Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Jika Marni sudah gila,, aku masih waras,,


__ADS_3

Memang benar apa kata orang wanita yang setengah gila akan sangat berbahaya,, dia akan melakukan apa saja untuk memenuhi apa yang dikehendakinya, tidak peduli sama sekali apakah jalannya itu halal atau haram. Marni terlihat begitu marah luar biasa sangat mengetahui bahwa guna-gunanya itu salah sasaran, dia sudah sangat berkorban banyak uang bahkan uang itu hasil dari dia pinjam sana-sini. Dia benar-benar tidak menyangka akan gagal,, dia sudah membayangkan hal-hal yang indah bersama Ujang. Menikah,, hidup enak dan tentu saja Ujang akan berada di bawah kendalinya seumur hidup.


Bukannya malu atau insaf begitu mendengar ucapan Mentari barusan, Marni malam terlihat meradang,, dia sangat geram luar biasa. Tanpa rasa malu dia malah merengsek masuk ke dalam rumah, jika jalan halus tidak mempan maka jalan kasar harus dia tempuh.


"Hei, mau ke mana kamu?" Tanya Mentari sambil menghalangi Marni, Marni menatap benci pada Mentari,, Marni semakin melangkah ke dekat tangga rumah tanpa memperdulikan Mentari.


"Minggir! mana Ujang?" ucap Marni.


"Dia tidak ada di rumah," jawab Mentari yang masih mencoba berbohong,, dia tidak sudi sama sekali jika suaminya malah digoda secara terang-terangan oleh wanita gila itu.


"Kamu bohong,, Ujang pasti masih ada di rumah. Bagaimana bisa kelapa itu diminum oleh si Azis si bodoh itu,, kelapa itu untuk Ujang,, kelapa itu pokoknya untuk Ujang,, kenapa bisa Azis yang malah meminumnya?" teriak Marni seperti kesetanan.


"Kelapa?" ucap Mentari yang langsung sadar, beberapa hari yang lalu Mentari menemukan batok kelapa yang sengaja dibuang ke semak-semak, dia pikir itu hanya kelapa biasa saja. Seingatnya, dia tidak pernah membeli kelapa dan Ujang tidak pernah meminum air kelapa, pasti Marni datang ketika dirinya dan Ujang tidak berada di rumah.


Ujang yang sejak tadi menjadi pendengar dan penonton benar-benar sudah tidak tahan lagi, Ujang langsung keluar dari persembunyiannya,, melihat gelagat Marni, Ujang benar-benar sangat khawatir,, Marni akan membahayakan istrinya. Untung saja si kembar sudah tidur sekarang.


Wajah Marni seketika berubah cerah begitu melihat Ujang,, dia bahkan langsung maju seperti hendak memeluk Ujang,, tapi dengan cepat Ujang menghindari wanita itu,, sehingga Marni hanya memeluk angin saja.


"Ada apa ini? apa kamu tidak tahu malu? dengan kejahatan yang kamu lakukan apa kamu tidak menyesal sama sekali? kamu terang-terangan menggunakan guna-guna lalu kamu ke sini menampakan wajahmu? apa kamu sudah gila?" ucap Ujang dengan dingin.


Marni tidak perduli sama sekali,, dia menangis sambil mendekati Ujang lagi,, namun Ujang menjauhi Marni,, Marni terlihat seperti pengemis yang minta dikasihani.


"Kenapa malah ke Azis bodoh itu perginya, aku sudah membayar dia dan memesan pada dia agar kelapa itu untuk kamu,, aku juga sudah membayar orang pintar lima belas juta, Azis mengacaukan semua rencanaku," ucap Marni sambil menangis sejadi-jadinya.


Mentari tampak memijat keningnya,, Marni saat ini terlihat seperti orang yang sudah gila.

__ADS_1


"Marni malu lah dengan umurmu,, kamu bukan remaja lagi yang butuh cinta, apa yang kamu lakukan itu sudah sangat keterlaluan. Bagaimana bisa kamu berpikir mengguna-guna suami orang. Sekarang Azis sudah gila dan mabuk kepayang karena guna-gunamu itu, apa kamu puas sekarang?" ucap Ujang yang berusaha memberi nasihat kepada Marni agar sadar dengan kelakuannya itu yang sudah berada di jalan yang salah.


"Dengar ini Ujang,, kamu memang suami Mentari,, tapi kamu masih pacarku,, kita belum pernah putus,, aku tidak pernah memutuskan kamu," ucap Marni tidak tahu malu.


"Dasar gila!" ucap Mentari kesal. Mentari yakin sekali Marni pasti sudah tidak waras, Mentari ingin sekali menjambak wanita di depannya ini,, kalau tidak mengingat perutnya yang saat ini sedang besar.


"Diam kau," bentak Marni. Mentari tampak meradang,, sejak tadi Mentari sudah berusaha menahan amarahnya, sedikit lagi jika perdebatan ini tak kunjung selesai, dia akan memukul Marni karena sejak tadi wanita itu membuatnya benar-benar muak.


"Jangan bentak istriku," ucap Ujang tegas.


"Ujang aku masih mau meskipun harus jadi istri keduamu," ucap Marni tidak tahu malu.


"Omonganmu tambah ngawur,, ayo Abang kita masuk ke dalam rumah," ucap Mentari yang kesal luar biasa,, Ujang menarik nafasnya dengan berat begitu mendengar kata-kata Marni,,, Ujang lalu memegang istrinya sambil masuk ke dalam rumah meninggalkan Marni yang saat ini sedang mengeluarkan sumpah serapah. Beberapa menit setelah mereka masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu,, motor Marni terdengar meninggalkan pekarangan rumah Ujang.


Mentari seperti tak bertulang, tubuhnya lemas tidak bertenaga, Mentari mencoba menahan cacian dan makian karena dia saat ini sedang hamil, kata ibunya wanita hamil harus banyak sabar, harus menahan setiap perkataan buruk yang hendak keluar dari mulutnya. Wanita hamil harus mendengar yang baik,, melihat yang baik serta berkata yang baik-baik juga. Tapi menahan amarah dan cemburu begitu menyesakkan hati,, Mentari menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sambil merenung sendiri mengingat kata-kata Marni yang sangat tidak tahu malu itu.


"Astagfirullah Tari,, kamu kenapa?" tanya Ujang sambil merengkuh bahu bergetar istrinya itu, Mentari masih menangis lirih, tangis yang mengisyaratkan cemburu,, kelelahan dan putus asa.


"Istighfar Tari,, hatimu saat ini tengah diganggu setan,," ucap Ujang.


"Apa kita boleh membunuh orang?" tanya Mentari,, dan pertanyaan Mentari itu membuat Ujang kaget bukan kepalang, mata basah itu memperlihatkan tatapan murka dan kalut yang luar biasa.


"Astagfirullah,, apa yang kamu katakan, Tari, setan sudah membisikkan hatimu yang tidak baik, istighfar. Astagfirullah halazim,," ucap Ujang berulang kali. Ujang mendekap Mentari,, mencium ubun-ubun istrinya itu berulang kali sambil mengusap punggung istrinya.


"Seharusnya setelah kita menikah,, kita fokus pada keluarga kita dan membesarkan anak-anak kita, tanpa gangguan wanita gila itu dan apa kata dia tadi? dia tidak pernah putus dengan Abang? apa dia tidak waras,, bagaimana mungkin dia yang sudah menikah dua kali, punya tiga anak, dan Abang juga sudah bertunangan beberapa kali tapi menikah dengan Tari, dia masih mengatakan bahwa Abang adalah pacarnya? ini sangat tidak masuk akal," ucap Mentari bicara dengan menggebu-gebu karena kesal.

__ADS_1


"Dia memang sudah gila, dia tidak waras,, dia kehilangan akal sehatnya,, jika kita yang waras memikirkan orang gila seperti itu maka kita juga akan ikutan gila," ucap Ujang.


"Abang," ucap Mentari.


"Jika dia waras,, dia pasti bisa membedakan mana yang benar dan mana yang tidak, dia tidak akan mengatakan kejahatannya secara terbuka, harusnya dia malu, kalaupun dia memang tak merasa bersalah sedikitpun,, seharusnya dia diam saja kan? apa kamu tidak merasa ada yang ganjil dengan dia?" ucap Ujang.


Mentari tampak berpikir,, dia memang merasa kelakuan Marni terlihat seperti orang yang depresi berat.


"Jika dia normal,, dia tidak akan mencari aku ke sini,, dia akan malu pada umur dan harga dirinya, dia tidak akan mungkin mengemis ingin menjadi istri kedua,, iya kan?" ucap Ujang.


Mentari menganggukkan kepalanya.


"Jadi orang gila butuh rumah sakit jiwa,, butuh dokter, tidak perlu digubris dan tidak perlu dipikirkan, masalah ini pasti akan selesai kita hanya perlu berusaha dan juga bersabar," ucap Ujang.


"Tari sangat terganggu dengan ucapan si Marni itu yang ingin jadi istri kedua," ucap Mentari sambil cemberut.


"Sekali lagi dia itu wanita yang tidak waras,, aku hanya sangat mencintai kamu tidak ada yang lain dan tidak pernah berniat untuk mencari istri kedua, dari segi apapun mau dilihat kamu tetap jauh lebih cantik,,, jauh lebih baik dan jauh lebih sempurna dari wanita manapun. Jika Marni sudah gila,, aku masih waras, tidak akan mungkin aku mencari istri kedua apalagi untuk memperistri Marni,, itu tidak akan pernah mungkin, jadi tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, kita fokus saja pada keluarga dan anak-anak kita,, kamu mengerti?" ucap Ujang.


Ujang mengusap air mata Mentari dengan lembut. Ujang tau istrinya yang lagi hamil ini begitu sangat sensitif.


Mentari pun menganggukkan kepalanya.


"Baguslah jangan terlalu banyak dipikirkan,, hidup itu tidak selalu berjalan mulus, setiap ujian adalah bukti iman, kita hanya perlu menghadapi secara bersama-sama saja," ucap Ujang lagi.


Mentari memejamkan matanya,, baru saja dia ingin beranjak,, tapi gedoran pintu mengangetkan dirinya.

__ADS_1


"Jang,,, Jangggg,, tolong! Bang Azis kabur dari rumah,, rantainya lepas Jang," ucap istri Azis panik.


Ujang tau, malam ini dia harus mencari laki-laki yang sudah seperti kakak kandungnya sendiri itu.


__ADS_2