Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Anak kecil...


__ADS_3

Ujang meninggalkan pekarangan rumah sambil tersenyum. Semua perdebatan dengan Mentari tadi sangat berkesan baginya, kadang-kadang mengerjai istrinya itu menjadi kesenangan tersendiri buatnya,, bisa melepas penat setelah bekerja.


Sebenarnya dia juga tidak akan memaksa istrinya untuk melahirkan lagi setelah hamil kedua ini, dia tau betul betapa Mentari sangat kewalahan,, mulai dari masa hamil,, melahirkan dan mengasuh anak-anak mereka. Akan tetapi mengusili istrinya itu menjadi candu tersendiri buat Ujang.


"Ayo, aku yang nyetir atau kamu Jang?" tanya Azis yang sedang duduk di samping kursi kemudi.


"Biar aku saja dulu,, nanti pas pulang baru Abang," ucap Ujang.


"Baiklah, tadi aku memeriksa tali pengikat ada yang longgar, memanglah anak buah mu yang satu itu Jang, tidak bisa diharapkan bekerja, mengikat perabot saja tidak becus sama sekali,, lain kali kamu seleksi dulu lah Jang yang mau jadi anak buah mu," ucap Azis.


"Aku kasihan Bang," ucap Ujang.


"Kasihan, kasihan, tapi dia tidak becus sama sekali," ucap Azis lagi.


Ujang hanya diam tidak menyahuti ucapan Azis lagi yang sedang marah-marah,,, Ujang langsung mengemudikan mobil pick up nya.


Mereka sampai di gedung walikota lebih awal, sebelum keluar dari dalam mobil Ujang meminum air mineralnya dulu, karena dia butuh tenaga untuk mengangkat meja dan kursi itu.


"Lewat sini saja Bang," ucap seorang security yang menyambut kedatangan Azis dan Ujang, cuaca panas membuat keringat Azis bercucuran bahkan bajunya di bagian punggung telah basah.


"Apa tidak masalah jika aku masuk dengan bau keringat?" tanya Azis.


"Apa masalahnya Bang?" tanya Ujang heran.


"Ruangannya ber-AC Jang," ucap Azis.


"Kita kesini memang mau mengantar barang Bang, bukan bertamu,, kalau mereka menginginkan yang tidak bau keringat maka mereka saja yang angkat sendiri,, pertanyaannya apa mereka kuat?" ucap Ujang,, senyum Ujang terbit sedikit.


"Kamu memang benar Jang, aku tau dari dulu kamu memang pintar sayangnya tidak Sarjana saja," ucap Azis lalu terkekeh,, sedangkan Ujang hanya geleng kepala saja begitu mendengar tawa konyol Azis.


Security telah membuka pintu kaca itu lebar-lebar, sehingga memudahkan Ujang dan Azis mengangkat meja dan kursi itu.


Kursi dan meja yang cantik dengan ukiran klasik itu diletakkan di sebuah ruangan yang masih kosong itu, kesejukan udara di dalam ruangan itu membuat Azis memejamkan matanya, dia duduk sejenak setelah mengangkat kursi dan meja itu.


"Berapa lagi yang harus dibayar?" tanya Pak satpam.


Ujang segera mengambil bon dari saku bajunya.


"Tunggu, saya akan bawa bon ini ke bendahara," ucap Pak satpam itu.


Begitu pak satpam pergi, Azis mendekat,, mereka tengah duduk bersila yang lantainya bisa dipakai untuk bercermin.


"Enak sekali jadi pejabat yah, ruangan kosong dan terlihat tidak berguna begini pun di kasih AC," ucap Azis sambil matanya menyapu seluruh ruangan yang luasnya sekitar sepuluh kali delapan meter itu, tidak ada perabot lain,, hanya meja dan kursi saja yang barusan diantar serta tiga buah AC.


"Abang mau jadi pejabat?" tanya Ujang sambil tersenyum geli melihat Azis.


"Memangnya aku bisa jadi pejabat?" tanya Azis yang malah menanggapi serius.


"Bisa," jawab Ujang.


"Hm kamu pasti sedang membodo-bodohiku kan,,, mana mungkin aku bisa jadi pejabat," ucap Azis.

__ADS_1


"Bisa Bang dalam mimpi," ucap Ujang yang langsung mendapatkan semburan dari Azis.


"Dasar kau Jang," ucap Azis.


"Abang kan nanya tadi," ucap Ujang.


"Aku tidak serius,, kalau aku merokok bisa tidak yah? dari tadi aku belum merokok sama sekali," ucap Azis.


"Boleh kok kalau Abang mau di usir," ucap Ujang lagi.


"Ah kau ini Jang," ucap Azis.


Mereka kemudian meminum air mineral masing-masing.


"Menurut mu apa kita tidak akan diberi kue atau kopi?" tanya Azis lagi.


"Apa kita ini tamu Bang?" tanya Ujang balik.


"Bukan sih," ucap Azis.


"Jadi jangan berharap Bang, kita ini tidak berarti, kita hanya pengantar perabot saja," ucap Ujang.


"Iya kamu benar Jang," ucap Azis.


"Pak bisakah kwitansinya di tanda tangani dulu?" ucap seorang pria muda.


Pria muda itu berpakaian rapi dan rambut yang tertata rapi masuk ke dalam ruangan, awalnya Ujang tidak perduli sama sekali tapi begitu menyadari kedua pria itu langsung saling tatap karena terkejut.


##########


Dua manusia yang memiliki ciri khas ketampanan masing-masing, yang satu bertubuh sedang dengan kulit cerah, wajahnya halus terlihat rapi dan bergaya, jam tangan mahal melekat ditangannya yang bersih dan kuku yang terawat,, dasi melekat dilehernya secara keseluruhan dia tampil sempurna. Sedangkan yang satunya lagi bertubuh tinggi dan berotot,, cambang mulai tumbuh liar lagi karena sibuk mengurus anak, rambut mulai gondrong,, dia hanya memakai baju kaos saja begitu mengangkat perabot, handuk putih bertengger di bahunya, kulit sawo matang itu kontras dengan bulu tangannya yang lebat.


Pria yang pertama adalah Samuel,, mereka saling menebak satu sama lain dan malah berakhir di kafe kantor.


Ujang bukannya tidak tau bahwa Samuel sengaja menunjukkan padanya bahwa dia adalah mantan Mentari yang sempurna,,, tampan, mapan, dan tentu saja Ujang tidak bisa menyainginya. Sayangnya Samuel tidak tau, Ujang adalah pria matang yang hanya menganggap nya anak-anak yang tidak perlu diperhitungkan.


"Jadi bagaimana kabar Mentari?" tanya Samuel membuka percakapan, matanya melihat Ujang dengan tatapan mata menilai, dalam hati Samuel tertawa,, keyakinan akan Mentari yang terkena pelet semakin meyakinkan dirinya.


"Istriku sehat, dia saat ini tengah hamil anak kedua, bukan,, hamil kedua anak ketiga," jawab Ujang santai, tidak ada kesan cemburu diwajahnya melihat mantan istrinya itu yang kini tengah bekerja di kantor walikota,, sedangkan ekspresi wajah meledek Samuel tadi langsung menegang.


"Ma, maksudnya,, hamil ke dua tapi anak ke tiga?" ucap ulang Samuel untuk meyakinkan pendengaran nya tidak salah.


"Anak pertama kami kembar, usianya sudah satu tahun, dan kandungan istriku saat ini sudah enam bulan," jawab Ujang.


"Oh," ucap Samuel,, dia merasa tenggorokannya saat ini mendadak sempit.


"Boleh saya bertanya pada anda?" tanya Samuel lagi.


"Silahkan," ucap Ujang.


"Apa Mentari dan anda sempat berpacaran sebelum kalian menikah?" tanya Samuel.

__ADS_1


"Tidak sama sekali," jawab Ujang.


"Lalu?" tanya Samuel lagi penasaran biar bagaimanapun belum ada yang bisa menggantikan Mentari dihatinya, biarpun sebelumnya dia selingkuh, Samuel menyadari bahwa itu hanyalah nafsu sesaat bukanlah cinta,, hanya Mentari lah dihatinya, dia menyadari itu setelah Mentari menikah, dia sakit hati, dia patah hati, bahkan saat ini dia betah jomblo. Hanya Mentari yang dia inginkan.


"Kami hanya kebetulan tinggal di kampung yang sama dan kami berjodoh," ucap Ujang.


"Apa dia punya utang? kalau dia punya utang biar saya yang bayar tapi lepaskan dia," ucap Samuel.


Ujang langsung tersenyum tipis. Bisa-bisanya istri yang sangat dia cintai disuruh lepaskan.


"Aku tidak tau apa dia punya utang atau tidak," ucap Ujang.


"Maksudnya utang pada Anda sehingga dia terpaksa menerima Anda?" ucap Samuel lagi.


Ujang salut dengan imajinasi pria dihadapannya saat ini yang sudah seperti di sinetron saja.


"Tidak,, dia yang memaksaku menikahinya bahkan setelah beberapa kali aku menolak," ucap Ujang.


"Itu benar-benar sangat mustahil," ucap Samuel lagi sambil melihat Ujang dengan tatapan meremehkan dan juga patah hati.


Menurut Samuel laki-laki dihadapannya ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan dirinya, menurut Samuel dialah yang lebih pantas menjadi suami Mentari bahkan Samuel tidak apa-apa sama sekali jika Mentari sudah pernah menikah.


Ujang terlihat tidak perduli sama sekali dengan tatapan meremehkan Samuel padanya, Ujang melirik ke arah Azis yang sedang asik merokok di ruangan khusus, terpisah dari kantin tapi hanya dibatasi kaca transparan.


"Saya tau betul siapa Mentari,," ucap Samuel.


"Oh yah?" ucap Ujang tidak perduli,, karena pada dasarnya dialah yang lebih memahami istrinya itu buktinya mereka akan memiliki tiga anak sebentar lagi.


"Banyak yang ganjil," ucap Samuel lagi.


"Ganjil atau tidak, dia sekarang sudah menjadi istri ku bukan pacarmu lagi," ucap Ujang sambil menatap tajam tepat dimata Samuel.


Samuel tergagap seketika tapi mulutnya tidak mau menyerah,, dia masih mencintai Mentari.


"Saya tidak mau dia menderita, saya masih mencintai dia," ucap Samuel.


"Apa?" ucap Ujang yang mulai sinis.


"Hei anak kecil, Mentari itu istriku yang sangat aku cintai, dia tidak ada hubungan apapun lagi dengan kamu, lucu sekali! kamu menasehati suaminya yang membuat dia bahagia selama ini, oh iya kamu kerja apa disini?" tanya Ujang.


"Saya magang,, sebentar lagi saya akan...," ucap Samuel yang terhenti karena Ujang sudah memotong ucapannya.


"Baru magang belum karyawan tetap,, pesanku wanita zaman sekarang tidak butuh hanya penampilan saja, dia butuh laki-laki dewasa yang mengerti sopan santun," ucap Ujang.


Setelah itu Ujang pergi membayar makanannya dan juga makanan Samuel,, dia tidak perduli sama sekali dengan wajah murka Samuel.


"Ayo," panggil Ujang pada Azis.


"Siapa anak muda tadi Jang? rasanya aku pernah lihat anak itu," ucap Azis.


"Anak ingusan," ucap Ujang dengan kalem.

__ADS_1


__ADS_2