Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Buah cinta Ujang dan Mentari,,,


__ADS_3

"Bang,, panas," keluh Mentari padahal kipas angin telah dinyalakan dengan level tertinggi. Dari tadi Mentari mencari posisi yang nyaman tapi belum juga didapatkan nya. Belum lagi rasa gatal yang teramat sangat di kulitnya jika terkena keringat. Ujang akan selalu mencegah jika Mentari menggaruk pakai kukunya,, Ujang dengan sabar menggunakan kain sebagai pembatas kuku dan kulit Mentari jika membantu menggaruk perut besar itu.


Ujang yang tadi sudah mulai tertidur kembali bangun lagi, Ujang segera bangkit,,, Mentari belum tidur sama sekali, Mentari bergerak gelisah ke kiri dan ke kanan sejak tadi, sehingga tempat tidur berderit terus.


Memang di usia kandungannya yang sembilan bulan, semakin sulit untuk Mentari buat tidur malam. Mentari tidur sambil duduk, satu lagi,, dia hanya menggunakan sarung saja seperti kemben karena kepanasan. Kadang Ujang geleng-geleng namun dia sangat memaklumi,, perasaan tidak nyaman itu hanya istrinya lah yang mampu merasakannya.


"Besok kita pakai AC aja yah,, Tari," ucap Ujang sambil memaksa mata beratnya untuk terbuka sempurna,, kalau bagi Ujang saat ini tidak terlalu panas, malah dia menggunakan selimut karena kedinginan akibat kipas yang dinyalakan full.


"Tari nggak bisa pakai AC,, bersin-bersin terus," ucap Mentari.


Ujang langsung menatap iba pada istrinya itu, lalu tiba-tiba dia teringat kemarin dia mendapatkan cindera mata saat menghadiri pesta, kipas lipat itu mungkin berguna saat ini, daripada tidak mendapatkan solusi sama sekali, lebih baik melakukan sesuatu walaupun tidak berpengaruh besar.


"Tidurlah,, biar Abang yang kipasi," ucap Ujang.


"Tidak bisa berbaring,, sesak Abang," ucap Mentari.


"Bersandar saja yah," ucap Ujang.


Ujang pun membantu letak bantal Mentari, sehingga istrinya bisa tidur dengan nyaman, syukurnya kipas lipat itu bisa membuat istrinya terlelap.


Ujang sebenarnya sangat mengantuk tapi dia tau istrinya belum tidur sedikit pun, bahkan sudah jam dua dini hari, sejak hamil besar,, malam adalah waktu yang sangat tidak nyaman untuk istrinya,, selain kepanasan,, bayi kembar mereka juga akan sangat aktif kalau di malam hari.


Ujang tersenyum mengusap keringat di dahi istrinya,, begitu besar rasa cinta dan sayangnya untuk Mentari, Mentari si gadis cuek yang dulu hanya bisa dilihat nya dari kejauhan,, lama kelamaan mata Ujang tidak bisa ditahan,, akhirnya dia ikut bersandar di kepala tempat tidur dan tertidur di samping istrinya,, dengan masih memegang kipas ditangannya.


########

__ADS_1


"Ayo,, Tari," ucap Ujang sambil tersenyum geli melihat istrinya,, mereka saat ini tengah jalan pagi,, itu adalah kegiatan rutin semenjak kandungan Mentari menginjak delapan bulan,, Mentari terseok-seok membawa perutnya yang besar, apalagi di jalan mendaki ini, Mentari pasti akan kesusahan membawa tubuhnya sendiri, Mentari pasti akan berhenti sebentar ketika berjalan,, dan Ujang selalu dengan sabar menunggu istrinya itu.


Jalan desa terlihat mulai ramai dilewati anak-anak yang akan ke sekolah, dan juga orang-orang yang mau pergi bekerja di kebun sawit,, banyak dari mereka yang terlihat memberi semangat pada calon orang tua itu.


"Sudah turun perut kamu,, Tari, ini pasti tidak lama lagi akan melahirkan," ucap salah satu ibu-ibu yang kebetulan lewat melihat Ujang dan Mentari yang sedang jalan pagi.


"Doakan saja yah Mak,, agar lancar dan selamat," ucap Ujang ramah kepada ibu-ibu itu.


"Insya Allah,, kalau dilihat-lihat Mentari ini rajin jalan pagi,, jalan pagi bisa memudahkan persalinan nantinya,, Mak jalan dulu yah,," ucap Ibu-ibu itu lagi sambil tersenyum ramah pada Ujang dan juga Mentari.


"Iya Mak," ucap Ujang dan Mentari bersamaan sambil tersenyum ramah juga.


Mentari dan Ujang kembali melanjutkan jalan pagi,, Ujang berada dua meter lebih dulu dari istrinya.


"Tunggu,, berhenti dulu Abang," ucap Mentari sambil menghentikan langkahnya,, terlihat tangan Mentari memegang pinggangnya sendiri, sementara nafasnya terlihat sangat ngos-ngosan.


"Tari,, masih kuat jalan? atau Abang gendong aja yah?" ucap Ujang yang bersungguh-sungguh menawarkan pada Mentari,, tapi malah di balas Mentari dengan senyuman geli.


"Kalau digendong bukan jalan pagi lagi namanya Abang, tapi gendong pagi,, nanti yang ada malah ditertawakan oleh orang yang lewat,, kan malu Abang," ucap Mentari sambil memaksakan langkah kakinya,, Ujang berbalik ke belakang. Ujang menggandeng tangan istrinya itu dan juga menuntun istrinya, tapi ekspresi wajah Mentari semakin meringis saja,, Mentari bahkan berhenti sekali lagi.


"Abang tunggu," ucap Mentari sambil matanya melihat ke bawah,, terlihat sebuah cairan bening mengalir dan membasahi daster yang digunakannya.


"Abang ini,, ini ketuban ku pecah bang,," ucap Mentari yang benar-benar panik.


Mentari panik,, Ujang pun benar-benar panik juga..

__ADS_1


Sebuah mobil pick-up yang lewat langsung diberhentikan oleh Ujang.


"Bang,, tolong istriku sepertinya mau melahirkan Bang,," ucap Ujang yang benar-benar sangat panik,, ini pengalaman baru untuknya melihat istrinya akan melahirkan.


Pemilik mobil langsung mengangguk mengerti,, dia segera membuka pintu mobilnya, lalu Ujang segera menggendong istrinya untuk naik ke mobil.


##########


Sebenarnya Mentari sudah mengeluhkan sakit pinggang sejak subuh sebelum mereka pergi jalan-jalan pagi,, tapi karena mereka berdua belum punya pengalaman sama sekali mereka tidak begitu ambil pusing tentang sakit pinggang itu,, karena mereka mengingat perkiraan kelahiran bayi mereka masih dua minggu lagi.


Pak Mamad dan istrinya datang dengan tergopoh-gopoh dan langsung masuk ke ruangan Bidan, mereka langsung ke puskesmas saat Ujang menghubungi mereka beberapa menit yang lalu bahwa Mentari akan melahirkan.


"Bagaimana Bu Bidan kondisi anak saya?" tanya Ibu Mentari dengan tidak sabaran saat Bidan desa itu baru saja keluar dari ruang pemeriksaan.


"Sudah pembukaan empat Bu, karena ini anak pertama perkiraan melahirkan siang hari, mana suaminya yah?" tanya Bidan itu sambil mengedarkan pandangannya.


"Saya," ucap Ujang cepat dan semangat sekaligus juga merasa khawatir.


Bidan itu tersenyum melihat suami Mentari yang terlihat sangat bersemangat,, pasti ini anak yang ditunggu-tunggunya terlihat sangat jelas dari ekspresi Ujang.


"Tolong istrinya didampingi yah Pak,, beri dia motivasi agar tahan dan sabar saat mengalami kontraksi," ucap Bu Bidan itu.


"Baik Bu, terima kasih," ucap Ujang lalu segera mengalihkan pandangannya kepada Ayah dan Ibu mertuanya mengisyaratkan permintaan izin kepada mertuanya.


Ujang berlari mendekati tempat Mentari berbaring, mengecup dahi istrinya yang berkeringat itu,, saat kontraksi datang,, Ujang langsung mengelus perut Mentari yang meregang itu sambil mengucapkan zikir,, sementara Mentari mencari pegangan kepada Ujang,, Mentari menggigit kain agar suara erangan kesakitan nya tidak keluar.

__ADS_1


Dan ternyata Mentari melahirkan lebih cepat dari prediksi Bidan,, dalam tiga jam saja pembukaan nya sudah lengkap,, bayi laki-laki mereka lahir lebih dulu, disusul dengan bayi perempuan satu jam kemudian, walaupun bayi perempuan itu lahir sungsang, Mentari mampu berjuang tanpa mengeluh dan menangis. Mereka bertiga sehat dan selamat.


Suara nyaring dua bayi itu memenuhi ruangan bersalin,, buah cinta Ujang dan Mentari, untuk kedua kalinya Ujang menitikkan air mata,, melihat dua bayi nya dalam wujud yang nyata, Allah begitu Maha Pengasih telah memberikan nikmat yang luar biasa.


__ADS_2