
Mentari menangis sesenggukan melihat keadaan Ujang yang sudah selesai melakukan operasi patah tulang, Angelica bertingkah sebagai Dewi penyelamat berhasil membuat semua orang percaya dengan bualannya yang mengatakan bahwa dia adalah penyelamat Ujang hanya Mentari yang berusaha menahan geram pada wanita itu, tapi dia lebih memilih untuk bungkam saja karena yang terpenting sekarang adalah kesembuhan Ujang terlebih dahulu.
"Maafkan Mentari karena telah berprasangka buruk kepada Abang ternyata apa yang Abang lakukan adalah mencari pekerjaan, Mentari minta maaf, Mentari sangat berdosa sudah berprasangka yang bukan-bukan pada Abang," ucap Mentari yang menangis penuh sesal, merasa seperti istri yang sangat durhaka dengan musibah yang telah terjadi pada suaminya itu seharusnya dia bersabar pada suaminya yang sedang berjuang mencari nafkah.
Ujang sudah dipindahkan ke ruangan perawatan, ada beberapa orang di sana termasuk Azis, Ayah Mentari beserta ibunya mereka sangat prihatin dengan apa yang terjadi pada pria itu.
"Jangan ragukan suamimu Tari, aku tahu pasti bagaimana pusingnya dia berpikir agar bisa menafkahi mu dia bahkan kehilangan senyum di wajahnya karena hatinya sangat terluka," Aziz menyahut.
Mentari yang mendengar itu dengan penuh tangis dia mengusap air matanya berkali-kali dan merasa sangat menyesal telah berprasangka buruk kepada suaminya, pria itu telah tergolek di atas ranjang rumah sakit dengan keadaan menyedihkan.
Ujang tersenyum tipis dan mengusap rambut istrinya, hatinya merasa hangat merasakan Mentari sudah kembali menjadi istrinya yang penuh kasih.
"Tidak ada yang salah, mungkin aku yang tidak bisa bersabar atas semua ujian yang terjadi," ucap Ujang.
"Bukan!!! bukan Abang tidak bersabar tapi Mentari yang tidak sabar atas ujian yang terjadi, Mentari terlalu banyak menuntut Abang, Mentari tidak bisa memahami bahwa kondisi kita harus saling menopang bukan saling menyalahkan," ucap Mentari.
"Sudahlah yang penting semuanya sudah terjadi, yang perlu kita lakukan adalah bersabar karena mungkin semua ini sudah ketentuan yang maha kuasa tidak akan pernah terjadi segala sesuatu jika Allah tidak mengizinkan," kata Ujang.
"Apa yang terjadi karena izinnya semoga saja setelah ini kita diberikan petunjuk," ucap Ujang lagi.
"Semua kasus ini harus diusut kepolisian," kata Aziz menggebu-gebu dia merasakan sakit hati dengan semua yang terjadi pada Ujang, yang sudah dianggap seperti adiknya itu.
"Saya sangat mencurigai seseorang, tapi saya tidak mempunyai cukup bukti untuk menjebloskannya ke dalam penjara, Pak Mamad bisa menanyakan langsung pada Ujang," kata Azis pada Pak Mamad yang dari tadi tak membuka suara.
__ADS_1
"Sekarang yang jelas kita harus fokus pada keadaan Ujang dulu," kata Pak Mamad
"Setelah Ujang sembuh, baru kita pikirkan langkah apa yang akan kita lakukan selanjutnya," ucap Pak Mamad lagi.
Semua dalam ruangan itu mengangguk, apa yang dikatakan oleh Pak Mamad benar mereka harus fokus kepada kesehatan Ujang.
################
Sementara di tempat lain seorang wanita bersama suaminya sedang bersitegang.
"Aku tidak menyangka, kau akan berbuat sejauh ini Angelica," ucap Ryan.
"Jangan ungkit itu lagi, bagaimana bisa sekretaris bodoh itu memberitahumu, aku akan memecatnya hari ini juga," teriak Angelica murka,, mereka sudah bertengkar sejak dari hotel dimulai dengan Ryan yang tiba-tiba berubah pikiran tak mau melanjutkan rencana memiliki bayi tabung, hal itu membuat Angelica meradang karena telah mengacaukan rencana awal mereka, ditambah lagi sekretarisnya mengadu pada Ryan atas semua yang Angelica lakukan akhir-akhir ini.
"Aku tidak butuh nasehatmu, sekarang yang kamu butuhkan adalah kau tetap saja di posisimu, tanpa mencampuri urusan pekerjaan ku," katanya sambil berteriak, kepalanya sudah panas dengan semua ocehan Ryan yang tak berhenti sejak mereka dari hotel.
Mereka sekarang tengah berada di jalan tol menuju kota Jakarta, hari ini rencananya mereka akan menemui Dokter kandungan untuk berkonsultasi tapi Ryan malah berbalik arah dan tak mau bekerja sama.
"Aku tahu kamu memang payah," ucap Angelica.
"Ya aku memang laki-laki payah," ucap Ryan.
"Kamu laki-laki tidak berguna," Angelica berteriak kembali.
__ADS_1
"Maki saja aku sampai kau puas, aku tidak menyangka kau akan dibutakan oleh harta dan kekuasaan, sehingga kau begitu tega menyakiti orang yang sama sekali tidak pernah mengganggumu, kamu boleh memakiku sesuka hatimu karena aku memang laki-laki payah yang dianggap penumpang hidup padamu," ucap Ryan.
"Papaku benar! waktu membuktikan bahwa kamu tak pernah bisa melakukan apa-apa, Papaku benar kau tak pernah bisa diandalkan, aku sadar apa yang dikatakan Papaku semuanya benar," Angelica emosi dan berteriak kembali.
"Hentikan percakapan ini aku sedang lelah kalau kamu memang tidak mampu untuk melakukan apapun cukup diam saja dan jadi pengamat, aku bisa berdiri di kakiku sendiri karena aku memiliki perusahaan yang besar, aku ingin kau sadar diri dan tak mengendalikan ku atas dasar nama cinta," ucap Angelica lagi.
Laki-laki yang sedang menyetir itu merasa tersinggung dengan ucapan Angelica, rasanya begitu sakit saat mendengar hinaan itu keluar dari mulut istrinya sendiri, dia amat terluka, hanya Angelica satu-satunya wanita yang dicintai tapi wanita itu mampu mematahkan hatinya dengan caciannya.
"Aku tidak pernah menyangka apa yang aku dengar saat ini bahwa kau telah menunjukkan siapa dirimu dan menghinakan siapa diriku," Ryan menoleh ke samping air matanya menetes.
"Fokuslah! jangan seperti ini kau sedang menyetir," teriak Angelica kalap karena mobil mulai berjalan tidak stabil.
"Aku mencintaimu dengan segala kekuranganmu, tapi aku tidak bisa menerima saat kau berubah menjadi wanita yang tamak," ucap Ryan.
"Kamu gila yah! fokus ke depan kalau kau memang sudah lelah kita berhenti di rest area, biar aku menyetir," Angelica panik saat mendapatkan klakson panjang dari jalur kiri, hampir saja sebuah truk melibas mobil mereka.
"Sekarang aku sudah tidak peduli lagi atas semuanya, beginilah caranya untuk menghentikan semua kegilaanmu," ucap Ryan.
"Hentikan! Ryan aku mohon fokuslah menyetir, kamu bisa membuat kita mati," ucap Angelica.
Angelica menjerit ketika mobil pindah ke jalur kiri tapi Ryan menambah kecepatan menjadi 120 km/jam.
"Aku mencintaimu di setiap keadaanmu, kau juga mengatakan kau mencintaiku, aku sudah cukup putus asa bersamamu, tekanan Papamu membuatku tercekik, kalau kamu memang mencintaiku, ayo kita mati bersama-sama! kita bersama kembali di surga tanpa ada campur tangan Papamu," ucap Ryan.
__ADS_1
Tiiinnnnn, brakkkk!!! suara dentuman besar terjadi, mobil Pajero itu berbalik berguling-guling setelah menabrak pembatas jalan.