
Sebuah kafe yang sangat mewah yang terletak di tengah kota,, di sanalah Doni dan Indra bertemu dengan Angelica,, Indra sampai melongo melihat kemewahan kafe itu, seumur hidup baru kali ini dia bisa menjadikan lantai kafe sebagai tempat bercermin karena terlalu mengkilat,, seperti kaca yang sangat mahal yang dipajang di rumah-rumah orang kaya. Maklum ini adalah pertama kalinya untuk orang seperti Indra masuk ke kafe yang begitu mewah biasanya dia hanya masuk ke warung di pinggir jalan saja atau warung-warung sederhana yang ada di kampungnya, Indra juga tidak pernah kepikiran bahwa bisa masuk di kafe yang sangat mewah seperti ini.
Indra terlihat sangat bersemangat berada di kafe mewah itu sedangkan Doni tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya yang pucat dan terlihat ketakutan itu, dia sangat takut jika seseorang membuntuti dirinya dan perbuatan mereka akhirnya ketahuan.
"Duduklah!!! karena saya tidak akan lama berada di sini,, saya sangat sibuk orangnya," ucap Angelica dengan tegas sambil melihat Doni dan Indra yang sangat kampungan itu menurutnya,, tentu dia tidak ingin lama-lama dengan orang kampung akan menjatuhkan harga dirinya jika sampai dilihat oleh teman-temannya sederajatnya.
"Bagaimana pekerjaan kalian berhasil kan?" tanya Angelica sambil melihat Doni dan Indra secara bergantian.
"Tentu saja Bu berhasil,, tetapi ada sesuatu yang di luar kendali yang terjadi, niat kami yang tadinya hanya ingin membakar hutan malah api itu merambat hingga membakar gudang perabot Ujang dan juga rumah Ujang ikut terbakar," ucap Indra memberitahukan pada Angelica mengenai yang terjadi. Indra was-was juga kalau dia sampai kena marah atau upahnya dikurangi.
Mendengar itu bukannya Angelica marah tapi dia malah tertawa bahkan tertawanya sangat lebar hingga memamerkan giginya dengan sempurna.
"Wah-wah ini sangat luar biasa kalian patut mendapatkan hadiah karena telah melakukan sesuatu yang tidak aku suruh dan itu membuat aku senang memang aku berharap semuanya terbakar termasuk dengan rumah pria sombong itu, kenapa tidak sekalian saja dengan orang-orangnya?" ucap Angelica sambil terus tertawa karena merasa begitu senang.
Mendengar hal itu,, Indra langsung merasa sangat bangga sangat berbeda dengan yang terjadi pada Doni,, badan Doni mendadak menggigil karena ketakutan, perasaan bersalahnya pada Ujang terus saja menghantui dirinya dari hari ke hari.
"Karena kerjaan kalian yang sangat bagus ini,, maka saya akan menambahkan kalian upahnya,, saya akan menambahkan satu juta masing-masing untuk kalian berdua,," ucap Angelica sambil tersenyum senang.
"Wah Ibu memang sangat baik sekali tidak menyesal saya menerima pekerjaan ini," ucap Indra yang memuji Angelica secara berlebihan itu.
Angelica tersenyum bangga.
"Ini," ucap Angelica sambil menyodorkan sebuah amplop yang begitu tebal, mata Indra langsung berbinar senang begitu melihat amplop uang itu yang sangat tebal, sudah terbayang baginya berapa uang yang akan mereka terima pasti sangat banyak sehingga mereka tidak perlu bekerja untuk beberapa bulan ke depan,, mereka bisa menggunakan uang itu.
"Pergilah segera karena saya tidak punya banyak waktu untuk bertemu dengan kalian,, karena bagaimanapun kita harus menjaga rahasia ini dengan rapat-rapat,, jangan sampai ada yang tahu tentang rahasia ini, mengerti kalian?" ucap Angelica lagi.
Indra menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja kami akan menjaga baik-baik rahasia ini dan saya juga sangat senang bekerja kepada Ibu Angelica,, mana tahu di masa depan Ibu masih membutuhkan tenaga saya, saya akan memberikan diskon terhadap pekerjaan yang akan Ibu berikan kepada saya ," ucap Indra lagi.
Angelica hanya tersenyum sinis sambil menatap rendah kepada dua orang pria yang memakai baju sangat kumal di matanya itu. Kalau bukan karena hutan itu,, mana sudi Angelica bertemu dengan dua orang pria ini.
"Ingat baik-baik yah kalian harus menjaga rahasia ini dengan nyawa kalian, jika rahasia ini sampai bocor ke orang lain,, maka saya tidak akan mengampuni kalian berdua, rahasia ini lebih berharga dari nyawa kalian sendiri, jika sampai rahasia ini bocor maka kepala kalian akan menjadi gantinya," ucap Angelica lagi sambil menatap tajam pada Doni dan Indra. Angelica tentu tidak akan mau rahasia ini sampai ditahu oleh orang lain bahwa dia adalah dalang dari semuanya.
__ADS_1
"Yakinlah kepada kami Bu Angelica!!! rahasia ini akan selalu aman tidak akan di tahu oleh siapapun,, karena kalau di tahu juga kita berdua akan ikut terseret juga,, makanya kami akan menjaga baik-baik rahasia ini tidak perlu khawatir akan ketahuan," ucap Indra meyakinkan Angelica.
"Iya baguslah kalau kalian sampai berpikir seperti itu, sekarang lebih baik kalian pergi dari sini sebelum ada orang lain yang melihat pertemuan kita," ucap Angelica.
Indra pergi dengan senyum bahagia sementara Doni dari tadi hanya diam saja sambil menggigil karena ketakutan.
##############
Setelah melihat Indra dan Doni benar-benar pergi dari kafe itu,, Angelica pun bergumam dengan pongahnya.
"Aku jadi penasaran sekarang apa yang di rasakan oleh pria sombong itu setelah dia kehilangan semuanya, aku sangat yakin sebentar lagi dia akan datang merangkak kepadaku dan menjual harta satu-satunya yang dia punya yaitu tanah. Ah... aku benar-benar tidak sabar menunggu saat itu tiba, siapa suruh kamu berani berurusan denganku. Oh Angelica kamu memang benar-benar wanita yang sangat hebat," ucap Angelica yang memuji dirinya sendiri sambil tersenyum senang dan penuh kemenangan.
Sementara di tempat lain seorang wanita dan seorang pria yang merupakan suami istri itu sedang duduk berdua di sebuah ruangan,, rumah sederhana dengan perabotan seadanya itu adalah sebuah rumah di mana Mentari dibesarkan.
"Boleh aku meminta sesuatu?" tanya Ujang.
"Apa Abang?" tanya Mentari dengan kening yang berkerut.
"Kamu masih menyimpan nomor ponsel wanita sombong itu?" tanya Ujang.
"Tunggu!!! buat apa Abang menanyakan nomor ponsel Mbak Angelica?" tanya Mentari.
"Menangkap seorang penjahat tidak ada yang lebih indah dengan menggunakan tangan kita sendiri," ucap Ujang dengan dingin.
"Maksudnya? Abang akan menemui Mbak Angelica dan membuat dia menerima hukuman?" tanya Mentari.
"Iya," jawab Ujang yakin.
"Jangan!!! itu pasti akan sangat berbahaya Abang," ucap Mentari tidak yakin.
"Serahkan saja semuanya kepadaku," ucap Ujang.
"Tapi Abang..." ucap Mentari dengan penuh keraguan.
__ADS_1
"Berikan saja nomornya kepadaku, aku ingin menemui wanita itu dan mengatakan apa yang dia inginkan? jika dia berharap aku akan mengemis uang kepadanya maka dia salah besar," ucap Ujang yang semakin dingin.
"Baik!!!" ucap Mentari dengan terpaksa.
###########
Angelica yang masih duduk santai di kafe itu sambil menikmati coklat panas yang dipesannya, merasa terganggu dengan dering HP yang bergetar di tas mahalnya tersebut.
"Nomor asing?" ucap Angelica lalu segera mengangkat panggilan telepon dari nomor asing tersebut.
"Halo," ucap Angelica begitu mengangkat panggilan telepon dari orang asing tersebut.
"Halo!!!" ucap seseorang dengan suara yang tegas dari seberang sana.
"Siapa ini?" tanya Angelica.
"Saya orang yang kamu cari-cari," jawab Ujang.
"Jangan bertele-tele, saya sangat sibuk," ucap Angelica,, sebenarnya Angelica sudah tahu siapa yang meneleponnya itu mendengar dari suaranya.
"Saya Ujang dan saya ingin bertemu dengan Anda secara pribadi," ucap Ujang.
Mata Angelica melebar sejenak, kemudian senyum menang langsung terbit di bibirnya.
"Buat apa menemui saya?" tanya Angelica berpura-pura tidak tahu apa-apa.
"Ada sesuatu yang akan saya bicarakan," jawab Ujang.
"Oh baiklah!!! saya akan berikan alamat di mana kita bisa bertemu," jawab Angelica lagi.
"Baik," ucap Ujang sambil menahan geram di seberang telepon.
Angelica menutup telepon lalu meletakkan benda itu di atas meja kafe,, dia tampak bertepuk tangan sendiri
__ADS_1
"Ternyata lebih cepat dari apa yang aku duga,, hahaha!!!" ucap Angelica sambil tertawa penuh kemenangan.