
Suasana kampus tampak sangat tenang,,, karena para mahasiswa sedang masuk kuliah pagi, ada juga beberapa orang yang tengah duduk di taman kampus,, mereka terlihat sedang menunggu jam kedua,, atau ada juga yang hanya sekedar bercerita sesama teman, ada juga beberapa orang mahasiswa yang sedang dalam proses penyelesaian,, saling berbincang mengenai kendala-kendala apa yang mereka hadapi saat ini.
Mentari sempat bertemu dengan teman-teman seangkatan dirinya yang belum menyelesaikan S1 mereka,, hanya sekedar sapa salam pada mereka,, karena Mentari dan mereka hanya kenal sekilas saja,, sedangkan teman-teman akrab Mentari sudah wisuda semua.
Mentari sengaja ke kampus untuk melegalisir ijazah,, seperti yang telah dia katakan pada Ujang,, Mentari ingin ikut CPNS beberapa minggu lagi.
Sudah satu jam setengah Mentari menunggu namun namanya belum dipanggil-panggil juga, sementara berkas sudah dia masukkan sejak tadi, memang legalisir antri karena sedang musim CPNS sekarang.
"Wow,, lihat siapa disini," ucap seseorang,, suara itu begitu familiar di telinga Mentari,, dan dia pun segera menoleh,, terlihat Samuel dengan ekspresi wajah sinis nya,, ekspresi wajah yang tidak pernah dilihat Mentari selama ini,, atau mungkin memang inilah wajah Samuel yang aslinya.
"Mau apa kamu?" ucap Mentari tidak kalah sinisnya pada Samuel,, Mentari tidak menyangka akan bertemu Samuel hari ini di kampus.
"Loh ini kan kampus bukan rumahmu,, tentu saja aku punya keperluan sama seperti kamu," ucap Samuel.
Mentari hanya mendengus saja,, daripada berbicara dengan Samuel lebih baik dirinya pergi meninggalkan Samuel,, Mentari tidak tertarik sama sekali untuk berbicara dengan Samuel.
"Tari," ucap Samuel sambil memegang lengan Mentari dengan cepat,,, menahan Mentari agar tidak pergi.
"Lepasin,, kamu tidak lihat tempat yah," ucap Mentari sambil menepis dengan kasar tangan Samuel,, beberapa orang mulai melihat ke arah mereka yang sedang memancing perhatian dengan apa yang terjadi diantara mereka berdua saat ini.
"Aku ingin bicara dengan kamu Tari,, aku tunggu kamu di kantin kampus," ucap Samuel lalu segera berjalan lebih dulu menuju kantin.
Kantin kampus adalah tempat favorit mereka selama ini,, bahkan si pemilik sangat hafal dengan mereka berdua,, karena mereka datang hampir setiap hari.
"Kamu mau mie goreng,, Tari?" pertanyaan sama dari Mak Erni, dia sangat menghafal betul apa yang disukai Mentari ketika ke kantinnya yaitu mie goreng.
"Nggak kok Mak,, Tari hanya mau minum saja,, Tari nggak makan,, teh aja Mak," ucap Mentari.
"Wah tumben sekali ini,, lama tidak bertemu kalian berdua,, Mentari tambah cantik yah,, Samuel," ucap Mak Erni.
Samuel tersenyum,, selanjutnya Mak Erni terlihat sibuk dengan alat-alat memasaknya,, seperti biasa Mak Erni tidak akan menggangu dua sejoli itu yang terlihat sangat serasi.
"Hebat kamu,, Tari," ucap Samuel.
"Langsung saja Samuel,, aku tidak memiliki waktu banyak jadi tidak usah basa-basi,, apa mau mu?" tanya Mentari.
__ADS_1
"Wah sampai segitunya yah pengantin baru sampai tidak mau lama-lama berjauhan dengan suami,,, keren kamu,, Tari," ucap Samuel dengan nada menyindir dan juga meremehkan.
Mentari memang tidak memberitahu Samuel,, juga sangat sengaja tidak mengundang Samuel,, undangan pestanya hanya untuk beberapa teman terdekatnya saja, karena Mentari benar-benar malu saat itu jika orang-orang tau bahwa dirinya menikah dengan Ujang,, sungguh sangat konyol alasannya waktu itu.
Dan akhirnya Samuel tau juga.
"Jadi,, kamu sengaja tidak mengundang aku?" tanya Samuel.
"Iya emang," ucap Mentari sambil menatap Samuel dengan angkuh,, dengan tangannya melipat di depan dada.
"Kenapa? karena kamu malu nikah sama laki-laki tua?" ucap Samuel lagi.
"Jaga mulut mu Samuel," ucap Mentari kesal,, dirinya yakin sebentar lagi mereka akan bertengkar.
"Aku sudah tau semua Tari,, pernikahan kamu jadi gosip terviral di grup alumni,, untung saja kamu tidak ikut bergabung disana, selain tua katanya pria itu adalah sopir yang mengantar kamu ketika wisuda,, aku sempat lihat fotonya,, aku benar-benar tidak menyangka selera kamu langsung berubah drastis,, Tari," ucap Samuel.
Saat ini hati Mentari benar-benar sangat panas tapi dia berusaha menahan diri,,, karena bertengkar di tempat ini bukan merupakan ide yang bagus.
"Jadi kamu ngajak aku kesini,, hanya untuk menghina dan menjelek-jelekkan suamiku?" ucap Mentari.
"Tidak juga," ucap Samuel sambil tersenyum sinis.
"Bukan urusan mantan," ucap Mentari sambil membuang muka.
"Apa kamu sudah hamil duluan?" tanya Samuel dengan nada suara yang semakin sinis.
Mentari mendadak langsung tertawa, sungguh kreatif sekali tuduhan Samuel. Hamil darimana? Ujang bahkan tidak menuntut hak nya sebagai suami,, sampai Mentari rela melayani Ujang dan terbiasa.
"Ada dua alasan mengapa kamu bisa menikah mendadak seperti itu,, yang pertama karena kamu putus asa setelah kita putus,, dan yang kedua karena kamu hamil duluan," ucap Samuel lagi.
"Yang pertama jelas tidak sama sekali," ucap Mentari cepat berusaha menutupi kebenaran,, padahal yang sebenarnya terjadi memang alasan yang pertama lah yang membuat dirinya memutuskan untuk segera menikah.
"Jadi yang kedua?" tanya Samuel dengan mata yang membelalak.
Mentari tidak menjawab sama sekali.
__ADS_1
"Sialan," umpat Samuel.
"Kamu berpacaran dengan aku bertahun-tahun Tari,, dan kamu tidak mau disentuh sedikit pun,, dan sekarang kamu malah hamil duluan dengan laki-laki tua,, bahkan dia hanya sopir sewaktu kamu wisuda?" ucap Samuel seakan tidak percaya.
"Terserah apa anggapan kamu,, aku masih banyak urusan," ucap Mentari lalu segera bangkit dari duduknya,, tidak perduli dengan pesanan yang belum datang. Ucapan Samuel sudah membuat dirinya muak,, Mentari hanya meletakkan uang lima puluh ribu di atas meja meskipun pesanannya belum datang,, bahkan tidak perduli dengan kembalian uangnya.
Mentari tampak tidak menghiraukan sama sekali dengan Samuel yang mengejar dirinya.
"Wanita sok suci kamu,, Tari," ucap Samuel yang berhasil mengejar langkah Mentari,, mereka saat ini sedang berada di gang pemisah,, antara gedung rektorat dan juga laboratorium,, jalan pintas di tempat itu agar bisa lebih cepat ke kantin.
Mentari berhenti lalu membalikkan badan menatap Samuel.
"Terserah,, apapun yang terjadi padaku bukan urusan kamu lagi,, hubungan kita sudah lama berakhir,, jadi kita tidak ada urusan apa-apa lagi,, oke!" ucap Mentari.
"Aku tidak percaya sama sekali kalau kamu hamil duluan,, aku tau betul bagaimana kamu,, Tari," ucap Samuel.
"Terserah apa katamu," ucap Mentari.
"Aku tau betul kamu memutuskan menikah dengan dia,, karena kamu patah hati setelah putus dengan aku kan?" ucap Samuel sambil tertawa penuh kemenangan.
Mentari menatap Samuel lama,, Samuel ganteng memang iya benar, tapi Ujang lebih gagah. Kulit Samuel bersih dan cerah karena Samuel anak orang kaya yang tidak terbiasa bekerja kasar,, tentu berbeda dengan kulit Ujang yang sawo matang dan juga urat yang bertonjolan di kaki dan juga tangannya,, belum lagi bulu ditangannya yang membuat Mentari suka menyentuhnya, lengan Samuel terlihat biasa saja berbeda dengan lengan Ujang yang keras dan juga sangat berotot,, Samuel cenderung lebih kecil dan juga pendek mungkin saja dada Samuel rata tidak ada bidang sama sekali pasti tidak enak di pakai bersandar.
Samuel terlihat cantik daripada gagah,, Samuel tidak punya aura wibawa seperti Ujang, tidak punya suara yang dalam seperti Ujang,, tidak punya pandangan tegas seperti Ujang, yang paling terpenting tidak punya jakun yang indah seperti Ujang.
"Apa kamu baru sadar,, kalau aku sempurna,, Tari?" ucap Samuel sambil tertawa penuh kemenangan.
"Kamu tidak ada apa-apanya sama sekali," jawab Mentari sambil tersenyum remeh.
"Kamu bohong Tari,, hanya aku yang bisa membuat kamu jatuh cinta sampai selama ini,, tidak akan semudah itu kamu melupakan aku," ucap Samuel.
Mentari mendekat,, laki-laki ini perlu diajari dengan cara yang berbeda,, Mentari menatap tajam Samuel.
"Apa kamu mau tau satu hal?" ucap Mentari.
"Katakan saja padaku," ucap Samuel sambil tersenyum mengejek.
__ADS_1
"Aku bahkan berhasil melupakan kamu ketika ciuman pertama ku diambil oleh dia," ucap Mentari sambil tersenyum mengejek pada Samuel.
Wajah Samuel kini tampak menegang,, Mentari tidak menghiraukan nya sama sekali, Mentari ingin cepat sampai di rumah untuk bertemu Ujang lalu memeluknya, Mentari tidak terima ada orang yang menghina Ujang sampai sekejam itu,, suaminya itu adalah orang yang berhasil membuat dirinya jatuh cinta dengan cara yang sangat berbeda.