Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Cemburu lagi,,,,


__ADS_3

"Abang mencium sesuatu nggak?" tanya Mentari.


Mentari tampak mengendus udara kemudian menutup hidungnya,, mereka berdua baru saja bersiap-siap untuk sarapan pagi,, hidangan sudah tersaji di atas meja makan, disaat si kembar masih tidur dengan lelap inilah kesempatan bagi mereka untuk menikmati sarapan pagi berdua, kalau si kembar bangun dengan terpaksa mereka sarapan bergantian.


"Tidak," ucap Ujang yang belum mencium bau apa-apa.


"Coba Abang lebih teliti lagi, ini mau bangkai Abang," ucap Mentari sambil menutup hidungnya,, perutnya kembali bergejolak,, mau bangkai yang sangat-sangat amis.


Ujang segera bangkit memeriksa ruang tamu di setiap sudut, istrinya adalah wanita yang super bersih tidak mungkin istrinya meninggalkan kotoran saat dia membersihkan rumah. Apalagi membiarkan bangkai binatang tanpa membuangnya.


"Apa mungkin ini bau tikus mati?" tanya Ujang dengan tidak yakin.


Mentari terdiam sejenak.


"Tidak ada tikus di rumah kita Abang,, karena kita punya kucing, ini juga tidak seperti bau tikus, ini lebih bau dari bau tikus,," ucap Mentari lalu segera mengambil minyak telon si kembar, kemudian mengusapkan di hidungnya beberapa kali, demi menyamarkan bau yang sangat busuk itu.


Ini hari Minggu Azis libur dan Ujang pun akan bersantai bersama istri dan anak-anaknya di rumah, terkadang juga di hari libur begini mereka mengunjungi rumah mertuanya, akan tetapi bau bangkai yang barusan dicium juga oleh Ujang itu,, membuat mereka merasa sangat terganggu.


"Iya aku mencium baunya juga sedang ke arah sini," ucap Ujang sambil melangkahkan kakinya menuju jendela, bau bangkai itu semakin kuat apalagi semilir angin pagi masuk ke dalam rumah melalui jendela mereka.


"Sepertinya dari luar rumah," ucap Mentari sambil menyusul Ujang karena bisa saja ada bangkai binatang dekat rumah mereka, yang di sekelilingnya ditumbuhi hutan itu.


"Baunya semakin kuat,,, Tari," ucap Ujang yang berinisiatif menuruni anak tangga rumah mereka,, di ikuti Mentari dari belakang, Ujang berbalik kembali untuk memegangi istrinya menuruni anak tangga,, dia tidak mau istrinya kenapa-kenapa karena ikut terburu-buru menuruni anak tangga. Mereka harus menyingkirkan kalau itu benar-benar bangkai, jika mereka ingin pernafasan mereka tidak terganggu karena bau bangkai busuk itu, beberapa kali Mentari mengeluarkan suara seakan ingin muntah, walaupun tidak sampai mengeluarkan isi perutnya.


Brakk!!! bunyi kayu patah, Mentari dan Ujang langsung saling pandang begitu mendengar bunyi itu, bunyi kayu yang seperti diinjak tanpa disengaja.


"Apa bang Azis datang?" tanya Mentari sambil menatap Ujang tanpa kedip.


"Aku tidak mendengar suara deru motornya,, Tari," ucap Ujang.


"Lalu, itu apa?" tanya Mentari.


"Ayo kita lihat saja untuk memastikan semuanya," ucap Ujang.


Ujang melesat dengan cepat begitu memastikan istrinya sudah turun sampai tangga terakhir,, Ujang ingin melihat duluan apa sebenarnya bau bangkai busuk itu dan bunyi yang barusan mereka dengar, dia tidak ingin sesuatu membahayakan istrinya, terdengar bunyi lebih berisik, seperti bunyi langkah kaki yang berusaha melarikan diri. Sesekali bunyi sandal yang beradu dengan tanah terdengar, artinya pemilik kaki seakan kesusahan berjalan.

__ADS_1


"Itu," ucap Mentari.


Mata mereka langsung menangkap satu sosok yang berlari dari arah gudang, dia agak terseok-seok, namun sosok itu berhasil mendekati pagar, sosok itu diikuti dengan bau busuk yang sangat-sangat menyengat.


"Hei,, siapa kamu?" ucap Ujang yang berhasil menarik kain penutup kepala orang itu, alangkah terkejutnya dia saat melihat ternyata sosok yang begitu busuk itu adalah Marni lagi.


Yang lebih terkejut lagi adalah Mentari, Mentari sampai berdiri mematung di tempatnya berdiri karena tidak tahu harus bereaksi seperti apa, apa yang dilakukan Marni di dekat gudang tadi? Mentari sudah mencium bau busuk itu sejak tadi malam,, artinya wanita itu sudah berada di sekitaran rumah mereka semalaman,, wajah Mentari langsung memucat.


"Kamu?" ucap Ujang kaget luar biasa ternyata bau bangkai busuk itu tidak lain adalah Marni lagi, sudah beberapa hari setelah kejadian pengeroyokan itu Ujang tidak pernah melihat Marni lagi, Ujang tidak habis pikir apa yang membuat wanita itu datang ke rumahnya lagi.


Tiba-tiba saja Marni bersimpuh memegang kaki Ujang sambil menangis tersedu-sedu. Marni mengabaikan penutup kepalanya yang terlepas menyisakan penampakan wajah yang sangat mengerikan dan juga sangat menjijikan ditambah lagi sangat bau.


"Tolong aku! tolong aku Ujang, aku tahu kamu orang baik Ujang,, kamu pasti akan menolong aku, penyakit laknat ini butuh obat segera,, aku tidak tahu lagi harus berobat ke mana, aku putus asa,, aku ingin mati saja Jang,, anggap ini pengorbananmu sebagai sahabat, bagaimanapun kita pernah berteman Ujang,, tolong!! tolong aku!! Ujang," ucap Marni sambil menangis tersedu-sedu.


Ujang langsung melihat istrinya yang tampak membatu itu, lalu melihat ke arah Marni yang sedang menangis itu.


"Kamu kan wanita yang licik pasti kamu tahu cara mencari jalan keluar dari masalahmu itu, kamu menggunakan ilmu hitam secara sadar, pasti kamu sudah sangat siap dengan resikonya kan? aku tidak bisa melakukan apa-apa sekarang,, aku tidak bisa membantumu sebelum kau sadar Marni,, dan bertobat,, apa kamu tidak mengingat anak-anakmu?" ucap Ujang heran mengapa bisa ada seorang Ibu seperti Marni ini.


"Aku mohon! aku mohon Ujang, carikan aku dukun untuk berobat," ucap Marni sambil menyatukan jarinya di depan seperti sedang memohon,, sambil berurai air mata, tidak ada lagi Marni yang dulu,, Marni yang sangat bangga akan kecantikannya itu, Marni sekarang dia sudah berubah wujud menjadi wujud yang sangat mengerikan,, bahkan hampir saja tidak dikenali lagi.


"Apa saja Ujang, tabib pun tidak masalah untukku, aku tidak tahu lagi harus meminta tolong ke mana,, semua orang menjauhi aku, semua orang tidak mau menolong aku,, cuma kamu harapan aku satu-satunya Ujang,, aku tahu kamu orang yang baik," ucap Marni.


Ujang terdiam sejenak lalu menghela nafasnya yang berat.


"Masuklah! tidak bagus bicara di luar dan tidak usah bersimpuh serta menangis-menangis seperti itu padaku, lebih baik kamu shalat dan tobat," ucap Ujang.


Mentari langsung melebarkan kedua bola matanya,, apa-apaan ini? Ujang menyuruh wanita itu untuk masuk ke dalam rumah mereka? dengan sikap wanita itu yang jahat dan bau yang sangat menyengat itu, apa Ujang tega menyiksanya? Marni bisa saja melakukan kesempatan ini untuk melakukan aksi jahatnya,, wajahnya yang buruk belum mampu merubah tabiatnya yang angkuh itu,, wanita busuk itu bisa saja sedang merancang rencana yang jahat.


Namun protes itu hanya ada di dalam hati Mentari saja. Buktinya Mentari langsung masuk lebih dulu, Ujang menyusul mentari dengan cepat yang akan naik tangga,, memegang istrinya itu dan Mentari hanya diam saja,, begitu sampai di rumah panggung mereka,, Mentari langsung masuk ke dalam kamar, dia ingin sekali marah,, ingin sekali melarang tapi entah mengapa dia tidak memiliki kemampuan itu. Tercium bau menyengat yang semakin jelas, semakin kental tercium baunya,, Mentari yakin Marni sudah masuk ke dalam rumah mereka.


Pintu kamar langsung terbuka, Mentari yakin itu pasti suaminya, Mentari langsung membuang pandangannya pada anak mereka yang masih tidur lelap, Mentari enggan menatap suaminya itu.


"Istriku," ucap Ujang.


"Mana dia?" tanya Mentari dingin.

__ADS_1


"Dia aku suruh makan karena mengeluh lapar," jawab Ujang.


"Apa? Abang memberikan dia makan? apa Abang tidak mengenal wanita itu siapa? apa Abang lupa dia adalah wanita yang jahat? dengan semua kejahatan itu,, Abang malah membawa masuk dia ke rumah kita dan memberikan dia makan, apa tidak sekalian saja Abang menyuruh dia tinggal disini," ucap Mentari kesal sambil mengepalkan tangannya, dia benar-benar marah saat ini.


"Istriku,, aku ingat semua itu,, aku ingat semua kejahatan yang sudah dia lakukan,, tetapi sebagai sesama manusia kita wajib menolong sesama makhluk hidup,, bahkan pada seekor anjing pun yang hampir mati, kita memiliki banyak makanan di rumah,, jadi..."


"Oh Tari lupa,, Abang memiliki sifat seperti malaikat,," sindir Mentari tajam, Mentari membelakangi Ujang,, menyembunyikan air matanya yang mulai bercucuran dengan deras,, rasanya sangat menyebalkan menerima suaminya itu berbuat baik pada Marni,, dia tahu betul Marni tidak akan menyerah untuk merebut suaminya,, bahkan dengan kondisinya yang terlihat sangat sadis begitu.


"Tunggu di sini,, aku akan keluar dulu,, nanti kita bicara lagi," ucap Ujang yang ingin segera mengusir Marni dari rumahnya setelah dia memberi makan,, Ujang juga tidak pernah berniat sedikitpun untuk membuat Marni tinggal di rumahnya,, Ujang hanya memberikan dia makan saja karena tadi dia memohon makan karena kelaparan. Tapi tangis cemburu dan penuh kemarahan akhirnya pecah di kamar itu.


############


"Marni,, kamu sudah kenyang?" tanya Ujang,, Marni terlihat makan dengan lahap sambil menganggukan kepalanya.


"Terimakasih," ucap Marni.


"Sekarang pergilah!!!" usir Ujang.


"Apa?" tanya Marni terkejut.


"Tadi kamu mengeluh lapar dan aku sudah memberikan kamu makan, sekarang kamu pergilah dari rumah ku," usir Ujang.


"Ujang, bukannya kamu bilang akan menolong ku?" ucap Marni.


"Aku akan menolong mu," ucap Ujang.


"Aku tau kamu orang baik Ujang, aku tidak lagi memiliki tempat tinggal, dan...," ucap Marni.


"Kamu tidak akan pernah tinggal disini,, sekarang pergilah!!! ku rasa tenaga mu sudah terisi untuk mencari tempat tinggal mu sendiri,," ucap Ujang lagi.


"Apa benar aku tidak boleh tinggal disini?" tanya Marni tidak tahu malu.


Ujang tertawa begitu mendengar pertanyaan Marni yang sangat tidak masuk akal itu, sedangkan Mentari yang menguping di balik pintu mengepalkan tangannya erat begitu mendengar keinginan Marni yang tidak tau malu itu.


"Tanyakan pada hati kecil mu apa boleh kamu tinggal disini? jelas-jelas kamu sudah berbuat jahat pada kami,, apa kamu pikir aku akan menyakiti hati istriku dengan membiarkan kamu tinggal disini? aku tidak akan menyakiti hati istriku dan aku juga dari awal tidak memiliki niat untuk membuat kamu tinggal disini,, meskipun tadi aku bilang akan menolong kamu,,, aku memang memberikan kamu makan tadi karena aku kasihan lihat orang kelaparan kebetulan kami memiliki banyak makanan, sekarang pergilah!!! seperti yang aku bilang tadi aku akan menolong kamu, carilah ustadz Maliq,, aku sudah menghubungi dia,, jadi pergilah dan bertobatlah!!! kasihan anak-anakmu yang belum tahu apa-apa dan tidak bersalah itu,," ucap Ujang sambil menatap tegas pada Marni.

__ADS_1


__ADS_2