
"Jadi orang kampung itu tetap tidak tergiur dengan uang yang telah kita tawarkan?" ucap seorang wanita cantik dengan setelan kantor yang amat sangat elegan, suara itu menggema memenuhi ruangan rapat di mana hanya tinggal satu orang saja di sana.
"Tidak sama sekali,, saya sudah berusaha dengan memberikan bayaran tertinggi,,tapi pria itu tetap saja tidak mau," ucap Asisten wanita itu.
"Kurang ajar," ucap wanita itu.
"Rumah tua, gudang perabotan, hutan jati yang menjorok ke jalan, hanya akan membuat hotel yang kita bangun menjadi jelek, aku ingin tahu berapa harga yang di inginkan!" ucap wanita itu lagi.
Pria berjas biru dan berkulit putih itu menghela nafasnya.
"Bahkan walau diberikan dengan segunung harga emas,, dia tidak akan menjualnya," ucap pria itu.
"Kurang ajar!!! aku sendiri yang akan menemuinya!" ucap wanita itu lagi.
"Bu Angelica!!!" ucap pria muda itu.
"Biarkan saja! kepalanya terlalu keras untuk mendengarkan saran dari asisten seperti kamu," ucap suara asing seorang pria,, dan pria yang dikatakan sebagai asisten itu menunduk, lalu berjalan mundur meninggalkan ruang rapat itu.
Sekarang tinggallah seorang wanita cantik dan juga seorang pria tampan yang tiba-tiba muncul itu.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya wanita itu dengan ketus.
Pria itu menarik salah satu kursi dan duduk sambil mengangkat sebelah kakinya,, lalu tersenyum dingin.
"Tentu saja untuk menghentikan kegilaan mu itu," ucap pria itu.
"Tidak usah ikut campur, Mas," ucap wanita itu.
__ADS_1
"Selagi aku masih suamimu aku berhak untuk ikut campur, membangun hotel di sebuah tempat terpencil adalah ide yang sangat konyol, kamu menghabiskan terlalu banyak uang,, apa kamu tidak paham?" ucap pria itu.
"Pemandangan sungai dari atas bukit bukanlah suguhan yang murah,, aku tidak pernah salah dalam memilih lokasi," ucap Angelica.
"Angelica..."
"STOP!!! jangan bahas ini lagi karena aku sudah memikirkan ini dengan matang-matang,, kamu tahu pasti apa yang kulakukan selama ini tidak pernah gagal,, kamu hanya bisa mematahkan tanpa melakukan apa-apa," ucap Angelica sambil menatap tajam suaminya,, pria tampan berusia tiga puluhan itu hanya menunduk,, meredam semua rasa sakit di hatinya.
"Tidak akan ada yang bisa menghentikan aku,, termasuk merebut tanah orang kampung itu secara paksa," ucap Angelica lalu meninggalkan pria itu yang hanya bisa diam
############
Ujang mengusap keringatnya,, pekerjaan yang sangat banyak menyita waktu dan juga tenaga, ada begitu banyak pesanan minggu ini, sehingga Ujang bekerja lebih ekstra untuk menyelesaikan semuanya sesuai dengan target yang telah ditentukan.
"Sudah aku bilang tambah pekerja saja! kamu masih bersih keras untuk mencukupkan tenaga yang ada, memang susah berbicara dengan orang kepala batu," omel Azis, setelah mendapatkan tetapan tajam dan penuh peringatan dari Ujang, Azis pun tersadar telah mengomeli pria gagah perkasa itu.
"Jika aku cari pekerja yang baru, aku mesti memastikan dia telah terampil! jangan seperti kemarin pelanggan komplen karena hasil yang tidak seperti biasa," ucap Ujang.
Ujang kemudian membuka kaos singletnya yang telah basah oleh keringat. Meninggalkan kulit kecoklatan yang berotot dan mengkilat di tempa matahari pagi. Pria itu makin gagah dan maskulin,, apalagi dengan rambutnya yang mulai tumbuh panjang melewati telinganya, rambut yang juga ikutan basah karena keringat. Semenjak Ujang dirawat oleh Mentari memang ketampanan Ujang semakin terlihat. Sungguh Mentari sangat pandai dalam merawat suami.
"Apa Mentari hamil lagi? kudengar dia muntah-muntah?" tanya Azis yang benar-benar tidak tahan ingin menuntaskan rasa penasarannya itu,, kalau sampai Mentari hamil lagi berarti tokcer betul si Ujang dan juga rayuan Ujang benar-benar tidak bisa dianggap enteng,, karena bisa membuat istrinya itu hamil berkali-kali tanpa ketakutan dari Mentari karena Azis tau biasanya istri itu trauma mau hamil lagi setelah merasakan yang namanya sakitnya melahirkan,, apalagi Mentari masih sangat muda umurnya,, ditambah Azis tau betul istri Ujang itu sangat manja pada Ujang,, tapi lagi-lagi Azis salut pada Ujang karena bisa membuat Mentari si bunga desa itu manja padanya dalam waktu yang sangat cepat.
Ujang langsung mematikan mesin kayu yang ada di tangannya. Ujang lalu tersenyum,, andaikan istrinya itu bersedia, dia ingin sekali punya anak banyak dengan wanita itu. Mungkin dua belas tapi istrinya itu masih trauma untuk hamil lagi,, pengalaman begitu melahirkan anak bungsu mereka yang hampir merenggut nyawa, masih meninggalkan rasa takut pada Mentari dan begitupun pada Ujang,, sebenarnya dia juga merasa takut hal itu terjadi lagi. Tapi Ujang tahu hal itu bisa terjadi karena waktu itu istrinya banyak pikiran mengenai masalah anak KKN waktu itu yang mengintip mereka,, dan nanti kalau Mentari mau hamil lagi tentu Ujang tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi,, dia akan menjauhkan istrinya itu dari banyak pikiran.
"Untuk saat ini belum,, nanti aku usahakan lagi,," ucap Ujang dengan kalem.
Azis hendak menimpali ucapan Ujang,, tapi perhatian mereka terpecah pada mobil mewah yang parkir di pekarangan rumah milik Ujang yang sangat luas itu.
__ADS_1
"Apa ini yang namanya rezeki nomplok?" tanya Azis dengan mata melebar melihat mobil mewah itu,, Azis memang pria yang polos dan juga sangat mudah mengekspresikan dirinya.
"Belum tentu Bang,, bisa jadi ini adalah petaka," ucap Ujang sambil mengelus permukaan kayunya.
Sudah beberapa kali orang asing datang ke sini, membujuk Ujang untuk menjual tanah dan hutan jatinya, tentu saja Ujang tidak akan pernah mau meskipun akan dibayar dengan harga berapapun,, di sini adalah tempat tinggalnya dia sudah sangat nyaman tinggal di sini,, apalagi istrinya juga nyaman berada di sini,, kenapa dia harus menjual demi uang yang banyak? dia juga sudah memiliki uang yang banyak jadi tidak perlu menjual miliknya kepada orang asing tersebut.
Sementara orang yang berada di dalam mobil belum berniat untuk membuka pintu mobilnya.
"Pasti udara di luar sangat panas sekali," keluh wanita itu sambil melihat matahari pagi yang begitu terik, serta pemandangan seorang pria yang tidak memakai baju karena kepanasan. Wanita itu sempat melihat Ujang memandang sekilas pada mobilnya, tapi kembali fokus pada pekerjaannya,, Ujang benar-benar sangat cuek.
"Siapa pria itu?" tanya Angelica pada asistennya.
"Dia adalah pemilik tanah ini,, Bu Angelica," jawab asisten itu.
Asisten Angelica juga benar-benar bingung dengan pria yang dihadapinya itu,, karena tidak tertarik sedikitpun dengan uang banyak yang mereka tawarkan berkali-kali. Dia sampai menjadi tidak percaya diri lagi karena tidak bisa membujuk Ujang untuk mau menjual tanahnya.
"Oh! tampak sombong dan tidak peduli sama sekali," ucap Angelica.
"Begitulah!!! sudah tiga kali kami ke sini,, tetapi dia tidak pernah goyah sedikitpun terhadap keputusannya," jawab asisten Angelica.
"Aku yang akan mengurusnya," ucap Angelica sambil memakai kacamata hitamnya. Wanita bertubuh langsing itu langsung disambut dengan hawa panas begitu keluar dari dalam mobil, suhu yang amat berbeda ketika berada di dalam mobil.
"Permisi," ucap Angelica yang tidak digubris sama sekali oleh Ujang,, hanya Azis lah yang menjawab dengan semangat.
"Iya Nona, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Azis dengan wajah yang berbinar sambil mengingat-ingat di mana dia pernah melihat wajah wanita ini.
"Saya ingin bertemu dengan dia," kata Angelica dengan angkuh sambil menunjuk Ujang dengan dagunya. Bukannya tertarik,,, Ujang malah menyalakan mesin amplasnya, tidak peduli dengan siapapun selain dengan pekerjaannya yang tengah dihadapinya saat ini.
__ADS_1