
"Kamu baik-baik saja?" tanya Ujang sambil mengusap wajah Mentari. Istrinya itu masih pucat sempat mengalami pendarahan, akhirnya dia bisa melewati masa sulit melahirkan putranya dengan sehat.
"Tari baik walaupun masih agak pusing,, bayi kita?" tanya Mentari.
"Dia berada di ruang bayi, dia sangat kecil," jawab Ujang. Teringat oleh Ujang bagaimana bayi yang masih merah itu menangis di ruang bayi,, sayangnya dia hanya bisa melihat dari luar setelah perawat menunjukkan nomor box bayinya pada Ujang.
"Kelahiran terlalu mendadak," ucap Mentari pelan,, dia memperkirakan kelahiran akhir bulan depan, tapi Tuhan berkehendak lain, bayi mereka lahir lebih awal.
"Kamu sempat pendarahan,, Tari," ucap Ujang.
"Iya Tari tahu,, tari masih bisa mendengar percakapan dokter saat mereka melakukan bedah," ucapan Mentari.
"Dan Indri yang mendonorkan darahnya padamu," ucap Ujang
Mentari tertegun selama ini dia tidak menyukainya,, Mentari merasa cemburu dan merasa tersaingi, ternyata gadis itu tidak seburuk yang dia pikirkan.
"Sampaikan ucapan terima kasih Tari padanya," ucap Mentari.
"Nanti dia akan ke sini, setelah diperbolehkan untuk berkunjung," ucap Ujang.
Mentari mengangguk,, tangannya yang lemah masih singgah di dagu Ujang.
"Jenggot Abang sudah panjang," ucap Mentari.
Ujang tersenyum.
"Kamu ibu yang hebat," ucap Ujang sambil mengelus lembut rambut panjang Mentari.
Mentari tersenyum.
"Dan Abang,, Ayah yang hebat," ucap Mentari.
Ujang mengecup kening Mentari, tidak ada yang lebih sempurna daripada cinta dan kebahagiaan mereka.
Di tempat lain seorang gadis tengah termenung, dia saat ini tengah duduk di sebuah bangku kayu yang berada di halaman rumah Ujang yang luas.
"Bagaimana kondisimu setelah mendonorkan darah?" tanya Andre yang datang tiba-tiba. Dia telah lama jatuh hati pada Indri, tapi sayangnya gadis itu tidak menunjukkan perasaan yang sama.
"Aku baik, walau masih sedikit pusing," jawab Indri.
__ADS_1
Andre menatap lekat gadis itu,, sudah lama dia menunggu waktu untuk bisa berbicara berdua dengan Indri.
"Aku tidak menyangka kamu begitu peduli,, apa kamu tulus Indri? tanya Andre.
Mata bulat Indri langsung menatap nyalang pada Andre.
"Apa maksud pertanyaanmu? aku tahu kamu memiliki makna tersirat?" ucap Indri.
Andre tersenyum tipis.
"Entah ini hanya perasaanku saja tapi aku melihat kamu memiliki hati pada Bang Ujang, kalau tebakanku salah maka maafkan aku. Tapi kalau tebakanku benar,, berhentilah! dia bukan laki-laki yang bisa kamu miliki, dia tidak sama dengan laki-laki yang biasa mengejar kamu, karena dia sudah beristri terlihat jelas dia sangat mencintai istrinya,, Bang Ujang adalah ada laki-laki yang sangat setia," ucap Andre,, dia benar-benar mengakui kesetiaan Ujang,, menurut matanya Indri adalah wanita yang cantik dan jarang ada pria yang tidak tertarik padanya tapi Ujang tidak pernah tertarik sama sekali pada Indri,, Ujang sangat setia,, dan juga sebenarnya Mentari memang jauh lebih cantik.
Andre berharap Indri menyangkal semua praduga itu, akan tetapi Indri malah mengalihkan perhatian dan mengatupkan mulutnya. Hati Andre langsung patah, bertahun-tahun dia menyukai gadis itu dan satu kali pun Indri tidak menoleh padanya,, lalu saat ini gadis itu malah terpikat dengan suami orang yang begitu setia pada istrinya. Sungguh sangat miris!
"Kamu terlalu banyak ikut campur masalah pribadiku, Andre" ucap Indri.
"Aku hanya peduli," ucap Andre.
"Kenapa?" tanya Indri.
"Aku rasa kamu tahu jawabannya, aku menyukaimu!" ucap Andre yang sudah pasrah bila Indri langsung menolaknya,, dia lebih baik mendapatkan kepastian daripada menunggu sesuatu yang tidak jelas.
"Kita lebih cocok hanya berteman Andre," ucap Indri.
"Masalah perasaanku itu adalah privasiku, aku tahu mana yang terbaik atau pun tidak," ucap Indri sambil menatap Andre dingin,, lalu beranjak pergi. Agenda mereka hari ini yaitu menjenguk Mentari ke rumah sakit.
#############
"Terima kasih aku berhutang budi padamu," ucap Mentari begitu melihat Indri datang dan memberikan senyuman ramah padanya.
"Jangan anggap hutang budi Kak,, kebetulan aku juga sudah terbiasa mendonorkan darah," ucap Indri yang jelas saja dia berbohong,, dia tidak ingin dianggap pamrih jika mengatakan bahwa baru kali ini saja dia melakukannya, semalaman dia berpikir,, perasaannya hanya akan berujung ke sia-siaan saja. Ujang adalah laki-laki yang amat mustahil baginya,, laki-laki itu sangat setia pada istrinya,, bahkan sangat cuek padanya meskipun dia sudah mendonorkan darah untuk istrinya tetap saja Ujang biasa saja seperti sebelum-sebelumnya. Ujang hanya mengucapkan terima kasih saja.
"Kamu sangat baik," ucap Mentari. Indri mengangguk sambil tersenyum, benar! awalnya dia hanya ingin mengambil simpatik Ujang saja,, dia ingin dianggap pahlawan yang layak diberikan hadiah, tapi sekali lagi, Ujang sangat mustahil untuk dimiliki. Laki-laki itu terlalu klepek-klepek pada istrinya,, hingga menoleh pada wanita lain pun yang sudah membantunya tidak sama sekali dia lakukan.
"Selamat yah Kak, Kakak sudah menjadi Ibu dari tiga anak," ucap Indri.
"Terima kasih aku doakan kau menemukan jodoh secepatnya," ucap Mentari.
"Aamiin," ucap Indri. Andaikan saja ada laki-laki yang lain, tapi memiliki karakter atau sifat yang sama dengan Bang Ujang, dia tentu tidak akan menunggu lama untuk mengiyakan. Dia sudah biasa dipuja,, sudah biasa juga disanjung, biasa dikejar, dia ingin dengan pria apa adanya yang tidak mudah tertarik dengan wanita cantik, Indri menginginkan laki-laki yang seperti itu.
__ADS_1
##########
Setelah diinkubator selama seminggu,, Putra Mentari dan Ujang yang diberi nama Azzam sudah diperbolehkan untuk dibawa pulang ke rumah, dia sudah kuat meminum ASI sehingga berat badannya bertambah dengan cepat. Ibu Mentari datang pagi-pagi sekali, dan pulang di sore hari. Jangan ditanya lagi seberapa repotnya Ujang dan Mentari mengurus anak-anak mereka.
Azzam hampir mirip dengan Aqeel waktu bayi, dia tidak mau diletakkan di atas kasur, maunya terus digendong, kadang menangis tidak tentu arah. Belum lagi Aqeel dan Aqeela yang belum mengerti bahwa mereka telah kedatangan anggota baru.
"Kita tidak bisa lengah Abang,, Aqeela tangannya agak nakal, tadi pas adiknya tidur dia memasukkan telunjuknya ke lubang hidung adiknya, Azzam sampai menjerit," ucap Mentari yang tadi benar-benar terkejut.
Kejadiannya tadi siang,, saat Mentari memutuskan untuk tidur, Azzam yang biasa begadang kebetulan tadi tertidur lelap, kesempatan itu digunakan Mentari untuk tidur juga, dia tidak melihat kehadiran Aqeel dan Aqeela, karena biasanya mereka asik bermain dengan mahasiswa KKN, sedangkan Ujang mengerjakan borongan kursi kantor.
Entah bagaimana caranya,, tiba-tiba saja Aqeela yang sangat aktif itu sudah masuk ke dalam kamar,, lalu memanjat kasur, dan memasukkan telunjuknya ke hidung Azzam, bahkan ada luka lecet karena terkena kuku Aqeela.
"Hei, kamu melakukan itu?" tanya Ujang pada Aqeela sambil mencium puncak kepala anaknya itu,, Aqeela hanya nyengir memamerkan giginya yang belum seberapa.
"Istirahatlah Tari,, aku akan mengasuh anak-anak, aku yakin kita akan begadang lagi malam ini,, karena Azzam seharian ini sudah dibangunkan," ucap Ujang.
Ujang benar Azzam terbiasa mengganti hari, siang untuk tidur dan malam untuk bangun, di siang hari Mentari agak kesusahan membangunkannya untuk menyusu saking lelapnya Azzam tertidur.
"Masih mau punya anak lagi,, Tari?" goda Ujang.
"Nggaaaaak," ucap Mentari cepat cenderung panik bukan kepalang.
"Kalau boleh meminta tiga saja sudah cukup,, setelah nifas selesai Mentari benar-benar akan memasang KB,, takut kayak pernah," ucap Mentari.
Ujang terkekeh melihat kepanikan istrinya,, dia memang sengaja mau menggoda istrinya.
"Mungkin untuk tiga tahun ini kita istirahat dulu, mana tahu setelah itu kamu ingin lagi punya anak," ucap Ujang.
Mentari langsung memejamkan matanya pura-pura tidur dan itu membuat Ujang tertawa.
##########
Empat puluh hari telah berlalu bagi Indri dan teman-temannya, mereka dilepas secara resmi di kantor camat, sebagian dari mereka merindukan kegiatan kampus yang menyenangkan, sebagian lagi merasa sedih berpisah dengan orang-orang yang mereka kenal selama masa KKN, yang sudah mereka anggap bagaikan keluarga.
"Saya pamit,, Bang," ucap Indri sambil mengangkat wajahnya, menatap Ujang untuk yang terakhir kalinya, dia tidak akan lagi bertemu dengan pria yang mencuri hatinya itu.
"Iya,, kalian hati-hati, kalian belajarlah dengan baik,, gapailah cita-cita kalian setinggi-tingginya," ucap Ujang.
Indri mengangguk,, dia tahu pasti, Ujang memperlakukan dia sama dengan yang lainnya,, tidak ada yang spesial. Ujang hanya menganggap mereka sebagai anak-anak atau bagaikan adik saja.
__ADS_1
"Terima kasih,," ucap Indri lalu segera naik ke dalam bus yang akan membawanya,, hatinya harus ditinggalkan disini, dia harus memulai hidup baru kembali.
Ujang adalah laki-laki sejati,,, laki-laki yang sangat setia,, sangat beruntung Mentari mendapatkan Ujang.