
Mentari menatap Ujang dengan tatapan gusar,, hari tersial dalam hidupnya dengan tidak membaca baik-baik catatan di undangan tersebut. Mentari memakai dress putih hanya sebuah kebetulan saja,,, karena Mentari menyukai warna putih. Sedangkan Ujang menjadi ganjil dan menjadi pusat perhatian orang lain.
Tidak sedikit orang yang tertawa sambil berbisik begitu melihat Ujang,, diantara semua tamu,, Ujang malah lebih menarik perhatian daripada pengantin yang sedang bersanding saat ini,, Ujang bahkan menjadi bahan olok-olok orang disana.
Mentari merasa tangannya ditarik oleh orang lain, Mentari pamit pada Ujang yang terlihat mulai risih,, namun Ujang masih mampu menguasai dirinya.
"Tari itu suami kamu yah?" tanya Mia.
"Iya dia suamiku,," jawab Mentari entah sudah berapa orang yang bertanya padanya,, dan kali ini dari Mia,, teman dekat Mentari.
"Aduh Tari kamu gimana sih kok nggak teliti baca catatan undangannya,, kok bisa suami kamu memakai baju warna begitu,, batik lagi,, semua orang menertawakan dia,," ucap Mia.
Mentari saat ini rasanya ingin memaki.
"Udah nggak usah bicara lagi," ucap Mentari lalu segera pergi ke tempat Ujang,, menarik tangan Ujang dengan sedikit keras,, bahkan mereka belum sempat mencicipi sedikit pun hidangan di hotel itu tapi mereka sudah keluar,, Mentari dan Ujang yang keluar dengan tergesa-gesa menjadi pusat perhatian orang-orang lagi.
Ujang menurut saja,, saat Mentari juga menghentikan langkahnya di lantai dua dekat ruangan kosong dekat tangga manual. Wajah Mentari terlihat menegang namun Ujang tetap terlihat tenang menunggu reaksi Mentari yang sama sekali tidak terduga.
"Kita pulang saja,, Abang tuh salah kostum,, Abang laparkan? kita beli saja makanan di pinggir jalan," ucap Mentari dengan nada ketus.
Hati Mentari benar-benar sangat panas dan juga kesal dari sekian banyak pria di dalam hotel itu hanya Ujang lah yang terlihat berbeda,, bahkan Sintia teman Mentari juga ikut menertawakan Ujang. Mentari kesal sangat kesal.
"Kalau aku tau akan seperti ini,, aku nggak akan ajak Abang,,," ucap Mentari yang lagi-lagi ketus,, Mentari mengambil tisu lalu menghapus lipstik nya lalu membuang tisu itu di tempat sampah.
"Atau kita pulang aja,, kalau Abang belum terlalu lapar lebih baik kita makan di rumah saja,, jarak dari Hotel ini ke rumah hanya butuh waktu beberapa jam saja,, ayo kita cari bus,," ucap Mentari lagi.
Mentari tampak berjalan tergesa-gesa tanpa memperdulikan sama sekali perasaan suaminya yang terluka,, tapi Ujang tetap memilih menahan diri,, hingga tak lama bus pun datang.
Begitu sampai di rumah,, Mentari langsung masuk ke dalam kamar lalu membanting tas kecilnya di atas ranjang,, telinga Mentari panas dan hatinya juga panas,, Mentari masih mengingat jelas bagaimana tamu-tamu yang datang berbisik-bisik sambil melirik suaminya,, atau orang yang menoleh dua kali begitu melihat Ujang.
__ADS_1
Mentari terus mengurung dirinya di dalam kamar bahkan sampai sore hari.
Setelah menghabiskan waktu untuk tidur siang,, Mentari pun bangun menuju ke dapur,, Mentari ingat belum memasak apapun untuk suaminya bahkan mereka belum memakan apa-apa hanya sarapan saja tadi pagi.
Mentari lalu membuka kulkas yang belum lama habis dibeli itu,, Mentari tampak menimbang-nimbang apa yang akan dia masak,, karena Ikan asin,, Pete,, dan jengkol adalah sesuatu yang sangat haram di kulkasnya itu.
"Kamu tidak perlu memasak lagi,, aku sudah makan," ucap Ujang yang tiba-tiba muncul dari arah gudang, Ujang bicara tanpa melihat Mentari,, Ujang tampak meletakkan mesin amplas ke lemari kayu yang berada di dekat dapur.
"Abang makan apa?" tanya Mentari.
"Aku sudah terbiasa hidup sendiri jadi tidak susah untuk membuat perutku kenyang,," ucap Ujang.
Ada nada penuh sindiran yang Mentari tangkap dari ucapan itu,, hati Mentari yang tadinya mulai dingin kembali panas.
"Ya sudah kalau gitu,, baguslah,," ucap Mentari tidak perduli.
"Jadi semua ini salah aku Tari? sehingga aku yang jadi pelampiasan kemarahan kamu?" ucap Ujang sambil menatap Mentari dengan tatapan dingin.
"Kita harus bicara,, kita harus selesaikan masalah ini," ucap Ujang.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi karena kita sudah sampai di rumah,," ucap Mentari.
"Aku tau kamu sangat malu Tari," ucap Ujang.
Mentari terdiam, Mentari tidak berani menatap Ujang,,, Mentari juga tidak membantah apa yang diucapkan Ujang barusan.
"Aku tau kamu menyesal Tari,, kamu malu membawaku untuk hadir ke pesta temanmu yang kaya itu,, malu karena aku bagaikan lelucon di tengah-tengah kalian semua,, apa kamu tidak tau Mentari,, seharusnya aku lah yang marah padamu,," ucap Ujang.
"Loh kenapa harus Abang yang marah,, ini hanya suatu kesalahan pahaman saja,," ucap Mentari yang sudah tersulut emosi.
__ADS_1
"Kamu yang mengajak aku tanpa memberitahu aku baju apa yang harus aku pakai,, setelah teman-teman mu mencela aku,,, kamu juga merasa ikut terhina,, kamu malu,, iyakan?" ucap Ujang lagi.
"Sudahlah Bang,, tidak usah bahas itu,,, aku capek," ucap Mentari.
"Aku tau Tari kamu capek,, capek dengan aku yang sudah tua,, capek dengan aku yang tidak bisa bergaya seperti mantan pacar mu itu,, capek dengan aku yang tidak berpendidikan seperti kalian,, capek dengan aku yang tidak bergaya modern seperti kalian,, ini yang aku sangat khawatirkan sebelum kita menikah dan sekarang benar-benar terjadi,," ucap Ujang yang terlihat ekspresi wajahnya menegang.
"Bang,, hati aku sekarang belum membaik,, jadi sudah nggak usah bahas itu," ucap Mentari.
"Hatimu belum membaik? lalu bagaimana dengan hatiku Tari? aku menerima hukuman yang tidak aku perbuat sama sekali,, jika kamu tau aku salah kostum kenapa kamu malah memaksa ku untuk masuk juga? kamu bisa masuk sendiri dan aku akan menunggu di luar,, aku tidak apa-apa,,, aku bersedia menunggu diluar,," ucap Ujang.
"Abang itu tidak mengerti sama sekali," ucap Mentari ketus.
"Aku bukan tidak tau kamu sangat kesal padaku Tari,, ya sudah terserah kamu saja," ucap Ujang.
Ujang berlalu terlihat Ujang mengambil kunci motor,, lalu Ujang pergi meninggalkan rumah,, Azis yang sejak tadi mendengar pertengkaran pengantin baru itu memilih diam dan terus mengerjakan pekerjaan nya membuat kamar mandi.
######
Mentari tampak melihat jam dinding,, sudah setengah sebelas malam tapi Ujang belum juga pulang ke rumah,, tidak biasanya Ujang belum pulang di jam yang sudah selarut ini,, Ujang tipe pria yang sangat betah di rumah,, sebelum Maghrib Ujang pasti sudah berada di rumah meskipun barang belum selesai diantar semua.
Mentari tampak ngeri sendiri begitu suara binatang menemaninya malam itu,, sungguh rumah Ujang sangat jauh dari rumah penduduk yang lainnya. Bisa saja rampok atau sejenisnya datang ke tempat itu,, Mentari tau betul sebenarnya suaminya itu sangat kaya.
"Kemana sih dia,, apa merajuknya sampai selama ini? ini sudah hampir tengah malam,," ucap Mentari sambil mondar-mandir,, Mentari berusaha mengalahkan rasa takutnya sendiri.
Tiba-tiba Mentari mendengar pintu di gedor dengan tidak sabaran. Mentari benar-benar takut.
"Mentari,, ini aku Bang Azis,, buka pintunya Tari," ucap Azis sambil menggedor-gedor pintu.
Mentari langsung bernafas lega,, Mentari dengan cepat pergi membuka pintu,, Mentari melihat Azis dengan ekspresi wajah panik.
__ADS_1
"Ada apa Bang? ada yang tertinggal?" tanya Mentari.
"Tidak ada,, tapi Ujang.. Tari.. Ujang.. dia..," ucap Azis terlihat panik.