Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Menginterogasi Doni....


__ADS_3

"Saya rasa saya tidak perlu bertanya pada Bang Doni, apakah orang yang saya lihat tadi adalah Abang atau bukan," ucap Ujang dengan tegas sambil menatap ke mata Doni yang terlihat sangat pucat dan ketakutan.


Doni memutuskan untuk keluar dari kedai itu.


"Kita keluar saja Jang,, biar bicaranya jadi enak," ucap Doni berusaha menguasai dirinya agar dia tidak terlihat panik sedikitpun meskipun sebenarnya saat ini dia sangat panik sekali,, dia takut ketahuan oleh Ujang.


Ujang pun menurut dia melihat ke arah Indra sekilas dan Indra juga melihat ke arahnya, lalu beberapa detik kemudian Indra memalingkan pandangannya ke arah lain sambil menghisap rokoknya yang tinggal separuh,, Indra tentu saja tidak mau lihat Ujang lama-lama dia juga takut ketahuan karena nyawa mereka taruhannya apabila ketahuan. Ujang merapatkan jaketnya di luar sedang gerimis namun pria itu tidak gentar sedikitpun tidak takut akan demam keesokan harinya.


"Jadi apa yang Abang lakukan tadi di lokasi bekas kebakaran rumah saya?" tanya Ujang sambil melihat Doni.


Doni tampak menekan rasa takutnya dan juga perasaan bersalahnya pada Ujang,, dia lalu menatap Ujang dengan perasaan yang sangat campur aduk.


"Jang,, ketika kebakaran itu terjadi aku sedang bekerja mencari batu alam, aku belum sempat melihat lokasi kebakaran itu dan malam ini aku datang untuk melihat lokasi itu,, karena hanya malam ini waktuku senggang," ucap Doni yang tentu saja berbohong sambil berusaha terlihat tenang di mata Ujang,, meskipun itu sangat susah dia lakukan.


Ujang tampak tersenyum,, lebih tepatnya tersenyum miring karena merasa alasan Doni itu sangat tidak masuk akal sama sekali di otak Ujang.


"Datang di malam hari bahkan tanpa lampu yang memadai?" tanya Ujang sambil tersenyum sinis melihat Doni.


Doni terlihat berusaha mengendalikan dirinya agar tidak ketahuan.

__ADS_1


"Besok aku harus berangkat ke luar kota kembali untuk bekerja, jadi waktu ku hanya ada malam hari saja,, makanya biarpun lampu tidak memadai, aku usahakan untuk bisa melihat lokasi itu,, aku turut prihatin atas apa yang terjadi padamu Jang,, kamu orang yang baik," ucap Doni dengan jantung yang berpacu sangat cepat dari biasanya.


Doni ingin berbohong tapi dia sudah tertangkap basah,, lagi pula pakaian yang dia gunakan untuk melihat lokasi tadi masih menempel pada dirinya sendiri. Jika dia berbohong mengatakan bahwa itu bukanlah dirinya,, itu sudah pasti akan membuat Ujang semakin curiga saja,, dia juga menyesal tadi kenapa tidak langsung pulang saja kenapa dia harus singgah di kedai akhirnya dia malah dilihat oleh Ujang.


"Lalu kenapa Abang malah lari ketika saya bertanya tadi?" tanya Ujang lagi sambil terus melihat Doni.


Saat ini Doni memucat,, wajahnya sangat pucat pasi. Doni benar-benar bingung harus menjawab apa agar Ujang tidak mencurigai dirinya.


"Itu aku sedang buru-buru Jang,, dan tidak bisa melayani kamu bicara,, makanya tadi aku langsung pergi karena ada urusan mendadak," ucap Doni yang berusaha terlihat biasa saja meskipun dia berpikir bahwa alasannya itu sepertinya tidak masuk akal,, tapi itu saja yang sempat Doni pikirkan,, jadi itu saja yang dikatakan Doni. Dia tidak pandai berbohong seperti Indra,, jika Indra yang berada di posisinya saat ini pasti Indra akan berbohong selancar mungkin,, berbeda sekali dengan dirinya.


"Kalau memang Abang sedang terburu-buru,, kenapa Abang malah berleha-leha di kedai kopi dengan Indra?" tanya Ujang yang semakin mendesak Doni.


"Saya tidak menuduh Abang dan saya juga tidak percaya dengan alasan Abang seratus persen,, saya perlu mengumpulkan bukti untuk membuktikan siapa dalang dari semua ini, tapi ingat ini Bang jika Abang terbukti bersalah,, tiada ampun bagimu Bang,, saya akan membuat Abang masuk penjara supaya Abang tahu bagaimana dinginnya jeruji besi," ucap Ujang.


"Aku sama sekali tidak terlibat Jang, kamu tidak perlu mencurigai aku,, selama ini aku selalu berbuat baik kepada siapapun, aku tidak memiliki musuh sedikitpun,, aku murni bekerja untuk anak dan istriku," ucap Doni.


"Kita lihat saja,, apa benar Abang terlibat atau tidak," ucap Ujang lagi.


"Aku bersumpah Jang," ucap Doni.

__ADS_1


"Saat ini sumpah tidak lagi ditakuti oleh para pelaku kejahatan," ucap Ujang.


"Jang,, jangan mencurigai aku, hubungan kita selama ini cukup baik," ucap Doni.


"Yah sangat baik Bang,, masih ingatkah bagaimana ayah dan ibuku dulu pernah mengantarkan beras kepadamu? Abang terbaring sakit tidak ada satupun yang mau membantu mu? maka orang tuaku tanpa pamrih membantu Abang termasuk biaya pengobatan Abang juga," ucap Ujang.


Doni menunduk dalam, kemudian meremas kedua jarinya menahan diri agar tidak goyang agar tidak kelihatan mencurigakan di hadapan Ujang.


"Saya pamit Bang,, masih ada pintu maaf bagi Abang jika memang Abang terlibat dalam masalah ini, tapi jika Abang tidak mengaku sama sekali padahal bukti sudah mendekat pada Abang, jangan berharap kata maaf dari aku. Aku akan mengambil seperti apa yang telah kamu ambil dari kami dengan jumlah yang sama persis," ucap Ujang.


Setelah itu Ujang berjalan menuju parkiran dan memacu motornya menembus gerimis. Setelah bayangan Ujang menghilang di kegelapan malam sambil memegang lutut Doni merasa lemas,, sementara dari dalam Indra menyusul Doni keluar.


"Apa yang dikatakan Ujang tadi?" tanya Indra.


"Dia mulai mencurigai aku," jawab Doni.


Wajah Indra berubah dingin kemudian dengan ketus dia mengatakan.


"Kamu ingat kan yang dikatakan Bu Angelica kemarin? jika kamu membocorkan rahasia, maka kepalamu lah balasannya," ucap Indra.

__ADS_1


__ADS_2