Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Dengan Mentari semuanya sangat indah...


__ADS_3

Angelica mematut pria yang memandang enggan padanya, selama ini tidak ada yang berani mengabaikan kecantikannya, semua pria seakan merasa dunia berhenti ketika melihat wajahnya.


"Jadi benar Anda adalah pemilik tanah dan pemilik hutan jati ini?" tanya Angelica ulang. Dia seakan tidak yakin dengan penampilan Ujang, tidak mungkin dia memiliki hutan yang sangat besar dan tanah yang begitu luas.


"Apa anak buah anda tidak memberikan informasi yang lengkap?" tanya Ujang,, dia agak jengkel dengan wanita kota yang sangat minim sopan santun seperti Angelica. Ujang memakai kaos singletnya cepat, karena sangat risih dengan mata Angelica yang tengah menilainya itu.


"Seharusnya anda tidak seperti ini dalam menyambut tamu?" ucap Angelica sambil berjalan dengan memangku tangan, melengokkan kepala pada isi gudang Ujang yang dipenuhi dengan perabotan.


"Anda tidak seharusnya begitu ketika datang di rumah orang," ucap Ujang tidak perduli sama sekali, dia malah menyalakan mesin amplas kembali tanpa menghiraukan Angelica, Angelica benar-benar kesal luar biasa, dengan sigap dia menemukan colokan listrik sehingga mesin itu langsung berhenti. Perbuatan keterlaluan itu berhasil membuat rahang Ujang mengeras, Angelica tersenyum sinis.


"Mari sama-sama kurang ajar! saya ke sini dengan maksud baik tapi anda memperlakukan saya bagaikan seorang pengemis," ucap Angelica.


"Jika anda ke sini hanya untuk membujuk saya untuk mau menjual tanah warisan orang tua saya, maka perlu Anda ketahui baik-baik ini, tidak semua hal bisa digantikan dengan uang," ucap Ujang.


Angelica langsung mengatupkan rahangnya, wajah judes itu berubah dingin. Dengan santai Ujang memasang kembali colokan listrik mesin amplas,, benda itu kembali berdengung. Angelica yang sakit hati setengah mati, segera masuk ke dalam mobilnya dan diikuti oleh asistennya yang juga ikut mati kutu menghadapi Ujang.


"Kita tidak boleh menyerah,, aku akan menjamin suatu saat pria sombong itu akan merangkak menemuiku dan menjilat ludahnya sendiri," ucap Angelica dengan geram.


"Jalan!" ucap Angelica pada asistennya yang begitu patuh pada ucapannya.


Begitu Angelica pergi,, Azis mendekati Ujang, Azis yang sejak tadi menjadi pendengar terbaik akhirnya membuka mulutnya.


"Apa tadi tidak terlalu kasar?" tanya Azis.


"Maksud Abang?" tanya Ujang tidak mengerti.


"Kamu memperlakukannya apa tidak terlalu kasar?" tanya Azis.


"Aku tidak perlu bersikap ramah terhadap orang kaya yang begitu sombong, kelembutanku hanya untuk Mentari,, paham Bang?" ucap Ujang.


"Lah, kenapa kamu jadi marah padaku Jang?" ucap Azis.


"Bukan marah tapi aku hanya ingin menegaskan, jangan sampai kecantikan wanita yang berhati dingin membuat penilaian jadi berubah,, tidak ada etika, tidak ada adab,, tidak ada tata krama,, orang seperti itu tidak perlu diperlakukan spesial karena dia pasti akan makin besar kepala," ucap Ujang.


"Ya,, ya,, ya kamu benar Jang," ucap Azis yang sudah tidak tertarik memperpanjang percakapan.

__ADS_1


Tidak lama kemudian mobil yang dikendarai Mentari muncul,, dari tadi pagi Mentari pergi membawa tiga anaknya ke rumah neneknya, mereka ikut ke rumah Ujang karena rindu pada anak dan menantunya.


Azzam sudah berusia tujuh bulan, sedangkan Aqeel dan Aqeela sedang aktif-aktifnya, Aqeel digendong oleh Ayah Mentari,, Aqeela digendong oleh ibu Mentari,, sedangkan Azzam digendong oleh Mentari sendiri.


"Ayo Abang!! makan siang, Ibu memasak kepala kambing," ucap Mentari.


"Aku nggak ditawari, Tari?" tanya Azis


"Eh! maaf aku kira bang Azis masih belum bisa makan daging kambing karena biasanya tinggi tensi darah," ucap Mentari.


"Ah! tensiku sudah turun tapi tensi Ujang yang naik setelah ada tamu tidak diundang tadi," ucap Azis.


Mentari langsung mengalihkan pandangannya kepada Ujang yang tengah asik mencium pipi gembul Azzam.


"Siapa yang datang Abang?" tanya Mentari.


"Tamu tidak penting," jawab Ujang tidak peduli lalu masuk ke dalam rumah tanpa menawari Azis.


"Suamimu sedang ngambek,," ucap Azis.


"Siapa yang datang Abang?" tanya Mentari.


Ujang tidak langsung menyahut dia mendekati Mentari yang sedang duduk di sisi tempat tidur, Ujang menyandarkan kepalanya ke paha Mentari. rasanya sangat nyaman hingga membuat mata Ujang menjadi berat.


"Abang?" ucap Mentari.


"Hmm," ucap Ujang.


"Abang tidur?" tanya Mentari sambil menatap Ujang.


Ujang pun langsung menengadah,, Mentari melihat mata Ujang yang sudah berat.


"Jawab dulu pertanyaan Tari, siapa yang datang, Abang?" tanya Mentari.


"Oh itu,, investor yang akan membangun hotel di samping hutan kita," jawab Ujang.

__ADS_1


"Oh! jadi sekarang bos besarnya yang datang?" tanya Mentari memastikan.


"Iya datang tanpa etika sama sekali," ucap Ujang yang benar-benar tidak menyukai wanita seperti Angelica itu.


"Salut dengan kegigihan dia,,pasti untuk membujuk Abang agar mau menjual hutan dan tanah kita kan?" ucap Mentari.


"Dia bukan datang membujuk tapi datang memaksa,, memang dia pikir dia itu siapa? karena dia kaya terus semuanya seakan bisa dia dapatkan dengan uang?" ucap Ujang.


"Sangat menyebalkan sekali," ucap Mentari yang ikutan kesal juga.


"Sangat," ucap Ujang.


"Lalu Abang bilang apa" tanya Mentari.


"Sekali tidak yah tetap tidak!!! kau tau Tari? dia bahkan berani mencabut colokan mesin amplas ku,,, dasar wanita aneh tidak sopan!!!" ucap Ujang sambil tersenyum tidak suka mengingat kelakuan wanita kurang ajar menurut Ujang.


"Apa?" ucap Mentari yang tidak menyangka ternyata wanita bos besarnya,, Mentari pikir laki-laki.


"Khas wanita yang sangat kekanak-kanakan dan sangat pemaksa, kamu memang suka memaksa Tari tapi aku suka, tidak sama dengan wanita tadi itu,, sangat pemaksa dan tidak sopan sama sekali, dia pikir bisa menyetir orang sesuka hatinya,,, aku yakin wanita macam itu pasti tidak biasa jika keinginannya tidak dituruti,, makanya dia memaksa karena tidak terbiasa mendapatkan penolakan, dan memangnya aku peduli? tentu saja tidak,, uang itu tidak bisa menggantikan peninggalan orang tuaku," ucap Ujang.


"Dia cantik?" tanya Mentari dari sekian banyaknya ucapan Ujang itulah yang Mentari tanyakan.


"Tidak!!! biasa saja seperti tante-tante,," jawab Ujang dengan jujur menurut matanya Angelica memang seperti tante-tante yang dandanannya sangat menor,, Ujang sendiri juga bingung mengapa Azis melihat wanita tadi dengan mata berbinar padahal tidak ada cantiknya sama sekali.


Ujang kemudian bangkit lalu meletakkan peci nya di atas meja.


"Pasti dia cantik," ucap Mentari cemberut yang tidak percaya dengan ucapan suaminya.


"Percayalah! lebih cantik dirimu, Tari," ucap Ujang sambil mematut Mentari dari atas sampai bawah dengan senyuman penuh arti.


"Abang, sekarang tidak bisa," ucap Mentari.


"Memangnya aku minta apa?" tanya Ujang.


"Tatapan Abang itu,, Mentari sudah sangat hafal betul," jawab Mentari.

__ADS_1


Ujang langsung tersenyum lagi kemudian Ujang tentu saja melanjutkan keinginannya dan Mentari pun pasrah. Ujang memanfaatkan waktu sebaik-baiknya selagi anak-anak mereka ada yang jaga. Dengan Mentari semuanya sangat indah.


__ADS_2