Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Astagfirullah,,


__ADS_3

"Sebentar," ucap Mentari yang tengah berkutat di dapur, sementara Aqeel dan Aqeela di gendong di kanan dan kiri Ujang. Aqeel menangis dengan keras sedangkan Aqeela menatap saudara kembarnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Tari, masih lama?" tanya Ujang yang mulai kebingungan untuk mendiamkan Aqeel,, Aqeel semakin menggeliat dan suara tangisnya semakin bertambah keras saja.


Aqeela di taruh oleh Ujang di dalam box bayi, Aqeela malah ikut menangis keras, bahkan lebih keras dari suara Aqeel, akhirnya Ujang mengambil Aqeela kembali.


"Dua-duanya menangis," ucap Ujang yang kini berbicara sendiri. Ternyata mengasuh anak itu tidak lah mudah,,, bahkan seharian ini Ujang belum menyentuh kayu sama sekali.


"Sedikit lagi cabenya matang,,, Abang," ucap Mentari dari arah dapur.


Mentari bahkan tidak fokus begitu mendengar suara tangisan anak-anaknya.


"Ya ampun sayurnya kehabisan air," ucap Mentari.


"Matikan saja dulu api kompornya, Tari, nanti lanjut masak lagi," ucap Ujang.


"Tapi kita belum makan siang," ucap Mentari yang mulai pusing.


"Susukan Aqeel dulu,, biar aku yang gantikan di dapur," ucap Ujang.


"Ayo sini gantian yah," ucap Mentari lalu mengambil Aqeel lebih dulu, karena terlihat dia yang paling tidak sabaran dibandingkan Aqeela, Mentari menyusukan Aqeel, sedangkan Aqeela sudah mulai tenang saat Ujang mengayunkan nya.


Ujang segera menuruni tangga, karena letak dapur lebih rendah dari ruang tamu, Ujang menyalakan kompor kembali,, melanjutkan memasak cabe yang masih setengah matang tadi.


Sungguh tidak mudah menjadi orang tua baru, apalagi memiliki anak kembar yang membutuhkan tenaga ekstra untuk mengasuh mereka. Baru dua hari Ibu mertuanya kembali ke rumah, selama dua hari itu juga Ujang dan Mentari menjaga bayi mereka sepenuhnya. Tidak jarang mereka diserang rasa panik, dan begadang bergantian setiap malam. Dan setelah subuh baru bisa melanjutkan tidur.


Ujang salut pada Ibu mertuanya, ditangannya kedua bayi itu cukup tenang, jika mereka rewel sedikit Ibu mertuanya pasti menyanyikan sholawat dan dua bayi itu pasti langsung tertidur. Ujang bukannya tidak meniru cara mertuanya itu, tapi ketika dia yang menyanyikan lagu sholawat yang ada Aqeel semakin menangis. Mungkin karena tidak ada indahnya sama sekali suara Ujang, karena Ujang sama sekali tidak mengerti nada dan irama.


"Lelahnya," ucap Mentari sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, keringat muncul membasahi dahi dan anak rambutnya. Mata Mentari cekung karena kurang tidur.


"Namanya juga mengasuh anak, Tari,," ucap Ujang sambil tersenyum lalu melihat Aqeela yang menghisap jarinya sendiri,, sepertinya Aqeela sangat haus.


"Bahkan Tari belum sempat menyisir rambut," ucap Mentari sambil tersenyum lelah,, semenjak mempunyai bayi kembar kadang dia tidak bisa mengurus dirinya sendiri,, saat Aqeel tidur, Aqeela bangun, saat Aqeela tidur,, Aqeel bangun,, saat terlalu lelah rasanya Mentari ingin menangis saja.


"Kamu tetap sangat cantik meskipun tidak menyisir rambut mu, jangan pikirkan apa yang tidak perlu kamu pikirkan, yang penting kamu sehat dan anak-anak kita juga sehat, kita mesti bersyukur,," ucap Ujang.


"Iya ternyata hamil dan melahirkan itu mampu mengubah semuanya yah Abang, salah satunya penampilan,, aku baru turun lima kilo, baru sekali melahirkan saja sudah begini," ucap Mentari dengan nada sedih dan tidak percaya diri.


"Tidak apa-apa Tari, kamu bukannya gemuk tapi berisi,, jadi jangan pikirkan lagi masalah penampilan,, nanti juga akan kembali seperti semula kok,," ucap Ujang yang memang tetap mencintai istrinya apa adanya,, dia juga suka melihat Mentari yang berisi.

__ADS_1


"Apa bedanya coba? Abang hanya menghibur aku saja,, gemuk dan berisi sama aja," ucap Mentari.


"Aku serius,, dengan tubuh berisi kamu semakin...," ucap Ujang yang tidak melanjutkan ucapannya.


"Semakin apa Abang?" tanya Mentari yang sengaja memancing.


"Malu aku menyebutnya,, pokoknya aku suka kamu apa adanya,, mau gemuk ataupun kurus,, Abang tetap suka," ucap Ujang.


Mentari langsung tertawa.


"Abang tidak sadar yah baru saja mengatakan aku gemuk," ucap Mentari.


"Bukan,, itu hanya perumpamaan saja, kamu berisi dan Abang selalu suka mau bagaimana pun kamu," ucap Ujang.


Mentari tersenyum lalu bangkit dari duduknya,, Aqeel sudah tertidur,, Mentari meletakkan Aqeel hati-hati di ayunannya.


"Ya ampun Aqeela sudah tertidur sendiri sambil menghisap jarinya, kasihan," ucap Mentari.


"Apa kita bangunkan saja?" tanya Ujang.


Mentari mengangguk.


Ujang menatap iba dan kagum pada istrinya itu, istrinya begitu kuat meskipun tidak punya pengalaman mengurus bayi,, Mentari tetap mencoba menjadi Ibu yang baik untuk anak-anaknya.


##########


Asap rokok terlihat mengepul di udara,, dua orang yang sudah bersahabat sejak lama itu singgah istirahat sebentar di warung kopi setelah mengantar beberapa barang diberbagai tempat,, Azis tampak merokok sementara Ujang tidak merokok,, karena Ujang sudah lama berhenti merokok.


"Sudah sore Jang," ucap Azis sambil menghisap dalam rokoknya, lalu mengeluarkan asapnya kembali.


"Cuaca masih juga sangat panas," ucap Azis lagi sambil mengusap keringatnya dengan handuk kecil dilehernya.


"Aku rasa kamu perlu menambah anak buah lagi Jang,, pesanan banyak," ucap Azis.


"Iya Bang, aku tidak bisa melepas istriku sendiri mengasuh,, Abang tau lah anak-anak kami agak rewel," ucap Ujang.


"Kalau tidak rewel namanya anak kucing Jang," ucap Azis lalu tertawa.


"Mengasuh anak itu memang berat Jang, apalagi kembar setidaknya sampai umur mereka dua tahun,, kalian memang harus bekerja sama, tapi aku benar-benar salut padamu Jang,, kamu cukup telaten menjadi Ayah, aku saja belum pernah mencebokkan anakku sendiri," ucap Azis lagi.

__ADS_1


"Jadi istri Abang mengerjakan semua?" tanya Ujang seakan tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.


"Iya, pernah yah Jang aku coba memandikan anakku, anak pertama kami, tapi anakku itu malah jatuh ke lantai, dan jatuhnya di lantai kamar mandi, kamu bayangkan sendiri sajalah Jang, anak yang berumur satu bulan jatuh ke lantai dari tangan bapaknya sendiri lagi, istriku benar-benar murka sampai-sampai dia menangis semalaman karena kepala anak kami benjol,, sejak saat itu aku benar-benar tidak berani lagi memegang bayi," ucap Azis.


Ujang bergidik ngeri.


"Iya mungkin istri Abang sudah telaten mengurus sendiri,, tapi istriku terlihat masih belum bisa menyesuaikan diri, istriku cepat panik jika anak kami sama-sama menangis, itu makanya aku jarang membantu Abang, mereka jarang sekali serentak tidur, jadinya aku dan istriku kurang istirahat," ucap Ujang.


"Yah begitulah kalau anak sudah lahir Jang,, jangan buatnya saja kamu mau,, hahaha," ucap Azis sambil tertawa terbahak-bahak.


Ujang langsung geleng-geleng kepala melihat Azis lain dibahas lain pula larinya pikirannya.


"Abang ada dengar tidak orang jual mobil?" tanya Ujang lagi.


"Banyak Jang di showroom," jawab Azis.


"Oh iya juga yah Bang,, lupa," ucap Ujang.


"Mau beli mobil kamu Jang?" tanya Azis.


"Iya Bang," jawab Ujang.


"Seharusnya dari dulu Jang kamu beli mobil,, nikmati kekayaan mu karena kalau mati yang hidup yang enak dapatkan hartamu," ucap Azis.


"Aku serius Bang, lagian dulu untuk apa juga aku punya mobil pribadi,,, istri aku tidak punya,, kalau sekarang aku sudah punya istri dan anak jadi cocoklah kalau aku beli untuk mereka," ucap Ujang.


"Iya sih Jang, dulu kan temanmu hanya perabot saja jadi cocoklah kalau punya mobil pick-up saja," ucap Azis lalu tertawa lagi.


Ujang lagi-lagi hanya menggelengkan kepalanya.


"Nanti kita pergi beli bersama cari waktu yang tepat saja dulu, atau bisa juga langsung dibawa saja ke rumah mu, nanti aku yang urus lah,, ayo kita pulang dulu," ucap Azis sambil bangkit dari duduknya.


Ujang sampai ke rumah nya setelah dua puluh lima menit kemudian,, suara tangisan bayi kembarnya terdengar sampai di pagar pekarangan,, suara bayi-bayi itu sangat keras.


Ujang langsung mematikan mesin mobilnya,, Ujang setengah berlari masuk ke dalam rumah nya.


Pemandangan di depannya membuat Ujang kaget,, Aqeel dan Aqeela tergeletak di lantai, wajah mereka memerah, kaki mereka menendang-nendang,, Aqeel bahkan belum memakai celana sama sekali.


Yang membuat Ujang lebih kaget lagi,, Mentari menutup telinganya sambil meringkuk di sudut rumah, membiarkan anak-anak menangis dan tampak kelelahan itu tanpa berniat mendiamkan mereka.

__ADS_1


"Astagfirullah,, ada apa ini,, Tari?" tanya Ujang sambil menggendong kedua bayinya,, lalu membawa ke dekat Mentari.


__ADS_2