Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Selangkah lebih dekat...


__ADS_3

"Ada apa dengan Bang Ujang?" tanya Mentari yang ikutan panik juga begitu melihat Azis yang panik.


"Ujang,, dia tertimpa pohon yang tumbang, Tari," ucap Azis.


Mentari tampak terkejut lalu mereka pun segera ke rumah sakit.


Ujang baru saja ditangani di UGD, syukurnya keadaan Ujang tidak terlalu parah,, Ujang mengalami cedera pada bahunya,, lukanya lumayan dalam dan butuh dijahit.


Mentari mendekat pada Ujang,,, luka Ujang baru selesai dijahit,, Mentari menatap lurus pada Ujang,, begitu pun dengan Ujang yang ikut menatap Mentari.


"Bagaimana itu bisa terjadi Bang?" tanya Mentari sambil melihat bahu Ujang yang sudah dibalut perban saat ini.


"Aku sedang memancing tadi saat angin kencang terjadi terus ada pohon tua yang memang sudah lapuk,, aku sudah berusaha menyelamatkan diri tapi aku terkena juga,, ada dahan pohon yang menancap,," jelas Ujang.


Mentari langsung merasa ngeri sendiri begitu mendengar ucapan Ujang. Lalu Mentari tampak menyelipkan rambutnya di telinga,, rasanya cukup canggung ketika berbicara habis bertengkar.


"Apa tadi kamu menunggu ku Tari?" tanya Ujang.


Mentari pun langsung mengangguk.


"Di rumah sangat sepi kalau malam hari,,, Tari takut,," ucap Mentari.


"Untung aku tidak mati,," ucap Ujang.


"Abang jangan bicara seperti itu,," ucap Mentari yang merasa terganggu dengan ucapan Ujang.


Ujang tampak menengadah ke langit-langit rumah sakit,, mata yang biasanya terpancar cahaya optimis kini terlihat sangat rapuh.


"Terkadang aku lelah untuk selalu merasa kuat,, aku sebatang kara tidak memiliki keluarga,, terlambat menikah,, jadi bahan olok-olok orang lain,, dan yang paling parah membuat kamu malu,,," ucap Ujang.


Mentari merasa tersentil dengan ucapan Ujang,, Mentari menunduk.


"Aku kadang berpikir apa yang aku miliki di dunia ini? tidak ada yang aku miliki selain kesepian dan juga kesendirian,," ucap Ujang sambil tersenyum miris.


"Dulu rumah itu selalu ramai,, ada Ayah,, Ibu,, Adik angkat ku,, Nenek,, Kakek,, gelak tawa dan kebahagiaan selalu menemani kami setiap hari. Sampai suatu ketika semuanya terjadi,, hanya dalam hitungan jam saja semuanya berubah,, mobil kami kecelakaan dan terperosok masuk ke dalam jurang saat kami menghadiri pesta di luar daerah waktu itu,, semuanya meninggal yang tersisa hanya aku,, aku selamat dengan luka yang tidak terlalu parah," ucap Ujang.


Mentari tersentak mendengar ucapan Ujang,, Mentari mengangkat wajahnya sambil melihat Ujang dengan tatapan iba,, Mentari tidak dapat menyembunyikan sama sekali perasaan iba nya. Biasanya Ujang sangat enggan membahas masa lalunya,, tapi malam ini Ujang tampak berbicara panjang lebar.


"Saat itu terjadi,, satu hal yang aku sesali,, aku belum bisa memenuhi keinginan Ibuku yaitu menikah,," ucap Ujang.


Ujang menghindari tatapan mata Mentari,, Ujang lebih memilih memandang tirai pembatas UGD,, Mentari merasa ada beban berat yang menghimpit dadanya,, Mentari merasa kasihan sekaligus merasa bersalah.

__ADS_1


"Andaikan mereka masih hidup,, mereka tentu akan sangat bahagia saat ini karena melihat aku sudah menikah,, aku sudah memiliki istri,," ucap Ujang sambil menatap Mentari.


Mentari merasa tersentil,, Ujang memiliki dirinya secara agama maupun hukum,, tapi mereka masih saja seperti orang asing,, Mentari tidak mampu berkata apa-apa lagi.


"Jang,, kamu yakin tidak mau dirawat disini?" tanya Azis begitu sudah meminta izin untuk masuk.


"Yakin Bang, kaki ku masih bisa berjalan,, ini hanya luka robek saja,, aku nggak apa-apa,," ucap Ujang.


"Baiklah Jang,, aku sudah menelepon Yudi untuk meminjam mobil nya," ucap Azis lagi.


"Terima kasih,," ucap Ujang.


Azis pun mengangguk.


"Ayo Tari,, kita harus selesaikan pembayaran dulu," ucap Azis lagi.


Mentari menatap sekilas pada Ujang lalu segera mengikuti Azis.


"Tari,, aku mau bicara,," ucap Azis begitu sudah keluar dari UGD.


"Iya Bang," ucap Mentari.


"Minta maaf kenapa Bang?" tanya Mentari lagi.


"Aku tidak sengaja mendengar pertengkaran kalian,, begini Tari,, aku sebagai Kakak angkat sekaligus teman Ujang,, dan juga aku yang sudah berpengalaman dalam rumah tangga,, aku memintamu untuk sesuatu yang sangat mudah,, apa kamu bisa Tari?" ucap Azis.


Mentari tampak masih bingung kemana arah pembicaraan Azis saat ini.


"Kamu belum mengenal Ujang secara utuh Tari,, padahal itu adalah tugas mu sebagai seorang istri,, jika laki-laki telah menikah maka orang yang terdekat dengan nya yaitu istrinya,, jadi aku harap kamu bisa membahagiakan Ujang, Tari,, sudah terlalu banyak ujian hidup yang dia terima jangan kamu tambah lagi," ucap Azis.


"Maksud Abang,, aku menambah gimana?" tanya Mentari yang sedikit tersinggung.


"Mentari,, suami itu adalah cerminan istri,, jadi kalau kamu ingin suamimu terlihat gagah dan juga bersih,, maka kamu harus pandai-pandai merawat nya,, dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi,, hanya kamu orang yang paling dekat dengan dia sekarang,, jadi bahagiakan dia,, Tari," ucap Azis.


Azis pun segera berlalu bahkan tanpa menunggu Mentari menjawab ucapannya.


Mereka akhirnya sampai di rumah pukul tiga dini hari,, Azis langsung permisi untuk pulang ke rumah nya karena dia sangat mengantuk belum tidur sama sekali sejak tadi.


Mentari mengiringi langkah Ujang untuk masuk ke dalam kamar, Mentari menaruh plastik yang berisi obat-obatan,, dan juga perlengkapan untuk mengganti perban Ujang nantinya.


Mentari langsung ke dapur mengambilkan segelas air putih untuk Ujang.

__ADS_1


"Minum dulu Bang," ucap Mentari.


"Terima kasih," ucap Ujang sambil mengangkat tangan kirinya,, karena tangan kanannya terasa sakit jika digerakkan, obat biusnya sudah hilang total,, sementara luka Ujang berada di bahu kanannya.


Seketika suasana menjadi senyap,,, perkataan Azis masih terngiang-ngiang di kepala Mentari.


"Itu pasti sakit sekali. Abang,, Tari minta maaf,," ucap Mentari sambil menangis.


"Aku memaafkan kamu,, mungkin aku juga bersalah karena sudah membuat kamu malu," ucap Ujang.


"Tidak,, Abang tidak salah sama sekali," ucap Mentari sambil menggelengkan kepalanya.


"Tari saja yang egois menumpahkan semua kesalahan pada Abang,, padahal Tari yang tidak teliti membaca undangan," ucap Mentari lagi sambil menunduk.


"Tidak apa-apa,, mari sama-sama kita lupakan jadikan itu pembelajaran bagi kita berdua,, ya sudah kamu tidurlah,, pasti kamu sangat capek," ucap Ujang sambil bangkit dari duduknya.


"Abang mau kemana?" tanya Mentari.


"Aku mau mengambil handuk kecil dan air,, aku gerah banget,, keringat ini perlu dilap," ucap Ujang.


"Biar Tari saja yang ambil Bang," ucap Mentari lalu segera bangkit dari duduknya menuju dapur. Beberapa menit kemudian Mentari kembali dengan membawa baskom kecil dan juga handuk yang telah dicelupkan ke dalamnya.


"Letakkan saja disini nanti tempat tidurnya basah," ucap Ujang sambil menunjuk lantai dan Mentari pun menurut.


Ujang menjulurkan tangannya mengambil handuk basah itu,, dan meremasnya sedikit, Ujang tampak kesusahan membersihkan punggung nya sendiri.


"Sini Tari bantu Bang," ucap Mentari sambil merebut handuk kecil yang dipegang Ujang,,, lalu Mentari berpindah ke belakang Ujang.


Antara menyesal dan penasaran,,, Mentari mulai mengusap punggung Ujang dengan perlahan, tentu tanpa menyentuh bahu Ujang yang sedang terluka.


"Tari,, lenganku," ucap Ujang.


Inikah saatnya? terjawab sudah selama ini Mentari sangat penasaran dengan lengan Ujang,,, bagaimana rasanya jika dia menyentuh lengan berotot itu yang terlihat begitu sempurna.


Mentari meneruskan pekerjaannya,, Ujang kini menghadap kepadanya seolah sedang memamerkan tubuhnya yang begitu sempurna,, Mentari jelas-jelas melihat dada bidang Ujang yang dipenuhi rambut itu,, seketika Mentari menjadi sangat gugup,, pipinya panas dan merona. Tangannya yang tengah memegang handuk basah kini menggantung di udara.


"Tari," ucap Ujang dengan suara berat. Mentari mendongak menatap Ujang yang bola matanya gelap segelap malam,, kembali perasaan tidak nyaman itu menggelitik perut Mentari.


Tidak ada kata-kata,, tidak ada yang bicara entah siapa yang memulai kini wajah mereka sudah mendekat dan juga merapat.


Dan Mentari merasa kehangatan yang basah kini sedang membungkam bibirnya,, ini lebih dari sekedar perutnya yang digelitik,, tapi seperti rasa haus yang tengah menunggu air untuk menuntaskan rasa hausnya,, akhirnya Mentari tau begini rasanya berciuman. Ciuman yang sangat memabukkan.

__ADS_1


__ADS_2