
Tidak hanya cantik,, Indri begitu lembut dan sangat perhatian,, gadis itu bahkan bergerak gesit merapikan barang-barangnya,, sesekali dia asik menggoda si kembar yang asik berjalan ke sana kemari.
"Anaknya cantik dan lucu yah Kak," ucap Indri sambil mencubit sayang pipi Aqeela yang tembem itu, anak itu malah sibuk mengacak buku Indri yang baru disusunnya di atas rak plastik yang di bawanya. Sedangkan Aqeel sudah berjalan ke keranjang mainannya.
Mentari hanya tersenyum simpul,, kebahagiaan seorang ibu itu adalah saat anaknya dipuji sehat dan cantik.
"Imut banget yah,, tapi dia mirip Ayahnya, kalau Aqeel mirip dengan Kak Mentari," ucap Ratu.
"Kata orang,, kalau anak laki-laki mirip Ibunya dan anak perempuan mirip Ayahnya berarti murah rezeki,, iya kan Kak?" tanya Indri lagi. Dia kembali tersenyum. Mentari sengaja masuk ke dalam kamar yang mereka tempati,, agar mereka bisa lebih akrab.
"Aamiin, oh ya jangan sungkan-sungkan yah,, anggap saja ini rumah sendiri,, jika perlu apa-apa tinggal sampaikan saja sama Kakak atau sama Abang Ujang," ucap Mentari lagi.
"Baik kak," ucap mereka bersamaan.
"Ayo Aqeela," ucap Mentari sambil menggendong Aqeela.
Indri dan Ratu berada di kamar yang sama, sedangkan tiga teman perempuannya yang lain berada di kamar sebelah, Ratu membuka tasnya lalu mengambil pembersih wajah dari dalam tasnya, udara yang lebih sejuk daripada di kota membuatnya merasa sangat nyaman.
"Rumahnya unik yah kayak rumah zaman dulu, aku tidak melihat begini di kota," ucap Ratu sambil mengamati seisi kamar, lemari dengan model jadul masih berdiri kokoh di sudut kamar,, bahkan cermin antik masih tergantung di dinding kamar, memakai ukiran berwarna emas di tepinya.
"Iya ini model rumah adat, sangat jarang rumah seperti ini di zaman sekarang, orang berlomba-lomba membuat rumah modern," ucap Indri sambil mengikat rambutnya,, lehernya terasa sangat pegal.
"Kakak tadi itu sangat cantik,, meskipun lagi hamil kecantikannya tidak berubah malah semakin cantik,, aku sangat suka melihatnya di kampus karena terlalu cantik jadi dia begitu mencolok,, tapi rasanya pacarnya itu bukan Abang yang ini, pacarnya yang dulu itu mereka selalu berdua kalau kemana-mana,, aku sangat hafal wajah Kakak ini tapi nggak tahu namanya," ucap Ratu sambil mengingat-ingat,, wajah Mentari memang sangat tidak asing di matanya,, karena dari dulu dia suka melihat Mentari yang sangat cantik ketika berjalan dengan Samuel. Mereka adalah pasangan yang sangat cocok, yang satunya sangat cantik dan yang satunya sangat tampan, dan juga mereka sangat romantis apalagi terlihat Samuel sangat posesif pada Mentari,, selalu terlihat Samuel tidak akan suka jika ada pria yang mendekati Mentari,, dan mereka juga sering berpapasan di perpustakaan,, tapi mungkin Mentari lupa.
"Iya aku juga tidak asing sama Kak Mentari, sayang yah dia masih muda,, sangat cantik tapi sudah memiliki anak dan sekarang hamil lagi," ucap Indri.
"Namanya juga sudah menikah,, yah pasti memiliki anak, kalau sudah selesai kuliah yah nikah dong Indri, daripada pengangguran masih minta jajan sama orang tua lebih baik nikah saja," ucap Ratu.
"Aku nggak, aku mau kerja dulu,, nikah belakangan kalau sudah berumur tiga puluh," ucap Indri.
"Terlalu tua kalau menunggu tiga puluh tahun,, ngomong-ngomong kenapa suaminya bukan Abang tampan yang sering bersama dia dulu di kampus yah?" tanya Ratu lagi.
"Itu namanya nggak berjodoh kali,, zaman sekarang memang sudah sering terjadi seperti itu,, pacarannya sama siapa,, eh tapi nikahnya sama siapa," ucap Indri.
"Padahal yah yang dulu itu lebih ganteng daripada suaminya yang ini, kayak bintang Korea pokoknya mereka cocok banget,, Kak Mentari kan cantik banget bahkan sekarang makin cantik pas lagi hamil,, terus cowoknya itu kaya lagi, sering lihat dia bawa mobil ke kampus," ucap Ratu.
__ADS_1
Indri langsung berhenti mengoleskan pelembab pada wajahnya, lalu segera menoleh pada Ratu.
"Wah aku memiliki penilaian berbeda dari kamu," ucap Indri.
"Maksudmu?" tanya Ratu.
"Lebih ganteng yang ini tahu,, siapa namanya? Bang Ujang yah? lebih jantan yang ini," ucap Indri sambil terkikik.
"Hush!!! jantan-jantan suami orang itu," ucap Ratu juga sambil terkikik.
"Kita kan memberikan penilaian bukan lagi bahas status," ucap Indri.
"Kalau Kak Tari mendengarnya,, dia pasti cemburu suaminya dipuji-puji,, apalagi yang memuji adalah Indri," ucap Ratu.
Indri hanya tersenyum lebar saja, memang benar Indri menyukai laki-laki yang perawakannya tegas,,, berkulit sawo, dan begitu jantan, dia hanya menilai menurut seleranya tidak berniat memiliki.
##########
Mereka bernama Reza, Doni,, Andre,, mereka begitu sangat antusias membantu Ujang mengerjakan perabot,, bahkan Doni begitu sangat sibuk dengan kuasnya.
"Kalau tahu begini kenapa tidak dari dulu kau menerima mahasiswa KKN Jang?" tanya Azis,, dia saat ini sedang bersantai karena Doni bersedia menggantikan dirinya.
"Ah! sambil menyelam minum air lah Jang," ucap Aziz sambil terkekeh.
"Hei para anak muda,, pesanku pada kalian,, jangan sampai terjadi cinta-cintaan di rumah Ujang,, aku melihat wanitanya cantik-cantik, bentengi dulu hati kalian,, kuatkan iman! karena wanita itu seperti setan jangan sampai tergoda,, jangan sampai jatuh cinta,," ucap Azis.
"Andre tuh Bang,, sudah lama sekali naksir sama Indri, pas tahu mereka satu kelompok bahagianya minta ampun, dengar tuh nasehat Bang Azis,," ucap Doni.
"Jangan bocorin rahasia dong," ucap Andre sambil menjitak kepala Doni.
"Pokoknya gitu kalian dikasih tempat tinggal gratis, jadi lakukan kegiatan sebenar-benarnya,, jangan seperti senior kalian lima tahun yang lalu,, hasil KKN perut membuncit," ucap Azis.
"Itu serius Bang?" tanya Ujang, dia sempat mendengar kisah dari desa sebelah itu,, tapi dia tidak begitu menggubris,, kali ini dia mulai tertarik,, Ujang menghentikan gerakan tangannya yang menandai kayu.
"Seriuslah sampai-sampai orang tuanya mengamuk, yang salah itu anaknya kenapa mau diajak sama si Rendra kesana kemari, kucing garong lapar dikasih ikan segar,, yah pastilah mau," ucap Azis.
__ADS_1
"Rendra yang mana? Rendra yang di desa sebelah itu?" tanya Ujang lagi.
"Iya Rendra anaknya pak haji, kasihan babak belur lah gadis itu, tau sendiri kan si Rendra itu bagaimana orangnya?" ucap Azis lagi.
Rendra adalah nama seorang duda yang sudah berulang kali menikah umurnya sebaya dengan Ujang, dia sudah memiliki banyak istri tapi tidak ada satupun yang bertahan, anaknya ada di mana-mana, Rendra, laki-laki yang tidak memiliki pekerjaan dan sangat asik bermain perempuan,, untung saja orang tuanya kaya, jadi tidak perlu repot mencari makan untuk anak-anaknya.
"Apalagi kalau yang melakukan sesama mahasiswa,, kena azablah kampus kalian dapat malu," ucap Azis.
"Iya Bang, tidak mungkin kami seperti itu,," ucap Andre.
"Syukurlah," ucap Azis.
"Kalian pernah ke sungai?" tanya Azis.
"Belum Bang," jawab Doni.
"Ajaklah mereka Jang pergi jalan-jalan, sebagai upah telah membantu kerja mu," ucap Azis.
###########
Indri, Ratu dan teman-temannya yang lain naik ke mobil Ujang, seperti rencana beberapa saat yang lalu mereka akan pergi ke sungai.
Mentari pun sebenarnya mau ikut,, tapi begitu melihat mobil yang sudah penuh,, Mentari mengalah meskipun Ujang sudah mengajaknya untuk ikut juga,, tapi Mentari tetap tidak mau.
Begitu sampai di sana mereka langsung mengeluarkan ponsel mereka masing-masing untuk mengambil gambar,, sungai itu terlihat sangat tenang dan jernih.
"Kira-kira dalamnya berapa yah?" tanya Indri sambil menuruni anak tangga yang menuju ke tepi sungai, namanya saja tapi sungai tapi tempat itu dalam juga.
"Jangan ke sana Indri," ucap Ratu mengingatkan temannya itu.
"Nggak seru tau ke sungai tapi tidak menyentuh airnya," ucap Indri.
"Jangan Indri nanti kamu jatuh sepertinya tangganya jarang dilewati karena terlihat berlumut seperti itu," ucap Ratu lagi.
Byur!!! belum selesai Ratu menyusul Indri, Indri sudah terpeleset masuk ke dalam sungai. Ratu benar-benar khawatir luar biasa, Indri sama sekali tidak bisa berenang dia coba menggapai-gapai tapi gagal.
__ADS_1
"Toloonggg!!! ada yang tenggelam,," teriak Ratu panik.
Ujang dan Azis yang masih asik berbicara kaget,, tanpa pikir panjang Ujang langsung meloncat dari atas pagar beton lalu masuk ke dalam sungai untuk menolong orang yang tenggelam.