Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Abang mau mati?


__ADS_3

Menikah,, hamil dan punya anak mungkin adalah sebuah status yang sangat diidam-idamkan oleh semua orang,, tidak ada wanita mana pun yang benar-benar ingin melajang sampai seumur hidupnya,, tidak ada juga wanita yang mau mati di kasurnya yang dingin tanpa ada suami dan anak-anak yang berada di sampingnya.


Fitrah wanita itu hamil, melahirkan dan merawat anak-anak. Wanita diciptakan dengan rahim yang kokoh, dan juga sepasang benda kenyal yang berfungsi untuk menyusui. Hamil tidaklah mudah,, tri semester kedua tepatnya setelah Mentari tau bahwa dirinya hamil, kehamilannya dipenuhi dengan ujian, mulai dari muntah yang berkepanjangan,, tidak bisa makan dan beberapa kali di rawat di rumah sakit.


Kehamilan itu tidak mudah semua wanita pasti sepakat akan hal itu, setelah masa muntah reda, keluhan lain pasti akan dirasa,, perut yang semakin berat, kaki yang bengkak, susah tidur di malam hari bahkan sakitnya kontraksi palsu.


Wanita diciptakan untuk menjadi Ibu, mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan sang buah hati ke dunia ini, tapi rasa sakit seolah sirna begitu mendengar tangisan pertama bayi mereka setelah lahir ke dunia ini.


Enam bulan sudah kandungan Mentari, selama ini Ujang dan Ibu Mentari bekerja sama selama Mentari mengalami muntah parah, kehamilan kedua ini terasa berat,, Mentari bahkan sangat jarang bangun dari tempat tidurnya. Mentari tidak bisa melihat cahaya matahari, tapi beberapa hari ke belakang ini dia mulai membaik.


Ujang mengusulkan agar istrinya itu memberhentikan menyusui si kembar lebih awal,, namun Mentari menolak dia akan tetap menyusui anak-anaknya itu sampai dua tahun meskipun ditambah dengan susu formula, Mentari belum mau memberhentikan menyusui Aqeel dan Aqeela.


"Kamu yakin,, Tari?" tanya Ujang berusaha membujuk istrinya itu sekali lagi, Aqeel begitu rakus menyusu pada Mentari,, sementara Ujang benar-benar tidak tega melihat istrinya itu semakin kurus.


Bayangkan saja Mentari harus membagi nutrisi yang masuk ke tubuhnya, untuknya,, untuk kandungannya dan untuk si kembar yang masih menyusu.


"Walaupun dibantu dengan susu formula tapi dengan begini aku merasa dekat dengan si kembar,, Abang," ucap Mentari sambil tersenyum lalu mengecup kepala Aqeel.


"Baiklah," ucap Ujang pasrah dirinya sudah kehilangan kosa kata. Apa yang dikatakan Ayah mertuanya memang benar adanya,, istrinya itu merupakan orang yang sangat kuat mempertahankan prinsipnya. Mentari bukan tipe orang yang mudah goyah, Mentari akan berhenti dengan sendirinya jika merasa satu hal itu tidak berhasil atau membuat dia tidak nyaman.


Sejauh ini Mentari masih memaksakan untuk mengisi perutnya walaupun akan muntah lagi, jika hamil pertama waktu itu dia sangat malas minum susu, saat ini dia sangat rutin minum susu dua kali sehari.


"Tari," ucap Ujang.


"Iya Abang," ucap Mentari,, saat ini Aqeel sudah tertidur di samping Mentari.


"Aku mau mengantar barang dulu bersama Bang Azis,,, sekarang yang pesan agak jauh," ucap Ujang.


"Dimana Abang?" tanya Mentari.


"Pesanan kali ini kursi tamu untuk di kantor walikota," jawab Ujang.


"Wah jauh yah?" ucap Mentari.


"Iya mungkin pulangnya agak lama, tidak apa-apa kan?" tanya Ujang.


"Tidak apa-apa kan ada Ibu,, tapi...," ucap Mentari sambil mengulum senyumnya.


"Tapi apa hemm?" tanya Ujang gemas.

__ADS_1


"Tari pasti merindukan Abang," ucap Mentari sambil mengerucutkan bibirnya.


Ujang tersenyum lebar, antara gemas dan bangga,, semenjak hamil anak kedua, Mentari luar biasa manjanya, setiap pulang dari mengantar barang,, dia tidak memperbolehkan Ujang langsung mandi,, dia ingin mencium keringat Ujang dulu, sungguh aneh bukan.


"Kan? Abang cuma tersenyum saja," ucap Mentari.


"Terus aku mesti jawab apa?" ucap Ujang.


"Bilang kangen juga kan,, bisa?" ucap Mentari.


"Nah, kita seharian ini kan selalu berdua, ini pun baru mau pergi, kangen-kangenan nanti malam juga bisa, kalau dua bocah itu tidak begadang," ucap Ujang.


Mentari mengerucutkan bibirnya,, Mentari bangkit sambil mengelus perutnya yang mulai membesar.


"Kangen versi Abang dan kangen versi Tari, beda," ucap Mentari.


"Apa bedanya? kan sama-sama kangen," ucap Ujang.


"Kalau kangen versi Tari itu cukup manja-manja sambil bercerita dan bersandar pada Abang, kalau kangen versi Abang itu pasti menjurus ke tempat tidur," ucap Mentari.


Ujang langsung tertawa kecil sambil mengemasi pakaian Aqeel dan Aqeela yang berantakan keluar dari keranjang, selain aktif bergerak, mereka juga sangat aktif membuat kain yang baru dilipat menjadi berantakan kembali. Terutama Aqeela,, dia sudah lancar berjalan, dia akan menarik kain dalam lemari jika Mentari lupa menguncinya. Hasilnya Mentari hanya bisa melongo melihat kain itu yang sudah berhamburan,, sedangkan Aqeel,, dia belum bisa berjalan, dilatih untuk berjalan malah kakinya tidak mau menginjak di tanah.


"Aku kalau lepas kangen versi Abang benar-benar menguras tenaga," ucap Mentari.


"Ah! Tari, kamu tidak tau saja gimana rasanya jadi aku, setiap saat waktu mu hanya untuk anak-anak, tidur pun selalu membelakangi aku, pas mau berhubungan baru baca doa saja si bocah sudah bangun, terutama si anak gadis ini," ucap Ujang sambil mengangkat Aqeela, bayi itu menggelinjang protes tidak mau di gendong, karena sedang asik memainkan bedak yang lupa ditutup.


"Lama-lama aku bisa lupa," ucap Ujang sambil berusaha mempertahankan wajah datarnya, sejak tadi dirinya ingin tersenyum.


"Lupa apa Abang?" tanya Mentari sambil tertawa,, Mentari merasa geli dengan perumpamaan yang diucapkan suaminya itu.


"Lupa caranya," ucap Ujang sambil mengancing kemejanya saat ini dirinya tengah bersiap-siap.


"Abang sambil tutup mata pun juga sangat hafal,, masa lupa. Ini buktinya, dulu tidak diizinkan KB dengan alasan Abang akan berhati-hati, pas dicek sudah tiga bulan saja, artinya bayi nya sudah jadi sejak awal, Tari tidak percaya lagi sama Abang, setelah Tari melahirkan yang ini, Tari mau langsung pakai KB implan," ucap Mentari.


Ini entah yang keberapa ratus kalinya Mentari membahas itu, Ujang sudah sangat kebal.


"Iya Abang tidak akan melarang kamu lagi, tapi pikir-pikir dulu," ucap Ujang.


"Nah pikir-pikir itu artinya melarang, pas lagi mikir eh tau-tau hamil lagi, ya ampun kasihan si kembar mereka belum layak menjadi Kakak,," ucap Mentari.

__ADS_1


Ujang langsung tersenyum kalem.


"Sebenarnya kalau kita ingin punya anak, mau tidak mau kamu harus melahirkan satu kali satu tahun,," ucap Ujang.


"Apa?" ucap Mentari dengan ekspresi wajah kagetnya.


"Aku sudah semakin tua istriku,,, kalau terlalu lama anak akan seperti cucu," ucap Ujang.


"Tari mau tiga aja, sudah cukup," ucap Mentari.


"Tiga terlalu sedikit, lihat Ibumu, kakakmu ikut suaminya, kamu ikut aku, dan Dika lebih suka di kamarnya, rumah jadi sepi," ucap Ujang.


"Pokoknya Tari tidak mau nambah lagi," ucap Mentari.


"Jangan takabur Tari, kalau Allah berkehendak,, kita tentu tidak bisa menolak," ucap Ujang.


"Tapi kita kan harus berusaha, secara ilmu biologi jika sel ****** tidak bertemu dengan sel telur, pembuahan tidak akan terjadi," ucap Mentari bersikeras.


"Gimana tidak akan bertemu istriku, kalau setiap malam kamu terus merengek padaku,," ucap Ujang.


"Itu kan dulu," ucap Mentari cepat sambil berusaha menyembunyikan wajahnya yang saat ini memerah malu, tapi tentu tidak bisa,, Ujang sudah melihatnya.


"Setelah melahirkan aku rasa kamu akan begitu lagi, nanti pas hamil aku yang disalahkan, padahal pas buatnya kita sama-sama mau dan sama-sama suka,, tapi aku terus jadi tersangka nya," ucap Ujang.


"Masih lama perginya?" ucap Mentari yang kesal bukan kepalang. Ujang tersenyum sambil mengambil kunci mobil.


"Mau dibawakan apa?" tanya Ujang sambil mengelus lembut wajah Mentari dengan senyumnya.


"Tidak ada," jawab Mentari sambil cemberut. Kali ini Ujang sangat menyebalkan karena membuat dirinya malu.


"Yakin bumil ku?" tanya Ujang lagi sambil tersenyum menatap istrinya yang sedang cemberut itu,, Mentari terlihat semakin cantik.


"Yakinlah!!" jawab Mentari.


"Kalau aku pulang besok,, boleh?" ucap Ujang.


Mentari langsung menatap Ujang cepat.


"Abang mau mati?" ucap Mentari.

__ADS_1


__ADS_2