Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Aku tidak pernah memikirkan orang yang tidak pernah memikirkan aku,,


__ADS_3

Setelah Mentari naik ke mobil,, Ujang tidak bertanya apa-apa lagi pada Mentari,, hanya suara mobil saja yang terdengar memecah kesunyian diantara mereka berdua. Ujang fokus menyetir mobilnya. Mentari fokus dengan kesedihannya.


Mentari berusaha sekuat mungkin untuk menguatkan hati agar tidak menangis sedikit pun,, karena sungguh semua ucapan Samuel tadi sangat melukai harga diri Mentari,, Samuel menjalin kasih dengannya selama bertahun-tahun kemudian memilih memutuskan dirinya secara sepihak karena memilih selingkuhannya,, lalu dalam waktu yang lumayan lama kini lelaki itu ingin kembali lagi,, apakah hati pria itu terbuat dari batu? susah payah Mentari mengobati lukanya sendiri setelah mulai kering,, kini Samuel datang lagi ingin mengorek luka itu lalu menaburkan garam. Samuel sungguh keterlaluan.


"Bang bisa berhenti sebentar nggak?" ucap Mentari pada Ujang dengan suara serak,, Mentari butuh waktu untuk menenangkan dirinya walau hanya sebentar saja.


Ujang pun menuruti keinginan Mentari,, Ujang menepikan mobil pick-up nya di pinggir jalan Desa.


Mentari lalu menutup wajahnya,, tangis Mentari pecah,, bahu mentari terguncang dan Ujang hanya diam saja menatap Mentari dan tidak berbuat apa-apa. Ujang tidak ingin ikut campur.


Beberapa menit kemudian setelah Mentari menangis hati Mentari sudah sedikit membaik,, Mentari mengambil sapu tangan dari dalam tas kecil nya lalu mengusap wajahnya yang basah karena air mata. Mentari tidak ingin pulang dalam keadaan mata yang bengkak. Ayahnya pasti akan bertanya padanya. Lalu apa mungkin mengatakan semuanya?


"Abang sekarang pasti heran kan kenapa aku seperti ini?" ucap Mentari sambil melihat Ujang yang sejak tadi hanya diam saja seakan-akan dirinya yang menangis adalah makhluk tak kasat mata. Padahal jelas-jelas Mentari ada di sampingnya.


"Tidak!!! aku tidak tertarik untuk mengetahui urusan pribadi orang lain," ucap Ujang sangat tenang,, matanya menatap lurus di ujung jalan,, melihat sebuah mobil yang sedang membawa kelapa sawit yang baru habis dipanen.


Mendengar jawaban Ujang itu langsung membuat Mentari melongo. Bagaimana bisa ada pria seperti ini?


Mentari tidak habis pikir dengan jawaban Ujang,, Mentari bersikap bodoh dengan masuk ke dalam mobil pria itu,, mengikuti pria itu pergi mengantar barang,, menangis di depan mata pria itu seperti orang gila,, lalu pria itu mengatakan tidak ingin tau?


"Abang tidak ingin tau sama sekali?" ucap Mentari lagi yang ingin memastikan pendengarannya sekali lagi. Mentari pikir mungkin saja Mentari salah mendengar jawaban dari Ujang,, yang sangat langka itu,, biasanya pria akan menghibur seorang wanita apabila wanita itu terlihat sedih atau biasanya pria juga ingin tau apa yang dialami wanita itu ketika melihat wanita itu menangis. Makanya Mentari ingin memastikan pendengarannya sekali lagi.


"Tidak!!!," jawab Ujang dengan ekspresi wajah sangat datar, tidak ada emosi apapun yang ditunjukkan oleh pria itu. Ujang memang memiliki kebiasaan unik yaitu menjawab pertanyaan dengan singkat,,, padat dan jelas tanpa embel-embel.


"Kok Abang bisa setenang ini?" tanya Mentari sambil menatap Ujang.


Ujang pun menoleh kepada Mentari,, melihat Mentari yang saat ini sedang menatapnya dengan penuh tanya.

__ADS_1


"Karena aku tidak pernah memikirkan orang yang tidak pernah memikirkan aku," jawab Ujang.


Mentari membatu,, jawaban Ujang benar-benar menyentaknya,, jawaban sederhana namun penuh makna yang dalam itu,, bahkan Mentari belum bicara apa-apa mengenai pokok permasalahannya. Tapi Ujang sudah seperti ini.


"Tari,, sudah bisa kita berangkat?" tanya Ujang sambil ingin membunyikan mesin mobilnya lagi. Karena Ujang juga melihat sudah sangat sore,, Ujang tidak ingin kemalaman.


"Tunggu!!," ucap Mentari sambil mencengkram lengan Ujang,, Mentari tidak sadar melakukan itu,, mata Ujang langsung memandang kemana tangan Mentari berada sekarang,, Mentari dengan buru-buru melepaskan cengkraman tangannya pada lengan Ujang dengan perasaan malu. Mentari tidak habis pikir bisa-bisanya melakukan hal itu pada Ujang.


"Abang,,, mau nggak mendengarkan aku?" tanya Mentari.


"Bicaralah!!!," ucap Ujang sambil mengubah posisi duduknya sedikit mengarah kepada Mentari,, pandangan mata Ujang tajam dan sedikit menunggu apa yang akan diceritakan Mentari.


"Aku baru putus dengan pacarku Bang,, namanya Samuel,, aku pacaran dengan dia sudah tiga tahun lebih,, Samuel selingkuh di belakang ku,, dan hatiku benar-benar sakit dan hancur,," ucap Mentari.


Mulut Ujang masih tertutup rapat membiarkan Mentari bicara.


Ujang terlihat berpikir sejenak.


"Siapa yang memutuskan duluan?" tanya Ujang.


"Samuel,," jawab Mentari.


"Berarti sudah jelas,,," ucap Ujang.


"Maksud Abang? jelas apanya?" tanya Mentari yang tampak tidak puas dan tidak mengerti dengan jawaban Ujang.


"Dia memutuskan kamu yah berarti dia tidak menginginkan kamu lagi,, lalu apa lagi yang mesti kamu pertanyakan?" ucap Ujang.

__ADS_1


"Tapi dia masih menginginkan aku Bang,, buktinya dia masih ingin kembali padaku lagi tadi,, dia ingin kita balikan lagi," ucap Mentari lagi.


"Kenapa dia ingin kembali lagi padamu Tari?" tanya Ujang lagi.


"Karena dia masih sayang dan cinta pada Tari Bang,," jawab Mentari.


"Kalau dia masih sayang dan cinta padamu,, dia tidak akan pernah memutuskan kamu,," ucap Ujang.


"Tapi Bang...," Mentari tampak protes dan tidak terima dengan jawaban Ujang.


"Jawabannya sangat sederhana Tari,, kami para pria akan sangat cepat bosan pada sesuatu yang kami dapatkan dengan sangat mudah,, jika saat ini kamu menerimanya lagi tidak menutup kemungkinan suatu saat dia akan bosan lagi padamu,, lalu tanpa pikir panjang dia akan memutuskan kamu lagi,, apa kamu mau seperti itu terus? habis diputuskan diminta balikan lagi terus diputuskan lagi?" ucap Ujang sambil melihat Mentari.


Mentari tampak mulai tertarik dengan ucapan Ujang.


"Tentu saja Tari tidak mau seperti itu Bang,," ucap Tari.


Enak saja jika aku hanya dijadikan cadangan,,, dipermainkan sesuka hati,, batin Mentari.


"Kalau kamu tidak mau seperti itu Tari maka jangan kamu lakukan,, ingat kebahagiaan kita sendiri yang memutuskan,, kamu mau bahagia atau tidak yah kamu sendiri yang putuskan,," ucap Ujang lagi.


Lagi-lagi Mentari tertegun karena apa yang diucapkan oleh Ujang memang benar adanya.


"Sudah Tari,, sebentar lagi mau Maghrib masih ada satu tempat lagi yang mesti diantarkan barang nya,," ucap Ujang.


"Baik Bang,," ucap Mentari sambil matanya terus menatap Ujang.


Mentari tidak habis pikir kenapa semua masalah nya menjadi lebih mudah ketika Mentari ceritakan pada Ujang,, rasanya beban di pundak Mentari yang terasa berat menjadi hilang seketika,, sungguh saat ini Mentari benar-benar menyesali dirinya yang menangis seperti orang gila tadi di depan Ujang hanya karena Samuel,, betapa bodohnya dia tadi. Menangisi pria seperti Samuel.

__ADS_1


__ADS_2