Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Nona sok cantik!!!


__ADS_3

Sumpah yang Abang katakan itu tidak masuk akal," ucap Doni dengan muka yang memerah.


"Apa mengintip orang tidur itu masuk akal?" tanya Ujang balik.


"Bukan saya pelakunya,, sudah saya katakan bukan saya," ucap Doni.


"Aku yakin itu kamu,, cuma kamu sendiri saja yang bangun pada saat kejadian itu,, mengakulah!! jika aku mengetahui kebenarannya,, maka kamu tidak akan aku maafkan," ucap Ujang tegas.


Doni menantang Ujang. Kemudian suara pengakuan Doni membuat semua orang jadi tercengang.


"Iya itu saya,, Abang mau apa? mau membunuh saya?" ucap Doni.


"Anak kurang ajar!!!" ucap Ujang marah.


Tanpa bisa dikendalikan sebuah pukulan melayang di wajah Doni,, Doni langsung terjengkang,, semua gadis yang berada di sana langsung terpekik,, sedangkan Mentari yang mengintip di balik pintu kamarnya langsung menutup mulutnya,, alangkah memalukan,, alangkah jahatnya Doni. Mentari bahkan tidak mampu menahan tangisannya, dia menutup pintu kamar dan menumpahkan air matanya sendiri. Saat Ujang ingin kembali melayangkan tinjunya,, Azis segera menahan bahu Ujang sekuat tenaga Azis.


"Sudah Jang! anak itu bisa mati Jang," ucap Azis.


"Dasar tidak tahu terima kasih,, tidak tahu di untung, kami terima kalian tinggal gratis di sini, tidak memperhitungkan apapun,, saat kami makan kalian juga makan, tapi apa yang anak kurang ajar ini lakukan, dia mengintip tuan rumah yang sedang melakukan hubungan suami istri, apa isi otakmu? hah?" ucap Ujang seperti kesetanan,, apa yang menimpanya itu sungguh sangat memalukan, dia sangat membenci Doni yang hanya manis di mulut itu.


"Bang telepon Pak Lurah suruh beliau kesini!!!" ucap Ujang menoleh pada Azis dengan mata yang sudah memerah karena marah besar,, sedangkan mahasiswa yang lain sangat ketakutan begitu melihat kemarahan Ujang.


"Jang menurutku..." ucap Azis.


"Abang bisa bantu atau tidak?" ucap Ujang.


"Ba...baik," ucap Azis cemas,, Azis bergegas ke luar rumah, mengambil motornya lalu segera ke kantor lurah.


"Singkirkan dia dari hadapan ku, atau wajahnya ku hajar kembali sampai tidak berbentuk," ucap Ujang.


"Ba...ba...baik Bang," ucap Andre gemetar,, menarik bahu Doni yang sedang meringis kesakitan,, hidungnya mengeluarkan darah.


"Peringatan bagi kalian semua pelihara adab di rumah orang lain!!!" ucap Ujang sambil menatap tegas mereka satu persatu,, lalu segera masuk ke dalam kamarnya untuk menemui istrinya yang pasti sangat terpukul.


Dan benar saja Ujang melihat istrinya sedang menangis, sedangkan dua bocah kembar sedang asik bermain tanpa mengerti apa yang sedang dialami oleh kedua orang tua mereka.


Ujang sangat tau Mentari pasti akan merasa sangat malu, Ujang meraih bahu Mentari dengan lembut lalu membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Aku sudah menghajar anak itu," ucap Ujang sambil memeluk Mentari.


"Berapa lama dia mengintip? apa Abang tidak tanya? berapa lama dia ada di sana? apa saja yang dia lihat?" ucap Mentari yang berbicara di sela-sela tangisannya.


"Aku tidak menanyakan itu,, Tari,, takutnya semakin tau kenyataannya, kita akan semakin malu," ucap Ujang.


"Lalu bagaimana Abang?" tanya Mentari.


"Kita kasih tahu kelurahan dulu yang jelasnya Doni tidak boleh lagi tinggal di sini, biar Pak Lurah yang mencari solusinya, sampai saat ini aku belum tahu apa motif Doni melakukan itu, jika dia mencuri itu masih bisa dimaklumi, akan tetapi, mengintip! ya ampun," ucap Ujang.


"Tari malu Abang," ucap Mentari.


"Sudahlah! setidaknya kita tau siapa pelakunya, aku pun juga malu,, tapi semuanya sudah terjadi,, waktu tidak bisa diulang kembali," ucap Ujang mencoba menghibur istrinya itu.


############


Yang terjadi malam sebelumnya....


Doni berusaha memejamkan matanya, akan tetapi matanya itu tidak bisa diajak kompromi. Reza sudah tertidur pulas, begitu juga dengan Andre yang mengeluh tidak enak badan,, dia juga sudah tertidur pulas. Doni menyembunyikan sebuah penyakit pada dirinya. Kelainan seksual, bukan penyuka sesama jenis akan tetapi dia menyukai pakaian inti wanita. Ketika dia melihat pakaian inti wanita, maka ada dorongan dan rangsangan pada dirinya, dia pasti akan bisa berfantasi dengan benda itu. Doni tidak tahu sama sekali dari mana penyakit itu berasal, penyakit itu datang begitu saja, Doni menyembunyikan kebiasaan itu rapat-rapat semenjak dia duduk di bangku SMA.


Dia kembali,, meraba sisi dinding yang umurnya sudah tua itu,,, tidak susah melubangi papan yang sudah tua dimakan usia itu, tanpa menimbulkan suara Doni berhasil melubangi papan itu. Doni mendekat meletakkan sebelah matanya di sana,, dia begitu kesal,, lubang itu ternyata dihalangi oleh bantal,, sehingga dia tidak bisa melihat apa-apa di dalam. Dia hanya bisa mendengar suara saja tanpa melihat pun Doni sudah tahu apa yang terjadi di dalam sana. Pasti pemilik rumah sedang bercinta.


Bosan tidak melihat apa-apa,, tidak sengaja keseimbangan Doni hilang, dia langsung terjatuh ke belakang, melangkahi batu yang disusun di bawah dinding. Doni benar-benar panik dan langsung bergegas pergi,, masuk ke dalam kamarnya kembali dia tidak boleh ketahuan.


Dan memang benar setelah itu dia mendengar langkah kaki yang tergesa-gesa menuju ke belakang rumah,, lalu tak lama pintu dapur terbuka. Doni menenangkan dirinya, bangkit dan menyapa Ujang yang memandangnya dengan curiga.


#############


Di dalam kamar Indri dan Ratu,, mereka masih tidak habis pikir dengan apa yang baru terjadi.


"Aku pasrah kalau KKN kita gagal karena Doni," ucap Ratu.


"Yang salah Doni,, kenapa mesti kita gagal?" ucap Indri.


"Kamu lupa? kita dinilai berdasarkan kelompok bukan membawa nama pribadi,, ya ampun! bahkan kita baru dua hari di sini tapi Doni sudah membuat masalah saja," ucap Ratu.


"Entahlah! aku masih tidak habis pikir dengan sikap Doni itu,, bagaimana dia bisa sampai sehina itu,, mengintip orang yang sedang melakukan hubungan suami istri,, Ya ampun! pantas saja Bang Ujang sangat murka," ucap Indri.

__ADS_1


"Entahlah! yang jelas Bang Ujang tidak akan mungkin memaafkannya,, betapa malunya kita, jika kabar ini tersebar ke pihak kampus," ucap Ratu pusing.


"Tentu saja itu akan tersebar,, tidak mungkin aib ini tidak terbongkar,, kelompok kita akan menjadi perbincangan hangat dan dikenang sepanjang masa," ucap Indri.


Tiba-tiba saja Ratu bangkit dari duduknya...


"Ayo kita rapat!! kita temui mereka untuk mencari solusi atas apa yang terjadi," ucap Ratu.


Indri pun menurut mereka segera berjalan ke ruangan mahasiswa laki-laki, mereka melihat Doni merebahkan dirinya di atas kasur.


"Kenapa dia? pingsan?" tanya Indri ketus.


"Iya tadi tapi sekarang sudah sadar,, dan saat ini kepalanya pusing," jawab Andre kesal.


"Tentu saja, kepalanya dan tinju Bang Ujang hampir saja sama besar,, untung saja dia cuma kena satu kali,, kalau tidak ditahan dengan Bang Azis aku yakin dia pasti akan mati ditempat tadi,," ucap Indri menumpahkan kekesalannya pada Doni.


"Sudahlah kita hanya perlu mencari jalan keluar," ucap Reza menengahi.


"Tidak ada jalan keluar lain selain mengeluarkan dia dari kelompok,, bikin malu saja," ucap Indri yang masih mengomel.


"Diam kamu!!! cewek sok cantik padahal jelek," ucap Doni tiba-tiba. Wajahnya sangat mengenaskan sekarang,, bibirnya pecah dan dari hidungnya terlihat sisa darah yang telah mengering.


"Ya ampun! si tukang intip malah nyolot lagi,, apa yang kamu lihat hah? apa kamu mendapatkan kepuasan?" ucap Indri sambil tertawa mengejek Doni.


"Sudahlah Indri,, jangan menambah masalah," ucap Ratu.


"Kamu membela si tukang intip ini?" tanya Indri kesal.


Ratu menghela nafasnya.


"Aku tidak membelanya,, hanya kita sudah ada masalah ini,, jangan lagi menambah masalah dengan kalian ribut karena tidak ada gunanya,," jawab Ratu.


"Sudah! sudah!" ucap Andre yang juga mengeluarkan suaranya.


"Biar saja Nona sok cantik itu marah-marah karena dia naksir Bang Ujang,, hadehh!!! naksir kok suami orang bercermin dong nggak malu apa,, jelas-jelas cantikan Kak Mentari meskipun lagi hamil dibandingkan dengan kamu yang tidak ada apa-apanya,, mana mungkin Bang Ujang menyukai wanita jelek,, tidak usah naksir suami orang karena Bang Ujang setia meskipun kamu terus cari perhatian tapi dia tidak pernah menggubris kamu,, kasihan sekali!!! kalau aku jadi kamu pasti malu dan mata Bang Ujang masih bagus belum rabun hingga dia akan suka sama kamu dan kayaknya meskipun rabun juga dia tidak mungkin suka sama cewek sok cantik kayak kamu padahal jelek,, ha ha ha," ucap Doni lalu tertawa terbahak-bahak sambil menahan sakit karena bibirnya pecah.


Wajah Indri langsung merah padam. Tanpa diduga semua orang, Indri melompat ke atas kasur yang ditiduri oleh Doni, lalu mencakar wajah pria yang sedang tertawa sekaligus kesakitan itu. Indri mengamuk kayak orang kesetanan sampai-sampai Ratu kesusahan melerainya. Sedangkan teman-temannya yang lain hanya melongo saja tidak berdaya.

__ADS_1


__ADS_2