Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Tidak sabar untuk menjadi Ayah...


__ADS_3

Gulai ayam nanas Mentari diganti dengan gulai ayam rebung,, hal itu dilakukan Ibu Mentari karena dia ragu untuk memasak gulai ayam nanas,, takutnya Mentari benar-benar hamil karena tidak baik jika makan Nanas ketika hamil muda.


Rasa gulai ayam rebung tidak kalah enaknya buktinya Mentari sampai nambah dua kali,, Ujang tidak pernah melihat istrinya makan sampai selahap itu.


"Ayo nambah Jang,, rugi kalau tidak nambah,, masakan istriku paling enak sedunia itulah yang membuat aku jatuh cinta padanya," ucap Pak Mamad,, sedangkan yang dipuji langsung gelang-gelang kepala, sementara Dika langsung menatap ayahnya malu seakan merasa aneh dan geli.


Pujian Pak Mamad memang tidak berlebihan,, gulai ayam rebung itu memang enak, Ujang langsung teringat akan Almarhumah Ibunya yang juga pandai memasak, apapun yang dibuat oleh Almarhumah Ibunya tidak ada yang tidak enak,,, tiba-tiba Ujang begitu rindu, walaupun sudah lama sekali mereka meninggal dunia, mungkin besok lusa Ujang akan mengajak Mentari untuk ziarah ke makam keluarganya terutama ke makam kedua orang tuanya.


"Ayo Abang di tambah nasinya," ucap Mentari sambil menyentuh siku Ujang, memberikan senyuman manis pada suaminya itu dan Ujang pun mengangguk kecil.


"Masakan Tari gimana Jang? enak tidak Jang?" tanya Pak Mamad lagi.


Dan lain yang ditanya lain pula yang menjawab.


"Kalau Kak Mentari yang masak sering banget kurang garam, tidak seenak masakan Ibu," jawab Dika yang langsung mendapatkan pelototan mata dari Mentari. Adiknya memang selalu berbicara asal tidak perduli jika orang bisa saja tersinggung.


"Hm kurang garam? tapi kamu suka sering menghabiskan nasi goreng buatan Kakak tanpa menyimpan kan untuk Ibu juga," ucap Mentari tidak mau kalah,, sedangkan Dika terlihat tidak perduli,, Ayah dan Ibu Mentari langsung saling pandang begitu mendengar perdebatan kedua anaknya.


"Nasi goreng Tari paling enak," ucap Ujang semacam pembelaan yang membuat senyum di wajah Mentari langsung merekah sempurna. Suaminya adalah orang yang paling jujur,, dia tidak akan memberikan pujian pada sesuatu yang tidak perlu untuk dipuji, suaminya bukan tipe orang yang suka mencari muka,, jadi Mentari patut berbangga mendapatkan pujian dari suaminya itu.


"Syukurlah Jang,, Mentari ini rajin,, rajin bantu Ibunya masak,, jadi sedikit kemampuan Ibunya menular kepada dia juga, iyakan Tari?" ucap Pak Mamad lagi.


Mentari langsung bersungut-sungut karena terkadang Ayahnya kalau memuji malah seperti sindiran saja untuknya.


"Besok ada acara di lapangan Desa," ucap Ibu Mentari.


"Acara apa Bu?" tanya Mentari.


"Acara musik sekaligus peresmian gedung serbaguna yang baru selesai dibuat," ucap Ibu Mentari.


Mentari pun langsung menoleh kepada Ujang.


"Abang kita pergi yah?" ucap Mentari dengan semangatnya.


"Iya," ucap Ujang.

__ADS_1


"Sekalian kita kedatangan Bapak Bupati juga, ada dana juga yang diturunkan di Desa,, katanya sih begitu," ucap Ibu Mentari lagi.


"Kalau tentang dana sih pasti orang akan berbondong-bondong datang," ucap Ayah Mentari sambil mengeluarkan rokoknya.


"Rokok Jang," ucap Pak Mamad.


"Aku sudah berhenti merokok Pak," ucap Ujang kalem dan itu langsung membuat orang menatapnya takjub sedangkan Mentari langsung tersenyum bangga.


########


Ujang tersenyum saat melihat album milik Mentari, disana terlihat Mentari kecil tersenyum manis dengan giginya yang ompong,, dari kecil Mentari memang sudah menampakkan kecantikannya. Wajar saja jika dewasa istrinya itu menjadi primadona di kampung, menjadi buah bibir setiap pemuda di desa.


"Ini umur berapa yah,, Tari?" tanya Ujang sambil menunjuk salah satu foto, Mentari tampak sedang memakan pisang sambil matanya yang indah menatap ke kamera, di belakang Mentari tampak Pak Mamad yang masih muda tengah menggendong bayi, tapi Ujang juga melihat sosok yang tidak asing sedang berdiri di samping Pak Mamad.


"Oh ini sepertinya waktu aku umur enam tahun Bang, waktu acara pesta," ucap Mentari sambil mendekat kepada Ujang lalu duduk di samping Ujang.


"Ini Dika?" tanya Ujang lagi yang melihat pak Mamad sedang menggendong bayi.


"Bukan kok,, Dika belum ada waktu itu,, jarak Tari dan Dika sangat jauh,, mana mungkin itu Dika,, ini sih ponakan yang punya pesta kayaknya, eh tapi tunggu deh, ini bukannya Abang yah?" ucap Mentari sambil mendekatkan kepalanya ke album foto yang kini tengah di pegang oleh Ujang,, kesempatan itu digunakan Ujang sebaik mungkin untuk mencuri ciuman di pipi istri cantiknya itu,, setelah mencium pipi istrinya,, Ujang berpura-pura tidak tau seperti tidak habis melakukan apa-apa.


"Ih Abang kalau ada kesempatan aja pasti digunakan sebaik-baiknya," rengek manja Mentari yang membuat Ujang tersenyum. Ujang kemudian merangkul pinggang istrinya itu posesif,, saat ini istri cantiknya itu sudah duduk di pangkuannya.


"Kenapa ditutup Abang?" ucap Mentari sambil tersenyum geli melihat suaminya yang bisa malu juga.


"Aku malu fotonya tidak bagus,, aku pasti belum siap waktu itu tapi sudah diambil aja gambarnya," ucap Ujang.


Mentari langsung tertawa,, Mentari kemudian menenggelamkan jemarinya di rambut Ujang lalu menatap suaminya dengan penuh kekaguman.


"Sebenarnya Abang itu tampan loh, alis yang tebal,,, mata yang indah dengan tatapan tegas, hidung mancung dan juga bibir...," ucap Mentari yang berhenti sambil mengamati bibir Ujang.


"Kenapa dengan bibir hemm?" ucap Ujang yang sengaja memancing.


Mentari menunduk malu,, Mentari tau betul betapa pintarnya bibir itu bekerja pada dirinya yang bisa membuatnya terbang melayang,, Mentari segera menggelengkan kepalanya untuk membersihkan pikirannya.


"Nggak apa-apa,," ucap Mentari sambil turun dari pangkuan Ujang,, lalu duduk di atas ranjang, Ujang bangkit dan menyusul istrinya,, duduk di samping istrinya.

__ADS_1


"Tari,, aku mau tanya sesuatu," ucap Ujang.


"Abang mau tanya apa?" tanya Mentari.


"Bagaimana jika kamu benar-benar hamil,, aku tau betul kamu masih sangat muda, dan juga memiliki cita-cita yang tinggi,, aku takut kamu akan merasa terhalangi," ucap Ujang.


Mentari terdiam,, pertanyaan itu sederhana namun susah dijawab oleh Mentari, dia tidak pernah berpikir sebelumnya tentang anak, mereka juga belum pernah berbincang serius tentang itu, Mentari tidak begitu pintar mengurus anak kecil, dengan Dika saja dirinya masih suka berkelahi.


"Tari," ucap Ujang lagi untuk menyadarkan lamunan Mentari.


"Kita tidak pernah menghalangi atau menunda,, jika di kasih secepat itu,, Tari akan mensyukurinya dan akan menjaga sebaik-baiknya," ucap Mentari.


Senyum Ujang langsung merekah sempurna,, jawaban istrinya membuat dirinya merasa lega, dia sangat senang dengan jawaban Mentari, selama ini dia begitu iri dengan laki-laki yang seusia dirinya yang sudah memiliki beberapa anak,, sedangkan dirinya belum memiliki istri.


"Alhamdulillah," ucap Ujang sambil tersenyum.


#######


Ujang memarkirkan motornya di depan apotik, senyum ramah penjaga apotik menyapa dirinya.


"Mau nyari apa Bang?" tanya penjaga apotik itu.


"Alat tes kehamilan, ada?" tanya Ujang balik.


"Ada,, mau merk apa?" tanya penjaga apotik balik.


"Memangnya merk apa saja?" ucap Ujang.


"Banyak Bang," ucap penjaga apotik itu lagi.


"Yang paling bagus," ucap Ujang.


"Ini aja,, tapi ini juga bagus," ucap penjaga apotik itu lagi.


"Saya ambil dua-duanya," ucap Ujang.

__ADS_1


Ujang pun segera membayarnya,, sebenarnya sebelum ke apotik dirinya dan Mentari sudah siap-siap untuk tidur, namun rasa penasaran Ujang tidak bisa ditahan lagi, untuk tes kehamilan bagusnya dilakukan pagi hari setelah bangun pagi,, sementara apotik di Kota terbuka nanti jam delapan pagi,, tentu saja Ujang harus membelinya malam ini.


Ujang mengendarai motornya dengan semangat banyak hal yang dia pikirkan, bagaimana rasanya menjadi seorang Ayah? bagaimana rasanya menggendong bayi yang baru lahir, apa bayinya itu tidak akan patah ditangannya yang sudah terbiasa memegang kapak dan juga alat-alat pertukangan? Ujang merasa geli sendiri begitu membayangkan kekonyolan pikirannya.


__ADS_2