Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Sangat frustasi...


__ADS_3

Mentari lalu memberi jarak meskipun tidak rela,, dengan Mentari menunjukkan rasa nyaman di pelukan Ujang itu bukanlah suatu ide yang bagus,, Mentari menyelipkan rambut ditelinga nya lalu menghapus air matanya,, Mentari sangat benci dirinya yang tidak terkendali seperti tadi,, Mentari juga sangat benci disaat dia sibuk memikirkan Ujang tapi orang yang dipikirkan malah terlihat biasa saja seperti tanpa beban.


"Tari mau pergi cuci tangan dulu," ucap Mentari lalu berdiri,, dia merasa sangat gugup tak tau kenapa.


"Tari,," ucap Ujang.


Mentari langsung menghentikan langkahnya saat Ujang memegang lengannya seperti listrik yang menggetarkan diri Mentari,, Mentari tidak punya pilihan lain selain berbalik melihat Ujang.


"Duduklah,, banyak yang harus kita bicarakan Tari," ucap Ujang.


Mentari menurut,, Mentari segera duduk menghadap pada Ujang di kursi rotan yang sudah dibuat oleh pria itu.


"Aku tidak akan mengikat mu Tari,, kamu bebas melakukan apapun yang kamu inginkan,, apapun yang kamu suka,, aku tau betul terkurung disini dengan tempat yang terpencil seperti ini dan kamu jauh dari teman-teman mu pasti sangat sulit untuk kamu,," ucap Ujang.


"Jadi maksud Abang,, Tari boleh melakukan apapun yang Tari sukai?" tanya Mentari dengan ekspresi wajah berbinar.


"Iya,, kamu tidak harus mengikat dirimu,, jika kamu merasa lelah dengan pekerjaan rumah tangga,, maka kita bisa mencari orang untuk membantu pekerjaan mu," ucap Ujang yang tidak ingin Mentari stress dengan pekerjaan rumah tangga karena Mentari masih sangat muda.


"Berarti Tari boleh bekerja?" tanya Mentari lagi.


Ujang tampak berpikir sejenak,, lalu menganggukkan kepalanya,, seketika senyum yang sangat cerah terbit di wajah Mentari. Memang Mentari mulai jenuh dengan dirinya yang terus-menerus berada di dalam rumah,, yang Mentari lihat setiap hari hanyalah Ujang dan Azis saja,, meskipun ada rumah penduduk yang lain tapi sangat jauh dari tempatnya tinggal.


"Terima kasih Abang," ucap Mentari sambil terus tersenyum.


"Iya sama-sama Tari," ucap Ujang.


Mentari lalu berlalu dengan langkah kaki lincah dan juga riang,, Mentari berjalan menuju dapur.


Ujang segera menuruni tangga rumah panggung,, terlihat Azis yang datang kembali karena hujan telah berhenti,,, Azis saat ini tengah mengaduk semen yang akan digunakan untuk membuat kamar mandi,, Azis merupakan pria serba bisa,, Azis mahir menggunakan pahat untuk mengukir perabot meksipun Azis diberikan model yang rumit,, Azis juga ahli dalam menciptakan model perabot terbaru,, itulah mengapa Ujang senang Azis bekerja padanya.


Batu bata sudah tersusun setinggi pinggang Ujang saat ini.


"Aku benar-benar salut sama kamu Jang,," ucap Azis begitu Ujang berada di dekatnya.


"Salut kenapa?" tanya Ujang sambil meletakkan batu bata di dekat Azis.


"Apapun permintaan Tari kamu selalu turuti,, aku sekarang tidak pernah lagi mencium bau ikan asin dari dapur mu," ucap Azis sambil terkekeh,, Ujang hanya tersenyum sekilas.


"Mentari, tidak suka Ikan asing Bang," ucap Ujang.


"Wah,, wah,, sejak kapan kamu perduli,, seseorang suka atau tidak terhadap apa yang kamu sukai,," ucap Azis lagi.

__ADS_1


"Mentari itu istriku Bang,, bukannya Abang sendiri yang mengajari aku bagaimana menjadi suami yang baik,," ucap Ujang lagi.


"Ah iya juga aku lupa," ucap Azis.


"Bang,, kira-kira berapa lama baru selesai?" tanya Ujang.


"Lihat dari cuaca aja Jang,, karena kalau musim hujan seperti ini pasti agak lambat sedikit selesainya,, Jang aku bahkan sangat kagum padamu,, kamu memilih closet duduk,, hahaha,, padahal Jang sebelumnya kompor gas saja kamu malas untuk membelinya karena lebih senang dengan tungku andalan mu,, semenjak Mentari ada semuanya berubah,," goda Azis lagi.


Ujang hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar godaan Azis padanya.


"Jang,, apa kamu sudah berhasil mencetak gol?" tanya Azis sambil menaik turunkan alisnya.


"Berhasil cetak gol? aku sedang tidak main bola Bang," ucap Ujang.


"Apa harus aku katakan dengan jelas Jang?" ucap Azis lagi.


"Katakan saja Bang," ucap Ujang sambil meletakkan batu bata di atas semen.


"Hm aku malu menyebut itu,, tapi sepertinya belum gol, iya kan?" ucap Azis lagi.


Ujang pun mengerti dengan maksud Azis.


"Anggap saja iya Bang," ucap Ujang lagi.


"Abang kan tentu bisa mengira,, kan Abang orang yang sudah berpengalaman tentang itu,," ucap Ujang lagi.


"Aku rasa belum Jang,, karena melihat tingkah Mentari yang masih memiliki jarak dengan kamu," ucap Azis lagi.


"Ya begitulah Bang," ucap Ujang.


"Apa kamu bisa tahan Jang?" bisik Azis pada Ujang sambil terkekeh geli.


"Tahan apa Bang?" tanya Ujang lagi.


"Yasallam,, kamu bisa tahan dengan kulit putih kinclong kembang desa yang sinar terangnya mengalahkan lampu seratus watt,," ucap Azis.


Ujang langsung ikut tertawa kecil begitu mendengar perumpamaan Azis.


"Jang,, itu sama saja kamu menolak makanan disaat kamu mau mati kelaparan,," ucap Azis lagi.


"Abang ini terlalu berlebihan," ucap Ujang lalu segera meletakkan kembali batu bata di atas semen.

__ADS_1


"Abang kan sangat tau pasti,, Mentari itu orangnya gimana,,, aku juga orangnya gimana,, kami berdua itu masih seperti orang asing Bang,, aku tidak mau dia menjadi takut padaku jika aku langsung meminta hak ku sebagai suami padanya,," ucap Ujang.


"Jang,, kamu rayu saja dia supaya dia tidak terpaksa,, dia akan datang secara suka rela memberikan hak mu,," ucap Azis.


"Aku bukan orang yang pandai merayu Bang,, aku ingin Tari bisa menerima keadaan dulu,, dia masih sangat muda,, usia kami terpaut sangat jauh Bang,, jadi aku harus banyak mengalah padanya,," ucap Ujang.


"Kamu benar Jang,, mungkin disaat dia baru lahir kamu sudah setua ini," ucap Azis.


"Itu berlebihan juga Bang," ucap Ujang tidak terima.


"Hahaha," Azis tampak tertawa terbahak-bahak.


"Abang airnya habis," teriak Mentari,, mendengar suara teriakan Mentari,, Ujang segera berjalan menuju kamar mandi.


"Aku boleh masuk Tari?" tanya Ujang terlebih dahulu.


"Iya,, masuk aja Bang," ucap Mentari.


Ujang pun segera masuk ke dalam kamar mandi dengan menyingkap tirai sebagai pengganti pintu,, Mentari saat ini tengah mencuci pakaian,, Ujang lalu melihat air di penampungan sudah habis,, mau tidak mau air harus diangkat dengan menggunakan katrol karena sumur itu cukup dalam.


"Abang aku takut lihat ke bawah,, kayak mau jatuh,," ucap Mentari dengan sejujurnya.


"Nanti kalau air habis lagi panggil saja aku,, kamu sabar saja kalau cuaca bagus kamar mandi tidak lama lagi akan selesai,, nanti kita pakai mesin air saja tidak pakai katrol lagi," ucap Ujang lalu segera melempar ember hitam yang telah diikat pakai tali.


Ujang begitu cekatan menimba air, sesekali mengangkat tangannya memamerkan lengannya yang sangat berotot,, Mentari sempat memuji di dalam hatinya,, pasti otot itu keras jika disentuh.


"Tari,, masih banyak cuciannya?" tanya Ujang.


"Tinggal ini Bang," ucap Mentari sambil menunjuk baskom yang masih penuh,, rata-rata isi baskom itu celana jins Ujang yang berat,, tidak jarang Mentari menemukan noda cat pada celana Ujang yang tidak bisa dicucinya.


"Kita bagi kerja saja Tari," ucap Ujang sambil melepaskan baju kaosnya,, membuat mata Mentari terbelalak,, tapi Ujang tampak tidak perduli sama sekali.


"Biar aku yang mengucek,, celana-celana jins ini berat,, kamu membilas nya saja," ucap Ujang sambil duduk dan mengambil salah satu benda yang berada di dalam baskom.


Mentari yang belum selesai dengan keterkejutan nya malah semakin terkejut begitu melihat tangan Ujang mengambil benda mini berenda berwarna pink dari bawah sana secara tidak sengaja.


"Abang jangan sentuh itu!!!" ucap Mentari sambil merampas paksa benda itu dari tangan Ujang,, lalu segera menyembunyikan benda itu di belakang tubuhnya.


Ujang pun tersadar lalu dia segera pergi tanpa permisi,, Ujang juga ikut kaget atas apa yang dipegangnya barusan.


"Kamu saja yang mencuci Tari, aku ada keperluan mendadak," ucap Ujang lalu segera pergi jauh dari kamar mandi.

__ADS_1


Mentari sempat melihat wajah Ujang yang memerah seperti wajahnya saat ini yang ikut memerah juga, Mentari menatap benda berenda itu dengan sangat frustasi.


__ADS_2