Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Mencari nafkah,,


__ADS_3

Pria itu mengangguk dan Ujang pun mulai bekerja hari ini. Pria yang dipanggil kakek itu melihat Ujang dengan tatapan yang sedih, Ujang adalah pria yang sangat baik, terkenal sangat dermawan dan tidak pernah pandang bulu dalam menolong orang. Ujang bukan orang yang kesusahan dia sudah terlahir sebagai anak tunggal yang kaya raya, cuma orang tuanya mengajarkan hidup yang sederhana. Pria itu malah menjadi anak buahnya sekarang, pria yang dulu mengajarkannya cara membuka usaha perabot sekarang malah menjadi anak buahnya. Bersamaan dengan itu, Mentari yang baru pulang mengajar dan belum merasakan istirahat terlihat kebingungan, Aqeel dan Aqeela demam, sedangkan Azzam memang sudah demam sejak dua hari yang lalu.


"Ayo kita bawa ke rumah sakit saja," ucap Ibu Mentari yang juga khawatir dengan keadaan cucu-cucunya itu.


"Kita tanya Bang Ujang dulu Bu," ucap Mentari, wanita itu kemudian mengeluarkan ponselnya dan menelepon Ujang beberapa kali, tapi Ujang sama sekali tidak menjawab panggilan itu.


"Bang Ujang ke mana sih Bu?" tanya Mentari pada Ibunya,, dia terlihat mulai kesal.


"Tadi pagi Ujang pamit pada ibu, dia ingin menemui seseorang, dia tidak menjelaskan orang itu siapa," jawab Ibu Mentari.


"Bukannya dia sudah tahu anak sudah demam saja kemarin, kenapa dia masih pergi juga meninggalkan rumah?" ucap Mentari.


"Sabar! mungkin kali ini dia ingin mengurus hal yang penting," ucap ibu Mentari sambil menggendong Aqeel yang rewel.


"Kadang Bang Ujang ini sama sekali tidak peka, jelas-jelas anaknya sudah sakit seperti ini, dia masih sempat keluar rumah menemui seseorang," ucap Mentari mengomel.


"Jangan menduga hal-hal yang buruk tentang suamimu, mana tahu dia keluar sedang mengusahakan pekerjaan, mencari nafkah untuk kalian semua," ucap Ibu Mentari.


"Kadang,, Bang Ujang ini susah juga bicara dengan dia, sejak tadi malam dia sama sekali tidak berbicara dengan aku, Bu. Dia juga tidak mau minum kopi yang aku buatkan untuknya tadi pagi,, entah apa maunya,, aku juga tidak mengerti," ucap Mentari.


"Seharusnya kamu tidak seperti itu dengan suami. Kamu perlu bersabar terhadap Ujang, karena dia yang merasakan begitu sangat kehilangan dengan apa yang terjadi pada dirinya akhir-akhir ini," ucap ibu Mentari menasehati Mentari.


Akhirnya Mentari diam saja karena dia belum bisa menenangkan pikirannya, tadi malam Ujang tidak berbicara sepatah kata pun kepadanya, apalagi mengharapkan pria itu meminta maaf, jelas sangat mustahil.


"Jaga anak-anak sebentar yah Bu,, aku mau ganti baju dulu," ucap Mentari yang merasa gerah dengan blazer yang dikenakannya.

__ADS_1


"Baik," ucap ibu Mentari sambil menggendong Azzam, telapak kaki Azzam sangat dingin, bahkan setelah dibalut dengan selimut.


Baru saja Mentari menanggalkan jilbabnya di dalam kamar,, jeritan Ibu Mentari membuat Mentari sangat kaget.


"Ke sini Tari, ambilkan air satu gayung," teriak Ibu Mentari.


Mentari yang mendengar teriakan itu langsung keluar kamar dan mendapati Azzam yang sedang kejang.


"Ya Allah nak! kamu kenapa nak?" ucap Mentari lalu mengambil alih Azzam dari pangkuan ibunya, tangis panik Mentari memenuhi ruang tamu, baru kali ini dia melihat anaknya dalam kondisi seperti itu.


Tidak kehilangan akal Ibu Mentari pergi ke sumur mengambil air satu gayung, lalu air itu dimasukkan ke dalam mulutnya, kemudian menyemburkannya ke muka Azzam, dua kali semburan Azzam tidak sadar, di semburan ketiga Azzam mengerjapkan matanya,, dia terlihat sangat kelelahan dan lemas.


"Buka bajunya,, celupkan ke dalam gayung ini, dan letakkan baju basah itu ke dadanya," ucap Ibu Mentari.


"Ayo kita ke rumah sakit," ucap Ibu Mentari dan Mentari pun mengangguk, mereka tidak bisa lagi membuang waktu, Azzam harus mendapatkan penanganan Dokter karena obat apotik sama sekali tidak memberi kemajuan.


"Bagaimana kita membawa anak-anak ke rumah sakit?" ucap Mentari.


"Ibu akan meminta tolong pada tetangga untuk menyetir mobil," ucap ibu Mentari lalu bergegas keluar rumah, Aqeel dan Aqeela terus saja merengek dari tadi seakan minta perhatian, tapi Mentari hanya bisa fokus pada Azzam saat ini, dalam hatinya dia jengkel pada Ujang, seharusnya pria itu di rumah seharian menjaga anak-anak mereka karena bagaimanapun ibunya juga memiliki pekerjaan rumah tangga dan juga menjaga warung, tidak mungkin mengasuh tiga anak yang kecil-kecil sekaligus.


###############


"Ini upahmu untuk hari ini Jang," ucap pria itu sambil mengeluarkan tiga lembar uang ratusan.


Ujang yang melihat itu merasa terharu, dia tidak menyangka upahnya dibayar hari ini juga.

__ADS_1


"Kenapa upah aku dibayar sekarang Kek?" tanya Ujang.


"Lebih baik aku bayarkan upahmu setiap hari, agar aku tidak merasa kewalahan membayar gajimu setiap sekali sebulan," ucap pria itu yang sebenarnya sengaja mengupah Ujang harian karena dia tahu Ujang pasti sangat membutuhkan uang sekarang.


"Oh begitu terima kasih Kek," ucap Ujang.


"Iya,, pulanglah ini sudah jam sembilan malam,, aku sudah mewanti-wantimu agar berhenti dari jam lima sore, tapi kamu sangat gigih hendak menyelesaikan semua borongan malam ini,, ya sudahlah! bekerja dengan orang rajin ya resikonya seperti ini, pekerjaan pasti cepat selesai," ucap pria itu sambil tertawa.


Ujang yang memang sudah terbiasa bekerja sampai malam hari tidak merasa kerjaan kali ini adalah beban, dia hanya tersenyum tipis sambil mengambil uang itu.


"Terima kasih banyak telah memberikan upah ini kepadaku Kek," ucap Ujang.


"Ah itu belum seberapa bagimu Jang,," ucap Kakek itu.


Ujang hanya diam saja,, ya mungkin tiga ratus ribu bukanlah apa-apa bagi dirinya sebelum kehilangan hutan jatinya, kebunnya,, gudang perabotnya serta rumahnya, uang tiga ratus ribu baginya dulu sangat kecil,, tetapi saat ini begitu besar karena dia tidak lagi memiliki apapun.


"Pulanglah! kasihan anak istrimu sudah menunggu di rumah," ucap Kakek itu sambil menepuk bahu Ujang.


"Baik, terima kasih Kek," ucap Ujang lagi.


Ujang kemudian mengambil motor yang dipinjamkan oleh ayah mertuanya, memacu motor itu meninggalkan lokasi rumah tempatnya bekerja, pria itu melihat punggung lebar Ujang menjauh, rasanya dia begitu sedih melihat keadaan Ujang. Pria yang sangat baik, sederhana yang diberikan musibah cukup besar sehingga dia memulai kehidupannya dari nol lagi.


Ujang yang sudah lega, kemudian mampir ke minimarket, hal yang perlu dibelinya hari ini adalah pempers anak beserta susu, itulah kebutuhan yang paling mendasar yang harus ada di rumah, tidak boleh tidak ada.


Setelah dibelikan susu dan pempers, uang yang tersisa hanya dua ribu kemudian diberikan kepada petugas parkir, habislah semuanya. Tidak apa-apa yang penting dia sudah mendapatkan penghasilan dan memberi nafkah pada anak dan istrinya hari ini.

__ADS_1


__ADS_2