Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Kepercayaan diri,,,


__ADS_3

Aqeela sudah tenang dan bermain sendiri di dalam box nya, sedangkan Aqeel masih menyusu,, dia menghisap sumber kehidupan itu seperti tidak ada hari esok saja,, bahkan setelah di susukan kanan dan kiri dia masih belum kenyang juga.


Ujang mengamati wajah Mentari yang masih duduk termenung sendiri,, walaupun sudah lebih tenang sedikit tapi kondisi Mentari masih belum begitu normal, wajahnya murung tanpa alasan yang jelas.


Ujang menyadari setelah mertuanya kembali ke rumah karena masa empat puluh hari telah selesai,, Mentari menampakkan gelagat yang tidak biasa, Mentari sering bersedih tanpa sebab, bahkan tampak kebingungan saat bayi mereka menangis serentak.


Ini baru pertama kali Ujang meninggalkan mereka di rumah,, pekerjaan ada yang terbengkalai karena selama ini Ujang fokus pada bayi kembar mereka.


Ujang pikir semuanya akan baik-baik saja, tapi ternyata mendapati pemandangan yang membuat hatinya sedih, Aqeel dan Aqeela tergeletak begitu saja di lantai.


"Tari," ucap Ujang dengan sangat lembut, Ujang menyentuh bahu Mentari, sehingga istrinya itu menengadah padanya, tatapan mata Mentari kosong, tapi setidaknya Mentari telah merespon dengan gerakan tubuhnya.


"Ada apa? ceritakan lah,, aku yakin ada yang mengganggu pikiranmu,, apa itu?" tanya Ujang dengan sangat lembut.


Mata Mentari mulai berkaca-kaca lagi, dia kemudian menunduk melihat Aqeel yang mulai memejamkan matanya, sesekali bayi itu sesenggukan.


"Tari tidak bisa menjadi Ibu yang baik, bahkan Tari tidak mampu mendiamkan Aqeel yang menangis,, dia tidak mau menyusu, bahkan semakin di ayun malah semakin menangis, Tari tidak tau lagi mesti bagaimana,, lalu bagaimana Tari akan membesarkan dia nanti, mengurusnya dan mendidiknya, Tari benar-benar Ibu yang gagal. Tari tidak bisa apa-apa, kenapa Ibu lain begitu santai mengurus anak mereka, kenapa aku tidak bisa seperti mereka?" ucap Mentari sambil menangis,, kalimat menyesali diri itu keluar dari mulutnya begitu saja.


Ujang mengambil Aqeel dan memasukkannya ke dalam ayunan, Ujang lalu merengkuh bahu istrinya itu, mengecup kepala dan mengusap punggung istrinya.


Baginya,,, Mentari sudah sangat luar biasa, saat semua orang menganjurkan untuk operasi tapi dirinya dengan gigih ingin melahirkan anaknya secara normal, saat orang mengeluh karena kerepotan menyusui anaknya lalu memberi susu formula,, Mentari gigih menyusui dengan full ASI, walaupun dia harus begadang setiap malam bahkan tidak sempat berdandan seperti biasanya.


Apa yang dikatakan Mentari hanya bentuk kecemasan yang berlebihan, Ujang harus membangun kepercayaan diri Mentari kembali.


"Itu hanya perasaan mu saja, kamu Ibu yang sangat luar biasa, bahkan mengorbankan waktu tidur mu dan waktu istirahat mu untuk menyusui anak kita, tidak ada lagi yang kurang dari peran mu sebagai seorang Ibu, kita harus bersyukur diberikan amanah, tidak hanya satu tapi dua sekaligus, banyak orang diluar sana yang tidak memiliki kesempatan seperti kita, jadi kita hanya perlu bersyukur, Tari, repot mengurus bayi kembar itu sudah biasa, jadi jangan bersedih lagi," ucap Ujang.


Mentari menyimak semua yang dikatakan oleh suaminya, putus asa,, merasa tidak mampu,, merasa tidak berguna, itulah yang dirasakan Mentari saat ini.

__ADS_1


"Begini saja, gimana kalau untuk tiga hari ke depan kita nginap di rumah Ibu? agar kamu ada teman, dan Ibu juga bisa membantu mu menjaga si kembar," ucap Ujang.


Sebenarnya Ibu Mentari telah menawarkan sebelumnya, sampai bayi mereka agak besar, Mentari dan Ujang tinggal di rumah mereka saja. Jaraknya tidak begitu jauh, Ujang bisa bolak-balik jika harus bekerja ke gudang perabot, akan tetapi Mentari bersikeras dan ingin mandiri,, Mentari tidak ingin merepotkan Ibunya.


Besok paginya mereka langsung ke rumah Ibu Mentari. Kedatangan Aqeel dan Aqeela membuat orang tua Mentari bahagia,, bahkan Ayah dan Ibu Mentari langsung mengambil cucu mereka satu-satu.


"Maafkan nenek yah, nenek tidak mengunjungi kalian selama tiga hari, karena om Dika lagi ujian," ucap Ibu Mentari lalu mengecup pipi Aqeela, sedangkan Aqeel mulai merengek-rengek kecil.


##########


Senyum cerah merekah di bibir Mentari,, rasanya sudah lama tidak jalan berdua saja dengan suaminya, setelah mereka memandikan bayi kembar mereka,, Ibu Mentari menyuruh Ujang untuk membawa jalan-jalan sore istrinya, tentu saja Mentari merasa sangat bahagia, dia juga butuh waktu berkualitas dengan suaminya.


Ibu Mentari wanita yang sangat pandai menjaga cucu-cucunya, entah mengapa Aqeel yang biasanya sangat rewel itu sungguh tenang jika dijaga oleh neneknya, atau barangkali Mentari yang tidak bisa mengasuh anaknya,, Mentari semakin menyesali dirinya.


Mereka singgah di salah satu kedai di pinggir jalan, tempat ini menjadi langganan Ujang, tempatnya kecil terbuat dari papan namun sangat ramai di sore hari.


"Aromanya enak" ucap Mentari apa adanya, sebenarnya Mentari tidak begitu menyukai Miso tahu,, tapi karena Ujang menjamin rasanya enak,, membuat Mentari jadi sangat penasaran.


Ujang juga sangat senang melihat wajah berbinar istrinya, dia butuh udara luar karena terkurung terus di dalam rumah semenjak habis melahirkan.


Miso tahu akhirnya datang,, mengepulkan asap dan aroma yang membuat perut semakin keroncongan, dalam bayangan Mentari tadi, Miso tahu itu sama saja Miso tahu biasa, tapi tahu disini sungguh berbeda, entah bagaimana cara menggorengnya,, tahu itu tidak dipotong, dia dibiarkan utuh dengan kondisi merekah sempurna. Ujang lalu mengambilkan Mentari sendok dan garpu, dan Mentari menerimanya dengan antusias.


Mentari lalu mencicipi kuahnya, gurih, enak, rasanya Ujang tidak berlebihan jika memuji makanan itu.


"Enak, Tari?" tanya Ujang.


Mentari mengangguk.

__ADS_1


"Iya Abang," ucap Mentari sambil tersenyum.


Mereka makan sambil mengobrol kecil, setelah dari kedai Miso, Ujang lalu membawa Mentari jalan-jalan keliling menggunakan motor,, sederhana tapi itu membuat Mentari bahagia dan terlihat lebih bersemangat.


"Mana Aqeel, Bu?" tanya Mentari langsung begitu sampai di rumah,, bahkan Mentari belum selesai menanggalkan sendalnya.


"Itu," jawab Ibu Mentari. Dagunya menunjuk ke arah kamar Dika.


Mentari dan Ujang langsung masuk ke sana, Aqeel dan Aqeela tengah bermain sendiri, tanpa merengek,, tanpa menangis.


"Ya ampun kenapa dia tidak rewel?" tanya Mentari seakan tidak percaya, Ujang pun juga tidak habis pikir, Aqeel dan Aqeela hanya memakai celana pendek saja dan juga singlet.


"Tari, bayi itu menangis pasti ada alasannya, mengantuk, lapar, haus, sakit perut, kepanasan, dan masih banyak lagi, sini Ibu perlihatkan," ucap Ibu Mentari lalu membuka celana pendek Aqeel.


"Iritasi, kamu kurang rajin mengganti popok Aqeel," ucap Ibu Mentari.


Memang beberapa hari ini Mentari memakaikan Aqeel dan Aqeela pempers, agar dia tidak terlalu repot. Mentari langsung terdiam,, wajahnya menjadi sendu kembali.


"Sini," ucap Ibu Mentari,, begitu melihat wajah sendu Mentari, Mentari pun menurut saat Ibunya menarik tangannya untuk duduk.


"Anak menangis itu biasa, jika kamu yang menangis itu baru luar biasa," ucap Ibu Mentari.


"Maksud Ibu?" tanya Mentari.


"Menangis itu bukan berarti dia bersedih, kadang dia belum mengantuk, kamu memaksanya untuk tidur, atau dia ingin digendong kamu malah mengayunkannya,, ilmu menjadi orang tua itu perlu pengalaman dan juga kepekaan, jadi jangan cepat panik apalagi saat anak menangis, tangis itu sebagai ganti bicara pada bayi, Ibu harap kamu jangan lagi merasa tidak berguna, namanya juga baru punya anak tentu kamu masih perlu banyak belajar, melahirkan dan mengurus anak itu adalah fitrahnya perempuan,, kamu hanya perlu bersyukur dan juga bersabar, paham kan Tari?" ucap Ibu Mentari.


Mentari pun mengangguk,, Ujang merasa sedikit lega, Ujang membutuhkan Mama mertuanya untuk membangkitkan kepercayaan diri istrinya lagi.

__ADS_1


__ADS_2