Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Pikirkan matang-matang.,,


__ADS_3

"Tolong handuk,, Tari," panggil Ujang dari dalam kamar mandi, Mentari meletakkan Aqeel ke dekat saudaranya yaitu Aqeela, salah satu kebiasaan Ujang adalah sering lupa membawa handuk ke kamar mandi dan pasti Mentarilah yang mengantarkannya.


Aqeel langsung merengek kecil saat ditinggal ibunya.


"Sebentar yah Nak,, Ayahmu minta handuk," ucap Mentari,, lalu segera mengambil handuk bersih di jemuran.


Tiba-tiba keisengan Mentari muncul, dia mendorong pintu kamar mandi yang saat ini tidak terkunci, Ujang masih asik mengguyur tubuhnya yang sangat sempurna itu.


"Woowww," ucap Mentari sambil terkikik, sedangkan Ujang yang menyadari kehadiran Mentari hanya geleng-geleng kepala saja melihat kelakuan istrinya.


"Ngintip Tari? tanggung banget! masuk aja terus kita lanjutkan yang enak-enak!" ucap Ujang.


"Isshh Abang,, lagian kalau Tari langsung masuk nggak wooww lagi," ucap Mentari sambil menyerahkan handuk itu kepada Ujang.


"Kamu ada-ada saja,, siapkan baju kemeja ku yah,, Tari,," ucap Ujang.


"Abang mau ke mana?" tanya Mentari.


"Ada acara di kantor camat, penyambutan mahasiswa KKN," ucap Ujang sambil mengusap rambutnya dengan handuk lalu melilitkan benda itu ke pinggangnya.


Mentari langsung mengekor ke belakang suaminya.


"Ada mahasiswa KKN yang akan datang ke desa kita?" tanya Mentari.


"Iya," jawab Ujang.


"Wah itu sangat bagus Abang,," ucap Mentari.


"Bagus kenapa?" tanya Ujang.


"Setidaknya ada program dari mereka yang akan membuat kemajuan pada Desa," ucap Mentari.


"Mudah-mudahan saja," ucap Ujang.


"Kapan acaranya Abang?" tanya Mentari.


"Jam sembilan pagi ini," jawab Ujang.


"Andaikan Tari bisa ikut," ucap Mentari.


"Yakin mau ikut,, Tari?" tanya Ujang.


"Iya kalau bisa Abang," ucap Mentari.

__ADS_1


"Tentu bisa,, kita titipkan si kembar dulu," ucap Ujang sambil tersenyum dan mengelus lembut rambut istrinya.


Mentari pun tersenyum senang.


"Baiklah Abang,, aku mau siap-siap dulu," ucap Mentari yang sangat bersemangat. Entah mengapa Mentari sangat senang ketika dia bertemu dengan mahasiswa yang memakai almamater, dia merasa seperti tengah bernostalgia saja, rasanya sudah lama sekali,, merasakan masa-masa kuliah yang begitu mengesankan, apalagi masa KKN,, Mentari menganggap itu adalah masa-masa yang sangat berkesan yang dilakukannya dulu. Dulu dia di tempatkan di wilayah yang berada di pesisir,, hasilnya setiap sore dia pasti akan pergi bermain-main di pantai bersama teman-teman KKN nya, bahkan dia juga menemukan orang tua angkat yang begitu sangat menyayangi dirinya.


"Tari,, kemarin Pak Lurah nanya," ucap Ujang sambil menyisir rambutnya.


"Apa katanya?" tanya Mentari.


"Rumah kita bisa dijadikan posko nggak? karena rumah kita besar," ucap Ujang.


"Iya kan saja Abang," ucap Mentari dengan sangat antusias.


"Kamu yakin, Tari? mereka satu kelompok ada sembilan orang," ucap Ujang.


"Tidak apa-apa,, mereka dari universitas mana Abang?" tanya Mentari.


"Mereka junior mu," jawab Ujang.


"Terima saja Abang,, supaya Tari memiliki teman, berteman dengan mahasiswa itu sangat menyenangkan kami bisa saling bertukar pikiran dan membicarakan banyak hal," ucap Mentari.


"Kamu benar-benar yakin, Tari?" tanya Ujang yang sebenarnya tidak yakin akan hal ini,, karena mereka cukup banyak,, apalagi istrinya sedang mengandung saat ini.


"Baiklah!" ucap Ujang yang akan menuruti keinginan istrinya.


Mentari sangat bersemangat, rasanya saat mengingat kampusnya itu, ada kerinduan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bahkan saat acara serah terima dari pihak kampus ke kecamatan,, Mentari sama sekali tidak mengeluh bosan, dia terlihat begitu antusias mengikuti acara dari awal sampai akhir.


"Rasanya baru kemarin Mentari juga diantar oleh dosen menuju ke tempat KKN, sekarang Tari sudah akan menjadi ibu dari tiga orang anak," ucap Mentari kepada Ujang, di sela-sela acara penutupan itu.


"Mau KKN lagi, Tari?" ucap Ujang sambil tersenyum gemas menatap istrinya itu.


"Mana bisa, Abang?" ucap Mentari.


"Bisa, almamater kamu masih ada kan?" tanya Ujang.


"Ada di rumah Ibu," jawab Mentari.


"Nah nanti kamu pakai saja pas mau ke rumah, pura-pura jadi mahasiswa dan anggap rumah kita adalah poskomu, akan tetapi itu pasti akan sangat lucu, kamu memakai almamater yang tidak bisa dikancingkan karena perutmu yang besar," ucap Ujang.


Mentari hanya mendengus kesal dengan ide tidak masuk akal dari suaminya itu.


"Nggak lucu Abang," ucap Mentari.

__ADS_1


"Tadi katanya mau KKN lagi?" ucap Ujang.


"Kan itu cuma andaikan Abang,, nggak serius tahu," ucap Mentari.


"Ya sudah KKN sama aku saja," ucap Ujang.


"Apa itu?" tanya Mentari.


"Tidur berdua," ucap Ujang.


"Isssh Abang," ucap Mentari sambil mencubit lengan suaminya itu, Ibu-ibu yang berada di sebelah Mentari langsung mengulum senyumnya,, pasangan yang sangat lucu dan romantis menurutnya.


Sebelum pulang ke rumahnya,, Mentari pergi menjemput Aqeel dan Aqeela dulu di rumah ibunya, Mentari menceritakan betapa senangnya dia menerima salah satu kelompok mahasiswa KKN untuk tinggal di rumahnya.


"Yakin,, Tari? sebentar lagi kamu akan melahirkan kamu pasti akan kerepotan, sementara banyak orang di rumah cukup menjadi beban, bagusnya pikirkan lagi,, Tari," ucap Ibu Mentari sambil memasukkan lauk dalam kotak makanan, dan menyerahkan kepada Mentari itu sudah menjadi kebiasaan ibunya, setiap mereka berkunjung pasti akan memberikan mereka lauk untuk dibawa pulang,, sehingga mereka tidak perlu lagi memasak di malam hari.


"Yakin kok Bu, sudah disampaikan juga, tinggal tunggu mereka di rumah," ucap Mentari.


"Seharusnya kamu berpikir panjang dulu Tari, kalau saran ibu tidak usah dulu,, karena kalian akan serumah, satu dapur dan memakai kamar mandi yang sama juga, belum lagi yang namanya mahasiswa kadang tingkah dan kelakuannya dibawa ke rumah orang lain," ucap Ibu Mentari.


Mentari setuju dengan analogi ibunya, Mentari ingat betul waktu KKN dulu dia satu kelompok dengan temannya yang bernama Lita,, dia gadis yang sangat hebat berdandan tapi tidak tahu memasak. Dia sangat suka berantakan,, bahkan dia juga tidak membereskan bekas pembalutnya di dalam kamar mandi,, yang punya rumah langsung marah-marah. Atau Dev yang sangat suka merokok, dia hampir saja membakar rumah yang dijadikan posko itu,, karena dia tidak sadar rokoknya yang masih menyala jatuh di atas kasur,,,,, sementara Dev sudah tertidur pulas,, Mentari dan teman-temannya sampai dikembalikan di kelurahan, padahal baru tinggal disana beberapa hari saja, setelah itu baru mereka mendapatkan posko yang nyaman,, rumah milik sepasang suami istri yang sudah renta,, namun tidak memiliki anak, mereka sangat baik dan juga perhatian.


"Apalagi jika anak laki-laki dan perempuan tinggal serumah mereka bisa saja ada yang pacaran, kalau kamu yakin itu tidak akan mengganggumu,, yah baguslah," ucap Ibu Mentari.


"Kalau ada yang aneh-aneh,, Tari akan menasehati mereka," ucap Mentari.


Ibu Mentari pun mengangguk.


###########


Rumah panggung mereka memang berukuran besar, ada satu ruangan yang jarang mereka tempati,, berada di samping dan berdekatan dengan gudang,, dulu ruangan itu digunakan oleh orang tua Ujang,, untuk menampung para pekerja lajang yang tinggal dengan mereka.


"Bagusnya ini untuk para laki-laki Abang,, kalau yang perempuan biar tinggal di rumah panggung saja, serumah sama kita," ucap Mentari.


Mentari membuka jendela rumah itu,, rumah itu hanya perlu dibersihkan dan dipasang tikar saja,, Ujang membantu pekerjaan Mentari sampai selesai. Dua jam bersih-bersih akhirnya mereka mendengar suara deru mobil di pekarangan rumah mereka.


Mentari dan Ujang pun keluar,, beberapa mahasiswa yang akan tinggal di rumah mereka keluar dari dalam bus.


Ada lima orang perempuan dan empat orang laki-laki mereka rata-rata memiliki wajah yang ganteng dan cantik. Satu orang yang paling mencolok diantara mereka,, wanita itu cantik dan langsung menyalami Mentari dan Ujang.


"Saya Indri Kak," ucap wanita itu ramah lalu disusul dengan teman-temannya yang lain juga untuk memperkenalkan diri.


Untuk pertama kalinya Mentari iri pada wanita,, padahal sebenarnya lebih cantik Mentari,, tapi Mentari tetap saja merasa takut,, mereka akan tinggal serumah selama empat puluh hari, wanita itu akan dilihat Ujang juga siang dan malam.

__ADS_1


Mungkin ini yang dimaksud Ibu Mentari pikirkan matang-matang.


__ADS_2