Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Ada yang tercecer...


__ADS_3

Menjadi orang tua tidak sesederhana yang dipikirkan orang-orang,, apalagi orang tua baru yang sama sekali tidak berpengalaman mengurus bayi,, pasti akan menjadi pengalaman yang luar biasa. Ada bahagia, sedih, haru dan juga putus asa.


Delapan bulan sudah umur Aqeel dan Aqeela,, mereka tumbuh menjadi bayi yang sehat,, namun meskipun mereka kembar, perkembangan mereka cukup berbeda, Aqeela berkembang lebih cepat, dia sudah bisa duduk sendiri, bahkan belajar merayap di dinding,, sedangkan Aqeel agak lambat, dia masih merangkak belum bisa duduk.


"Abang sepertinya Aqeela buang air besar," ucap Mentari.


Mentari saat ini sedang menyantap makan malamnya, sejak punya bayi kembar mereka jarang makan bersama,, pasti mereka bergantian,, dua bayi kembar mereka lagi aktif-aktifnya, lengah sedikit saja pasti ada yang cidera,, seperti minggu lalu kening Aqeela benjol karena jatuh dari ayunan saat Mentari sibuk menyusui Aqeel.


"Kita tunggu dulu agak lima menit, kemarin begitu,, mungkin dia belum tuntas eh dia nambah lagi," ucap Ujang.


Mentari langsung tertawa dia masih mengingat betul betapa terpaku nya Ujang, saat dia akan memasang pempers kotoran Aqeela malah muncrat mengenai tangannya,, itu salah satu kejadian yang tidak terlupakan untuk Mentari dan Ujang,, Ujang hanya melongo melihat tangannya sendiri,, sedangkan Aqeela yang sebenarnya tersangka malah mengoceh ala bayi lalu tertawa.


"Abang,, Aqeel menarik kabel," ucap Mentari.


Ujang segera menarik Aqeel, membawa bayi laki-laki itu didekatnya, tapi Aqeel menggeliat ingin melepaskan diri.


"Abang,, Aqeela sudah sampai pintu,," ucap Mentari lagi. Padahal Aqeela sedang buang air besar tadi tapi untung Aqeela menggunakan popok.


Ujang segera bergegas menarik Aqeela.


"Abang Aqeel," ucap Mentari lagi.


Ujang menggelengkan kepalanya saat Aqeela di tertibkan, Aqeel sudah bergerak ke sana kemari.


Akhirnya Ujang mengangkat mereka bergantian, memasukkan ke dalam box yang cukup luas, Aqeel mengeluarkan tangis protes saat dirinya tidak bisa lagi kemana-mana,, sedangkan Aqeela menatap saudaranya bingung.


Ujang pun segera membersihkan Aqeela. Lalu dimasukkan ke dalam box lagi setelah memakaikan popok.


Akhirnya Mentari pun selesai makan. Lalu dia segera duduk bersila di depan Ujang, ada hal penting yang mesti dibahasnya dengan Ujang.


"Abang,, menurut Abang bagaimana kalau aku KB?" ucap Mentari,,, untuk kesekian kalinya Mentari mengusulkan tapi belum juga mendapatkan persetujuan dari sang suami.


Kening Ujang berkerut tanda tidak setuju. Dia sering mendengar keluhan orang yang KB, salah satunya menderita tumor jinak membuat Ujang takut istrinya akan mengalami hal itu.


"Jangan,, Tari," ucap Ujang.


"Nanti si kembar punya adik lagi Abang, nggak terbayang kalau akan melahirkan lagi," ucap Mentari.


"Baru juga dua yah pasti akan nambah lagi,, dua masih sepi," ucap Ujang.


"Abang nggak merasa saja sih gimana sakitnya melahirkan, bahkan jarum berkait itu masih berasa sampai sekarang, apalagi rasanya,, nggaklah!" ucap Mentari.


"Tidak boleh takabur, Tari, yah namanya punya suami hamil itu biasa, yang nggak biasa itu kalau hamil di luar nikah," ucap Ujang.


"Tari belum berniat tambah anak lagi," ucap Mentari menutup pembicaraan mereka.


Dan besoknya disinilah mereka di sebuah klinik kandungan, ternyata Mentari tidak main-main ingin memasang KB, bahkan masih subuh-subuh dia memaksa Ujang mengantar Aqeel dan Aqeela ke rumah neneknya agar dia tidak mendapatkan antrian terakhir.


"Ibu Mentari," ucap seorang perawat menjulurkan kepalanya mencari sang pemilik nama.


"Akhirnya setelah dua jam," ucap Mentari,, untung saja dia sudah memompa ASI nya untuk si kembar yang ditinggalkan di rumah neneknya.

__ADS_1


"Ayo Abang," ucap Mentari sambil menarik tangan Ujang,, kalau boleh jujur dirinya sangat takut jarum suntik.


"Silahkan duduk,," ucap seorang wanita yang seumuran dengan Ibu Mentari,, wajahnya dipenuhi senyum ramah.


"Terima kasih Bu," ucap Mentari lalu duduk begitupun Ujang segera duduk.


"Jadi apa yang bisa dibantu?" tanya bidan itu.


"Saya mau konsultasi KB, bayi ku sudah berumur delapan bulan," ucap Mentari.


"Sudah pernah pasang KB sebelumnya?" tanya Bu bidan.


"Belum," jawab Mentari.


"Jadi mau pilih KB apa?" tanya Bu Bidan itu lagi dengan senyum ramah.


Mentari langsung melirik Ujang, sebelumnya dia sempat bertanya-tanya pada Ibu-ibu yang telah berpengalaman.


"Suntik, sekali sebulan bisa?" tanya Mentari.


"Bisa," jawab Bu bidan itu lagi.


"Tapi setelah nifas saya belum mendapatkan halangan sekalipun," ucap Mentari.


"Bayi nya full ASI?" tanya Bu bidan.


"Iya," jawab Mentari.


"Maksud Bu bidan?" tanya Mentari yang mulai panik.


"Namanya kesundulan, hamil lagi tanpa disadari,," ucap Bu Bidan.


"Astaga," ucap Mentari kaget.


"Harusnya setelah nifas langsung KB untuk mengatur jarak anak," ucap Bu Bidan.


"Saya belum mendapatkan izin dari suami, baru kali ini dapat izin," ucap Mentari sambil melirik Ujang sedangkan yang dilirik pura-pura tidak tau.


"Tapi untuk jaga-jaga bagusnya di cek dulu,, karena suntik KB berbahaya bagi janin,," ucap Bu bidan.


"Saya tidak hamil Bu bidan," ucap Mentari ngotot lalu tersenyum kecut sebenarnya dia juga khawatir.


"Iya tapi untuk lebih memastikan bagusnya dicek dulu,," ucap Bu bidan sambil menyodorkan alat tes kehamilan yang masih tersegel.


Mentari melirik Ujang sambil tangannya mengambil benda itu lalu segera masuk ke kamar mandi.


Semenit, dua menit Ujang menunggu gelisah karena Mentari tidak keluar-keluar juga.


"Ketuk saja pintunya takutnya kenapa-kenapa," ucap Bu Bidan.


"Tari," panggil Ujang.

__ADS_1


Tapi tidak ada sahutan sama sekali.


"Tari, sudah belum?" ucap Ujang lagi.


Masih hening juga.


"Tari, kamu baik-baik saja kan?" tanya Ujang.


Akhirnya pintu terbuka, dan nampak lah wajah suram Mentari seperti hendak menangis.


"Ada apa? kamu baik-baik saja?" tanya Ujang cemas, Mentari diam saja tapi tangannya menunjukkan tespect itu pada Ujang dan hasilnya dua garis,, Mentari hamil lagi.


############


Setelah sampai di rumah Mentari langsung masuk dan mengunci pintu kamarnya. Dia mengabaikan tatapan heran Ibu dan Ayahnya.


"Kalian bertengkar?" tanya Pak Mamad sementara si kembar sedang bermain di lantai yang sudah diberi kasur tipis.


"Tidak," jawab Ujang, sejujurnya Ujang juga bingung bagaimana menjelaskan pada mertuanya.


"Lalu kenapa dia banting pintu kamar?" tanya Pak Mamad heran.


Ujang pun tidak tau sepanjang perjalanan dari klinik,, Mentari tidak bersuara sama sekali.


"Jadi pasang KB nya?" tanya Ibu Mentari penasaran.


Tidak ada pilihan lain bagi Ujang selain menjawab.


"Tidak jadi," jawab Ujang.


"Kenapa? Bu bidan nya tidak ada atau Mentari berubah pikiran?" tanya Pak Mamad.


"Bukan," jawab Ujang.


"Lalu?" tanya Ibu Mentari lagi tidak sabar.


"Tari, hamil lagi sudah tiga bulan," jawab Ujang.


"Hah?" ucap Pak Mamad melongo lalu setelah itu dia malah terkekeh bahagia.


##########


Sampai malam pun mood Mentari belum juga kembali, mereka memutuskan untuk menginap saja di rumah orang tua Mentari, dengan harapan suasana hati Mentari akan membaik jika mendapatkan dukungan dari keluarga.


"Tari,," ucap Ujang sambil menyentuh bahu istrinya itu takut-takut.


"Tari kan sudah bilang, Abang tetap saja ngotot tidak mau," ucap Mentari sambil cemberut.


"Aku bukannya tidak mau tapi aku takut kamu kenapa-kenapa seperti yang diceritakan orang-orang tentang resiko KB, lagipula Abang kan sudah hati-hati selalu membuang di luar seperti perintah mu," ucap Ujang.


"Lalu kenapa bisa Tari hamil lagi, Abang? pasti ada yang tercecer di dalam,, Abang kurang hati-hati,, terus bagaimana ini Abang?" ucap Mentari panik,,, dirinya tidak pernah membayangkan akan hamil lagi dalam waktu yang cepat begini.

__ADS_1


"Tari," ucap Ujang lembut lalu memeluk istrinya, Mentari hanya perlu diyakinkan,, bahwa Mentari tidak akan sendiri dalam mengurus anak-anak.


__ADS_2