Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Apa aku bisa memegang janjimu?


__ADS_3

"Kamu yang sabar yah,, semua yang terjadi ini atas izin Allah kamu harus kuat,, aku yakin setelah ini akan diganti dengan lebih banyak jika kamu ikhlas," ucap Pak Mamad sambil menepuk bahu Ujang untuk menguatkan menantunya itu, Ujang masih termangu sejak sore tadi, Ujang terlihat hanya berbicara beberapa kata saja, apa yang terjadi masih belum bisa diterima oleh akal sehatnya. Semuanya hangus terbakar rumah peninggalan orang tuanya sudah tidak ada lagi padahal itu adalah kenangan satu-satunya yang sangat Ujang jaga tapi kini sudah tidak ada lagi.


"Aku merasa kebakaran ini terasa sangat aneh Pak,, sebelum kami berangkat mengantar Mentari,, aku sudah sangat memastikan tidak ada kompor yang menyala,,, darimana datangnya api? apalagi yang lebih dulu hangus itu adalah hutan,, pasti api berasal dari sana pada awalnya," ucap Ujang yang meluapkan apa yang sejak tadi mengganjal di hatinya.


Pak Mamad tampak menghela nafasnya,, mereka memandangi langit malam yang kelam, bukan hanya Ujang yang merasa seperti itu,, Pak Mamad juga merasa kebakaran ini sepertinya sangat disengaja oleh orang lain, tapi dia tidak berani mengatakan takutnya itu akan melukai hati Ujang.


"Apapun kemungkinannya,, semuanya tentu bisa saja terjadi, jika kamu merasa ada orang yang telah sengaja berbuat jahat padamu,, maka kamu bisa melapor pada polisi," ucap Pak Mamad.


Ujang lagi-lagi termangu, melaporkan pada polisi mungkin satu-satunya langkah yang paling tepat saat ini, tapi dia ingin menangkap pelakunya dengan tangannya sendiri. Siapapun dia, Ujang akan memberikan pelajaran padanya dulu dengan cara Ujang sendiri.


"Istirahatlah!!! kamu tampak sangat lelah,, ingat Jang!!! kamu itu adalah orang baik,, Allah akan menggantinya dengan berkali lipat jika kamu ikhlas dengan cobaan ini," ucap Pak Mamad lagi.


Ujang hanya diam saja,, untuk saat ini dia masih belum bisa menerima dengan begitu saja atas apa yang terjadi pada rumahnya tadi dan juga hutannya, karena orang jahat harus dihukum, tentu orang jahat tidak bisa dibiarkan begitu saja. Namun Ujang pamit pada Pak Mamad,, dia masuk ke kamarnya dan bertemu dengan Mentari yang wajahnya sudah sangat sembab karena Mentari menangis hebat tadi.


"Anak-anak sudah tidur," ucap Mentari sambil melihat anak anaknya satu persatu, seolah-olah dia menghindari tatapan mata Ujang. Rasanya Mentari sungguh tidak tega melihat wajah suaminya yang begitu terpukul, dia tahu pasti apa arti rumah peninggalan itu bagi suaminya. Mentari sangat tahu Ujang sangat menyayangi orang tuanya,, sangat menjaga peninggalan orang tuanya tapi kini peninggalannya sudah tidak ada lagi,, tentu Ujang akan sangat sedih.


"Kita harus membeli beberapa pakaian untuk anak-anak, karena tidak ada lagi pakaian yang tersisa selain pakaian yang melekat di badan," ucap Mentari lagi.


Ujang hanya diam saja, Mentari tiba-tiba tersadar,, Mentari tampaknya lupa jika mereka saat ini tidak memiliki uang lagi, mereka tidak punya tabungan di bank, tidak punya simpanan emas juga, lalu uang yang banyak juga telah hangus menjadi abu karena kebakaran itu.


"Aku cuma punya uang tiga ratus ribu saja, apa cukup?" tanya Ujang,, dia tidak terbiasa membawa uang banyak, tiga ratus ribu adalah uang pengisi saku celana untuk jaga-jaga di jalan ketika dia keluar rumah,, takutnya dia membutuhkan uang makanya dia selalu membawa uang meskipun tidak banyak.

__ADS_1


Mentari terdiam,, dia sadar sekarang sudah tidak sama lagi seperti dulu, mereka saat ini sudah tidak punya uang, kalau dulu untuk membeli pakaian pasti mereka memiliki uang yang banyak,, tidak akan merasa kekurangan seperti ini.


"Tenang saja kita beli yang murah-murah saja,, aku yakin itu pasti cukup jika kita membeli yang murah," ucap Mentari lagi yang kasihan melihat suaminya.


"Baiklah," ucap Ujang.


Ujang pun kembali membisu, pandangan matanya sangat sulit diartikan oleh Mentari. Mentari sangat yakin Ujang pasti masih memikirkan tentang kebakaran yang tiba-tiba tadi, Mentari juga tidak habis pikir kenapa bisa terjadi kebakaran itu padahal sebelum keluar rumah mereka sudah memastikan semuanya bahwa tidak ada yang akan memicu terjadinya kebakaran.


"Abang?" ucap Mentari sambil melihat Ujang.


"Hmm," reaksi Ujang kemudian kembali terdiam lagi.


"Apa menurut Abang ada seseorang yang sengaja melakukan ini pada kita? kalau aku sih yakin ada seseorang yang tega melakukan ini pada kita Abang,, karena tidak mungkin terjadi kebakaran begitu saja apalagi asalnya dari hutan, karena tadi aku juga sudah memeriksa semuanya dan tidak ada yang akan memicu kebakaran,, makanya Tari sangat kaget tadi begitu tahu apa terjadi kebakaran di rumah kita," ucap Mentari sambil melihat Ujang.


"Eh tapi tunggu...." ucap Ujang lalu menatap Mentari. Mentari yang mendapatkan tatapan seperti itu dari Ujang langsung merasakan seperti ada sesuatu yang hendak Ujang katakan padanya,, sepertinya sudah ada orang yang Ujang curigai yang tega melakukan itu semua pada mereka.


"Wanita itu..." ucap Ujang sambil melihat Mentari.


Ujang tiba-tiba teringat dengan Angelica,, wanita yang sangat menginginkan tanah Ujang tapi Ujang tidak mau,, yah hanya sama dia saja Ujang bermasalah,, Ujang jadi yakin jika wanita sombong itu yang tega melakukan semua ini.


"Siapa Abang?" tanya Mentari yang masih belum mengerti.

__ADS_1


"Wanita sombong itu,, ini pasti ulah wanita itu karena hanya dia saja yang memaksaku untuk menjual tanah, bahkan dia juga mendekati kamu dengan alasan ingin berteman,, padahal aku sangat yakin, itu hanya palsu dia benar-benar tidak ingin berteman dengan kamu,, sejak kamu mengembalikan tas yang dibelikannya? apa dia masih ada menghubungi kamu?" tanya Ujang yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Mentari.


"Hanya dia satu-satunya yang menjadi terduga,, tidak ada terduga lain selain dia, dia yang ingin merampas tanah kita dengan berbagai cara," ucap Ujang.


"Apa dia sejahat itu?" tanya Mentari.


"Dia bahkan akan membunuh kita semua Tari, jangan pernah menganggap semua orang asing adalah manusia yang baik, jika dia yang melakukannya aku tidak akan mengampuninya," ucap Ujang dengan mata yang berapi-api, kemarahan yang amat besar terpancar di matanya.


"Tari, kamu tau, Tari?" tanya Ujang.


"Apa Abang?" tanya Mentari balik.


"Kita tidak punya apa-apa selain tanah itu sekarang,,,, kita mulai dari nol lagi dan aku tidak akan menjual tanah itu bahkan jika pedang diletakkan di leherku, jadi apa kamu siap hidup miskin untuk sementara Tari?" tanya Ujang.


Mentari menatap Ujang sambil mengusap lengan suaminya.


"Kita berjuang sama-sama Abang," ucap Mentari.


"Apa aku bisa memegang janjimu?" tanya Ujang.


Mentari langsung mengangguk lalu Ujang memeluk wanita itu.

__ADS_1


"Syukurlah!!! janjimu membuat hatiku sedikit terobati Tari," ucap Ujang.


__ADS_2