
Orang yang telah membuat Ujang celaka itu sudah pergi, sedangkan Ujang masih terkapar di tengah jalan dengan kondisi yang mengenaskan,, pria itu terlihat sangat sekarat. Pingsan, lalu sadar kembali, entah berapa lama dia kehilangan kesadarannya. Ujang tidak meneteskan air mata, matanya menatap ke atas langit yang kelam, di sana dia seolah-olah melihat ayah dan ibunya yang tengah melihat dirinya yang sangat malang. Ujang merasakan amat kesakitan di seluruh tubuhnya, apalagi bagian kakinya, dia yakin tulangnya sudah patah. Siapa yang telah tega membuatnya seperti ini, dia bukanlah orang yang jahat, dia hanya pria penyendiri yang tidak suka di usik dan tidak pernah mengusik. Lalu dengan kejamnya mereka melakukan ini padanya, dia tidak akan memaafkan mereka, Ujang akan membalas dengan cara yang setimpal.
Ujang terbayang wajah Mentari dan anak-anaknya yang masih kecil, andaikan malam ini dia dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, bagaimana nasib mereka semuanya? siapa yang akan menafkahi anaknya yang banyak? bagaimana mereka nantinya jika tidak lagi memiliki ayah? tumbuh tanpa Ayah pasti sangat menyakitkan. Lama kelamaan kepalanya terasa amat sakit dan mulai kehilangan kesadarannya, dia pasrah jika memang umurnya hanya sampai di sini.
Tidak lama kemudian semua mobil Pajero Sport berwarna hitam berhenti. Diikuti oleh suara ambulans di belakang, beberapa petugas bersiap-siap membawa Ujang ke atas tandu, wanita pemilik mobil tersenyum puas,, wajah cantik tapi sifat iblis itu membuat dia tidak memiliki belas kasih. Ujang yang malang sama sekali tidak menyadari apa yang telah terjadi pada dirinya, tubuh perkasa itu di angkat karena sudah tidak berdaya, wajahnya babak belur dan dibeberapa bagian tubuh penuh dengan darah.
#################
Jam dua malam, Mentari sama sekali belum tidur karena dia merasakan pemikirannya begitu kalut, bagaimana bisa Ujang sampai saat ini belum datang ke rumah sakit? dan kata ibunya Ujang belum pulang sama sekali ke rumah padahal anak mereka sedang sakit. Tidak terasa air mata Mentari meleleh begitu saja,, rasanya begitu menyesakkan ketika dia butuh sandaran suaminya sama sekali tidak peduli, dia mengusap air matanya. Begitu mudah seseorang berubah, setelah Ujang kehilangan semua hartanya, pria itu makin sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak perduli dengan anak istrinya, begitu pikir Mentari.
Azzam sudah lelah dalam tidurnya,, Mentari ingin mengubah suasana hatinya sebentar, mungkin dengan membeli makanan ringan di kantin rumah sakit yang buka dua puluh empat jam,, dia memutuskan untuk keluar sebentar. Saat wanita itu menyusuri koridor rumah sakit, tiba-tiba saja dia bertemu dengan seseorang yang sangat dibenci oleh Ujang. Angelica berada di sana, diikuti oleh beberapa orang yang mungkin adalah anak buahnya atau mungkin pengawalnya sendiri.
__ADS_1
"Mbak Angelica?" kata Mentari.
"Sedang apa disini?" Mentari tidak bisa menyembunyikan wajah penuh benci pada wanita itu, terbayang akan semua yang dia lakukan pada keluarganya. Sayangnya wanita itu amat berkuasa dan tidak sanggup dilawan oleh orang biasa seperti mereka.
"Kamu sendiri sedang apa di sini?" tanya Angelica dengan senyum sinis.
"Anak saya sedang dirawat," jawab Mentari.
"Saya baru menyelamatkan suami kamu yang menjadi korban perampokan dan tabrak lari, untung saja saya melintas dan menelepon ambulans segera," ucap Angelica lagi.
Mentari merasakan dunianya seakan runtuh mendengar kabar itu, karena dia merasa ini sangat tidak masuk akal. Mungkin dia salah dengar.
__ADS_1
"Siapa yang jadi korban tabrak lari? siapa yang di begal? katakan dengan jelas! supaya saya bisa mendengarnya!" teriak Mentari,, Mentari memegang bahu Angelica dan mengguncang wanita itu, sampai dua pengawalnya hendak bergerak tapi dihentikan oleh Angelica. Tanpa diduga,, Angelica malah mendorong Mentari hingga Mentari tersentak mundur dua langkah.
"Aku telah menyelamatkan Ujang yang menjadi korban tabrak lari serta korban pembegalan," ucap Angelica.
"Dimana suamiku sekarang? bagaimana keadaannya, dimana suamiku sekarang?" Mentari menjerit histeris, bahkan suaranya menggema di lorong rumah sakit yang sepi, karena ini sudah menunjukkan waktu dini hari.
"Suamimu sedang berada di ICU, tidak boleh ditemui," ucap Angelica.
"Aku istrinya, kenapa aku tidak boleh menemuinya? apa kamu yang mencelakainya, dasar wanita iblis, aku tahu semua kamu yang menjadi dalangnya, kamu wanita jahat!!! kejam!!!" Mentari memaki-maki Angelica sambil menangis.
Mendengar itu Angelica mendengus kemudian tanpa pamit sedikitpun, dia memberikan kode kepada pengawalnya untuk meninggalkan wanita itu. Sedangkan Mentari terduduk dan bersimpuh di lantai, dia telah berprasangka buruk pada suaminya sepanjang hari, dan sekarang Ujang malah berada di ruang ICU, dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
__ADS_1