
Wanita itu memandang dirinya di cermin,, dia masih cantik, bahkan di usianya yang sebentar lagi akan empat puluh tahun,, dia belum tua dia masih sangat energik dan bersemangat, tidak jarang orang memujinya karena dia awet muda,, dia adalah primadona Desa waktu itu ketika dirinya masih muda,, namanya harum sampai ke desa tetangga,, banyak para pemuda yang naksir kepadanya bahkan banyak yang melamar dirinya dari berbagai kalangan pemuda.
Namun hatinya malah terpaut pada satu pemuda, pemuda yang sederhana dan bahkan tidak pernah memberikan kesan manis padanya, sayangnya karena sebuah kejadian membuat dirinya tidak bisa bersama dengan pemuda itu lagi,, dia hamil sebuah kesalahan di masa lalu yang dia tidak sengaja,, akhirnya kuliahnya tidak selesai karena dia buru-buru dinikahkan dengan pria yang menghamili dirinya, sayangnya pernikahan itu tidak berlangsung lama karena tidak ada cinta diantara mereka,, setelah anak pertamanya lahir tepatnya dua bulan setelah dia melahirkan suami pertamanya pergi tanpa ada kabar.
Iya dia wanita yang cantik, kulitnya halus jika dulu tubuhnya gemuk sekarang sudah tidak lagi dia sudah langsing. Dia sengaja melakukan perawatan diri selama hampir satu tahun,, bukankah bagi laki-laki penampilan itu nomor satu? dan itu alasan yang membuat suami keduanya selingkuh dan menikah lagi,, pria itu selalu mengatakan bahwa dirinya tidak bisa mengurus badan.
Wanita itu merasa kisahnya dengan Ujang belum selesai, pria yang selalu diidamkannya siang dan malam. Sayangnya selain mereka tidak berjodoh,, orang tua Ujang juga tidak menyukai dirinya dulu bila dekat dengan anaknya.
"Aku tidak pernah mengucapkan kata putus pada Ujang,, jika sekarang aku datang untuk mengambil milikku, sah, sah saja kan?" ucap Marni di depan cermin sambil tertawa licik.
Marni masih ingat betul waktu SMA Ujang bukanlah murid yang populer,, karena Ujang terkenal tidak banyak bicara tapi kaya. Tidak jarang ibu dan ayahnya memberikan bantuan pembangunan kepada sekolah, atau bahkan menyumbang meja dan kursi setiap tahun ajaran baru.
Ujang sangat tidak banyak bicara tapi dia terkenal pintar matematika dan juga sangat hebat dalam pelajaran seni. Marni sebagai siswi yang paling populer menjadikan Ujang yang anti perempuan sebagai pacarnya adalah suatu pencapaian yang luar biasa untuknya.
Sementara itu di rumah Ujang,, Mentari masih dalam mode marah-marah,, Ujang lah yang jadi pelampiasan kemarahan Mentari,, padahal Marni sudah tidak ada lagi di sana,, Marni sudah pergi empat jam yang lalu, tapi suasana hati Mentari belum juga membaik sampai sekarang.
"Apa tujuannya coba tiba-tiba datang ke sini?" ucap Mentari sambil membanting keranjang yang berisi kain kotor,, untung saja Ujang berat kalau tidak Ujang juga pasti akan kena banting sama Mentari.
"Dia kan bilang istriku kalau dia mau pesan lemari,, kita kan ada usaha buat perabot tidak mungkin dia datang ke sini memesan makanan,, kamu hanya perlu berbaik sangka saja," ucap Ujang.
"Itu pasti hanya akal-akalan dia saja,, Tari yakin dia punya niat tidak baik,, lihat saja gayanya tidak malu sama umurnya, dia malah menatap Abang seperti orang yang kelaparan, lalu menempel seperti lalat,, dia sama sekali tidak menghargai Mentari, padahal mau bagaimanapun dia terlihat seperti nenek-nenek,, huh! Tari tidak suka melihatnya rasanya Tari ingin sekali menjambak rambutnya," ucap Mentari.
Ujang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kecemburuan Mentari,, istrinya memang wanita yang mudah emosi apalagi semenjak hamil kedua,, Mentari selalu langsung kesal jika ada yang memandang suaminya agak lama, padahal memandang belum tentu naksir, bukan?
__ADS_1
Saat ini mereka sedang berada di dapur,, Mentari sedang memasak makan siang, aroma gulai ikan mas menyapu penciuman Ujang, dia sudah tidak sabar ingin makan siang tapi sepertinya gulai ikan itu belum matang, akhirnya Ujang memilih mengaduk kuah santan itu agar tidak pecah.
Si kembar diletakkan di dalam box yang terdapat banyak mainan,, mereka asik bermain di dalam box itu sambil berbicara ala bahasa bayi.
"Istriku itu hanya prasangkamu saja,," ucap Ujang menanggapi,, saat ini Mentari tengah memisahkan baju Ujang dan baju si kembar sebelum dimasukkan ke dalam mesin cuci.
Mendengar pembelaan dari Ujang,,Mentari langsung menoleh dan menatap tajam pada ujang.
"Jangan salah yah Abang,, istri itu mempunyai firasat yang sangat kuat saat melihat wanita yang akan menggoda suaminya pasti langsung kontak ke batin istri,, si Marni itu berbahaya Tari yakin dia tidak akan berhenti sampai di sini, apalagi tadi setelah mendapatkan perlawanan dari Mentari,, aku yakin dia pasti akan mencari jalan supaya bisa ke sini lagi, dari dulu dia tidak pernah suka sama Mentari dan Mentari juga tidak suka sama dia,, dasar wanita genit,, sudah tua sok cantik,, benci kali Tari,, Abang," ucap Mentari.
"Jangan merasa tersaingi,, bagaimanapun kamu tetap yang paling cantik,, Abang tidak bohong," ucap Ujang yang memang berkata jujur.
"Ya iyalah Tari meskipun sebentar lagi akan beranak tiga,, tapi tidak kalah sama si Marni itu,, Abang dengarkan apa kata dia tadi?" ucap Mentari.
"Katanya yang mana?" tanya Ujang yang memang tidak mendengarkan kata-kata Marni tadi, dia hanya mendengarkan di saat Marni mau pesan perabot karena itu usaha Ujang.
Ujang hanya menaikkan alis melihat ekspresi istrinya itu yang sedang marah-marah tapi sangat menggemaskan,, Ujang tahu betul istrinya itu sangat pencemburu dan itu membuatnya senang,, tapi Ujang lebih memilih diam saja dan menjadi pendengar terbaik karena wanita itu sifatnya jika diabaikan marah tapi jika ditanggapi lebih marah lagi.
###########
Keesokan harinya mereka memutuskan untuk ke dokter kandungan,, Aqeel dan Aqeela mereka titipkan sementara sampai mereka pulang.
Mereka sudah datang sebelum jam tujuh tetapi tidak berhasil mendapatkan antrian pertama, Mentari mendapatkan nomor antrian sepuluh biasanya menunggu sampai tiga jam.
__ADS_1
Dokter baru masuk jam delapan pagi,, perkiraan nomor antrian sepuluh itu akan dipanggil sekitar jam sebelas siang.
Lama menunggu akhirnya pemeriksaan Mentari selesai juga,, Mentari dan Ujang keluar dari ruangan itu dengan ekspresi wajah bersemangat.
"Laki-laki Abang teman main bola Aqeel," ucap Mentari dengan ekspresi wajah bersemangat,, Mentari sangat senang begitu dokter mengatakan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan USG anak yang dikandungnya laki-laki, rasanya memiliki banyak anak laki-laki itu menjadi suatu kebanggaan buat Mentari karena dia memiliki banyak penjaga.
"Iya ada yang bantu cat perabot," ucap Ujang.
"Kok ngecat perabot Abang?" ucap Mentari.
"Iya anak-anak itu kalau sudah besar harus diajarkan banyak keterampilan, jika dia perempuan harus diajar memasak,, bersih-bersih rumah dan berbagai keterampilan perempuan lainnya,, jika dia laki-laki maka harus juga diajar keterampilan laki-laki biar ketika dia besar dia tidak pusing," ucap Ujang.
"Ayah dan ibu juga suka bilang begitu makanya saat masih SMP Mentari sudah bisa memasak dan Dika juga selalu diajar mencangkul dan berladang,, dulu selalu kesal sama ibu,, selalu kena marah Ibu juga,, tapi hasilnya sekarang sudah Tari rasakan," ucap Mentari.
"Iya masakan mu sangat enak," ucap Ujang sambil membukakan pintu mobil untuk istrinya,, Mentari melirik Ujang sambil tersenyum.
"Oh yah? masakan saja yang enak?" tanya Mentari. Pertanyaan ambigu itu membuat Ujang langsung tersenyum merekah.
"Kamu juga sangat enak," ucap Ujang.
"Ini buktinya," ucap Mentari sambil memegang perutnya yang besar.
"Teman-teman kuliah Tari saja sampai kaget," ucap Mentari lagi.
__ADS_1
Mentari mengulum senyumnya,, dia ingat betul betapa kagetnya teman-temannya saat Mentari mengunggah foto bersama si kembar dan juga Ujang,, di situ terlihat Mentari juga sedang mengandung anak ketiga mereka.
"Bagus itu,, kalau begitu setelah si jagoan ini lahir kita program lagi,," ucap Ujang dengan santainya sambil menahan tawanya dan dia langsung mendapatkan pelototan misterius dari Mentari.