benar sangat menyakitkan.
"Tahun depan saja," omel Mentari sendiri lalu membelakangi Ujang.
Ujang langsung bangun sambil tersenyum melihat istrinya itu yang sedang ngambek membelakangi dirinya. Yang benar saja tahun depan mana sanggup si Ujang.
"Ayo,, tapi Abang nggak bisa lama,, Abang capek," bisik Ujang.
Mentari langsung tersenyum senang tapi masih pura-pura ngambek.
"Sudahlah Abang tidur saja, tahun depan saja," ucap Mentari.
"Mana bisa istriku,, ayo,, nggak usah malu-malu padahal mau," ucap Ujang lagi sambil membalikkan tubuh istrinya itu agar menghadap padanya.
Ujang mencium bibir Mentari.
"Untung saja kamu lagi hamil sekarang, coba kalau tidak,, kamu yang meminta duluan tapi pasti kamu yang marah kalau hamil, aku jadi tersangkanya,,," ucap Ujang begitu selesai mencium istrinya.
__ADS_1
"Abang," ucap Mentari yang tampak menahan malu.
Ujang tertawa tahu bahwa istrinya itu pasti sedang malu, Ujang kembali menciumnya dengan penuh damba,, mereka akhirnya bercinta.