Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Terdiam seribu bahasa...


__ADS_3

"Abang mau ke mana?" tanya Mentari ketika melihat Ujang memakai jaketnya dan juga mengambil kunci motor milik Pak Mamad.


"Aku mau keluar dulu sebentar, ada keperluan yang harus aku selesaikan," jawab Ujang.


"Oh hati-hati yah Abang, jangan pulang terlalu malam," ucap Mentari khawatir pada suaminya.


Ujang tersenyum tipis dan mengangguk,, kekhawatiran Mentari kepada dirinya cukup merasa dirinya begitu benar-benar berharga di mata Mentari,, motor tua milik Pak Mamad tersebut berjalan dengan kecepatan sedang, gerimis tidak menyurutkan langkah Ujang untuk menyusuri jalan berliku dan dipenuhi oleh kerikil yang tajam. Tidak menunggu berapa lama Ujang sampai di puing-puing bekas kebakaran rumahnya, hanya kegelapan saja yang dia temui begitu sampai di sana, rasanya sungguh sangat menyesakkan dada,,, kesedihan begitu tentara terpancar di mata Ujang, hanya sisa-sisa kebakaran lah yang ada di sana, bekas pohon jati yang sudah hangus dan menjadi arang saat ini.


Ujang menepikan motornya di sebuah pohon yang terletak jauh dari rumahnya. Tidak ada cahaya apa-apa di sana, entah kenapa malam ini hatinya begitu kuat untuk pergi melihat sisa rumahnya kembali. Beberapa menit berselang, Ujang melihat sesuatu yang berasal dari jalan desa sebelah, seseorang sedang berjalan kaki di kegelapan malam seorang diri, meskipun tidak begitu jelas namun Ujang melihat seorang laki-laki yang mengenakan jaket berwarna hijau, cahaya itu berasal dari senter yang digunakan oleh pria tersebut, pria itu memakai topi pet dan masker yang menutupi wajahnya sehingga pria itu tidak bisa dikenali dengan jelas oleh Ujang. Ujang melihat pria itu berdiri membatu ke arah puing-puing sisa kebakaran itu, sangat lama pria itu tidak kunjung meninggalkan lokasi tersebut.


Hati Ujang mendadak merasa tidak enak begitu melihat pria itu sangat lama berdiri di antara puing-puing kebakaran itu, tanpa pikir panjang Ujang berjalan mendekati pria itu yang tengah menghadap ke puing-puing sisa kebakaran itu, pria itu langsung terperanjat kaget, dia balik kanan dan berjalan mendekati motornya yang berada beberapa meter dari lokasi.


"Hei tunggu! siapa kau?" tanya Ujang kepada pria itu yang terlihat begitu panik.

__ADS_1


Pria itu tidak menjawab dan terus mempercepat langkahnya dan Ujang tentu saja tidak menyerah, segera dia berlari untuk menyusul pria itu.


"Hei, jangan pergi apa yang kamu lakukan di sini? apa kita saling mengenal?" tanya Ujang kembali.


Pria itu malah menyalakan motornya dan segera pergi dengan mengendarai motornya dalam kecepatan tinggi. Ujang hanya bisa menghela nafasnya penuh sesal, sangat menyesal kenapa dia tidak bergerak lebih cepat. Kenapa tadi dia tidak cepat untuk menangkap pria itu dan menginterogasinya,, pasti ada sesuatu yang dilakukan pria itu di sini, tentu saja itu sangat berhubungan dengan kebakaran yang baru saja terjadi beberapa hari yang lalu. Pikiran Ujang terasa berkecamuk, setelah dia merasa sedikit tenang,, dia menyalakan motornya lalu pergi meninggalkan tempat itu. Lama-kelamaan Ujang semakin yakin bahwa pria tadi adalah salah satu pelaku yang menjadi dalang akan kebakaran yang terjadi di rumahnya. Ujang tahu dan percaya seratus persen dalang dari kebakaran rumahnya itu adalah Angelica.


Setelah meninggalkan lokasi kebakaran,, Ujang tidak langsung pulang, dia mampir ke sebuah warung kopi yang selalu ramai di malam hari karena pendatang berasal dari Desa tetangga. Kedai itu terbuat dari bambu, dengan bangku yang terbuat dari bambu juga,, suasana kedai itu sangat ramai, hanya menyisakan beberapa tempat yang isinya pun hanya muat untuk dua atau tiga orang saja.


Mereka adalah warga yang berasal dari Desa tetangga, yang satunya bernama Indra dan yang satunya lagi bernama Doni, nama yang sama dengan salah satu seorang mahasiswa yang pernah magang di desa mereka dan tinggal di rumah Ujang untuk sementara waktu itu. Indra tampak tersenyum lebar sedangkan pria yang di sampingnya yang terlihat sangat pucat itu hanya bisa terbelalak begitu melihat Ujang dengan mulut yang menganga. Tanpa merasa curiga sedikitpun Ujang mengikuti langkah kakinya untuk duduk di samping Indra karena dia memang sudah mengenal mereka.


"Mau pesan apa Jang? kali ini aku yang akan traktir karena aku lagi banyak duit sekarang,, hahaha," ucap Indra dengan begitu semangatnya.


Doni dari tadi hanya mengatupkan mulutnya saja,, dia tidak mengatakan apa-apa dan hanya tersenyum tidak enak pada Ujang begitu mengingat apa yang telah dia lakukan kepada Ujang. Tunggu, Ujang tiba-tiba teringat dengan orang yang berdiri beberapa saat di lokasi kebakaran rumahnya, topi pet warna hitam yang tergeletak begitu saja di atas meja kayu di depan bangku bambu, kemudian jaket hijau juga yang warnanya sudah pudar diletakkan di sandaran kursi. Sikap ramah Ujang langsung menghilang seketika dan dia langsung menatap Doni yang semakin pucat saja saat ini.

__ADS_1


"Hei Jang,, apa yang mau kamu pesan? ayo bilang saja,, aku yang akan mentraktir kamu,, dan juga aku merasa turut prihatin yah Jang atas kejadian yang menimpa kamu,, kamu orang baik Jang pasti akan diberi kemudahan nanti," ucap Indra lagi.


Ujang hanya mengangguk lalu...


"Maaf Bang Indra, saya mendadak langsung merasa tidak haus karena ada sesuatu yang membuat saya langsung kehilangan haus dan juga tidak lapar,, saya tidak jadi pesan apa-apa Bang Indra,," ucap Ujang dengan nada yang ketus sambil menatap ke mata Doni yang semakin ciut saja nyalinya, Doni benar-benar terlihat sangat mencurigakan di mata Ujang,, semakin ditatap pria itu semakin merasa ketakutan saja dan semakin pucat.


Sementara Doni benar-benar merasa ketakutan,, takut Ujang akan tahu semuanya,, takut Ujang bisa menebak dirinya, atas apa yang telah dia lakukan kepada Ujang, selama dia habis membakar rumah Ujang,, perasaan bersalah terus menghantui dirinya. Meskipun Doni sudah mendapatkan banyak uang tapi dia tidak dapat hidup tenang,, dia selalu kepikiran asal uang itu dari sesuatu yang tidak baik,, dari sesuatu yang membuat orang lain menderita,, sementara dia menggunakan uang itu untuk mengobati anaknya yang sakit.


"Permisi!!! aku harus pulang dulu karena aku sedang sakit sekarang,, maaf Indra aku tidak bisa menemanimu sampai tengah malam, mari Jang!!! aku duluan!!!" pamit Doni.


"Tunggu Bang,, jangan buru-buru pulang,, ayo kita duduk disini berdua dan berbicara dari hati ke hati," ucap Ujang dengan nada dingin yang membuat Doni semakin ketakutan saja,, Doni langsung berpikiran bahwa Ujang mungkin sudah tahu bahwa dirinyalah pelakunya.


Peluh dingin mengalir di pelipis Doni sedangkan Indra yang cuma menyimak pembicaraan mereka terdiam seribu bahasa,, dia berusaha untuk tampak bodoh seolah-olah tidak tau apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2