Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Mentari yang sensitif...


__ADS_3

"Apa dia sudah pergi?" tanya Mentari saat mendengar langkah kaki Ujang yang akan masuk ke dalam kamar, Mentari langsung kembali duduk di ranjang dan berpura-pura seperti tidak habis melakukan apa-apa.


"Sudah," jawab Ujang sambil mengelap tangannya yang basah.


"Sebenarnya kasihan melihat dia begitu sungguh itu kejadian yang tidak diduga, padahal dulu Kak Marni sangat dipuja di kampung ini, dia sangat pandai,, dia juga pintar memasak, setiap acara pasti dia diundang untuk jadi kepala dapur,," ucap Mentari.


"Nafsu dunia memang bisa membuat orang seketika berubah," ucap Ujang.


"Iya nafsu ingin memiliki Abang," sindir Mentari sambil cemberut. Ujang langsung tersenyum lebar dengan memamerkan gigi putihnya itu,, sungguh menyenangkan sekali kalau melihat istri cantiknya itu cemburu,, Mentari pasti akan semakin cantik dan imut serta menggemaskan kalau sedang cemburu,, Ujang menatap Mentari dengan tatapan hangat dan penuh cinta, tatapan mata hangat itu selalu saja membuat Mentari tak berkutik. Jika dilihat dari dekat pria penakluk hatinya itu memanglah sangat menawan, entah sudah berapa ribu kali Mentari memuji suaminya itu di dalam hatinya.


"Iya mungkin," ucap Ujang tidak tertarik sama sekali,, karena dia nafsunya sama Mentari saja.


"Tari rasa, ada cinta yang belum selesai," sindir Mentari lagi.


Ujang ingin sekali tertawa lepas tapi berusaha ditahannya,, istrinya itu kalau sudah cemburu pasti akan mengeluarkan kata-kata lucu,, bagaimana mau ada rasa cinta yang belum selesai,, sedangkan sejak dulu Ujang tidak mencintai Marni,, Marni saja yang mengejar-ngejar dirinya,, padahal Ujang sudah katakan sebelumnya bahwa hanya Mentari lah satu-satunya wanita yang membuat dirinya jatuh cinta,, tapi begitu cemburu,, istrinya itu pasti langsung lupa semuanya.


"Kayak judul sinetron," ucap Ujang sambil menahan tawanya.


"Kalau dulu dia tidak meninggalkan Abang, pasti Abang akan menikah dengan dia kan?" ucap Mentari lagi.


"Bisa jadi,, kalau jodoh aku tidak bisa apa-apa,,, meskipun tidak cinta sama dia,," ucap Ujang dengan santainya sambil bercermin,, cambangnya mulai tumbuh dengan cepat,, saat ini sudah kasar jika disentuh.


Jawaban dari Ujang itu membuat Mentari marah.


"Bisa jadi? berarti kalau dia tidak meninggalkan Abang dulu bisa jadi Abang menikah dengannya?" ucap Mentari dengan suara yang meninggi,, Ujang belum peka sama sekali dengan suasana mencekam saat ini, dengan santainya Ujang mengambil pisau cukur dan menyapukan ke sisi wajahnya.


"Kalau kata Tuhan dia jodohku yah Abang bisa apa," ucap Ujang sambil fokus melihat wajahnya di depan cermin.


"Apa? jadi Abang berharap berjodoh dengan dia?" ucap Mentari lagi.


"Aku bilang kalau Tuhan menakdir kan aku berjodoh dengan dia,, aku tidak bisa apa-apa,, bukan berharap berjodoh dengan dia," jawab Ujang yang masih asik memperhatikan wajahnya di depan cermin karena dia sedang mengurus cambang nya, ini salah satu daya tarik yang membuat istrinya klepek-klepek jadi harus rapi.


Mentari sudah tidak tahan lagi dengan cemburunya,, dia lalu bangkit sambil mengepalkan tangan erat.


"Antarkan Tari ke rumah ibu," ucap Mentari.


Mendengar ucapan itu,, Ujang langsung melihat pantulan istrinya di cermin, lalu berbalik ke belakang dengan cepat saat melihat wajah istrinya itu begitu marah.


"Kamu kenapa, Tari?" tanya Ujang bingung dengan istrinya yang tiba-tiba sangat marah besar. Kini bukan cuma perutnya saja yang terlihat membesar tapi kemarahannya juga terlihat sangat besar.


"Antarkan Tari ke rumah Ibu," ucap Mentari lagi.


"Kemarin kita baru saja pergi ke sana, apa secepat itu kamu rindu Ibumu?" tanya Ujang.

__ADS_1


"Tari, benci sama Abang," ucap Mentari sambil menutup wajahnya,, Ujang tidak mengerti di mana kesalahannya sehingga istrinya itu sangat marah,, yang Ujang tau istrinya itu sedang cemburu tadi tapi dia pikir tidak akan separah ini.


"Ada apa? ayo bicaralah yang jelas, kamu kenapa istriku?" tanya Ujang lembut.


"Tidak kenapa-kenapa pokoknya antarkan Tari sekarang," ucap Mentari lagi.


Ujang tampak mengusap wajahnya, mencerna baik-baik setiap percakapan mereka beberapa menit yang lalu,, dan Ujang bisa simpulkan bahwa istrinya saat ini benar-benar cemburu berat bukan lagi cemburu ringan.


"Kita uraikan dulu di mana salahnya tadi, setelah itu aku akan mengantarkanmu ke rumah Ibu," ucap Ujang sambil meraih bahu Mentari, membawa istrinya itu pelan-pelan untuk duduk di sisi ranjang.


"Kamu cemburu?" tanya Ujang.


"Tidak," ucap Mentari cepat yang terus mengelak.


"Kamu kan tadi bertanya,, aku menjawabnya,, lalu di mana salahnya?" tanya Ujang.


Mentari hanya diam.


"Kamu kan tadi bertanya jika saja Marni tidak meninggalkanku lebih dulu apakah aku bisa jadi menikah dengan dia? jawabanku bisa jadi kalau kami berjodoh, aku tidak bisa apa-apa meskipun tidak mencintai dia kalau Tuhan sudah menakdirkan aku berjodoh dengan dia maka tidak ada yang bisa menghalangi. Logikanya saja yah istriku,, aku berpacaran dengan dia itu waktu SMA,, yang bahkan kamu mungkin saat itu masih berumur tiga atau empat tahun,, apa mungkin aku menikahi kamu waktu itu, kamu cebok sendiri saja pasti belum bisa," ucap Ujang.


Mentari masih membuang muka,, Mentari masih belum bisa menerima kenyataan dan penjelasan masuk akal dari suaminya.


"Yang kita bahas ini adalah dulu, dulu sekalinya saat aku baru lulus SMA,, saat Marni meninggalkan aku kuliah ke kota,, saat kamu masih berumur tiga atau empat tahun waktu itu,, kamu paham istriku?" tanya Ujang lembut agar istrinya itu tidak marah-marah lagi.


Mentari masih saja kesal dan diam, tapi ekspresi wajahnya sudah mulai melunak.


"Tari, tidak malu," ucap Mentari.


"Masih ingat? waktu kamu bawa aku ke acara pesta temanmu yang kaya itu? saat aku salah kostum dan menjadi perhatian semua teman-temanmu, aku tahu kamu sangat malu waktu itu,, sangat menyesal membawa aku karena aku tidak setara dengan kalian anak zaman now aku hanyalah anak zaman dulu, tidak setampan dan semodis mantanmu juga, siapa lagi namanya? oh aku ingat, Samuel," ucap Ujang.


Mentari tidak sanggup lagi berkata-kata, suaminya itu tidak biasanya mengungkit yang sudah-sudah,, Mentari pikir Ujang sudah melupakan semua itu.


"Ah,, Tari terlalu banyak perjuangan sampai kita sejauh ini, aku masih ingat betul saat kamu memalingkan wajahmu saat akad nikah,, atau tidak pernah tersenyum saat kita bersanding di pelaminan waktu itu, atau menangis semalaman di malam pengantin kita,, seolah-olah akulah yang menganiaya dirimu,, padahal kan kamu yang memaksaku setelah aku menolak berulang kali. Kamu tentu sangat tahu pasti itu,, Tari. Bagaimana rasanya harga dirimu dipermainkan demi sebuah ambisi,," ucap Ujang yang memang benar adanya waktu itu Mentari menjadikan Ujang pelarian dari patah hati nya saja.


"Abang," potong Mentari,, baru kali ini suaminya itu mau membahas masa lalu, mengatakan semua kalimat yang tidak mengenakkan hatinya selama ini dengan panjang lebar,, Mentari tau betul apa yang dilakukannya dulu sangat menyakiti hati Ujang.


"Kenapa Abang bahas itu?" ucap Mentari.


"Bagaimana perasaan mu sekarang Tari? saat orang yang kamu cintai saat ini, kamu perlakuan seperti itu?" ucap Ujang.


"Abang kenapa malah ke sana arah pembicaraan kita?" ucap Mentari.


"Supaya topik kita sama-sama nyambung,, sama-sama membahas masa lalu,, Tari," ucap Ujang.

__ADS_1


"Itu kan sudah berlalu tidak perlu lagi dibahas,, buktinya saat ini kita sudah bahagia dan akan memiliki tiga anak," ucap Mentari.


"Nah sama dengan jawabanmu,, aku juga tidak suka kamu membahas Marni lagi,, dia itu hanya masa lalu saja,, kita sudah bahagia saat ini, jika sejak dari dulu aku tidak suka sama dia, aku tidak terpesona kepada dia, apalagi dengan keadaan seperti ini, kamu paham kan?" ucap Ujang.


Mentari hanya diam saja karena dia terlalu gengsi untuk menjawab.


"Jadi jangan cemburu, karena itu tidak ada gunanya sama sekali, hanya kamu satu-satunya wanita yang buat aku jatuh cinta dan aku sangat mencintai kamu,, aku tidak berbohong," ucap Ujang.


"Tari tidak cemburu," ucap Mentari cepat.


"Iya, iya istriku tidak pernah cemburu," ucap Ujang sambil tersenyum.


"Tari hanya tidak suka saja kalau Abang dekat-dekat dengan Marni," ucap Mentari.


"Itu namanya cemburu," ucap Ujang sambil menahan senyumnya karena istrinya itu sangat sensitif.


"Tidak!!!" ucap Mentari lagi.


"Ya sudah kalau tidak cemburu,," ucap Ujang yang sangat gemas luar biasa dengan istrinya itu yang masih tidak mengakui kecemburuannya tapi ya sudahlah dari dulu dia juga tau istrinya suka cemburu hanya gengsi untuk mengakui,, lalu Ujang pun bangkit, Ujang segera mengganti pakaiannya,, daripada meladeni istrinya yang sedang cemburu yang sudah pasti dia akan selalu salah, lebih baik Ujang mengangsur mengecat meja pesanan.


"Abang mau kemana?" tanya Mentari..


"Mau kerja," jawab Ujang.


"Ini kan hari minggu," ucap Mentari.


"Iya Abang sengaja kerja,, karena kepala mu masih panas sekarang,, jadi lebih baik aku mengecat meja pesanan," ucap Ujang.


"Oh jadi meja lebih penting daripada Tari?" ucap Mentari yang suaranya sudah mulai serak, detik berikutnya Mentari menangis hebat.


Ujang langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal, jika ada makhluk yang paling rumit dan tak bisa dimengerti, maka makhluk itu adalah perempuan, sejak hamil anak ketiga mereka,, Mentari benar-benar sangat sensitif luar biasa.


"Iya aku tahu Marni yang lebih penting,, Marni segalanya, saat kita belum sarapan Abang malah menyuruhnya masuk dan sarapan sampai dia kenyang, setelah itu Abang lebih memilih bekerja di hari Minggu daripada bicara dengan Tari,, Abang sangat jahatttttt," ucap Mentari dengan tangis yang semakin hebat, tangisannya itu langsung membangunkan dua anak mereka yang lagi tidur dan mereka pun ikut menangis juga.


"Astagfirullah,, kenapa jadi begini Tari? istriku itu kamu bukan Marni, jika tadi aku memberinya makan,, itu murni pertolongan terhadap sesama manusia saja,, cuma itu tidak lebih,, Tari istriku," ucap Ujang yang benar-benar bingung bagaimana harus menjelaskannya lagi.


Mentari mengabaikan Ujang sampai-sampai Ujang pusing sendiri, mana yang harus dia diamkan terlebih dahulu Aqeel,, Aqeela atau Mentari? melihat Mentari yang menangis membuat tangis Aqeel semakin kuat juga, mau tidak mau Ujang menggendong anak laki-lakinya itu, menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut, sampai tangisan anaknya itu sedikit reda.


Ujang lalu membungkuk di hadapan Mentari.


"Istriku yang cantik jelita tidak ada duanya di dunia ini, Abang sangat sayang padamu,, Abang sangat mencintai kamu, cuma Mentari satu-satunya yang membuat Abang jatuh cinta dan Abang cintai seumur hidup Abang. Maafkan Abang jika perkataan Abang ada yang menyakiti hatimu,, Abang yang salah,, Abang tidak menjadi suami yang baik selama ini," ucap Ujang.


"Abang jangan bilang begitu," ucap Mentari dengan suara yang sudah melunak, dia langsung memeluk Ujang masih dengan tangisnya.

__ADS_1


"Abang suami yang sempurna,, Tari saja yang banyak menuntut," ucap Mentari lagi.


"Sssttttt, sudahlah! tidak ada yang sempurna kita masih sama-sama belajar,, sekarang ayo kita sarapan,, Abang akan menyuapi kamu," ucap Ujang sambil tersenyum menatap istrinya dengan penuh cinta, Mentari menjadi tersipu malu, Mentari tersenyum dan Ujang menghapus air mata istrinya itu dengan lembut.


__ADS_2