Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Sudah tidak punya apa-apa lagi....


__ADS_3

Ujang masih tinggal di rumah orang tua Mentari atau lebih tepatnya rumah mertuanya sendiri, siang itu Mentari pulang ke rumah lebih awal karena para guru yang ada di sekolah ingin bersilaturahmi ke rumah melihat dan memberikan ucapan turut prihatin atas musibah yang menimpa Mentari dan Ujang. Dari pagi Ibu Mentari sudah menyiapkan beberapa cemilan sederhana untuk menyambut tamu, Mentari mendapati anak-anak tengah bermain dengan begitu lincahnya. Sementara Ujang tengah duduk di balai warung sambil minum kopi.


Mentari mengusap keringatnya hari ini dia pergi sendiri dan juga pulang sendiri dengan membawa motor. Kondisi Ujang yang belum stabil semenjak kebakaran itu membuat Mentari tidak ingin membebani pria itu dengan banyak hal. Sementara itu Ujang yang sedang duduk termangu melihat ke arah mobil kepunyaan mereka. Itu adalah satu-satunya harta yang tersisa setelah kebakaran itu.


"Abang sudah makan siang?" tanya Mentari sambil melihat Ujang.


"Sudah barusan," jawab Ujang sambil terus melihat mobil pribadi yang mereka habis beli beberapa tahun yang lalu.


Mentari juga ikut menatap kepada kendaraan kesayangan mereka,, itu satu-satunya yang tersisa dari kebakaran itu.


"Apa yang Abang pikirkan?" tanya Mentari begitu melihat Ujang yang terus menatap mobil itu.


Ujang pun langsung mengalihkan tatapannya kepada Mentari.


"Jika kamu jadi aku, Tari. Apa yang akan kamu lakukan jika harta sudah ludes serta gudang kayu juga yang sudah terbakar, sementara kita tidak punya simpanan uang biar sedikitpun, apa yang harus kita lakukan supaya kita bisa berusaha lagi dan bekerja seperti biasa?" tanya Ujang sambil melihat Mentari.


Mentari tidak menjawab karena dia juga tidak tahu harus bagaimana, dia sangat mencintai mobil itu karena mobil itu sangat penting bagi mereka. Kondisi motor yang sudah tua tidak memungkinkan mengangkut mereka beserta ketiga anak mereka, mobil itu bukanlah suatu kemewahan tapi adalah suatu kebutuhan untuk mereka.


"Apa kita meminjam uang saja Abang? kan Abang memiliki banyak kenalan tempat kita bisa meminjam uang,, kita bisa meminjam sejumlah uang untuk membangun kembali gudang yang sudah terbakar itu dan membeli peralatan untuk membuka kembali usaha perabot Abang," ucap Mentari memberikan solusi.


"Kita butuh uang yang sangat banyak Tari,, kalau ingin membangun itu semua karena itu tidak sedikit biayanya," ucap Ujang.

__ADS_1


"Dan Abang kan punya banyak teman untuk meminjam," ucap Mentari lagi.


Ujang tersenyum masam.


"Aku tidak memiliki keberanian dan harga diriku akan terasa di bawah jika aku harus menadahkan tangan untuk meminjam uang dari seseorang," ucap Ujang yang tahu betul meskipun dia memiliki banyak teman tapi tidak mungkin mereka akan dengan mudah meminjamkannya uang, terkadang teman itu akan hilang di saat teman yang lainnya mengalami musibah.


"Terus apa lagi yang harus kita lakukan Abang jika sudah terdesak seperti ini?" tanya Mentari.


"Bagaimana jika mobil itu kita jual saja mungkin uangnya tidak seberapa, tapi setidaknya uangnya bisa digunakan untuk membangun rumah sementara dan gudang kayu yang kecil untuk memulai usaha kembali?" ucap Ujang setelah berpikir cukup lama ketika Mentari tadi ke sekolah.


"Abang jika mobil itu dijual,, bagaimana kita bisa pergi membawa anak-anak ke sana kemari? tidak mungkin kan kita akan membeli mobil baru lagi Abang?" ucap Mentari sambil melihat Ujang.


"Mentari lebih setuju dengan Abang yang tidak menjual mobil itu,, tetapi meminjam uang kepada sebagian orang karena teman-teman Abang banyak jadi pasti mudah meminjam uang," ucap Mentari lagi yang benar-benar tidak mau mobil itu dijual.


Ujang menoleh menatap Mentari,, Ujang melihat ekspresi wajah Mentari yang begitu kekeh terhadap pendapatnya. Ujang tahu betul Mentari sangat mencintai mobil itu, dengan mobil itu selama beberapa tahun ke belakang, mereka pergi ke sana kemari bahkan ketika seseorang pernah berniat membeli, Mentari sangat tidak mau menjualnya,, bahkan ketika mereka memiliki uang yang bisa membeli mobil yang lebih mewah dari mobil itu,, mereka tetap memilih memakai mobil itu.


"Bagaimana Tari,, apa yang harus kita lakukan?" tanya Ujang lagi sambil melihat Mentari.


"Tidak tahu, terserah Abang saja," ucap Mentari.


Ucapan itu seolah sangat terpaksa dari mulut Mentari,, Mentari terlihat seperti sedang merajuk. Ya memang menjual mobil kesayangannya merupakan suatu pilihan yang sangat berat tapi memang apa yang di katakan Ujang ada benarnya juga,, bahwa mereka tidak punya apa-apa lagi sekarang selain mobil itu. Sementara mereka memiliki kebutuhan yang sangat banyak untuk keluarga mereka.

__ADS_1


"Jika mobil ini dijual, berapa kira-kira harganya?" tanya Mentari.


"Mobil ini sudah lama, tentu saja kalau dijual harganya sudah jatuh," ucap Ujang.


"Em kira-kira berapa Abang?" tanya Mentari.


"Pasti dibawah seratus juta,, apalagi ketika kita menjualnya dalam keadaan terdesak, kita tentu tidak akan bisa memilih siapa yang akan membelinya, kita tidak bisa memainkan harga karena kitalah yang lebih butuh uang itu," ucap Ujang.


"Ya sudah kalau memang tidak ada jalan lain,, ya apa boleh buat," ucap Mentari.


"Iya semoga kita diberikan nikmat kembali dengan harta yang cukup, aku harap kamu bisa bersabar dengan apa yang akan kita lalui ini Mentari, karena ini tentu sangat tidak mudah, Tari. Hidup miskin itu sangat tidak mudah, tentu akan banyak hal yang akan kita lalui untuk kedepannya, kita tidak lagi mampu membangun rumah, uang segitu hanya cukup membangun pondok dari kayu serta sebuah gudang yang tidak terlalu besar beserta peralatan yang hanya seadanya saja. Setidaknya kita bisa mendapatkan cara agar bisa bekerja kembali, aku tidak mungkin mengandalkan gaji mu,, Tari," ucap Ujang.


Mentari menunduk merasa hatinya terasa sangat perih,, dia mengajar bukan untuk mencari uang karena dia berniat mengajar hanya untuk mencari pengalaman serta lingkungan yang berbeda, melepaskan segala penat yang ada di rumah karena mengasuh anak. Ternyata Tuhan berkata lain,, mungkin untuk ke depan, dia akan begitu berharap dengan uang enam ratus ribu itu, yang dulu baginya tidak berharga apa-apa. Dia tahu betul berapa kebutuhan untuk anak, susu untuk si kembar, pampers untuk ketiga anaknya, dan banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu persatu.


Keduanya terdiam sama-sama melihat ke arah mobil yang sudah mendampingi mereka dalam beberapa tahun ke belakang ini, sedih ternyata melepaskan benda mati yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri, seperti hutan yang telah diwariskan oleh orang tua Ujang,, seperti rumah yang sudah terbakar, dan seperti gudang perabot yang sudah menjadi teman sehari-hari bagi pria gagah dan perkasa itu.


Yah mau tidak mau harta satu-satunya itu harus dikorbankan untuk mencari cara mencari nafkah, keduanya melamun dengan pemikirannya sendiri, ini sangat berat sungguh sangat berat, mereka dipilih menjalani cobaan yang bahkan tidak terlintas di pemikiran mereka selama ini. Mereka tidak pernah merasakan badai pernikahan dan mereka memiliki kehidupan yang sangat sempurna. Ternyata apa yang terjadi hari ini yang tidak pernah terlintas di dalam otak mereka, Tuhan memilih mereka untuk menerima semua takdir yang tidak bisa mereka logikakan.


"Tari masuk dulu," ucap Mentari yang telah kehabisan kata,, rasanya sangat menyesakkan.


Perutnya yang tadinya lapar terasa kenyang, dia hanya membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri, ya mereka saat ini sudah tidak punya apa-apa lagi.

__ADS_1


__ADS_2