Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Alergi wanita cantik...


__ADS_3

Pengalaman pertama bagaikan siksaan manis yang takkan terlupakan untuk mereka berdua,, mereka saat ini sama-sama belajar,, mereka juga sama-sama menyesuaikan, dan sama-sama memberi sebanyak mungkin.


Ujang hari ini bekerja lebih semangat dari hari-hari sebelumnya,, senyum cerah terus terbit di bibirnya,, sehingga membuat Azis menjadi geli sendiri melihat pengantin baru itu.


Setelah sekian lama bersabar akhirnya dia telah melepaskan keperjakaan nya pada istrinya sendiri,, istri yang sangat manis juga sangat cantik yang membuat Ujang mabuk kepayang siang dan malam. Istrinya itu tidak bisa dijabarkan bagaimana indahnya, dia memiliki semua apa yang harus dimiliki oleh wanita sempurna.


Setelah shalat subuh tadi,, Mentari kembali melanjutkan tidurnya, karena Mentari benar-benar merasa kelelahan,, perasaan tidak nyaman juga mengganggunya, karena ini juga merupakan yang pertama kali untuknya, Ujang hanya tersenyum lalu mempersilahkan Mentari untuk tidur kembali setelah Ujang memberikan Mentari segelas susu untuk diminum Mentari.


"Senyum-senyum sendiri terus dari tadi, pengantin baru nih," ucap Azis.


Ujang menatap Azis sekilas kemudian kembali fokus ke pahat di tangannya. Senyumnya masih saja mengembang saat ini.


"Apa kamu sudah berhasil nih?" tanya Azis sambil menaik-turunkan kedua alisnya,, sedangkan Ujang yang digoda oleh Azis tampak begitu malu.


"Berhasil apanya Bang? Abang nanyanya nggak jelas," ucap Ujang yang salah tingkah,, Ujang menghindari tatapan mata Azis padanya.


"Jang,, kalau aku perjelas,, kamu pasti marah," ucap Azis lagi.


Ujang melirik Azis sekilas.


"Sudah," jawab Ujang dengan suara hampir tidak terdengar.


Azis langsung bertepuk tangan,, bahkan kini Azis berjalan mendekati Ujang dengan tatapan mata penuh selidik.


"Berapa kali Jang?" tanya Azis.


"Apanya yang berapa kali Bang? massa aku juga cerita sama Abang,, malu tau,," ucap Ujang.


"Jangan salah Jang,, aku juga pernah tau melewati massa-massa pengantin baru, tapi aku salut sama kamu Jang, kamu bisa menaklukkan istrimu secepat ini, aku kira kamu akan menunggu selama bertahun-tahun,, tapi baguslah Jang,, saran ku jangan pernah menunda untuk memiliki anak,, kamu sudah tua Jang," ucap Azis sambil terkekeh.


"Tidak perlu diperjelas juga Bang, aku sudah tau,, memang aku tidak akan menunda untuk punya anak,," ucap Ujang.


"Selamat buat kamu," ucap Azis lagi.


"Selamat buat apa Bang?" tanya Ujang.


"Gelar bujang lapuk,, gelar perjaka tua mu sudah luntur sekarang," ucap Azis seiring dengan tawa terbahak-bahak nya.


#######


Mentari bangun jam setengah sebelas siang, walaupun dirinya masih merasa tidak nyaman,, dia tetap menjalankan tugasnya untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, saat ini dia harus memasak untuk makan siang mereka.


Mentari langsung menoleh saat dekapan hangat dari belakang mengejutkan dirinya,, Ujang mengecup pipinya sekilas, sejak malam pertama mereka perlakuan Ujang sangat berbeda,, Ujang sekarang lebih mesra pada Mentari dan juga lebih terbuka.


"Abang,, sudah lapar?" tanya Mentari sambil tersenyum manis pada Ujang.


"Belum, masak apa Tari?" tanya Ujang sambil tersenyum juga.


"Hanya ada ikan ini aja, kalau digoreng, Abang suka nggak?" tanya Mentari sambil membalikkan badannya menatap suaminya.


"Apapun yang kamu masak,, Abang pasti suka," jawab Ujang.

__ADS_1


"Abang berubah jadi manis sekarang,, Tari benar-benar tidak menyangka,," ucap Mentari.


"Bagaimana tidak manis,, Tari,, kalau kamu sudah..," Ujang memilih tidak melanjutkan ucapannya,, karena nafasnya kini perlahan berubah menjadi berat.


Mentari pun tersenyum,, tangannya begitu cekatan melumuri ikan itu dengan bumbu.


"Bagaimana luka Abang?" tanya Mentari.


"Sudah hampir sembuh," jawab Ujang.


"Kita harus membuka jahitannya ke rumah sakit,," ucap Mentari.


"Kapan kita pergi?" tanya Ujang sambil mendekati Mentari lagi,, lalu memeluk pinggang ramping istrinya itu.


"Nanti sore juga boleh,, sekalian berkunjung ke rumah Ayah,, Ibu," ucap Mentari.


"Baiklah," ucap Ujang lalu mengecup pipi Mentari lagi diiringi dengan tawa kecil Mentari.


######


Flashback on...


Beberapa orang pemuda yang baru berumur dua puluhan tengah asik bermain gitar di pos ronda yang berada di lapangan takraw milik desa. Di antara pemuda-pemuda itu ada pria matang yang ikut bergabung di antara mereka,, saat ini mereka baru saja menyelesaikan rapat,, mereka berteduh di pos ronda karena hujan tidak berhenti sejak tadi.


"Ehh bro lihat sana," ucap seorang pemuda yang berbaju hitam,, sambil telunjuknya mengarah ke luar pos ronda.


"Tari, sudah lama tidak melihat dia,, dia makin cantik aja," ucap pemuda yang dipanggil tadi.


"Kenapa?" tanya pemuda itu lagi.


"Semuanya di tolak,"


"Sangat susah menarik perhatian dia,, Mentari itu sangat cuek, kemarin saja aku coba tanya-tanya hanya di jawab singkat sama dia tanpa melihat aku juga,"


"Mentari sukanya pemuda kota,, kalau sama pemuda desa seperti kita, mana mau dia,"


"Kalau begitu aku mundur saja karena pasti tidak ada harapan,"


Percakapan kedua pemuda itu tidak luput dari pendengaran pria matang yang tengah berteduh juga di pos ronda itu.


Mata tajam Ujang menatap objek yang sedang dibicarakan oleh kedua pemuda itu.


Seorang gadis tengah berteduh dengan dua orang temannya, diantara ketiga gadis itu,, Mentari lah yang paling mencolok karena dia terlalu cantik.


Rambutnya basah,, kaos oblong yang dipakainya sedikit basah dan melengket di kulitnya,, Mentari tampak menanggapi sekali-kali ocehan temannya tanpa tertarik memperhatikan disekelilingnya,,, Mentari seolah tidak perduli pada beberapa pasang mata yang sejak tadi terus memandang kagum pada dirinya.


Mentari, gadis yang akrab dipanggil Tari,, mungkin gadis itu sudah tidak ingat bahwa Ujang pernah menghadang arus sungai yang deras demi menyelamatkan dia yang hanyut di sungai, dia pasti sudah tidak ingat karena waktu itu dia masih berseragam merah putih,, sungguh cepat waktu berlalu, saat ini gadis kecil itu telah menjelma menjadi wanita yang sangat cantik dan sempurna.


Mentari menguap dengan rambutnya yang basah, sambil melihat sekilas pada Ujang dengan tatapan mata tidak perduli. Ujang tertegun seketika,, benar-benar sangat cantik tapi sangat mustahil gadis secantik itu akan menatap dirinya dua kali.


Flashback off..

__ADS_1


#######


Nafas Ujang dan Mentari sama-sama tersengal,, ritual hubungan suami istri itu kembali terjadi lagi dengan lebih manis dari sebelumnya.


Ujang mengusap keringat di dahi Mentari sambil memandang mata sayu itu dengan senyum, masih menjadi keajaiban gadis cantik yang pernah berteduh sekarang menjadi miliknya seutuhnya.


Ujang berguling ke kiri,, memberikan Mentari waktu untuk menata nafasnya sendiri.


"Tari, apa kamu masih ingat lima tahun lalu waktu hujan deras dan kamu singgah berteduh di pos ronda juga tapi kamu di bagian luar?" tanya Ujang.


Kening lembab Mentari tiba-tiba berkerut.


"Yang mana Bang?" tanya Mentari sambil beringsut memeluk suaminya.


"Waktu hujan lebat,, kamu sudah agak basah tapi masih singgah berteduh," ucap Ujang lagi.


Mata Mentari terlihat menerawang,, tapi Mentari tidak ingat apa-apa.


"Saat itu aku berada di pos ronda juga mengamati wajah mu," ucap Ujang.


"Benarkah Bang?" tanya Mentari yang terlihat bersemangat.


Ujang pun menganggukkan kepalanya.


"Kamu menjadi buah bibir para pemuda yang juga berteduh di tempat itu,, mereka terus memuji kamu,,, karena kamu sangat cantik," ucap Ujang.


Mentari masih berusaha keras untuk mengingat itu.


"Tari nggak ingat Bang," ucap Mentari.


"Aku masih sangat jelas mengingatnya,, kamu sempat melihat ku sekilas, tapi kembali tidak peduli,, saat itu hatiku berdesir,, tapi setelah aku sadari siapa diriku mendapatkan wanita seperti kamu itu pasti sangat tidak mungkin, jadi sejak saat itu aku benar-benar alergi dengan wanita cantik," ucap Ujang.


Mentari langsung tersenyum,, itu merupakan pengakuan yang sangat berkesan menurut dirinya.


"Pantas yah Abang itu jarang sekali memandang aku ketika kita bicara,, kecuali bicara yang penting-penting saja,," ucap Mentari.


"Itu karena aku harus membentengi diriku sendiri dari pesona mu,, Tari," ucap Ujang.


Mentari lalu tertunduk,, karena sampai saat ini belum ada juga keluar kata cinta yang ditunggunya dari bibir Ujang.


"Bang,, apa saat ini Abang sudah jatuh ke dalam pesona ku?" tanya Mentari,, sungguh Mentari butuh jawaban.


Ujang mengelus lembut pipi Mentari sambil tersenyum penuh kelembutan.


"Aku sangat mencintaimu,, Tari," ucap Ujang.


Mata Mentari langsung melebar,, Mentari bahkan tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.


"Tari juga sangat cinta Abang," ucap Mentari dengan semangat nya sambil tersenyum malu-malu.


"Masya Allah," ucap Ujang sambil mendekap erat tubuh istrinya itu.

__ADS_1


Setelah itu mereka kembali memadu kasih dengan penuh cinta,, melakukan ritual suami istri.


__ADS_2