Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Butuh pekerjaan...


__ADS_3

"Apa Ayah punya uang yang disimpan? warung kita sudah lengang, barang mesti ditambah, bahkan tadi saat orang menanyakan sabun, satupun sabun sudah tidak ada," ucap Ibu Mentari meluapkan rasa gundahnya.


"Saya tidak punya uang simpanan,, apa tidak ada emas yang bisa dijual?" tanya Pak Mamad.


Ibu Mentari langsung menggeleng, dulu dia punya emas yang cukup banyak dan itu sudah digunakan untuk menguliahkan Mentari, ladang mereka pun tidak lagi menghasilkan. Pak Mamad adalah suami yang sangat bijak, dia mengusap bahu istrinya dengan tujuan untuk menenangkan.


"Tidak apa-apa Bu,,, semoga ke depannya kita diberikan rezeki yang tidak kita sangka-sangka," ucap Pak Mamad dengan begitu tenang.


Ibu Mentari mengangguk apa yang dikatakan oleh suaminya itu memang benar, anak dan menantu mereka baru saja tertimpa musibah, tidak lagi memiliki pekerjaan dan tempat tinggal, yang perlu mereka lakukan adalah bersabar dan mendoakan mereka. Tanpa ayah dan ibu Mentari sadari ternyata Mentari sudah ada di balik tirai mendengarkan percakapan mereka, tidak sengaja saat Mentari hendak ke dapur untuk membuat susu anaknya, dia tidak sengaja mendengar ayah dan ibunya mengobrol di ruang makan membuat Mentari tidak sengaja mendengar. Mentari menyadari mereka telah menjadi beban, bukan apa-apa susu si kembar saja sudah banyak biayanya, belum lagi pampers dan makanan sehari-hari, rasanya Mentari hanya menjadi beban saja,, hal itu membuatnya sedih.


Mentari berjalan masuk ke dalam kamarnya dan mendapati Ujang tengah termenung.


"Abang apa kita harus menunggu mobil terjual dulu baru bisa dapat uang?" tanya Mentari.


Ujang menoleh pada wajah Mentari yang terlihat suram.


"Maksudmu?" tanya Ujang balik.


"Apa kita tidak bisa mencari jalan lain selain menunggu, contohnya meminjam uang?" ucap Mentari.

__ADS_1


"Aku tidak bisa," ucap Ujang.


"Abang," bantah Mentari.


"Anak-anak butuh biaya, biaya kita dan anak-anak tidak sedikit, sudah seminggu kita di sini," ucap Mentari.


"Aku paham kemana arah pembicaraanmu," ucap Ujang sambil menunduk, hatinya terasa sangat sedih, Mentari mengisyaratkan, dia hanya menjadi beban di rumah ini.


"Berdiam diri di rumah tidak akan membuat keadaan menjadi berubah Abang," ucap Mentari menunduk,, Ujang terkesiap, dari semua ucapan Mentari, kali ini sangat membuatnya sedih, seakan-akan dia adalah pria yang tak berguna yang tidak melakukan apa-apa.


"Tunggu!!!" ucap Mentari yang merasa menyesal telah mengatakan itu setelah melihat wajah Ujang.


"Hampir empat tahun," jawab Mentari tercekat.


"Berapa lama aku mencukupi nafkah mu?" tanya Ujang.


Mentari tak mampu menjawab,, dia tahu Ujang sakit hati karena perkataannya.


"Dan berapa hari aku tidak bisa menafkahi mu gara-gara kita terkena musibah?" ucap Ujang lagi.

__ADS_1


Mentari melihat wajah Ujang yang terlihat sendu, suaranya bergetar matanya berkaca-kaca.


"Terpuruk dan hidup miskin akan memperlihatkan bagaimana cintamu Tari,, dan aku sadar kamu tidak secinta itu padaku," ucap Ujang lalu bangkit, tidak sempat memberikan waktu Mentari untuk berbicara, sedangkan Mentari merasa bersalah, tidak memiliki keberanian untuk menjelaskan, semua menjadi serba salah.


############


"Aku jadi tidak enak Ujang,, orang sekelas kamu mau minta kerja di usaha perabot ku," ucap pria tua yang begitu ramah.


Ujang hanya tersenyum tipis hampir tidak terlihat.


"Kelas yang bagaimana Kek?" ucap Ujang.


"Ya!!! kamu kan seorang pengusaha besar yang memiliki usaha perabot yang sudah terkenal, sedangkan aku cuma memiliki usaha yang kecil, masa iya aku yang akan mempekerjakan kamu, rasanya sungguh sangat tidak etis," ucap pria tua itu lagi.


Ujang menunduk,, semua orang berpendapat seperti itu padanya, andaikan mereka tahu bahwa dia sekarang adalah pria miskin yang sudah kehilangan segalanya.


"Saya butuh pekerjaan Kek,, setidaknya sampai saya punya modal untuk membuka usaha kembali," ucap Ujang.


"Tentu saja,, aku dengan senang hati menerimamu, karena keahlianmu sudah tidak diragukan lagi," ucap pria tua itu lagi sambil tersenyum ramah.

__ADS_1


"Terima kasih Kek," ucap Ujang.


__ADS_2