
Ujang tidak main-main sedikitpun dengan ancamannya, dalam sehari itu juga dia berhasil memulangkan Doni ke pihak kampus, sempat terjadi perdebatan kecil antara pihak kecamatan dan kampus, namun akhirnya keputusan diambil juga, Doni ditendang dari peserta KKN tahun ini. Ketegangan itu masih saja terasa, teman-teman Doni yang tersisa saat ini duduk di depan Ujang, Indri membuka pembicaraan terlebih dahulu mewakili teman-temannya yang lain.
"Kami benar-benar sangat menyesali atas semua yang telah terjadi, atas nama teman-teman semua kami mohon maaf Bang, atas apa yang telah terjadi yang menimpa Abang dan Kak Mentari," ucap Indri sambil melirik Mentari yang masih terlihat marah.
"Aku dan istriku memaafkan,, dengan catatan tidak ada lagi nanti yang akan membuat ulah, kalian datang sebagai tamu dan kami sambut dengan tangan terbuka di sini,, istriku bahkan sangat bersemangat untuk menyambut kalian, tapi apa yang kalian lakukan?" ucap Ujang.
"Sekali lagi maafkan kami yang telah merepotkan Bang Ujang dan Kak Mentari," ucap Indri lagi menambahkan.
Ujang menatap tegas pada Indri membuat gadis itu langsung salah tingkah.
"Apalagi kalian para perempuan ini, jangan terlalu dekat bergaul dengan anak laki-laki. Kalian memang serumah tapi bukan berarti kalian bebas bersama siang sampai malam, ini di Desa banyak norma-norma kesopanan yang mesti kalian ingat,, yang mungkin tidak diajarkan oleh orang tua kalian yang tinggal di kota," ucap Ujang.
Semuanya langsung menunduk,, mereka pun merasa sangat malu,, kabar Doni yang mengintip itu sangat cepat sekali tersebar. Dari tadi pagi Indri mendapatkan telepon bertubi-tubi dari teman-temannya yang sangat penasaran bagaimana cerita sebenarnya. Indri sampai mematikan ponselnya karena sangat bosan ditelepon terus.
Indri langsung melirik Intan salah satu teman KKN yang berbeda kamar dengan dia, dia rajin berteleponan dengan teman-temannya yang berbeda posko dengan dia,, teman-temannya berada di posko desa sebelah, Indri sangat yakin Intan terlalu ember. Ujang pun bangkit membantu istrinya untuk berdiri,, Ujang sangat mengerti mereka membutuhkan udara segar untuk menjernihkan pikiran dan meredam hati yang panas,, apalagi masalah ini telah tersebar cepat di desa mereka, membuat mereka malu dan marah.
"Jika kalian mau pergi,, jangan lupa mengunci rumah, kami mau pergi ke rumah mertuaku," ucap Ujang sambil melihat Ratu yang dipercayakan untuk memegang satu kunci.
"Baik, Bang!!" ucap mereka bersamaan.
Sepeninggalan Ujang dan Mentari,, Indri langsung mendekati Intan yang selama ini selalu menarik diri dari kelompok entah karena alasan apa.
"Intan, boleh nanya?" ucap Indri.
"Mau tanya apa Indri?" tanya Intan balik.
"Kamu yang nyebarin ke teman-teman yang lain yah? Kok orang lain pada tahu," ucap Indri.
"Astagfirullah kok kamu nuduh aku Indri?" ucap Intan.
"Karena kamu yang sering teleponan dengan mereka," jawab Indri.
"Tuduhan kamu itu nggak berdasar Indri," ucap Intan lalu berdiri melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar,, wajahnya juga memucat terlihat panik.
Intan meninggalkan teman kamarnya yang bernama Nindi, Nindi mendekati Indri lalu berbisik tepat di telinga Indri.
__ADS_1
"Maaf mungkin ini tidak mengenakkan kamu,, tapi Intan juga menyebarkan gosip bahwa kamu naksir sama Bang Ujang,, dia tahu dari Doni," bisik Nindi.
"Apa?" ekspresi wajah Indri langsung memerah,, namun Nindi buru-buru masuk ke dalam kamar menyusul Intan.
##########
Begitu sampai di rumah orang tuanya, Mentari langsung masuk ke dalam kamarnya, setelah dia sempat menyapa ayah ibunya singkat, Aqeel dan Aqeela langsung bergerak lincah di ruang tamu ketika neneknya memberikan mereka kue.
"Kenapa dengan Tari?" tanya Ayah Mentari pada Ujang.
"Ada masalah sedikit di rumah," jawab Ujang.
"Kalian bertengkar?" tanya ibu Mentari dengan suara pelan.
Ujang langsung menggelengkan kepalanya. Lalu Ujang pun segera menceritakan apa yang terjadi,, membuat ayah dan ibu Mentari ikut geram, sebenarnya Ujang malu untuk menceritakan itu,, tapi dia tidak mau kedua mertuanya itu tahu dari orang lain.
"Sebenarnya Ibu sudah menduga akan terjadi sesuatu jika kalian menerima mereka. Tidak mudah hidup serumah dengan orang asing yang kita tidak tahu kebiasaan baik dan buruk mereka. Setiap tahun selalu ada saja masalah yang terjadi, anak zaman sekarang berbeda dengan kita dulu," ucap Ibu Mentari.
"Saya juga keberatan waktu itu, tapi Mentari sangat bersemangat karena anak-anak itu berasal dari kampus yang sama dengan dia, dia pikir akan menyenangkan jika di rumah ramai, saat ini dia belum bisa menerima atas apa yang menimpa kami,, dia malu," ucap Ujang.
Sejujurnya Ujang benar-benar sangat malu saat menceritakan kejadian itu pada mertuanya, wajahnya pun memerah dia mencari bahasa yang sangat halus agar terdengar halus. Belum sempat Ibu Mentari menimpali, Mentari muncul diambang pintu sambil meringis kesakitan, tangannya yang kiri terletak dipinggang, yang kanan diperutnya.
Ujang dan Ibu Mentari langsung saling pandang,, kemudian bersama-sama mendekati Mentari, Ibu Mentari membantu Mentari untuk jalan.
"Usia kandunganmu berapa, Tari?" tanya Ibu Mentari.
"Masih delapan bulan Bu,, mungkin belum genap," jawab Ujang khawatir.
"Artinya belum waktunya dia melahirkan," ucap Ibu Mentari yang tidak kalah khawatir juga.
"Abang, sakit sekali," ucap Mentari meringis kesakitan.
"Sudah keluar tanda, Tari?" tanya Ibu Mentari panik.
"Tidak ada, tapi..." ucap Mentari lalu melihat ke arah celana panjangnya.
__ADS_1
Cairan bening kini mengalir deras,, wanita itu langsung panik.
"Abang, ketuban ku pecah," ucap Mentari.
"Antar dia ke bidan desa, anak-anak biar sama Ibu," ucap Ibu Mentari.
"Baik Bu," ucap Ujang yang langsung bergerak sigap menggendong istrinya ke mobil mereka. Ujang tidak menduga sama sekali Mentari akan melahirkan secepat ini,, kandungan istrinya belum genap, rasa cemas langsung menyusup dihatinya. Saat Mentari diperiksa oleh bidan desa, bidan malah merujuk Mentari ke rumah sakit umum yang ada di kota.
"Saya tidak berani mengambil resiko kepala anak belum dibawah,, kemudian kontraksi Mentari sudah berhenti, saya takut anak kekeringan di dalam rahim," ucap Bu Bidan.
Tidak ada pilihan lain selain membawa Mentari ke rumah sakit, Mentari sudah berhenti meringis, mereka berusaha memanfaatkan waktu untuk cepat sampai ke rumah sakit.
"Abang bagaimana ini?" tanya Mentari gelisah.
"Tenangkan dirimu semuanya pasti akan baik-baik saja," ucap Ujang berusaha menyemangati Mentari,, meskipun saat ini dia sangat khawatir.
"Kandungan ku belum cukup Abang, dia akan lahir prematur," ucap Mentari sambil menangis.
Ujang tidak mampu lagi menjawab dia kehabisan kata untuk menenangkan Mentari, karena sejujurnya dia juga sangat cemas dan sangat panik, kata bidan Mentari harus dioperasi, akan tetapi dilemanya istrinya itu mengalami anemia.
Ujang tidak mengucapkan apa-apa bahkan saat istrinya masuk UGD,, Ujang benar-benar sangat khawatir, Ujang berdoa terus agar semuanya baik-baik saja.
##############
Tidak menunggu lama Mentari langsung ditangani,,, Ujang menelepon mertuanya agar menjemput tas yang berisi perlengkapan bayi yang sudah Ujang siapkan dari jauh-jauh hari. Mentari sempat menangis saat masuk ke ruangan operasi, keinginan kembali melahirkan normal,, gagal sudah. Ujang berulang kali menyenangkan hati istrinya itu, bahwa semua ini demi anak mereka dan juga keselamatan istrinya, operasi atau melahirkan normal sama saja,, sama-sama berjuang juga.
"Pak Ujang," ucap seorang Dokter yang sangat ramah.
"Iya saya," ucap Ujang.
"Kami butuh darah A dua kantong," ucap Dokter itu.
Ujang mengusap keringat dinginnya,, dia tak bisa berpikir cepat, darah? buat apa darah? apakah istrinya baik-baik saja?
Di tengah kekalutannya,, Andre meneleponnya,, dia mendapat kabar dari ayah Mentari bahwa Mentari telah berada di rumah sakit, saat itulah terlontar dari mulut Ujang, bahwa dia membutuhkan darah A dua kantong, terdengar desas-desus dari belakang Andre, kemudian suara tegas dari Andre membuat Ujang bernafas lega.
__ADS_1
"Indri memiliki golongan darah A, dia akan ke sana sekarang untuk mendonorkan darah,, Abang jangan khawatir," ucap Andre.
Ujang tidak berhenti mengucapkan kata syukur, jika sebelumnya dia menyesal telah menerima anak-anak itu, saat ini dia malah bersyukur dan tidak berhenti terus mengucapkan terima kasih di dalam hatinya.