
Pernikahan adalah sebuah ikatan sakral yang memiliki ladang pahala jika dijalani dengan benar,, pernikahan itu mudah jika mengikuti semua aturan yang sesuai dengan syariat, lalu apa aturan itu? masing-masing menjalankan fungsinya masing-masing,, saling memberi dan menerima, bertanggung jawab dalam perannya masing-masing. Seperti sepasang suami istri yang berhasil menjalankan pernikahan mereka, mereka hidup sederhana dan mereka saling melengkapi satu sama lain.
Mentari bangun menggeliatkan tubuhnya sejenak, perutnya yang membesar itu memang membuat dia agak kesulitan untuk tidur nyenyak, Mentari melihat kasur di sebelahnya sudah kosong, sedangkan si kembar masih lelap dalam tidurnya masing-masing, sejak berumur satu tahun si kembar jarang sekali bangun dari tidurnya ketika malam hari, mereka pasti tidur nyenyak sampai pagi hari, tapi sebelum tidur mereka harus disuapi dulu sampai kenyang.
Mentari bangun lalu membuka jendela kamar sehingga udara segar di subuh hari menyapa dirinya, Mentari melihat jam dinding masih jam lima subuh, kokok ayam bersahut-sahutan,, suasana subuh memang sangat tenang dan damai.
"Sudah bangun,, Tari?" ucap Ujang yang muncul dari luar kamar sambil memakai sarung dan peci, sepertinya Ujang baru saja menunaikan shalat subuh.
"Iya Abang, Tari mau ke kamar mandi dulu," ucap Mentari.
"Baik setelah sarapan kita temui Bang Aziz yah,, Tari," ucap Ujang.
"Iya, kira-kira Kakek Soleh berhasil tidak yah mengobati Bang Azis?" ucap Mentari penuh tanya.
"Mudah-mudahan berhasil, kita berdoa saja," ucap Ujang.
Setelah sarapan pagi Ujang dan Mentari menitipkan si kembar kepada Ibu mertuanya,, lalu mereka pergi menemui Azis, mereka lihat Azis sedang tidur di ruang tamu, dia begitu tenang sedangkan istrinya wajahnya terlihat begitu lelah, tapi istrinya masih berusaha menyambut Ujang dan Mentari dengan senyuman.
"Jam berapa dia diantar ke sini?" tanya Ujang sambil memperbaiki selimut yang ada di kaki Azis.
"Tadi subuh,, semalaman dia diobati oleh Kakek Soleh, kami tidak tidur semalaman,, tadi subuh dia dimandikan dengan air garam oleh Kakek Soleh," ucap istri Azis sambil mengusap dahi suaminya, dia sangat bersyukur setelah diobati oleh kakek Soleh, Azis sekalipun tidak pernah menyebut nama Marni lagi.
"Maaf tidak menemani Kakak sampai pagi, aku tidak mungkin meninggalkan istriku sendiri di rumah bersama anak-anak, kakak tahu sendiri lingkungan rumah kami sangat sepi dan jauh dari penduduk yang lain" ucap Ujang.
Istri Azis mengangguk mengerti sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa Ujang, aku sangat mengerti,, aku juga mengucapkan terima kasih padamu,, kalau tidak ada kamu entah siapa yang akan mengurus kami,, kami tidak memiliki saudara dekat di sini," ucap istri Azis lagi.
"Iya Kak, semoga saja setelah ini Bang Aziz bisa sembuh, ilmu jahat tidak akan bertahan lama," ucap Ujang.
Istri Azis pun mengangguk,, karena terganggu dengan suara orang yang sedang bercakap-cakap Azis pun terbangun, dia memandang Mentari dan Ujang secara bergantian.
"Bagaimana keadaan Abang sekarang?" tanya Ujang.
Azis melihat Ujang dengan tenang.
"Kepalaku sangat sakit," ucap Azis.
"Apa Abang lapar?" tanya Ujang.
__ADS_1
"Tidak aku hanya merasa aneh dengan tubuhku,, sepertinya aku memiliki dua tubuh, satu tubuh yang ini dan satunya lagi tubuh yang bisa bergerak ke sana kemari menarik tubuhku yang nyata," ucap Azis.
Ujang mengerutkan keningnya,, dia masih belum mengerti,, ucapan Azis seakan diluar nalar dan logikanya.
"Maksud Abang,,, Abang melihat diri Abang ada dua?" tanya Ujang.
"Iya ada dua,, satu lagi aku yang berbeda,, yang satunya itu selalu saja memikirkan Marni," ucap Azis.
Ujang dan Mentari langsung saling pandang begitu mendengar ucapan Azis.
"Sayangnya yang satu lagi sudah dibakar oleh Kakek Soleh," ucap Azis dengan mata yang menerawang.
Mendengar itu sudah bisa disimpulkan bahwa Kakek Soleh berhasil mengobati Azis,, saat ini Azis sudah terlihat normal, bahkan saat menyebut nama Marni tidak ada gelagat aneh lagi seperti biasanya.
"Sepertinya Bang Azis sudah mulai sembuh," ucap Mentari.
Ujang mengangguk kecil, tapi dia memiliki beberapa pertanyaan untuk memastikannya sendiri.
"Kalau boleh tahu bagaimana ceritanya sehingga Bang Azis meminum air kelapa yang diberikan oleh Marni? wanita itu mengatakan penyebabnya karena Bang Azis meminum air kelapa dari dia," ucap Ujang.
Azis langsung tersenyum tipis,, matanya yang cekung saat ini langsung menerawang.
"Apa Abang tahu kelapa itu berisi guna-guna?" ucap Ujang.
"Sebenarnya Jang, hatiku berat untuk meminumnya karena Marni datang dengan gelagat yang sangat aneh,,, tapi sekali lagi waktu itu aku benar-benar haus aku tidak punya pilihan lain, aku menyadari semuanya semakin aneh,, setelah aku demam waktu itu, dan malamnya aku yang lain datang,, dia mendampingi aku terus-menerus," ucap Azis.
Ujang mengangguk-anggukkan kepalanya begitu mendengar ucapan Azis.
"Artinya kamu lah sasaran utama dia Jang,, tapi itu malah mengenai aku," ucap Azis sambil tertawa geli mengingat kegilaan Marni.
"Kalau Abang sudah tertawa,, berarti Abang sudah sehat," ucap Ujang.
"Yah semoga saja,, kadang aku kasihan sama Marni, sudah tua tapi dia belum mendapatkan hidayah,, dia masih suka pergi ke orang pintar," ucap Azis.
"Lebih kasihan istri Abang yang menangis dan cemburu karena Abang menggilai Marni," ucap Ujang menambahkan.
Azis langsung tertawa lalu melirik istrinya yang sedang tersipu malu.
"Kalau Marni mengguna-gunai aku,, dia malah rugi bukannya untung. Tapi istriku jauh lebih rugi lagi,, karena tidak ada pria lain lagi yang lebih ganteng dari ku," ucap Azis lalu tertawa sedangkan istrinya langsung mencibir.
__ADS_1
"Nah kalau begini Bang Azis sudah benar-benar sehat," ucap Ujang.
Mereka pun langsung tertawa bersama
##########
Sorenya Marni tampak kebingungan mencari ayam hitam yang sesuai dengan perjanjian, pria tua itu menyuruh Marni untuk membawa ayam hitam setiap hari Kamis sore, Marni sudah berputar-putar mencarinya tapi tidak dapat satupun, akhirnya Marni membeli ayam hitam juga,, tapi sudah bercampur dengan bintik-bintik di sayapnya.
"Aku rasa ini tidak apa-apa,,, kan ini ayam hitam juga," gumam Marni pada dirinya sendiri lalu segera memasukkan ayam itu ke dalam keranjang,, bersiap-siap pergi ke rumah pria tua itu.
Rumah orang pintar itu berada terpisah dari pemukiman, rumahnya berada di antara dua bukit, pria tua itu sengaja memisahkan diri karena banyak orang yang takut padanya, menuju ke sana pun membutuhkan perjuangan,, beberapa kali ban motor Marni hampir terpeleset karena jalan yang tidak beraspal dan berlumpur itu. Marni mengetuk pintu tua itu, Marni mendengar suara orang batuk dari dalam,, sebentar lagi akan maghrib, dia harus bergegas mengantar ayam ini,, sementara kakinya juga masih sakit.
"Masuk!" kata pria tua itu sambil sesekali batuk,, Marni sempat melihat percikan darah di jenggot pria tua itu,, apakah dia lagi sakit?
Marni segera mengeluarkan ayam yang baru saja dia beli tadi.
"Tidak ada yang benar-benar hitam Kakek,, cuma ini yang ada,, ada putihnya sedikit," ucap Marni.
Pria tua itu melihat ayam itu dengan tatapan mata dingin.
"Apa pesanku padamu?" tanya pria tua itu.
"Membawa ayam hitam setiap Kamis sore," jawab Marni.
"Ini bukan ayam hitam," ucap pria tua itu dengan nada suara yang meninggi.
"Tidak ada yang jual lagi kakek," ucap Marni.
"Itu bukan urusanku!!!" ucap Pria tua itu lagi.
"Inikan hitam juga," ucap Marni.
"Ini berbintik, celaka lah kau, Marni!!! kamu membuat Kakek Sura murka. Celaka lah kau,, pergilah!!!" ucap pria tua itu lalu bangkit meninggalkan Marni yang masih bingung karena dia tidak mengenal sama sekali siapa Kakek Sura itu.
Sambil melepaskan nafas kekesalannya,, Marni tampak mengomel.
"Dasar tua bangka bau tanah, masih syukur aku membawakan dia ayam,, tidak tau saja dia ayam kampung itu harganya mahal, guna-guna dia pun tidak sampai ke sasaran,, aku menginginkan Ujang,,, hanya Ujang," ucap Marni mengomel.
Marni kemudian menyalakan motornya, sekilas Marni melihat ada bayangan hitam yang mengikuti dirinya, tapi Marni tidak ambil pusing sama sekali.
__ADS_1