Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Salah sasaran...


__ADS_3

"Apakah sudah bersih, Tari?" tanya Ujang seperti biasa, sekali tiga hari,, Mentari akan mencukur jenggot dan kumisnya,, agar suaminya itu terlihat lebih rapi dan bersih. Entah kenapa, pria tampan yang digilai Mentari itu, memiliki pertumbuhan jenggot dan kumis yang sangat cepat, dua hari saja tidak dicukur,, bakal kumis dan jenggot baru akan mulai tumbuh di rahangnya, Mentari adalah tipe wanita yang sangat telaten, dan meskipun dia sudah memiliki anak kembar, rumah tidak pernah berada dalam kondisi yang sangat berantakan. Mentari sangat anti dengan sesuatu yang tidak berada pada tempatnya, kadang tidak jarang Ujang akan kena omel saat meletakkan handuk yang basah di sembarang tempat.


"Sudah," ucap Mentari sambil memberikan cermin kecil itu pada Ujang. Mentari tersenyum puas. Ujang meskipun usianya berbeda jauh dari Mentari,, suaminya itu terlihat awet,, tidak banyak yang berubah darinya, wajahnya masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu.


Memang Ujang mengalami kegemukan beberapa bulan yang lalu, perut kotak-kotaknya mendadak menjadi bulat, karena mendapat protes dari istrinya,, Ujang kembali rutin melatih ototnya. Mentari pernah mengatakan, perut laki-laki yang besar akan membuat selera istri menghilang,, mau tak mau Ujang kembali rutin melatih ototnya,, karena dia tidak mau jika itu terjadi, Mentari kehilangan selera pada dirinya karena perut bulatnya.


"Iya sudah bersih keterampilan tanganmu memang tidak diragukan lagi," ucap Ujang dengan tangkas, Ujang menarik pinggang Mentari dan wanita itu langsung terduduk di pangkuannya,, perut besar istrinya bersentuhan dengan perutnya.


"Kamu mau hadiah?" tanya Ujang dengan sinar mata berkilat menatap Mentari,,, Mentari sangat tahu bahwa pertanyaan ambigu itu tidak sungguh-sungguh,, pasti hadiah yang dia dapatkan bukan berupa materi.


"Apa hadiahnya Abang?" tanya Mentari.


Ujang langsung tersenyum miring, baru saja Ujang menarik dagu istrinya, tiba-tiba bunyi gedebuk cukup keras mengagetkan mereka, disusul dengan pekikan Aqeela.


"Hah apa itu?" ucap Ujang, lalu segera berlari ke atas rumah melewati tanggal kayu. Ternyata saat ini Aqeela telah tersungkur di dekat lemari. Ujang buru-buru menggendong anaknya dan Aqeela masih menjerit.


"Kenapa Abang?" tanya Mentari yang sampai belakangan, karena gerakan Mentari tidak selincah suaminya.


"Dia jatuh Tari, Aqeela lagi hobi manjat tempat tidur," jawab Ujang.


Aqeela memang lebih aktif, perkembangannya pun sangat cepat, beberapa hari ke belakang ini dia selalu memanjat apa saja, televisi,, kursi dan yang paling sering dipanjatnya yaitu tempat tidur.


Padahal tadi Mentari sangat yakin,, bahwa dia sudah menaruh Aqeela tidur di atas kasur tipis yang sudah sengaja diletakkan di lantai,, saat anak mereka lebih aktif lagi,, mereka sudah tidak tidur di atas ranjang dan ternyata Aqeela yang sudah bangun langsung memanjat diam-diam untuk naik di atas ranjang.


"Mana yang sakit nak?" tanya Ujang sambil menenangkan Aqeela, yang masih terisak-isak sampai sekarang.


Aqeel yang merasa tidurnya terganggu, langsung bangun dan merangkak ke arah Mentari.


"Apa sebaiknya kita bawa Aqeela untuk dipijat Abang? Aqeela sering sekali jatuh,, Tari tahu di mana tempat pijat yang bagus, takutnya kalau dia tidak dibawa,, Aqeela akan kenapa-kenapa, ada anak tetangga yang jatuh tapi dibiarkan saja,, malah sekarang tidak bisa jalan," ucap Mentari khawatir.


"Bisa untuk bayi?" tanya Ujang.


"Bisa karena dulu,, Dika dibawa ke sana juga sama Ibu,, waktu Dika masih bayi dia pernah jatuh dari ayunan, pergelangan tangannya bengkak, tapi kembali pulih setelah habis dipijat," ucap Mentari.


"Ayo kita ke sana," ucap Ujang tanpa menunggu lama sambil memakaikan Aqeela topi,,, untuk anak-anaknya,, Ujang memang selalu memprioritaskan.


Sementara itu,, di tempat lain seorang wanita sedang mendatangi orang pintar, apa yang menjadi keinginannya harus bisa dipenuhi,, baginya tidak bisa dengan jalan kasar masih ada jalan halus yang bisa di tempuh.


"Sudah cukup syaratnya? tanya pria yang sedang mengunyah sirih itu, pria itu memakai baju serba hitam, wajahnya sudah keriput dimakan usia,, bibirnya kemerahan karena air sirih yang di kunyahnya. Wajah pria itu terlihat suram dan sangat menyeramkan.

__ADS_1


Wanita itu segera mengeluarkan barang bawaannya,, berupa ayam hitam yang sudah mati,, jarum,, kain putih dan juga sebuah kelapa.


"Ini," ucap wanita itu.


Pria itu langsung angguk-angguk kan kepalanya.


"Tapi ada syarat untuk semua keinginan kamu ini?" ucap pria itu lagi.


"Apa?" tanya wanita itu.


"Kamu harus membawa ayam hitam setiap Kamis sore," ucap pria itu lagi.


"Baik, saya tidak keberatan asal keinginan ku terpenuhi," ucap wanita itu dengan wajah berbinar,, yang terpenting untuk dia, pria yang dikejarnya bisa bersama dengan dirinya, pria itu bisa terjerat dalam pesonanya.


############


Tiga hari kemudian wanita itu yang tidak lain adalah Marni datang ke rumah Ujang lagi,, dengan alasan ingin melanjutkan pemesanan perabot yang dia pesan sebelumnya, padahal Ujang sudah tidak mau melanjutkannya lagi karena istrinya sudah melarang waktu itu,, dan sayangnya lagi Ujang dan Mentari tidak ada di rumah,, mereka lagi pergi ke rumah Ibu Mentari,, yang ada di rumah Ujang hanyalah Azis saja.


Pria yang rambutnya sudah dipenuhi uban itu padahal belum terlalu tua terlihat sumringah begitu melihat kedatangan Marni. Marni terlihat tidak tertarik sama sekali,, dari dulu Marni tidak menyukai Azis yang sangat menyebalkan itu,, istri Azis sebaya dengan Marni,, semasa muda dulu Azis selalu menggoda Marni tapi Marni tidak menyukai Azis.


"Ahayyy,, aku kira anak perawan dari mana yang datang ternyata Marni," ucap Azis sambil melebarkan kedua matanya begitu melihat penampilan Marni yang tidak seperti biasanya.


Mata Marni terus melihat di sekelilingnya,, tapi dia tidak menemukan orang yang dicarinya.


"Mana Ujang?" tanya Marni.


"Kamu tidak mencari ku yah?" ucap Azis sambil melihat Marni dengan mata menggoda, bahkan alisnya di naik turunkan berulang kali.


Marni langsung memandang sinis Azis.


"Buat apa aku mencari kamu, aku mencari Ujang," ucap Marni.


"Sesekali carilah aku juga agar hatiku senang, tidak usah mencari orang yang tidak akan senang melihat mu," ucap Azis lagi lalu tertawa terbahak-bahak,, Azis memang orang yang humoris.


"Orang tua jelek seperti kamu, tidak pantas untuk aku cari," ucap Marni sinis.


"Apa? aku tua? kita hanya beda beberapa tahun saja, kalau Mentari yang bilang seperti itu barulah betul karena dia masih sangat muda," ucap Azis lagi lalu tertawa.


"Mana Ujang kataku?" tanya Marni kesal.

__ADS_1


"Kamu kesini memangnya buat apa?" tanya Azis.


"Mencari Ujang," jawab Marni.


"Ujang itu suami orang," ucap Azis.


"Mana dia? tidak usah bertele-tele," ucap Marni.


"Kamu kesini mau pesan perabot? kalau iya biar aku saja yang melayani kamu, tapi kalau kamu kesini untuk menggoda suami orang lebih baik kamu menggoda aku saja,, aku tidak masalah jika harus mengganti-ganti selera," ucap Azis sambil menaik turunkan alisnya.


Marni langsung menatap Azis dengan tatapan mata menghina.


"Bercermin lah!!!" ucap Marni sinis.


"Sudah kok tadi pagi," ucap Azis dengan santainya.


Marni kesal luar biasa terhadap Azis,, sesuai dengan perintah orang pintar itu,, bahwa kelapa itu harus sampai ke tangan sasaran hari ini,, apa dia menitipkannya saja? apa Azis bisa dipercaya?


"Apa itu yang kamu bawa?" tanya Azis sambil melihat sesuatu di tangan Marni,, Azis pun tahu bahwa Marni saat ini sedang membawa kelapa.


"Ini untuk Ujang," jawab Marni.


"Satu saja yang kamu bawa? jangan pelit lah, udara sangat panas ini, apa salahnya jika kamu membeli dua, ini kamu cuma beli satu saja, pelitnya kamu, Marni," ucap Azis.


"Ini untuk Ujang,, aku titip sama Bang Azis saja yah, nanti aku kasih uang," ucap Marni sambil mengambil uang ratusan ribu dua lembar lalu diberikan kepada Azis.


"Jangan lupa kasih Ujang yah bang," ucap Marni sambil tersenyum ramah pada Azis.


Azis tampak menyipitkan matanya,, namun tetap menerima uang itu dengan senang hati.


"Baiklah!! begini kan bagus," ucap Azis.


"Aku pergi sekarang,, jangan lupa ingatkan Ujang untuk meminumnya," ucap Marni sambil menoleh kembali kepada Azis,, dan Azis langsung memberikan isyarat dengan jempolnya,, Marni kemudian mengerti lalu Marni pun pergi.


Setelah kepergian Marni,, Azis pun mengamati buah kelapa yang telah dibersihkan sabutnya itu.


"Kenapa harus Ujang yang meminumnya? kalau aku yang meminumnya memangnya kenapa? Ah! buah kelapa ini sangat menggoda pasti rasanya segar sekali. Si Ujang ini benar-benar pergi ke rumah mertuanya dan lupa meninggalkan aku air,, galon pun juga kosong. Ah! peduli setan lah lebih baik aku saja yang minum," ucap Azis yang tidak peduli lalu dia berjalan ke gudang untuk mengambil parang,, setelah batok kelapa itu terbuka,, dia pun langsung meminum airnya dengan rakus.


"Ah! segarnya," ucap Azis sambil tersenyum puas,, lalu membuang sisa batok kelapa itu ke dalam hutan.

__ADS_1


__ADS_2