
Rasa dahaga yang semakin diminum semakin haus saja, begitu juga dengan hasrat yang menggelora pada Mentari dan Ujang. Mentari bahkan merasakan tubuhnya mendadak lemas tidak berdaya,, diikuti dengan detak jantung yang ingin meledak. Baru kali ini Mentari menemukan rasa yang tidak pernah dirasakannya sewaktu bersama Samuel, rasa candu yang tidak pernah puas,, dan juga tidak pernah cukup.
Mentari menengadah menatap Ujang,, Mentari menemukan gelap yang terpancar karena merasakan gelora yang sama dengan dirinya,, pria itu memang tenang namun sangat menghanyutkan,, dia membawa Mentari hanyut meskipun tidak melihat arus yang berperan. Begitu tenang dan juga begitu sangat berbahaya,, pria itu tidak hanya menghanyutkan tapi juga menenggelamkan dalam waktu yang bersamaan.
"Tari," ucap Ujang,, Mentari baru tau bahwa Ujang yang begitu jantan sangat hati-hati. Ujang memperlakukan Mentari penuh pemujaan bahkan seperti benda mahal yang harus hati-hati di perlakukan.
Mentari memeluk pria itu lalu menopang kepalanya yang terasa pening,, Mentari seperti sedang berlari lalu singgah mengatur nafas,, ini bahkan baru ciuman saja tidak lebih dari itu.
Tiba-tiba tanpa sadar Mentari menyenggol bahu Ujang yang terluka.
"Sssttt," ringis Ujang sambil menahan sakit.
"Maaf Abang,, mana yang sakit?" ucap Mentari yang tersadar bahwa dia telah menyentuh perban Ujang,, Mentari segera memeriksa nya tanpa menekan perban itu.
"Tidak apa-apa," ucap Ujang.
"Maaf Bang,, Tari tidak sengaja," ucap Mentari dengan ekspresi wajah cemas. Wajah cemas itu membuat Ujang merasa tersanjung,, Ujang menyentuh rambut Mentari,, baru Ujang tau bahwa rambut itu selain wangi juga sangat lembut selembut sutra. Apa yang terlihat dari istrinya memang selalu cantik.
Ujang tersanjung karena wanita cantik di dekatnya ini sedikit pun tidak menolak dirinya ketika Ujang menciumnya,, bahkan memberikan balasan yang seimbang juga, Mentari membangkitkan kepercayaan diri Ujang hanya dengan sentuhan-sentuhan kecilnya.
"Kamu sangat cantik,," puji Ujang lagi.
"Abang sudah mengatakan itu banyak kali," ucap Mentari.
"Dan aku akan mengatakannya terus," ucap Ujang.
"Pujian itu terdengar sangat berbeda jika Abang yang mengucapkan nya," ucap Mentari.
"Benarkah?" tanya Ujang sambil melebarkan matanya.
"Apa bedanya jika pujian itu dikatakan oleh orang lain?" tanya Ujang lagi.
"Kalau orang lain sudah biasa Abang," jawab Mentari sambil matanya beralih menatap urat leher Ujang yang saat ini berkedut,, berakhir di jakunnya yang terlihat seksi,, ah rasanya Mentari benar-benar malu.
"Itu mungkin karena Abang selalu mengatakan apa adanya,, Abang tidak pandai merayu," ucap Mentari lagi.
Ujang tersenyum sekilas dan itu senyum yang sangat manis menurut Mentari.
"Apa kamu suka dirayu?" tanya Ujang.
"Semua wanita pasti sangat suka jika dirayu," jawab Mentari.
"Kalau begitu aku akan belajar merayu mu," ucap Ujang.
"Abang,, kalimat terakhir sudah merupakan sebuah rayuan," ucap Mentari sambil jari lentiknya menyentuh jakun itu karena penasaran,,, Ujang sedikit terkesiap.
"Tari baru tau ternyata jakun itu terlihat gagah," ucap Mentari sambil menjauhkan tangannya kembali.
__ADS_1
"Apa kamu sedang merayu ku,, Tari? keadaan ku sekarang belum mengizinkan kita untuk berbuat lebih,, luka ini membuatku tidak bisa bergerak banyak," ucap Ujang.
Wajah Mentari seketika merona,, Mentari menghirup aroma khas tubuh suaminya puas-puas,, tapi tunggu ada yang berbeda,, Mentari tidak mencium aroma rokok sama sekali.
"Kenapa tidak ada aroma rokok sama sekali?" tanya Mentari sambil mengendus.
"Seharian ini aku tidak merokok sama sekali,, mudah-mudahan aku bisa berhenti total," jawab Ujang.
Mata Mentari melebar begitu mendengar ucapan Ujang.
"Benarkah? Abang serius mau berhenti merokok?" tanya Mentari dengan ekspresi wajah berbinar.
Ujang pun mengangguk.
"Tari sangat senang mendengarnya," ucap Mentari sambil bergelayut manja pada Ujang,, Ujang adalah tempat ternyaman nya untuk bermanja dan juga mendapatkan perlindungan.
"Tari," ucap Ujang.
"Hm," reaksi Mentari.
"Apa menurut kamu,, aku tampan?" tanya Ujang,, entah kenapa pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirnya.
Mentari tersenyum kecil lalu segera bangkit dan memandang wajah Ujang, Ujang memiliki rahang yang tegas, alis yang tebal,, mata yang indah,, hidung tinggi dan juga bibir yang sedikit tebal namun tampak menggoda.
"Abang itu tampan,, tapi Tari tidak suka dengan kumis," ucap Mentari.
"Benarkah? Tari bisa mencukurnya?" tanya ulang Mentari.
"Tentu saja,, kamu itu istriku jadi apa salahnya melakukan itu," jawab Ujang.
"Kalau besok,,, boleh Abang?" tanya Mentari.
Ujang mengangguk,,, dan itu membuat Mentari tersenyum lagi,, hati Mentari sedang berbunga-bunga saat ini,, mereka tidur saling berpelukan sepanjang malam.
#####
Mentari bangun dengan pipi merona,, kemesraan singkat semalam namun sangat berkesan,, mereka belum sampai ke tahap hubungan suami istri,, suaminya itu belum sembuh total,, dan semalam dia malah menyenggol bahu Ujang tanpa sengaja.
Mentari kembali ke logikanya lagi,, masih banyak waktu untuk mereka saling mengenal lagi atau bahkan berpacaran,, berpacaran setelah menikah tidak begitu buruk juga, mereka bisa berduaan siang dan malam tanpa ada yang bisa mencegah mereka, mereka tidak perlu memikirkan kehabisan waktu dan juga tidak perlu memikirkan batasan karena mereka sudah halal jika melakukan hal-hal diluar batasan.
Mentari tidak bisa berdusta lagi,, dia memang benar-benar sudah jatuh cinta pada suaminya,, tapi bagaimana dengan Ujang? suaminya itu sekalipun tidak pernah mengungkapkan isi hatinya, Mentari sendiri tidak tau apakah Ujang menyukai dirinya atau tidak. Perasaan Ujang tidak terjangkau olehnya,, karena pria itu begitu tertutup.
Mereka belum mengungkapkan perasaan masing-masing,,, yang jelasnya Mentari benar-benar sudah merasa sangat nyaman bersama Ujang,, Mentari menikmati setiap detik yang dilaluinya bersama suaminya itu.
"Abang,, air panasnya sudah Tari siapkan untuk Abang mandi," ucap Mentari begitu masuk ke dalam kamar sambil menarik selimut Ujang, Mentari sudah sangat hafal kebiasaan Ujang,, pria itu pasti mandi subuh-subuh sebelum membuat perabot. Tapi kali ini Mentari tidak membiarkan Ujang mandi air dingin seperti biasanya,, sungguh perubahan yang begitu cepat ketika dirinya sudah jatuh cinta.
"Terima kasih," ucap Ujang sambil bangkit dari ranjang,, lalu mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Abang perlu bantuan?" tanya Mentari dan Ujang tampak berpikir. Sedangkan Mentari lagi-lagi menyesali tawarannya pada Ujang,, apa dia ingin memancing suaminya? menawarkan bantuan untuk menggosok punggung yang sangat kekar itu,,, Mentari merasa belakangan ini ide-idenya bertambah kreatif saja.
"Memandikan aku?" tanya Ujang,, ada nada menggoda di pertanyaan itu.
Mentari tampak gugup seketika.
"Bu,, Bu,, bukan begitu Abang," ucap Mentari yang mencoba membantah meskipun sebenarnya bantahan itu semakin menunjukkan bahwa apa yang dikatakan Ujang benar.
"Kalau kamu mau membantu aku untuk mandi,, aku dengan senang hati menerimanya,, tapi kita akan berakhir dengan mandi berdua nanti," ucap Ujang.
Wajah Mentari lagi-lagi memerah,, rasa panas menjalar ke telinga nya dengan cepat,, Ujang mengucapkan itu dengan santai tapi hormon muda Mentari menafsirkan berbeda, Mentari menggelengkan kepalanya.
"Abang maksud Tari itu,, misalnya mengambilkan baju atau ..."
"Tidak perlu karena kamu sudah mengambil terlalu banyak dariku, Tari," ucap Ujang sambil menatap dalam Mentari.
"Maksud Abang?" tanya Mentari tidak mengerti.
"Hatiku,,, kamu telah mengambil hatiku dan itu sangat banyak," ucap Ujang.
Mentari melongo sedangkan Ujang telah menghilang melewati tangga rumah.
Mentari tau itu adalah gombalan paling manis dan paling jujur yang didengarnya,
rasanya sangat berbeda jika Ujang yang mengucapkan nya, Mentari merasa dihargai,, disanjung, dipuja dan juga dicintai.
#####
"Sudah," ucap Mentari yang tampak terlihat puas. wajah Ujang telah bersih,, Mentari juga sudah merapikan rambut Ujang,, tidak sia-sia juga dia berteman dengan anak pemilik barbershop terkenal, Mentari memiliki keahlian walaupun sedikit.
Mentari sangat puas dengan pekerjaannya lalu segera memberikan cermin pada Ujang.
"Aku terlihat aneh,,," ucap Ujang begitu bercermin sambil meraba dagunya.
"Abang terlihat tampan seperti ini," ucap Mentari sambil saling menatap di cermin.
"Apa aku sudah agak muda,, Tari?" tanya Ujang.
"Sedikit," jawab Mentari sambil tersenyum melihat Ujang.
"Nanti aku pasti akan ditertawakan oleh Bang Azis," ucap Ujang.
"Biar saja Bang,, lagian Bang Azis juga menyarankan padaku jika penampilan suami itu tergantung pada istrinya,,, aku tidak mau dikatakan tidak mengurus suamiku," ucap Mentari.
"Andaikan aku tau begini," ucap Ujang.
"Kenapa Abang?" tanya Mentari.
__ADS_1
"Saat kamu masih SD,, aku sudah menikahi kamu," ucap Ujang dengan santai tapi itu membuat Mentari tertawa terpingkal.