Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Tari akan menunggu,,,


__ADS_3

"Bang, tunggu!!!" ucap Mentari,, dia berdiri sambil memegang perutnya yang besar, Mentari juga menahan nafasnya yang sesak,, pria yang tidak jauh berada di depan Mentari langsung memandang wanita itu sambil tersenyum.


Sudah tiga hari berturut-turut Ujang menemani Mentari jalan pagi seperti saran dokter di kandungan yang sudah mulai memasuki usia delapan bulan, Mentari harus rutin jalan pagi,, agar persalinannya mudah dan juga lancar,, sedangkan Aqeel dan Aqeela mereka berdua sudah dititipkan pada neneknya.


"Lelah?" tanya Ujang,, Mentari pun langsung menganggukan kepalanya sambil mengusap keringat yang berada di dahinya.


"Iya, berhenti dulu sebentar saja Abang," ucap Mentari.


"Mau digendong?" tanya Ujang sambil tersenyum geli, Mentari langsung mencibirkan bibirnya begitu mendengar tawaran suaminya itu.


"Kalau digendong namanya bukan jalan pagi tapi gendong pagi Abang," ucap Mentari lalu Mentari mulai melangkah lagi.


"Betul juga,, tapi kalau kamu mau,, aku akan selalu siap menggendong kamu," ucap Ujang.


"Iya Tari mau saja, tapi nanti ditertawakan orang kampung terus menjadi bahan gunjingan lagi," ucap Mentari sambil menarik nafasnya berulang kali.


"Ayo!!" ucap Mentari tersenyum sambil memegang lengan Ujang. Rasanya dengan berjalan berdua,, mereka seperti tengah berpacaran saja, jalan berdua saling berpegangan tangan,, saling menatap penuh cinta dan melempar senyum bahagia antara satu sama lain.


Bagi Mentari suaminya itu adalah laki-laki biasa yang memiliki pesona luar biasa,, tidak ada cacat dan cela,, kesederhanaan yang mampu membuat Mentari jatuh cinta, tidak hanya sekali saja tapi berulang kali jatuh cinta pada orang yang sama yaitu Ujang.


Mereka berdua tengah berjalan di jalan desa,, angin pagi yang sangat sejuk, sapaan dari beberapa orang yang kebetulan berpapasan dengan mereka,, dibarengi dengan senyum ramah mereka, menjadi energi tersendiri bagi Ujang dan Mentari.


"Bang coba lihat deh,, ada apa yah ramai-ramai?" tanya Mentari sambil menunjuk ke depan mereka tepat beberapa puluh meter di dekat persimpangan, orang-orang saat ini tengah berkerumun membentuk lingkaran.


"Tidak tahu juga ini masih terlalu pagi untuk menonton sebuah pertunjukan,, lagi pula tidak biasanya ada pertunjukan di desa ini," ucap Ujang.


"Ayo kita ke sana Abang," ucap Mentari sambil berjalan lebih dulu karena begitu penasaran, langkahnya cepat dan tergesa-gesa dan tidak lama setelah itu mereka sampai di tempat kerumunan itu.


Yang Mentari rasa begitu sampai di tempat kerumunan itu yaitu mencium bau yang sangat tidak sedap,, seperti bau bangkai yang teramat anyir dan juga sangat bau.


"Ada apa ini Mak?" tanya Mentari kepada salah satu ibu-ibu dan ibu-ibu yang ditanya itu langsung menoleh lalu memberikan tempat untuk Mentari lihat juga.


"Itu!!!" tunjuk wanita itu.


Mentari melihat seorang wanita yang sedang bersimpuh dengan wajah yang tertutup, tangannya yang terbuka dipenuhi dengan benjolan yang sangat besar berwarna hitam,, semua orang yang ada di sekelilingnya menutup hidung mereka,, begitupun dengan Mentari juga yang merasa perutnya langsung bergejolak mual.


"Ada apa ini?" tanya Ujang juga pada salah satu laki-laki yang sudah berusia lebih tua dari dirinya,, terdengar bisik-bisik tidak enak dari beberapa orang yang berada disana.


"Wanita ini berniat mencuri kain keranda yang ada di mesjid," ucap pria yang ditanya Ujang tadi.


Ujang langsung mengerutkan keningnya,, kain keranda? buat apa? bukankah benda itu tidak berharga jika dijual? lalu siapa wanita yang sangat betah membelakangi semua orang dan terlihat menyembunyikan wajahnya,, dan juga kain keranda yang dipegangnya sangat erat di pangkuannya.


"Tunggu disini, Tari,, atau kamu menjauh saja,, aku tidak mau kamu mual," ucap Ujang sambil menatap istrinya itu yang terus mengeluarkan suara ingin muntah,, Mentari pun menuruti apa kata suaminya, karena memang dia ingin sekali muntah,, Mentari menjauh tepatnya beberapa meter dari kerumunan itu, sampai bau wanita itu tercium samar saja di hidungnya.

__ADS_1


"Maaf,, siapa anda?" tanya Ujang sambil menyentuh pundak wanita itu, wanita itu langsung menoleh,, Ujang langsung tersentak kaget, sinar mata wanita jahat itu Ujang kenali,, meskipun wajah wanita itu nyaris tidak dikenali, karena dipenuhi benjolan-benjolan yang terlihat sangat menjijikkan.


"Kamu?" ucap Ujang.


"Pergi!!!" usir Marni.


"Apa Abang mengenal wanita itu?" tanya seorang laki-laki yang berada di samping Ujang.


"Dia itu orang disini juga," jawab Ujang.


"Pergi!!!" teriak Marni lagi,, hal yang paling menyebalkan adalah dia terlihat sangat menjijikan di depan orang yang dia cintai, Marni terbiasa dengan tampilan yang sempurna,, sekarang malah terlihat seperti bangkai yang sedang berjalan.


"Berikan kain penutup keranda itu, kenapa kamu malah mengambilnya?" ucap Ujang,, namun Marni malah semakin erat memeluk kain itu.


"Tidak!!! ini obat untuk penyakit ku," ucap Marni sambil histeris, Marni tidak lagi menyembunyikan wajahnya sehingga semua orang bisa melihatnya dengan leluasa.


"Istighfar Marni, hentikan kamu memakai ilmu hitam seperti itu,, sadarlah!!! ingat anak-anak mu yang masih kecil, mereka sangat kasihan," ucap Ujang yang sangat kasihan dengan anak-anak Marni yang harus menderita karena perbuatan Ibu mereka,, padahal anak-anak itu sangat butuh diurus oleh Marni.


"Hah apa dia Marni? Astagfirullah," ucap seorang wanita yang bertubuh gemuk juga dengan terkejut,, dan langsung disahuti oleh wanita lain juga yang tidak kalah terkejutnya.


"Berikan padaku, Marni," ucap Ujang sambil mengulurkan tangannya ingin mengambil kain itu,,, Marni langsung mengelak dengan gesit lalu melarikan diri,, beberapa orang ingin mengejar namun dihentikan oleh Ujang.


"Biarkan saja! jangan hakimi dia, kasihan dia masih memiliki anak-anak yang masih kecil,,, kain keranda masih bisa dibeli lagi,, berikan dia kesempatan untuk bertobat,, agar dia bisa mengurus anak-anaknya yang masih kecil-kecil itu," ucap Ujang yang langsung menghentikan langkah para pria-pria yang ingin mengejar Marni.


Mereka saat ini tengah berada di ruang tamu,, Mentari mengulurkan kakinya pada Ujang, sementara pria tampan dan gagah itu langsung memijitnya dengan sangat cekatan. Mentari dan Ujang benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang baru saja mereka lihat,, bagaimana bisa Marni berubah wujud dengan sangat aneh dan juga sangat menjijikan seperti itu,, tidak ada lagi Marni yang selalu modis, dia hampir saja tidak dikenali dan parahnya lagi berbuat hina dengan mencuri kain keranda untuk mayat.


"Menurut Abang,, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Mentari, matanya yang sedang tertutup langsung terbuka,, perut Mentari masih saja bergejolak, seolah-olah bau yang tercium dari Marni masih bisa dirasakannya sampai saat ini.


"Kurang tau juga istriku, yang jelasnya itu adalah akibat dari perbuatan dia sendiri yang suka pergi ke orang pintar,," ucap Ujang.


"Aneh sekali kenapa dia tidak menyerah? setelah guna-guna yang salah sasaran itu, lalu dia disisihkan oleh masyarakat, seharusnya dia itu berubah kasihan anak-anaknya," ucap Mentari heran.


"Jika manusia telah dibutakan oleh hawa nafsunya,, maka hati dia tidak bisa lagi menerima kebenaran, dia itu memiliki ambisi dan keinginan yang di luar nalar, hingga mampu menghalalkan segala cara untuk bisa mencapainya,, dia tidak pernah puas,, tidak bersyukur dan tidak mau belajar dari kesalahannya itu," ucap Ujang.


Mentari mengangguk,, dia menarik kaki kanannya lalu mengganti dengan kaki kirinya.


Ujang langsung tersenyum sambil memandang Mentari dengan penuh cinta.


"Istriku sejak kamu hamil, aku sudah beralih profesi menjadi tukang urut," ucap Ujang sambil mencubit gemas pipi istrinya itu sejenak.


"Memijit itu penyeimbang Abang," ucap Mentari sambil tersenyum.


"Penyeimbang?" tanya Ujang.

__ADS_1


"Iya," jawab Mentari.


Mentari lalu mengambil tangan Ujang, mengamati jari-jari besar itu dan juga kasar.


"Tangan ini begitu kuat dan kokoh, terbiasa dengan kayu,, terbiasa dengan kapak,, dan juga terbiasa mengangkat beban berat,," ucap Mentari sambil menatap Ujang, tepat dimata pria itu, menantang mata suaminya tanpa kedip,, Ujang hanya diam saja,, tapi dia menunggu apa kalimat selanjutnya yang akan keluar dari bibir mungil yang sangat suka diciumnya itu.


"Sebagai penyeimbang dia harus terbiasa memijit,, mengelus, membelai,, dan....," ucap Mentari yang langsung berhenti sejenak saat Mentari rasa Ujang sudah mulai terpengaruh dengan ucapannya.


"Tari," ucap Ujang.


"Iya, kenapa Abang?" tanya Mentari.


"Ini masih jam sebelas," ucap Ujang.


"Lalu?" tanya Mentari.


"Kita tidak mungkin bercinta di jam segini kan? aku ada pekerjaan yang harus dikerjakan," ucap Ujang.


"Kenapa tidak mungkin Abang?" ucap Mentari sambil mendekati suaminya itu yang sudah mulai terpengaruh dengan dirinya,, sejujurnya Mentari hanya mengerjai Ujang saja,, agar mereka tidak terus membahas Marni,, biar bagaimanapun Mentari masih saja cemburu pada Marni.


"Tari," ucap Ujang lembut sambil mengambil segenggam rambut Mentari lalu menghirup aroma wangi yang menguar dari rambut itu, Mentari tersenyum menang, pancingannya berhasil.


"Aku tentu bisa saja mengabaikan pekerjaan kalau mau bercinta, tapi...," ucap Ujang.


"Tapi apa,, Abang?" tanya Mentari.


"Aku tidak bisa mengabaikan dua anak kita yang sejak tadi sudah berada di belakangmu," ucap Ujang.


Mentari langsung tersentak kaget.


"Mereka bangun?" ucap Mentari.


"Iya," ucap Ujang.


"Aku selamat," ucap Mentari sambil bernafas lega,, sedangkan Ujang langsung menatapnya dengan penuh keheranan.


"Kenapa kamu bilang bahwa kamu selamat?" tanya Ujang.


"Abang pikir tadi itu aku serius?" ucap Mentari sambil tersenyum geli, sedangkan Aqeel tengah memeluk dirinya dari belakang.


"Aku akan membalas mu," ucap Ujang sambil tersenyum miring, lalu dia meninggalkan Mentari saat mendengar Azis yang memanggil dirinya berulang kali.


"Tari akan menunggu," ucap Mentari sambil tersenyum dan melambai genit pada suaminya, sedangkan Ujang langsung geleng-geleng kepala sambil tersenyum gemas melihat kelakuan istri cantik dan sangat dicintainya itu.

__ADS_1


__ADS_2