Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Barang KW...


__ADS_3

"Apa tidak sebaiknya rambutku dipotong saja, Tari?" tanya Ujang sambil memperhatikan penampilannya di depan cermin. Dia merasa aneh sekali dengan penampilannya saat ini,, padahal dulu dia sudah biasa berpenampilan seperti ini,, rambut yang panjang,, tapi pas sekarang dia sudah merasa benar-benar aneh, karena Mentari yang terus memotong rambutnya dengan senang hati apabila dia melihat sudah mulai panjang.


"Jangan!!! Tari lagi senang dengan penampilan Abang yang seperti ini," ucap Mentari sambil mendekati Ujang, melihat Ujang dengan mata yang tampak berbinar, Mentari benar-benar kagum,, suaminya ini entah mengapa semakin gagah saja tiap hari.


"Aneh sekali Tari,, kesukaan mu menjadi berubah semenjak habis melahirkan Azzam,, sungguh seleramu menjadi benar-benar berbeda, biasanya kamu sangat anti sekali dengan rambut panjang," ucap Ujang yang tentu sangat tahu hal yang dibenci istrinya.


Mentari tersenyum sambil memeluk Ujang dari belakang, begitu hangat punggung itu menjanjikan perlindungan di masa depan, Ujang memang benar mereka sudah sempurna selama ini, kehadiran orang baru seperti Angelica hanya membuat mereka berdua bertengkar saja.


"Oh yah Abang, kalau ada tawaran untuk mengajar yang tidak harus masuk setiap hari, apakah Abang akan izinkan?" tanya Mentari sambil menatap Ujang dengan penuh harap, sejujurnya ada ibu-ibu yang sudah PNS yang berada di sekolah menengah pertama yang dekat dengan rumah Ibu Mentari, menawarkan untuk jadi tenaga honorer yang hanya masuk di jam pelajaran saja.


"Apa kamu ingin bekerja,, Tari?" tanya Ujang dengan serius sambil menatap istrinya.


Mentari mengangguk cepat,, bukannya dia tidak bersyukur dengan kehidupan yang sudah damai dan sangat berkecukupan ini, tapi bagi Mentari bekerja bukan lagi perkara uang,, dia hanya ingin memiliki hidup yang lebih berwarna,, lebih dari sekedar mengasuh anak saja.


"Lalu anak-anak?" tanya Ujang lagi.


"Ibu mau kok menjaga anak-anak Abang karena hanya beberapa jam saja Tari mengajar, lagi pula dari rumah ke sekolah hanya beberapa meter saja,, Tari bisa menyusui Azzam kok Abang," ucap Mentari dengan penuh semangat sambil melihat Ujang.


"Aku tidak melarang Tari,, tidak juga menyuruh, jika dengan adanya kegiatan itu membuat kamu senang maka aku akan izinkan" ucap Ujang.

__ADS_1


"Benarkah Abang?" tanya Mentari dengan mata berbinar. Ujang tersenyum dan mengangguk. Mentari langsung meloncat seperti anak kecil lalu memeluk Ujang dan mencium keseluruhan wajah suaminya itu dengan perasaan yang sangat bahagia.


"Jangan mulai Tari, ini masih sore," ucap Ujang yang sudah on karena kelakuan istrinya itu.


Mentari langsung terkikik dan tentu saja Ujang langsung menggarapnya di tempat tidur karena Mentari menggoda lebih dulu,, tidak digoda saja Ujang kadang langsung gas apalagi digoda. Mentari hanya pasrah melayani suaminya sebelum anak-anak datang mengganggu.


##########


Mentari menunggu di persimpangan jalan, dia berjanji untuk bertemu dengan Angelica di persimpangan jalan desa untuk mengembalikan hadiah yang telah diberikan oleh wanita itu, sebenarnya sangat disayangkan tas bermerek dan berkelas dengan harga jutaan itu dikembalikan lagi pada Angelica, tapi Mentari lebih memilih patuh pada Ujang, dia tidak ingin hadiah mewah itu menjadi batu sandungan di masa depan untuk rumah tangga mereka.


Mobil mewah berwarna hitam muncul perlahan dan kaca mobil pun sudah terbuka, Angelica tersenyum ramah begitu melihat Mentari, sementara Mentari menetralkan jantungnya yang bertalu saat ini, Mentari mencoba menyembunyikan perasaan tidak enak di dalam hatinya. Angelica keluar dari dalam mobil mewahnya itu, matanya menangkap sebuah barang yang dibawa oleh Mentari di atas motor Mentari.


"Tari,, apakah kita akan bicara di sini? alangkah tidak bagusnya kita berbicara di persimpangan jalan seperti ini?" tanya Angelica sambil tersenyum geli.


"Oh oke," ucap Angelica sambil mengangguk,, dia sudah tahu bahwa Mentari mendapatkan tekanan dari Ujang,, si pria kampungan tapi seksi itu.


"Maaf saya sebenarnya tidak enak pada Mbak Angelica, sebelumnya saya sangat berterima kasih pada Mbak Angelica, karena sudah diberikan tas mahal ini tapi Mbak...." ucap Mentari yang sudah kehabisan kata-kata lagi. Mentari pikir jika dia mengatakan alasan yang sesungguhnya pasti akan membuat wanita itu merasa tersinggung dan Mentari merasa tidak enak tapi kalau berbohong juga nuraninya berontak.


"Kamu tidak suka tasnya? yang seperti apa kamu suka? tinggal sebutkan saja pada saya dan saya akan belikan kamu dengan senang hati" ucap Angelica sambil tersenyum manis pada Mentari.

__ADS_1


"Oh bukan!!! bukan begitu Mbak, tasnya sangat bagus tapi..."ucap Mentari.


"Tapi apa Tari?" pancing Angelica agar Mentari bicara, dalam hati Angelica sudah mulai jengkel tapi dia berusaha terlihat baik di depan Mentari, karena sekarang dia sedang berpura-pura jadi orang baik di depan Mentari.


"Suami saya tidak memperbolehkan saya menerima hadiah dari siapapun Mbak," ucap Mentari dengan jujur, Mentari ingin berterus terang tidak ingin bohong pada Angelica,, meskipun dia sebenarnya benar-benar merasa tidak enak pada Angelica dan apapun reaksi Angelica nanti dia sudah siap untuk menerimanya.


"Oh saya mengerti,, mungkin karena suamimu menaruh perasaan tidak suka pada saya,, tapi saya berteman dengan kamu tentu dengan niat yang sangat tulus, saya tahu kamu orang baik, cerdas dan juga sangat ramah. Tapi saya juga tidak salahkan suami kamu karena beranggapan negatif pada saya," ucap Angelica.


"Maafkan saya Mbak Angelica," ucap Mentari yang lagi-lagi merasa sangat tidak enak pada Angelica,, karena sejauh yang Mentari lihat Angelica orang yang baik tapi Ujang tidak suka pada Angelica jadi dia memilih menurut pada Ujang karena Ujang adalah suaminya.


"Tidak masalah Tari, saya paham kok," ucap Angelica sambil tersenyum sebenarnya senyum itu adalah senyum yang sangat dipaksakan oleh Angelica.


"Sekali lagi maafkan saya Mbak," ucap Mentari.


"Mungkin lain kali kita bisa berteman dengan suasana yang berbeda, maaf saya permisi dulu Mbak karena anak-anak saya dijaga oleh ayahnya," ucap Mentari lalu segera pergi tanpa menunggu tanggapan Angelica,, karena Mentari benar-benar merasa tidak enak,, Mentari benar-benar sangat tidak enak begitu melihat ekspresi wajah Angelica makanya dia memilih buru-buru pergi karena semakin lama dia melihat wajah Angelica malah menjadikan dia semakin merasa bersalah.


Mentari pun memutar motornya ke arah Bukit, di mana rumah mereka terletak, punggung Mentari mulai menghilang di tikungan jalan desa.


Senyum Angelica tadi yang sangat manis langsung lenyap seketika begitu tidak melihat Mentari lagi,, ekspresi wajahnya langsung berubah jadi ekspresi wajah sinis.

__ADS_1


"Untung saja aku membelikan dia barang KW bukan yang ori, wanita bodoh mana yang mau menurut dengan suami seperti itu, dia benar-benar wanita yang sangat bodoh,, mau saja menurut pada suami yang seperti itu," ucap Angelica.


Angelica memasang kembali kacamatanya ,, sebelum masuk ke dalam mobilnya lagi,, Angelica membuang tas itu di tengah jalan karena barang KW tentu Angelica sangat tidak suka.


__ADS_2