
"Sudah berapa bulan, Tari?" tanya seorang wanita gemuk yang berada di samping Mentari. Saat ini Mentari asik mengipas-ngipas wajahnya,, udara begitu sangat panas,, padahal kipas angin di berbagai sudut ruangan telah mengerjakan tugasnya semaksimal mungkin.
"Jalan delapan bulan Kak," jawab Mentari.
"Perasaan baru kemarin kamu menikah,, Tari. Waktu terasa hanya sebentar saja, tidak terasa kamu akan memiliki tiga anak sebentar lagi," ucap salah satu ibu-ibu juga yang berada di dekatnya.
Mentari hanya tersenyum,, tidak ingin menanggapi lebih jauh,, yang jelas dia begitu sangat bosan saat ini karena terlalu panas. Saat ini mereka tengah berada di kantor lurah,, ada acara pertemuan Ibu-Ibu PKK dengan beberapa orang pejabat pemerintahan, katanya karena ada dana yang akan disalurkan oleh pemerintah.
Memang semenjak punya anak,, Mentari jarang bergaul dengan masyarakat, di samping karena rumah suaminya yang terpencil,, dia juga tidak sempat melakukan hal lain selain mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak-anaknya. Sebenarnya hari ini pun dia cuma iseng saja mengikut ibunya yang memang aktif sebagai Ibu PKK di desanya. Ujang menyuruh Mentari ikut saja agar Mentari tidak bosan,, Ujang dan Ayahnya lah yang menjaga si kembar di rumah.
"Apa Pak pejabatnya masih lama datangnya?" tanya seorang Ibu-ibu kepada Mentari, Ibu-ibu itu sebaya dengan Ibu Mentari.
"Mungkin masih dalam perjalanan," jawab Mentari, dia tidak begitu peduli apakah pejabat itu akan datang cepat atau terlambat. Kalau Mentari pikir-pikir rasanya lebih enak di rumah daripada mengikuti kegiatan ini, Mentari sangat bosan, sangat tidak betah juga, belum lagi sejak tadi Mentari merasakan perutnya mules beberapa kali.
"Nah itu dia mobilnya," ucap seorang ibu-ibu yang ada di antara mereka, Mentari memandang keluar dari pintu masuk yang terbuka, tiga mobil mewah itu masuk ke pekarangan kantor lurah. Beberapa orang berbaju batik keluar dari dalam mobil dan disambut ramah oleh kepala lurah yang sudah menunggu, Pak lurah begitu bersemangat beberapa kali suara tawanya terdengar sampai di aula kantor. Mentari merasa tidak asing dengan salah satu orang yang ikut keluar dari dalam mobil itu,, pria muda yang berbaju batik, rambutnya yang dipangkas rapi dan menggunakan sepatu yang mengkilap, ada name tag yang terpasang,, Samuel.
Pria itu berjalan sambil melempar senyum ramah kepada semua hadirin yang telah datang, dia berjalan persis di belakang Pak Bupati, Mentari terlambat untuk menghindar saat tak sengaja mata mereka berpapasan, saat itulah senyum Samuel hilang dan berganti dengan tatapan rindu dan terkejut pada wanita itu, sedangkan Mentari lebih memilih pura-pura tidak melihat Samuel.
Rasanya Mentari ingin pulang saja sudah satu jam acara itu masih diisi dengan kata-kata sambutan, andaikan saja dia membawa motor sendiri,, tentu dia akan pulang lebih dulu, namun dia dan Ibunya diantar oleh Ujang pakai mobil.
Dan akhirnya waktu yang menyiksa itu berakhir juga, setelah acara serah terima dan pembubuhan tanda tangan oleh ketua PKK,, saat itulah acara penutupan dan acara dibubarkan.
"Ibu,, apa Ibu akan makan-makan dulu?" tanya Mentari pada ibunya, acara ditutup dengan makan-makan bersama yang sama sekali membuat Mentari tidak berselera.
"Ibu merasa tidak enak kalau tidak ikut makan," ucap Ibu Mentari.
"Ya sudah Ibu makanlah dulu biar Tari tunggu,, Tari mau ke kamar kecil dulu," ucapan Mentari pamit pada ibunya, semenjak dirinya hamil besar dia membutuhkan kamar kecil sekali beberapa menit.
__ADS_1
Mentari keluar mencoba mencari di mana letak toilet di kantor lurah ini, awalnya Mentari tersesat ke gudang,, setelah itu dia bernafas lega saat membaca petunjuk di dinding itu ke arah kanan.
"Tari?"
Mentari tersentak kaget, dia menoleh melihat Samuel sedang berdiri di sana,, sepertinya Samuel dari toilet pria yang berada berseberangan dengan toilet wanita. Mentari terpaksa melepaskan senyuman kecilnya,, sedangkan Samuel tersenyum senang melihat Mentari.
"Samuel,, hai apa kabar kamu?" ucap Mentari basa-basi.
Samuel semakin tersenyum, Samuel malah melangkah dengan semangat mendekat kepada Mentari,, mata Samuel singgah pada perut besar Mentari,, ada tatapan mata sedih,, menyesal, dan juga kecewa.
"Bagaimana kabar kamu? kamu hamil?" ucap Samuel dengan senyum yang sangat dipaksakan. Biar bagaimanapun dia masih sangat mencintai wanita di depannya sampai saat ini,, dia jomblo sampai saat ini karena dia masih sangat mencintai Mentari.
"Iya aku baik," ucap Mentari sambil mengelus perutnya yang besar.
"Tidak aku sangka kita bertemu di sini dalam keadaan begini,," ucap Samuel sambil menatap Mentari.
"Dia di rumah,, dia tidak ikut," jawab Mentari.
"Aku benar-benar tidak menyangka dia yang menjadi jodohmu Tari,, padahal dari dulu aku sangat menyakini bahwa kita berdua adalah jodoh," ucap Samuel sedih.
Mentari terdiam senyumannya langsung surut,, mengapa Samuel harus membahas masa lalu, dia pernah mendengar Ujang bercerita mengenai Samuel yang bekerja di kantor pemerintahan, tapi Mentari tidak menyangka bahwa mereka akan bertemu di sini.
"Kamu sudah sukses sekarang," ucap Mentari yang sengaja mengalihkan pembicaraan,, tidak ada gunanya mereka membahas masa lalu karena mereka sudah punya kehidupan masing-masing sekarang.
"Ya seperti yang kamu lihat Tari, aku menjadi ajudan Bupati sekarang, setelah sempat magang di kantor walikota beberapa bulan yang lalu, aku diterima bekerja sebagai ASN," ucap Samuel.
"Bagus selamat yah," ucap Mentari yang sebenarnya ingin mengakhiri percakapan ini,, tapi dia menghargai perasaan pria itu,, dia juga tidak mau membuat Samuel merasa tersinggung.
__ADS_1
"Kalau kamu apa kegiatan kamu sekarang,, Tari?" tanya Samuel.
"Mengasuh anak," jawab Mentari.
"Padahal kamu adalah mahasiswi yang pintar dan sangat cantik,, sayang ijazah mu, Tari,, kamu sangat cocok bekerja dan berkarir,, daripada hanya sekedar mengasuh anak, apa kamu ingat Mia?" tanya Samuel.
"Ingat,, kenapa dia?" tanya Mentari.
"Dia bekerja sebagai karyawan di cabang perusahaan asing, Lia masih ingat?" tanya Samuel lagi.
"Masih," ucap Mentari.
"Sekarang dia bekerja sebagai asisten dosen di kampus kita dulu, masih banyak teman-teman seangkatan kita yang sudah sukses, semua itu karena mereka memanfaatkan ijazah mereka," ucap Samuel lagi.
Mentari diam,, semua berita yang dikatakan Samuel mengusik dirinya memang tak jarang Mentari melihat postingan teman-temannya dulu yang hanya mahasiswa biasa, memiliki kemampuan yang biasa tapi sekarang sudah bekerja di berbagai tempat, sedangkan dirinya yang terkenal pintar dengan IP yang menakjubkan, setiap teman yang bertanya bahwa apa pekerjaannya,, dia hanya menjawab bahwa dia mengasuh anak di rumah.
"Ya tapi aku maklum kamu memiliki anak yang masih kecil dan sekarang hamil lagi, andaikan kamu lebih bersabar sedikit Tari, tidak buru-buru mengambil keputusan di masa lalu,, serta bisa mengontrol emosimu pada saat itu,, keadaannya sudah tentu berbeda,, kau akan hidup enak,, aku tentu akan memberi kebebasan padamu untuk bekerja,, aku tidak akan menghalang-halangi karirmu,,," ucap Samuel yang mencoba menghasut Mentari. Semakin lama melihat wanita dihadapannya ini,, dia semakin jatuh cinta dan benar-benar menyesal telah melepaskan Mentari.
Mentari merasa percakapan ini sudah terlalu jauh masuk keranah pribadinya, belum lagi beberapa orang yang melintas melihat ke arah mereka berdua, sebelum dia menjadi gunjingan,, Mentari menatap tegas pada Samuel, dia harus mengakhiri percakapan ini sebelum melebar kesana kemari.
"Apa yang sudah terjadi di masa lalu sama sekali tidak aku sesali, pada dasarnya kita memang tidak cocok dan tidak berjodoh, kamu sukses dan teman-teman yang lain sukses itulah takdir kalian, aku pengangguran yang hanya menjadi ibu rumah tangga dan mengasuh anak itulah takdirku,, itulah kebahagiaanku, semua takdir sudah berjalan pada posisinya. Saranku segeralah menikah karena tidak ada gunanya kamu kerja keras mencari uang,, kalau tidak ada yang akan kau nafkahi,, permisi Ibuku menungguku!!!" ucap Mentari lalu ingin pergi, namun tangannya ditahan oleh Samuel.
"Bagaimana aku mau menikah,, aku masih sangat mencintaimu Tari,, aku masih sangat mau padamu,, aku jomblo sampai saat ini,, dulu kan aku sudah bilang akan bekerja dan membahagiakan kamu,, aku mau kamu menjadi istriku,, aku tidak apa-apa jika setelah kamu melahirkan lalu kamu kembali padaku,, aku akan terima anak-anak mu,, aku akan memberikan kamu kebebasan untuk menjadi wanita karir,, anak-anak akan aku gaji baby sitter,, dan kita juga bisa memiliki anak nanti,, pasti anak-anak kita juga tampan dan cantik,, karena kamu wanita yang sangat cantik,, Tari, kita berdua sangat cocok," ucap Samuel yang membuat Mentari melongo dengan pikiran Samuel saat ini.
"Dasar gila," ucap Mentari lalu melepaskan tangan Samuel dan segera berjalan lurus untuk menemui Ibunya lagi.
Mentari tau betul jika Samuel dilayani maka Samuel akan berucap semakin gila lagi,, lebih baik dia pergi. Bisa-bisanya pria itu mengatakan masih sangat mencintai dirinya.
__ADS_1
Namun di sisi lain ada rasa iri di hati Mentari, dia saat ini sudah terikat, Ujang tidak memberikan izin padanya untuk bekerja, dengan alasan mereka sudah memiliki cukup uang dan tidak akan pernah habis. Di hati kecilnya Mentari juga ingin seperti teman-temannya yang lain memakai baju dinas, bersolek bukan hanya sekedar memegang kompor, kain kotor dan rumah yang berantakan,