Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Berusaha keras untuk mengabaikannya...


__ADS_3

Mentari mendapati Ujang sangat pendiam hari ini tidak seperti biasanya,, bahkan dari pagi sampai malam ini, pria itu tampak berbicara hanya seperlunya saja. Setelah anak-anak mereka tidur,, Mentari menggunakan kesempatan itu untuk berbicara dengan suaminya yang tampak sangat pendiam hari ini.


"Abang kenapa hari ini?" tanya Mentari yang merasa bingung sendiri karena Ujang tiba-tiba jadi sangat pendiam,, biasanya suaminya itu sangat ribut sekali jika bersama dirinya bahkan selalu semangat menggoda dirinya juga.


Ujang yang sedang mengganti bajunya hanya melihat sekilas pada Mentari.


"Tidak apa-apa," jawab Ujang.


"Tapi hari ini Abang lebih banyak diam tidak seperti biasanya?" ucap Mentari.


"Iya karena lagi lelah saja,, lelah bicara!!!" ucap Ujang.


"Abang lagi marah sama Tari?" tanya Mentari tak ingin menyerah untuk tahu penyebab suaminya itu yang lebih banyak diam sejak tadi, diamnya suaminya membuat hatinya tak enak.


"Tidak," jawab Ujang.


"Terus kenapa Abang lebih banyak diam hari ini?" tanya Mentari lagi.


"Aku hanya tidak suka dengan wanita yang datang tadi pagi," jawab Ujang.


"Mbak Angelica?" tanya Mentari.


"Entah siapa namanya,, aku tidak tahu dan aku juga tidak mau tahu," ucap Ujang.


"Oh! dia tadi datang dengan maksud baik kok Abang," jawab Mentari.


"Kamu tahu dari mana dia punya maksud baik,, Tari?" tanya Ujang sambil duduk di sebelah Mentari lalu menatap lurus pada istrinya itu.


Mentari langsung gelagapan, jika Ujang sudah bicara dengan nada begini, maka Mentari harus menyiapkan mental untuk menjawab pertanyaan suaminya itu.

__ADS_1


"Tidak ada yang tahu isi hati seseorang Tari, apalagi orang asing seperti dia dan juga wanita sombong seperti dia, orang seperti dia itu tidak perlu dekat dengan kamu, dalam hidupnya yang hanya ada bisnis saja, untung dan juga rugi. Orang seperti dia tidak akan mendekati kamu jika tidak menguntungkan baginya," ucap Ujang yang tentu sudah lebih banyak pengalaman terhadap orang-orang yang sifatnya seperti Angelica itu.


"Tapi dia tidak seperti itu Abang,, Angelica orang yang baik, tadi dia sama sekali tidak menampakkan diri sebagai orang yang sombong dan juga kaya," ucap Mentari.


"Berarti kita beda penilaian,, Tari," ucap Ujang.


"Tidak kenal maka tidak sayang Abang. Dia hanya ingin berteman dengan Mentari, Tari rasa tidak ada salahnya jika Tari memiliki teman, karena selama ini Tari hanya di rumah dan mengurus anak-anak," ucap Mentari sambil menunduk serentak dengan tatapan Ujang yang merasa tersinggung.


"Resiko menjadi seorang istri dan seorang Ibu memang di rumah dan mengasuh anak-anak Tari,, apa kamu menyesal?" tanya Ujang.


Mentari langsung terperanjat dengan ucapan dingin Ujang, pria itu jarang sekali seperti ini padanya begitu dingin.


"Tari bukannya menyesal Abang,, Tari menerima semua resiko menjadi istri dan ibu, tapi Tari juga butuh teman," ucap Mentari.


"Tapi bukan Angelica orangnya," ucap Ujang.


"Percayalah ucapanku ini Tari,, berteman dengan Angelica hanya akan menimbulkan dampak negatif pada kamu, suatu saat kamu akan sangat menyesal, kalau tidak terbukti,, kamu boleh potong telingaku!!!" ucap Ujang yang membuat Mentari langsung tersentak kaget, ucapan tegas suaminya itu jelas saja menandakan bahwa dia sudah mulai murka,, entah kenapa sejak kejadian tanah mereka ditawar oleh Angelica, Ujang jadi lebih sensitif. Padahal beberapa jam dirinya berbicara dengan Angelica,, wanita itu sama sekali tidak menyinggung masalah jual beli tanah ataupun hutan mereka.


Mereka saling diam setelah itu Ujang memutuskan untuk keluar kamar meninggalkan Mentari yang sedang cemberut kesal pada Ujang.


"Mau ke mana dia malam-malam begini?" ucap Mentari begitu melihat Ujang keluar kamar, Mentari sangat takut ditinggal Ujang dan tinggal sendiri di rumah. Namun beberapa saat menunggu dia tidak mendengar suara deru motor sedikit pun.


Mentari pergi membuka jendela kamar sedikit, tampaklah Ujang yang tengah duduk di bangku kayu yang berada dekat dengan gudang perabot, Mentari melihat ada asap rokok, Mentari langsung tersenyum masam dia begitu kesal karena Ujang merokok lagi.


"Sejak kapan dia merokok lagi? apa pikirannya lagi kacau?" ucap Mentari kesal bukan kepalang,, Mentari lalu kembali menutup jendela kamar dengan kesal.


Beberapa menit kemudian Ujang kembali masuk ke dalam kamar,, Mentari mencium bau pekat dari asap rokok di baju Ujang.


"Abang merokok? sejak kapan Abang merokok lagi?" tanya Mentari kesal.

__ADS_1


"Sejak tadi," jawab Ujang acuh, Ujang merebahkan dirinya tanpa berniat mengganti bajunya. Sebenarnya yang terjadi adalah Ujang tidak merokok sama sekali tadi,, dia hanya menyalakan rokok saja sengaja agar asapnya mengenai bajunya setelah merasa bajunya sudah bau asap rokok,, barulah Ujang masuk kembali ke dalam kamar.


"Abang akan tidur dengan baju yang bau asap rokok?" tanya Mentari.


Ujang menatap Mentari.


"Iya kenapa memangnya?" tanya Ujang.


"Tari tidak suka Abang merokok," ucap Mentari.


"Aku tahu," jawab Ujang,, itulah sebabnya Ujang tidak merokok lagi tadi, karena dia tahu istrinya itu tidak menyukai jika dia merokok,, dan Ujang juga sudah berjanji tidak akan merokok lagi, makanya tadi Ujang hanya akal-akali saja agar bajunya bau asap rokok,, jadi Mentari mengira dirinya merokok,, jika Ujang lebih dekat lagi dengan Mentari ketika berbicara,, Mentari pasti tahu kalau Ujang sebenarnya tidak merokok tadi.


"Tari tidak suka Abang memakai baju yang bau asap rokok," ucap Mentari lagi.


"Aku juga tahu," jawab Ujang yang tidak berniat bangkit untuk mengganti bajunya.


"Kalau Abang tahu, terus kenapa Abang malah lakukan?" tanya Mentari yang kesal setengah mati pada suaminya itu.


"Lalu apa bedanya dengan kamu Tari,, kamu juga tahu aku sangat tidak suka pada wanita sombong itu lalu kenapa kamu malah mau berteman dengan dia?" tanya Ujang balik.


"Oh jadi sekarang Abang lagi balas dendam? Abang berusaha membuat Tari sakit hati gitu?" ucap Mentari.


"Aku hanya ingin menanamkan rasa yang sama padamu, agar kamu mengerti perasaan ku," jawab Ujang.


Mentari meremas tangannya,, karena terlalu kesal air matanya jatuh ke pipinya dengan sangat deras.


"Kamu menangis untuk alasan yang tidak jelas Tari, aku jelas-jelas tidak menyukai wanita sombong macam Angelica itu,, tapi kamu malah membela dia orang asing itu, kamu baru kenal dia hanya sehari saja, dan mengacuhkan peringatanku yang bertanggung jawab penuh padamu dunia akhirat Tari. Berpikirlah yang jernih Tari. Kamu baik bahkan sangat baik orang akan mudah memanfaatkanmu, tapi kamu tidak tahu sama sekali kalau dunia ini selalu dipenuhi dengan orang-orang jahat,, Tari," ucap Ujang yang sebenarnya tidak tega melihat istrinya itu menangis, tapi dia ingin membuat Mentari sadar bahwa apa yang dilakukannya saat ini itu adalah salah dan juga jika Ujang mendekati istrinya itu,, tentu saja Mentari akan tahu bahwa dia tadi tidak merokok.


Ujang memilih membalikkan badannya, tidak menghapus air mata Mentari, tidak membujuk wanita itu juga, meskipun itu sangat berat untuk tidak dilakukannya,, tetapi Ujang berusaha menahan diri, bahkan Mentari menangis sampai jam satu dini hari dan Ujang berusaha keras untuk mengabaikannya.

__ADS_1


__ADS_2