
Mentari benar-benar tidak habis pikir sebegitunyakah rasa suka Marni kepada Ujang,, sehingga begitu tega mengirimkan sesuatu yang salah sasaran. Mentari tidak tahu apakah dia harus bersyukur dengan guna-guna yang salah sasaran itu atau malah dia prihatin. Jika saja yang terkena itu adalah Ujang, betapa sedihnya dia karena sebentar lagi dia akan melahirkan. Anak-anak mereka masih sangat kecil jika Ujang yang kena, alangkah malangnya nasib mereka,, Mentari membayangkannya saja sudah tidak sanggup.
Mentari sudah lama menyadari meskipun suaminya itu bukan lagi pria yang muda, tapi dia masih sangat gagah bahkan menjadi sangat tampan di usianya yang sebentar lagi mencapai empat puluh tahun. Wajah dengan rahang yang tegas, mata yang tajam tapi sangat meneduhkan, bibir yang jarang tersenyum kepada orang asing, serta kulit yang sawo dan juga otot kuat yang dimilikinya. Suaminya itu memiliki fisik yang diidamkan oleh banyak laki-laki, Ujang kriteria laki-laki yang gagah dan jantan. Walaupun dia berbeda umur yang jauh dengan Mentari, tapi begitu selama ini Mentari merawat Ujang,, saat mereka berjalan berdua,, jika orang yang tidak tahu mereka berdua,, pasti mereka terlihat tidak terpaut jauh umurnya.
"Abang terkadang Tari rasanya ingin tertawa,, kenapa bisa guna-guna itu sampai kepada Bang Azis,,, Tari sudah sangat yakin sekali,, pasti guna-guna itu untuk Abang bukan untuk Bang Azis,, bagaimana reaksi Marni nanti jika dia tahu yang tergila-gila padanya adalah Bang Azis,, pasti dia akan sangat kesal sekali," ucap Mentari.
Mata Mentari terlihat menerawang,, antara lucu dan kasihan melihat nasib Azis sekarang.
"Reaksinya pasti akan sangat terkejut," ucap Ujang sambil tersenyum, Mentari bergegas duduk di pangkuan suaminya, mengalungkan tangannya ke leher Ujang. Pria ini hanya miliknya seorang diri,, tidak ingin berbagi dengan wanita lain.
"Tapi masih ada untungnya bukan Abang yang kena,, jika saja Abang yang kena, tentu saja Abang sudah lari ke rumahnya karena jatuh cinta mendadak. Pasti kita akan menjadi gunjingan orang kampung lagi," ucap Mentari.
Ujang menanggapi dengan raut wajah kalem,, baginya apa yang dilakukan Marni itu sungguh tidak masuk akal, bagaimana bisa dia menjadi wanita yang sangat jahat,, menjerat laki-laki yang sudah memiliki istri bahkan sudah memiliki anak? Ujang dari dulu tahu Marni itu sangat licik,, tapi dia tidak menyangka jika Marni akan selicik sekarang ini.
"Jika aku yang kena,, apa yang akan kamu lakukan Tari?" tanya Ujang sambil mengelus perut buncit istrinya, bayi yang ada di dalam perut Mentari langsung bereaksi, perut Mentari terlihat bergelombang, Mentari bahkan meringis pelan.
"Tari tidak tahu akan melakukan apa,, tapi Tari tidak terpikir akan merantai seperti yang dilakukan istri Bang Azis,, kasihan Bang Azis dirantai seperti gajah," ucap Mentari.
"Daripada lari ke rumah janda lebih baik dirantai saja," goda Ujang.
"Hmmm iya sih tapi paling tidak Mentari akan meminta bantuan pada Ayah,, karena Ayah adalah orang yang bijak,, dia tidak mungkin membiarkan menantunya menjadi gila mendadak," ucap Mentari.
"Kamu memang sangat benar," ucap Ujang sambil mengelus lembut rambut Mentari, istrinya itu entah kenapa semakin bertambah cantik setiap hari.
"Ayo," ajak Ujang dengan mata yang berkilat gelap.
"Kemana Abang?" tanya Mentari bingung.
"Ke kamar dong," jawab Ujang yang lagi mode on.
"Sekarang?" tanya Mentari.
"Iya dong massa besok," ucap Ujang sambil mengelus lembut wajah istrinya.
"Tapi ini kan masih siang hari, Abang," ucap Mentari.
"Mereka kan lagi tidur sekarang," tunjuk Ujang dengan dagunya pada si kembar yang saat ini tengah tidur di kasur bayi mereka.
"Yakin Abang? kemarin saja belum mulai tapi Aqeela sudah bangun,, nggak enak tau berhenti di tengah jalan Abang," ucap Mentari.
"Kali ini pasti mereka tidak akan menggangu," ucap Ujang dengan yakin,, Mentari mengangguk sambil tersenyum, baru saja Ujang akan menggendong istrinya, tapi suara Aqeela mengganggu mereka.
"Mmmaaaaaaa...,"
__ADS_1
Keduanya langsung menatap ke sumber suara dan Mentari langsung terbahak, menertawakan wajah Ujang yang langsung terlihat kuyuh karena kecewa kali ini dia gagal lagi.
"Nah, kan? Abang lihatlah tuh," ucap Mentari.
"Ya ampun Aqeela, tidak bisakah kamu bangunnya nanti saja?" keluh Ujang dengan ekspresi wajah sedih,, Aqeela langsung tertawa lalu berlari ke arah Ayahnya, sedangkan Aqeel masih betah dengan tidur lelapnya.
"Coba Abang bayangkan ini baru dua, bagaimana kalau yang di perut juga lahir, pasti kita tidak akan sempat lagi untuk berduaan, Abang," ucap Mentari sambil terkekeh geli, wajah kecewa suaminya benar-benar sangat lucu,, Ujang memandang Aqeela yang bahkan tampak tidak merasa bersalah sama sekali.
"Kita atur strategi saja," ucap Ujang.
"Maksudnya?" tanya Mentari bingung.
"Kita titipkan ketiganya ke rumah Ibu,, terus kita bilang kalau kita berdua ada keperluan mendesak," ucap Ujang.
"Keperluan mendesak?" ucap Mentari yang langsung tertawa terpingkal.
"Ini mendesak namanya kalau tidak dikeluarkan bikin sakit kepala, oh Aqeela betapa pintarnya anak Ayah, selalu bangun disaat yang tidak tepat," ucap Ujang.
Mentari masih tertawa terbahak-bahak.
#########
Marni terlihat gelisah di tempat tidurnya,, ini sudah hari keempat setelah dia memberikan kelapa itu, kata orang pintar itu,, dalam waktu tiga hari orang yang diberikan kelapa itu akan mencarinya dan merangkak padanya, Marni sudah berkhayal Ujang akan bersujud di kakinya, di hari itu juga mereka akan melangsungkan pernikahan, sejujurnya Marni sangat tidak menyukai Mentari yang dianggap sok cantik dan begitu angkuh, Marni bahkan tidak sabar melihat Mentari gigit jari karena dia sudah berhasil merebut Ujang. Hari ini bahkan dia sudah berdandan sangat cantik menunggu Ujang,, yang sampai saat ini belum menampakkan diri juga,, bagaimana dirinya tidak gelisah kalau Ujang belum datang-datang juga?
"Apa orang tua itu penipu? rasanya tidak mungkin, semua orang tahu ilmunya sangat manjur, bahkan orang luar provinsi saja meminta obat padanya, tapi kenapa kali ini belum ada tanda-tanda sama sekali, aku sudah memberikannya uang lima belas juta, dia sendiri yang menjamin tapi kenapa sampai sekarang Ujang belum datang-datang juga?" ucap Marni sambil bangkit dari ranjangnya, ini sudah jam delapan malam,, anak-anaknya sedang belajar di ruang tamu sekarang.
"Mama mau ke mana?" tanya si sulung.
"Mama ada perlu,, jaga adikmu," ucap Marni.
Marni mengikat rambutnya,, lalu segera mengeluarkan motor dari garasi.
"Kalau saja semuanya tidak manjur, aku akan menuntut pria tua itu," ucap Marni.
Marni melajukan motornya dengan tidak sabaran menuju rumah Ujang.
Beberapa menit mengendarai motor meskipun gerimis akhirnya Marni sampai juga di rumah Ujang,, pekarangan rumah Ujang terlihat sangat terang karena sinar lampu.
Sementara Mentari yang mendengar suara motor itu,, langsung mengintip melalui jendela. Mentari tampak terkesiap,, wanita pembawa malapetaka itu datang di malam-malam begini.
"Siapa Tari?" tanya Ujang.
"Ssuuutt, Marni dia datang ke sini," ucap Mentari dengan setengah berbisik pada Ujang.
__ADS_1
"Mau apa dia malam-malam datang ke sini," ucap Ujang tidak suka.
"Abang jangan keluar,, biar Tari saja yang pastikan, Tari yang akan hadapi,, mungkin dia datang ke sini untuk mencari Abang yang tak kunjung datang mencarinya," ucap Mentari.
"Tapi kamu hati-hati yah. Kamu lagi hamil" ucap Ujang yang khawatir pada istrinya.
Mentari menganggukan kepalanya,, lalu Ujang pun menuruti ucapan istrinya itu untuk tetap tinggal di dalam meskipun dengan perasaan was-was, Ujang memakaikan jaket untuk istrinya, lalu Mentari segera turun melalui tangga kayu.
Pertama yang dilihat Mentari adalah wajah sinis dengan penuh kemenangan dari Marni,, Mentari mengangkat dagunya sambil melipat kedua tangannya melihat Marni.
"Mau pesan lemari lagi malam-malam begini? kan aku sudah bilang kalau suamiku tidak akan membuatkan kamu,, aku sudah melarangnya," ucap Mentari dengan sedikit menyindir.
Mata Marni tampak liar mencari keberadaan Ujang saat ini.
"Mana Ujang?" tanya Marni kesal.
"Siapa?" ucap Mentari.
"Mana Ujang?" tanya Marni lagi dengan setengah membentak.
"Apa kamu tidak sadar yang kamu tanyakan itu adalah suamiku? dasar tidak tau malu," ucap Mentari.
"Sudah mulai tidak sopan yah kamu sama orang yang lebih tua?" ucap Marni.
"Orang tua seperti mu tidak perlu di hormati," ucap Mentari.
"Mana Ujang? aku ada perlu sama dia," ucap Marni lagi.
"Katakan apa keperluan mu sama suamiku, aku akan memberitahukan suamiku," ucap Mentari.
"Dasar wanita sok,, katakan cepat dimana Ujang sekarang," ucap Marni dengan sedikit menjerit kesal.
Ujang tampak mengkhawatirkan istrinya,, Ujang terus memantau mereka.
"Suamiku tidak di rumah," ucap Mentari.
"Kamu bohong, semua motornya ada di rumah, semua mobilnya juga ada di rumah,, aku akan masuk," ucap Marni namun langsung dihalangi oleh Mentari.
"Seharusnya yang kamu cari itu Bang Azis," ucap Mentari sambil tersenyum sinis.
Kening Marni langsung berkerut.
"Apa maksud kamu?" ucap Marni.
__ADS_1
"Guna-guna mu berhasil, Bang Azis sekarang lagi tergila-gila berat padamu, dia sampai dirantai oleh istrinya supaya dia tidak kabur ke rumah mu," ucap Mentari sambil tersenyum penuh kemenangan begitu melihat ekspresi wajah pucat pasi dari Marni.
"Apa?" ucap Marni benar-benar terkejut dan tidak terima sekaligus sangat kesal.