
Anak adalah harta yang tidak bisa sama sekali dinilai harganya,, dia bukan materi yang bisa dicari dengan usaha yang menghasilkan untung dan rugi,, tapi hanya orang yang dipercayakan oleh yang Maha Kuasa yang bisa memiliki anak. Ucapan rasa syukur tidak putus-putus terucap dari bibir Ujang, bayi kembar mereka tengah dimandikan oleh perawat,, dua perawat sekaligus tengah turun tangan memandikan anak mereka, bahkan salah satu perawat yang berbadan gemuk mendapatkan jatah tembakan kencing dari bayi laki-laki mereka.
"Haha,, dapat jatah kamu Nina," rekannya menertawakan perawat yang dipanggil Nina itu,, perawat itu hanya tersenyum kalem saja.
Bayi kembar Ujang dan Mentari mengeluarkan suara tangisnya,, mereka saat ini tengah bertanding mengeluarkan suara tangis yang paling nyaring, dan hasilnya dimenangkan oleh bayi perempuan, sedangkan bayi laki-laki diam sendiri karena kalah suara.
"Bu Mentari sudah bisa dimandikan,, ini sarapan dan obatnya yah Pak," ucap salah satu perawat kepada Ujang.
Ujang melirik bayi mereka, bayi kembar itu melewati malam dengan begadang sampai Mentari tidak tidur semalaman,, dan saat ini bahkan mereka belum selesai di bedung tapi mereka sudah tidur duluan.
"Pembalut nya sudah disediakan kan,, Pak?" ucap salah satu perawat.
"Biar saya saja yang mandikan istriku," ucap Ujang,,, Ayah Ujang dulu pernah mengajari bahwa mengurus istri dan anak setelah bersalin adalah tugas suami. Supaya suami insaf dan tidak memperlakukan istri dengan seenaknya.
"Baiklah Pak,, di kamar mandi itu ada tong sampah khusus,, pembalut bersalin yang telah dicuci dimasukkan saja ke sana, oh iya di kantung hitam itu berisi ari-ari cuci dulu yah Pak sebelum di kubur,, kalau bisa di kubur secepatnya takutnya bau," ucap perawat itu lagi.
"Baik," ucap Ujang.
"Jangan lupa obatnya,, Bu Mentari harus memancing ASI dengan menyusui bayi secara bergantian,," ucap perawat itu lagi.
"Baik," ucap Ujang.
"Kami pamit yah Pak,, kalau ada apa-apa panggil saja kami di depan," ucap perawat itu lagi.
Mentari melihat Ujang dengan menipiskan bibirnya, membayangkan Ujang yang akan mengurus dirinya, memandikan dan mencuci pembalut,, rasanya sungguh agak aneh.
"Ada kursi di kamar mandi,,, Bu Mentari di dudukkan saja disana yah Pak," ucap perawat yang bernama Nina itu setelah masuk kembali ke dalam.
"Baik Bu," ucap Ujang.
__ADS_1
Ujang mendekati Mentari, sedangkan Mentari sempat melirik Ayah dan Ibunya yang seperti mendapatkan mainan baru,, mereka tidak perlu rebutan, tapi setelah kehadiran bayi kembar mereka,, Mentari menjadi makhluk tak kasat mata bagi orang tuanya sendiri.
"Abang yakin?" tanya Mentari dengan perasaan bimbang, dia saja merasa jijik dengan darah kotornya,, tapi Ujang malah menawarkan diri untuk memandikan dirinya.
"Kenapa harus tidak yakin,, Tari?" ucap Ujang balik heran dengan istrinya.
"Ishh darahnya banyak sekali Abang,, mungkin Ibu saja yang memandikan aku," ucap Mentari sambil melirik Ibunya dengan penuh permohonan, tapi wanita yang baru memiliki cucu itu malah asik berbicara dengan cucunya tidak memandang pada dirinya sedikit pun padahal cucunya sedang tidur.
"Darahmu banyak karena kamu baru saja habis melahirkan,, yang kamu lahirkan itu anak-anak ku,, jadi kewajiban ku mengurus kamu," ucap Ujang.
Mentari pasrah saja karena yang dikatakan Ujang memang benar, kekaguman Mentari pada suaminya semakin besar berkali lipat, wanita mana yang tidak akan terpikat dan terpesona dengan pria yang perhatian, santun, penyayang dan bertanggung jawab seperti Ujang.
"Kita mandi sekarang?" tanya Ujang.
"Iya Abang,, rasanya badan Tari lengket banget dan bau anyir," ucap Mentari.
Mentari tersenyum geli, mungkin bagi Ujang kalimat itu tidak lucu, buktinya dia tidak tertawa begitu mengucapkan itu,, tapi bagi Mentari itu lumayan menghibur.
Mentari meringis saat berusaha menggerakkan tubuhnya untuk bangkit,, meskipun Ujang sudah membantu dengan meletakkan tangannya di punggung Mentari secara hati-hati.
Mentari meringis seperti ada ranjau saja yang mengenai jalan lahir, rasanya sungguh perih sekali,,, sembilan jahitan itu benar-benar sangat menyiksa belum lagi kepalanya yang terasa sangat pening.
"Aku gendong saja, yah?" ucap Ujang yang ikut meringis juga, Ujang seakan merasakan apa yang Mentari rasakan,, wajar saja karena dia ikut menyaksikan bagaimana perjuangan Mentari melahirkan anak-anak mereka, bagaimana gunting itu merobek jalan lahir,,, dan jarum yang berbentuk seperti kait itu menjahit kembali untuk merapikannya pasti sangat sakit sekali.
"Kata Bidan,, Tari harus bergerak sedikit demi sedikit,, supaya cepat sembuh," ucap Mentari sambil memegang bahu Ujang mengabaikan bagian bawahnya yang ngilu dan meregang perih,, Mentari ingat betul kata Bu Bidan yang agak ceplas-ceplos itu.
"Jangan manja yah, Tari, melahirkan itu tugas perempuan,, makanya Allah menakdirkannya karena perempuan ditakdirkan untuk menjadi Ibu," ucap Bu Bidan itu.
Ujang pun menuntun istrinya itu, berjalan selangkah demi selangkah menuju kamar mandi, untungnya kamar mandi berada di dalam ruangan bersalin. Sesekali Mentari berhenti meringis lagi lalu kembali berjalan.
__ADS_1
Ternyata beginilah rasanya melahirkan pantas saja surga ada di bawah telapak kaki Ibu,, begitu pikir Mentari. Dia salut pada wanita yang telah memiliki anak dan melahirkan banyak kali tanpa jera.
"Abang yakin?" tanya Mentari dan kembali memandang Ujang bimbang. Pembalut itu pasti sudah penuh dengan darah,, Mentari juga merasa sebagian darah telah mengalir di pahanya,,, saat ditanya pada Bidan katanya darah nifas pas hari pertama memang agak banyak tapi akan berkurang sendiri di hari-hari berikutnya.
"Tentu saja istriku," ucap Ujang tanpa pikir panjang lalu jarinya mulai menyentak kain sarung yang digunakan Mentari,, Mentari menahan nafasnya saat mendengar bunyi perekat yang terbuka, apalagi kalau bukan perekat pembalutnya. Mentari melihat benda itu ada darah yang seperti gumpalan-gumpalan juga, pembalut bersalin itu telah dipakaikan dua lapis oleh perawat, namun masih mengotori sarung yang dia gunakan juga.
"Biasanya kalau mencuci pembalut halangan mu,, gimana caranya Tari?" tanya Ujang dengan sungguh-sungguh saat sudah mendudukkan Mentari di kursi plastik dengan sangat hati-hati.
Dari sekian banyak momen yang dilewati bersama Ujang,,, momen inilah yang paling konyol menurut Mentari, bagaimana bisa dia menerangkan cara mencuci pembalut? tidak pernah sedikitpun terpikirkan oleh Mentari akan membagi pengalaman pribadi itu pada siapapun apalagi pada Ujang.
Mentari mendadak langsung panik begitu Ujang mengangkat benda berdarah dan menjijikkan itu,, ekspresi wajah Ujang biasa saja, tidak memperlihatkan ekspresi jijik sedikitpun.
"Jangan,, jangan dipegang Abang,,, kan itu jorok," ucap Mentari.
"Lama betul kamu jawabnya, Tari," ucap Ujang. Selanjutnya Mentari hanya menjadi penonton saja melihat tangan yang biasa pegang alat pertukangan itu malah saat ini tengah memegang pembalut bersalin yang penuh darah itu.
########
Mentari sungguh salut luar biasa,, bagaimana Ujang begitu telaten mengurus dirinya setelah mandi,, mulai dari merekatkan pembalut ke ****** ***** kemudian memasangkan gurita diperutnya,, bayi-bayi mereka dibawa berjemur oleh Ayah dan Ibunya,, setelah disuapi susu formula karena ASI Mentari belum keluar.
"Saatnya makan," ucap Mentari yang sudah merasa segar sambil membuka penutup sarapan pagi yang telah diberikan perawat beberapa saat yang lalu.
"Aku akan menyuapi mu," ucap Ujang cepat.
"Jangan, aku bisa sendiri Abang," ucap Mentari.
"Kata Ayahku dulu istri yang habis melahirkan tangannya tidak boleh banyak bergerak nanti air susunya kering," ucap Ujang.
Mentari kagum,, Mentari takjub,, Mentari terpana,,, bagaimana bisa seorang Ujang yang terlihat begitu perkasa, bisa mengingat dan menyimak ilmu yang bagi sebagian orang itu tidak penting. Lagi,, Mentari jatuh cinta lagi,, pada pria yang sama. Pria sederhana yang bernama Ujang.
__ADS_1