Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Para pemuda yang iri,,,


__ADS_3

Bagi Ujang,, Mentari itu ibarat gula yang selalu manis,, kehadiran Mentari menjadi candu dan juga bisa membuat hidup Ujang menjadi lebih berwarna. Mentari mengenalkan berbagai rasa pada dirinya, rasa sayang,, rasa cinta,, rasa rindu,, dan rasa cemburu. Mentari bagaikan magnet yang menarik dirinya untuk selalu mendekat,, tidak ingin berjauhan bahkan untuk waktu yang sebentar.


Kadang Ujang masih tidak percaya jika dirinya berjodoh dengan Mentari,, sang primadona kampung yang menjadi buah bibir oleh setiap orang,, padahal selama ini Ujang tidak berambisi lagi untuk menikah, kalaupun ada wanita sederhana yang mau menjadi istrinya,, Ujang akan terima dengan tangan terbuka,, tapi Tuhan memberikan Mentari sebagai pendamping hidupnya,, seakan Mentari adalah hadiah dari kesabaran dan keikhlasannya selama ini dalam menerima takdir hidupnya.


Ujang tidak bisa melepaskan tatapan matanya pada istri cantiknya itu,, wajah berseri yang saat ini tengah berdiri diantara orang-orang yang juga menonton pertunjukan,, terlihat Mentari begitu menikmati pertunjukan itu, Mentari berada tidak jauh dari tempat pertunjukan itu sedangkan Ujang berdiri di tepi lapangan sambil menatap Mentari.


Sesekali kepala Mentari mengangguk-angguk mengikuti irama,, tidak jarang juga Mentari bertepuk tangan penuh semangat.


Semakin rame,, beberapa anak muda juga telah datang ke tempat itu.


Ah,, Ujang tidak pernah bosan memandang wajah Mentari,, bahkan Ujang merasa seperti mimpi bisa membuat Mentari jatuh cinta padanya,, apalagi saat ini istrinya itu tengah mengandung sebentar lagi mereka akan memiliki anak,,, benar-benar sebuah anugerah yang tak terhingga untuk Ujang,, Ujang tidak pernah berhenti mengucapkan rasa syukur.


Ujang tampak mengedarkan pandangannya, melihat orang-orang yang berada tidak jauh dari istrinya yang menonton pertunjukan itu, mereka tampak membuat sebuah lingkaran, dengan dua puluh orang pemain,, bunyi musik semakin menambah meriah acara itu, beberapa anak muda terlihat ikut bergoyang mengikuti irama musik, seiring dengan sorak riuh para penonton yang ikut larut menikmati pertunjukan.


Acara ini biasa dilaksanakan setelah acara resmi telah selesai dilaksanakan, setelah selesai penyampaian sepatah atau dua kata dari pejabat desa atau Bupati yang diundang, ibaratnya ini sebagai hiburan untuk mereka setelah mendengar celoteh dari Kepala Desa.


"Lihat bro,,, cantik banget kan ceweknya?" ucap salah satu pemuda.


"Yang mana?" tanya pemuda lain.


"Itu yang rambutnya panjang dan indah itu, yang pakai sweater pink,," ucap laki-laki di sebelah Ujang sambil menunjuk Mentari,, Ujang saat ini mengikuti dengan matanya ke mana arah telunjuk laki-laki itu.


"Iya cantik banget,, dia anak Desa sini loh, dia itu sangat cantik natural,, bunga Desa," ucap salah satu laki-laki lagi.


"Oh pantas saja,, mungkin dia nggak nyadar kalau dari tadi sangat banyak pemuda yang memperhatikan dia,," ucap laki-laki itu lagi.


"Sayangnya dia sudah menikah," ucap pemuda itu dengan ekspresi wajah lemas.


"Hah yang benar?" ucap pemuda itu benar-benar tidak percaya.


"Iya dia nikah sama perjaka tua,, pokoknya jauh beda banget umur mereka, mungkin si Tari di kerjain kali,, massa mau sih menikah sama perjaka tua yang hidup menyendiri di perbatasan Desa sana,,, mungkin seperti Datuk Maringgi dan Siti Nurbaya," ucap laki-laki itu lagi.


"Kamu kenal sama suaminya?" tanya pemuda itu lagi.


"Nggak,, aku cuma dengar berita saja," ucap laki-laki itu lagi.


"Oh sayang sekali yah gadis secantik itu malah jatuh ke tangan yang tidak tepat," ucap pemuda itu lagi.


"Tidak tepat sih tapi kaya,, walaupun dia hidup sederhana tapi dia terkenal punya banyak warisan,," ucap laki-laki itu lagi.


"Oh pantas,," ucap pemuda itu lagi.


Rahang Ujang tampak mengeras, selama ini dia tidak pernah mendengar ucapan buruk tentang pernikahannya, baru sekali dia ikut ke dalam kerumunan orang desa, namanya ternyata telah jadi bahan gunjingan, dia tau pasti dua pemuda itu berasal dari desa tetangga yang sengaja datang untuk melihat acara. Hati Ujang mendadak tidak enak ada rasa sedih dan juga murka, walaupun dua pemuda tadi telah pergi entah kemana perginya.


Ujang berjalan tergesa-gesa kepada Mentari,, menyentuh lengan Mentari dengan lembut,, Mentari menoleh sambil tersenyum.

__ADS_1


"Tari,, ayo kita pulang," ucap Ujang.


Kening Mentari langsung berkerut.


"Baru juga sampai Abang," ucap Mentari.


"Aku sakit perut,, sepertinya aku masuk angin," ucap Ujang yang terpaksa berbohong agar Mentari mau pulang.


"Ayo," ucap Mentari langsung tanpa pikir panjang.


Mereka berjalan di kerumunan orang banyak menuju parkiran, hati Ujang masih sangat sedih mengingat bahwa dirinya di tuduh mengerjai Mentari agar Mentari mau pada dirinya.


"Peluk aku Tari,, yang erat," ucap Ujang sambil menarik tangan Mentari,, menahan tangan istrinya itu di perutnya, mereka berada di atas motor dengan kecepatan sedang,, Mentari menyandarkan kepalanya di bahu Ujang,, entah kenapa suaminya itu berubah jadi sangat manis dan posesif malam ini.


Begitu sampai di kamar Ujang langsung memeluk istrinya itu, membuktikan bahwa dia bisa memiliki Mentari seutuhnya karena melalui proses yang alami,, tidak ada paksaan sama sekali,, tidak ada dirinya mengerjai Mentari dengan cara yang tidak benar,, atau lebih parahnya lagi seperti Siti Nurbaya dan Datuk Maringgi. Mentari menyerahkan hatinya secara suka rela pada dirinya,, Ujang telah memberikan banyak waktu untuk Mentari sehingga Mentari bisa menerima dirinya.


"Abang kenapa sih berubah jadi manja seperti ini?" ucap Mentari sambil tersenyum geli. Yah memang Ujang biasanya sangat manja hanya ketika di tempat tidur dan saat lagi minta jatah,, kalau di luar Ujang yang selalu memanjakan Mentari,, tapi tadi dari di motor Ujang sudah manja,, minta di peluk-peluk tidak seperti biasanya.


"Tari, buatkan teh jahe yah supaya masuk anginnya berkurang," ucap Mentari lagi.


Ujang hanya mengangguk,, senyum tulus dari istrinya seakan jadi pengobat hatinya yang sedang sakit,, Ujang duduk di pinggir ranjang,, tangan besar itu meraih pigura foto yang terletak di atas meja belajar Mentari,, meja itulah yang mempertemukan dirinya dan Mentari beberapa kali.


Di dalam foto itu wajah Mentari terlihat sangat lesu, tidak seperti pengantin pada umumnya yang akan bahagia,, Ujang ingat betul,, Mentari sempat melamun beberapa kali, bahkan Mentari mengabaikan beberapa kali fotografer yang sedang memberikan arahan, jelas wanita itu terlihat tidak bahagia.


Pintu berderit,, Mentari masuk dengan segelas teh jahe di tangannya.


Di sesapnya teh jahe itu sedikit, kehangatan menjalari kerongkongannya, kalau tau teh jahe itu enak,, bagusnya setiap malam dia mengaku masuk angin saja.


"Abang mau di kerok?" tanya Mentari.


Hati Ujang bersorak senang,, Ujang mengangguk dengan semangatnya.


"Kamu tidak lelah kan?" tanya Ujang.


"Anggap saja sebagai hadiah,, Abang sudah mau mengantar Mentari,, padahal tadi Tari bangunkan pas Abang sedang tidur lelap," ucap Mentari.


Ujang mengusap kepala Mentari, seperti kata-kata dua pemuda yang iri tadi itu,, dialah laki-laki yang beruntung mendapatkan Mentari yang sangat cantik dan juga baik, senyumnya bahkan bisa mengobati rasa gundah gulana.


"Tidak usah dikerok rasanya sudah lumayan setelah minum teh jahe buatan mu," ucap Ujang.


Mentari tampak menyipitkan mata dan mengerucutkan bibirnya.


"Makin hari Abang makin pintar saja merayu," ucap Mentari.


Ujang tersenyum,,, Ujang tampak mengambil nafas lalu menatap Mentari serius.

__ADS_1


"Tari, sejujurnya ada yang mengganggu ku," ucap Ujang.


"Oh maksud Abang ada wanita yang mengganggu Abang?" ucap Mentari dengan ekspresi wajah yang sudah berubah cemburu.


"Bukan,, bukan wanita," ucap Ujang cepat.


"Yang menggangguku percakapan dua pemuda tadi waktu kita pergi nonton acara musik, biasanya aku tidak pernah perduli dengan pemikiran orang lain,, tapi mungkin perkataan buruk itu sudah keterlaluan,, hatiku merasa sangat sedih," ucap Ujang.


Mentari langsung mendekati suaminya itu.


"Katakan apa ucapan yang menyakiti hati Abang ku,," ucap Mentari.


Ujang langsung tersenyum geli bercampur sedih.


"Bagaimana bisa aku dituduh mengerjai kamu sehingga kamu mau menikah denganku,, padahal kan kamu yang memaksa ku waktu itu,, dunia memang sangat aneh, biasanya laki-laki di zamanku tidak bermulut seperti perempuan,," ucap Ujang.


"Siapa yang mengatakan itu?" tanya Mentari.


"Aku tidak mengenal orangnya sepertinya pemuda dari desa sebelah,, tapi sudahlah,, mungkin aku saja yang terlalu perasa,," ucap Ujang.


"Kenapa Abang tidak jawab saja,, kalau Tari yang jadi Abang,, Tari pasti akan menjawab ucapan buruk para pemuda itu," ucap Mentari.


"Tidak ada gunanya Tari,, aku saja yang terlalu mengambil hati," ucap Ujang.


Mentari memeluk Ujang,, memejamkan matanya di dada suaminya itu.


"Abang itu memiliki pesona yang tidak bisa dilihat hanya dari satu kali pertemuan, pesona yang membuat Tari jatuh cinta," ucap Mentari.


Ujang merasa tersanjung,, Ujang menghirup wangi rambut Mentari.


"Pesona apa selain tua," ucap Ujang sambil terkekeh.


"Kebaikan hati dan ketulusan Abang,, makanya Ayah menyukai Abang dan menginginkan Abang yang jadi menantunya," ucap Mentari sambil menengadah menatap Ujang.


"Benarkah?" ucap Ujang.


Mentari mengangguk sambil tersenyum.


"Daripada kita memikirkan orang yang tidak penting lebih bagus kita memikirkan diri kita sendiri,,, Abang juga pernah bilang gitu kan?" ucap Mentari.


"Kamu benar," ucap Ujang merasa malu.


"Jadi ayo kita bersenang-senang saja,, lebih enak Abang jenguk dede bayi aja,," ucap Mentari sambil menatap Ujang dengan tatapan menggoda dan jemari Mentari sangat lihai melepaskan kancing kemeja Ujang.


Ujang tersenyum.

__ADS_1


Kalau tentang itu tentu Ujang dengan senang hati melakukannya.


__ADS_2