
"Bang ada tawaran pekerjaan,, boleh kan nanti Tari coba kerja disana?" tanya Mentari sambil melipat pakaian,, keadaan kembali cair saat ini,, tadi mereka sempat sama-sama merasa canggung ketika Ujang tidak sengaja memegang benda ajaib milik Mentari yaitu CD,, setiap mengingat itu Mentari akan merasa malu luar biasa.
"Kerja apa?" tanya Ujang.
"Kerja jadi kasir minimarket,, kerjanya cuma delapan jam Bang dan gajinya juga lumayan,," jawab Mentari.
"Dimana?" tanya Ujang lagi.
"Em agak jauh sih Bang,, dekat kota," jawab Mentari.
Ujang terdiam begitu mendengar jawaban Mentari,, Ujang kemudian mematikan rokoknya. Mentari yakin Ujang tidak akan mengizinkan dirinya,, tapi hatinya bersikeras untuk mencoba meminta izin,, dua hari Mentari tinggal di tempat terpencil,, Mentari benar-benar merasa jenuh,, Mentari bahkan tidak bisa melakukan pekerjaan apa-apa selain pekerjaan rumah tangga saja.
"Apa tidak ada yang dekat Tari?" tanya Ujang.
"Belum ada Bang,, Tari juga mau ikut CPNS,, kalau nggak salah bulan depan ada pembukaan CPNS,," ucap Mentari lagi.
"Kalau kamu lulus gimana Tari?" tanya Ujang.
"Yah harus tinggal disana Bang,, bisa pindah kalau sudah lima tahun kalau nggak salah sih Bang,," jawab Mentari.
Ujang langsung menghela nafas lalu segera turun dari kursinya,, Ujang datang duduk bersila di depan Mentari. Tangan Ujang tampak ikut membantu pekerjaan Mentari melipat pakaian,, untung saja Mentari saat ini sudah lebih hati-hati dengan menyembunyikan benda ajaibnya, Mentari tidak ingin terjadi kedua kalinya,, pertama kali saja dia sudah benar-benar malu apalagi jika sampai dua kali.
"Itu artinya,, jika kamu lulus kita akan tinggal berjauhan?" ucap Ujang lagi.
Ada nada gusar dari suara Ujang,, bahkan Ujang lebih memilih memandang pakaian dihadapannya daripada memandang wajah Mentari.
"Bang ini juga demi masa depan aku,, aku punya ijazah dan disini tidak ada pekerjaan yang cocok untuk ku,," ucap Mentari lagi.
Ujang tampak menghela nafas pelan,, Mentari benar dengan dia berdiam diri saja di rumah dan juga Mentari tidak memiliki teman disini memang akan membuat gadis itu jenuh,, tapi berpisah dalam waktu secepat itu setelah baru saja menikah juga terasa sangat ganjil.
"Peluang lulusnya besar atau tidak?" tanya Ujang.
"Lumayan kok Bang," jawab Mentari.
"Yah mau gimana lagi jika itu keputusan mu,, ikut saja jika kamu mau ikut,," ucap Ujang lalu segera bangkit dari duduknya,, Ujang tampak mengambil jaket dan juga terlihat Ujang seperti setengah merajuk saat ini.
"Abang mau kemana?" tanya Mentari.
"Mau keluar,," jawab Ujang,, Ujang tidak mau mengajak Mentari tapi malah Mentari tampak mengekori dirinya.
"Aku mau ikut Abang,, boleh?" tanya Mentari sambil menatap Ujang dengan penuh harap.
"Boleh,, ayo pakai jaket mu nanti kamu masuk angin,, bawa mantel juga karena sekarang lagi musim hujan,," ucap Ujang yang hanya bisa pasrah karena Ujang tidak bisa jika harus mengatakan tidak pada istrinya itu.
__ADS_1
Mentari mengangguk dan terlihat sangat senang.
"Mantelnya dimana Bang?" tanya Mentari lagi.
"Aku gantung di belakang pintu gudang,, kamu tinggal pilih saja,, ada banyak disitu,," jawab Ujang.
"Oke Abang," ucap Mentari.
Mentari terlihat sangat bersemangat pergi mengambil mantel di belakang pintu gudang,, Mentari butuh menghirup udara segar,, untung saja dirinya meminta lebih dulu pada Ujang jika tidak Mentari yakin Ujang pasti tidak akan mengajak dirinya.
Mereka pun akhirnya sampai di tempat penjual sate,, Ujang sudah mengatakan jika sate di tempat itu sangat enak karena sudah berdiri selama puluhan tahun,, cita rasanya tidak diragukan lagi,, jadi sangat wajar jika pembelinya sangat ramai,, Mentari dan Ujang saja mendapatkan tempat duduk di pinggir kolam itupun harus berdesakan dengan pembeli yang lain.
Meksipun tempat itu lumayan luas tapi karena banyaknya pembeli jadi seperti sangat sempit,, dindingnya hanya sebatas dada orang dewasa saja sehingga pembeli masih bisa melihat pemandangan ikan mas yang berada di dalam kolam,, bahkan di tempat itu juga menyediakan tempat untuk berfoto,, tampak kekinian dan juga cukup komplit.
"Abang sering kesini?" tanya Mentari yang tidak sabar mencicipi sate di tempat ini,, begitu melihat harga di menu satu porsi tiga puluh ribu yang bagi Mentari itu lumayan mahal untuk harga satu porsi sate pada umumnya.
"Sesekali saja," jawab Ujang.
"Sama siapa Abang kesini?" tanya Mentari.
"Sendiri,," jawab Ujang.
"Oh," ucap Mentari.
Ujang saat ini masih dalam mode malas berbicara begitu mendengar Mentari akan ikut tes CPNS.
"Jus jeruk aja Bang,," jawab Mentari.
"Baik," ucap Ujang lalu segera mencentang kertas menu dan memberikan pada pelayan,, terlihat semua tempat duduk penuh bahkan masih ada yang menunggu di parkiran,, mereka menunggu siapa saja yang telah selesai lalu mereka juga akan segera masuk.
Prediksi Ujang memang benar karena belum lama mereka berdua menghabiskan sate, hujan pun turun,, keadaan di dalam semakin berdesakan karena banyak yang masuk untuk berteduh juga.
Mentari benar-benar merasa tidak nyaman karena seorang pria yang berada di sampingnya tampak terus menyenggol dirinya entah itu disengaja atau tidak,, tapi Mentari benar-benar merasa tidak nyaman.
"Bang kita pulang saja," ucap Mentari dengan perasaan risih,, Mentari tidak bisa menjelaskan pada Ujang karena pria itu tepat berada di sampingnya saat ini.
"Yakin Tari? ini hujannya masih deras," ucap Ujang.
"Iya Bang,, kan ada mantel,," ucap Mentari.
"Baiklah,," ucap Ujang yang lagi-lagi menurut tidak bisa menolak keinginan Mentari,, setelah membayar mereka pun segera berjalan keluar menuju tempat parkir dan untung saja tempat parkir terlindungi dari air hujan meksipun air sudah ada yang masuk sedikit.
"Wah Tari cuma satu ini,, kamu salah ambil tadi," ucap Ujang sambil melihat mantel satu kepala itu.
__ADS_1
"Kamu saja yang pakai Tari,," ucap Ujang lagi.
"Terus Abang gimana?" tanya Mentari.
"Aku nggak usah,, kamu pakai saja," jawab Ujang.
"Kan ini bisa kita pakai berdua Bang,, caranya Tari masuk saja ke dalam mantel di belakang Abang,," ucap Mentari.
"Kamu yakin Tari?" tanya Ujang.
"Iya Bang," jawab Mentari sambil menganggukkan kepalanya.
"Baiklah,," ucap Ujang lalu segera memakai mantel yang ukurannya cukup lebar itu,, Mentari lalu naik ke atas motor dan menyembunyikan tubuhnya di belakang Ujang,, Mentari tidak bisa melihat apa-apa selain punggung kekar dan lebar itu,, terdengar suara motor yang dinyalakan lalu derasnya hujan yang mengenai mantel mereka.
"Pegangan Tari, jalanan licin,," ucap Ujang yang suaranya sudah menyatu dengan derasnya air hujan namun Mentari masih mendengar ucapan Ujang,, Mentari dengan ragu melingkarkan tangannya ke perut Ujang. Mentari agak gugup namun tetap melakukan itu.
Mentari dapat merasakan pinggang Ujang tampak ramping tanpa lemak dan juga keras sangat berbanding terbalik dengan dirinya yang memiliki otot lembut.
Hangat,, Ujang sangat hangat bahkan Mentari bisa merasakan kehangatan juga ketika memeluk Ujang. Hawa dingin yang dirasakan Mentari langsung lenyap begitu saja.
Mentari merasa sangat nyaman membuat Mentari semakin mendekat hingga hawa dingin tidak masuk diantara mereka,, Mentari menyandarkan kepalanya di bahu Ujang, seumur hidup baru kali ini Mentari merasakan betapa hangan dan nyamannya punggung seorang laki-laki,, dan ini untuk pertama kalinya dia menyandarkan kepalanya dengan sangat berani.
Mereka sampai di rumah setelah adzan Maghrib,, mereka kemudian menunaikan shalat berjamaah dan ini untuk pertama kalinya mereka shalat bersama.
Sedangkan hujan masih turun dengan sangat deras bahkan sesekali terdengar suara petir.
"Bang,, ada undangan pesta,, kita pergi yah Bang?" ucap Mentari.
"Dimana?" tanya Ujang.
"Rumah temanku,, acaranya Minggu besok,, Tari harus datang Bang,, karena yang nikah teman satu kos Tari dulu,," ucap Mentari.
"Baiklah," ucap Ujang.
"Tapi kita perginya sama-sama Bang,, kayak janjian gitu,, ada mobil teman jadi perginya pakai mobil teman,," ucap Mentari lagi.
"Apa itu tidak apa-apa Tari?" tanya Ujang.
"Tidak apa-apa,, Tari juga sudah bilang sama teman Tari,, dia akan nunggu kita di rumah Tari,"
"Baiklah," ucap Ujang lagi yang menurut, mana bisa Ujang mengatakan tidak pada Mentari.
"Bang," ucap Mentari.
__ADS_1
"Hm," ucap Ujang.
"Abang marah?" tanya Mentari.