Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Melakukan hal yang iya-iya,..


__ADS_3

Setelah Mentari turun dari mobil Travel,, Mentari langsung berlari masuk ke dalam pekarangan rumah,, Azis yang melihat Mentari sampai terheran-heran sendiri,, sedangkan Ujang yang tengah berada di gudang benar-benar merasa kaget begitu Mentari tiba-tiba datang dan langsung memeluk dirinya,, aksi Mentari itu tentu tidak luput dari pandangan mata Azis,, tetapi sebagai orang tua yang sudah lebih dulu merasakan indahnya pengantin baru,, Azis hanya tersenyum maklum saja.


Ujang membalas pelukan Mentari itu sambil memberikan waktu pada Mentari untuk bisa bercerita,, entah apa yang terjadi,, yang jelasnya Ujang merasa istrinya itu semakin manja dan tidak malu lagi menunjukkan kemesraan pada dirinya.


"Kita ke rumah dulu yah," ucap Ujang sambil menuntun Mentari naik ke tangga rumah panggung,, Ujang tidak ingin aksi mesra-mesraan itu menjadi tontonan gratis pada Azis.


"Ada apa? apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Ujang sambil meraih dagu Mentari agar menatap dirinya,, Ujang menatap wajah cantik yang tengah bersemu merah itu.


Mentari langsung menggeleng,, bisakah dia mengatakan bahwa dirinya sangat merindukan laki-laki yang sedang berada di hadapannya saat ini? dia sangat tidak sabar pulang ke rumah,, tapi mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu terdengar sungguh memalukan,, dia rindu berat meskipun baru berpisah dalam hitungan jam saja dengan suaminya itu.


"Tidak ada apa-apa," ucap Mentari.


"Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Ujang lagi.


"Em Samuel...," ucap Mentari.


Ekspresi wajah Ujang berubah menegang,,, Ujang terlihat sangat tidak suka.


"Apa yang dilakukan anak itu? apa dia mencelakai kamu? dia berbuat kurang ajar padamu?" tanya Ujang.


Mentari menggelengkan kepalanya,, lalu Mentari mendekati suaminya dan bersandar manja.


"Tari,, sangat tidak suka dia menjelek-jelekkan Abang," ucap Mentari.


Ujang langsung tersenyum tipis begitu mendengar ucapan istrinya, Ujang membelai lembut rambut Mentari,, ah sungguh rasanya seperti remaja kembali,, Mentari sangat bisa menjungkir balikkan emosinya.


"Tari, tidak semua ucapan buruk harus kamu pikirkan,, karena ucapan buruk itu lahir dari orang yang buruk juga,, masuk telinga kanan keluar di telinga kiri tanpa singgah di otak, bagaimana bisa kamu bertemu dengan dia?" tanya Ujang.


"Kebetulan hari ini banyak alumni yang melegalisir ijazah ke kampus,, karena di berbagai daerah sedang membuka lowongan CPNS besar-besaran,, mungkin juga Samuel salah satunya," ucap Mentari.


Wajah Ujang yang awalnya tengah berseri mendadak berubah menjadi sendu lagi,, seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya saat ini,, Ujang mengira karena Mentari tidak lagi mengungkit masalah CPNS,, Ujang pikir istrinya itu sudah lupa.


"Tari,, kamu sudah yakin mau ikut CPNS?" tanya Ujang,, Ujang menatap Mentari dengan sangat dalam,, Mentari melihat ada keraguan dalam tatapan itu.


"Abang,, Tari hanya mencoba saja siapa tau saja Tari lulus," ucap Mentari.


Ujang langsung mengalihkan pandangannya.


"Dan saat kamu lulus kita akan berpisah,, Tari. Aku tidak mungkin ikut dengan kamu,, dan aku juga tidak mungkin melarang keinginan kamu," ucap Ujang.


Mentari mengerti dengan kegelisahan hati Ujang saat ini,, Mentari memeluk pria itu,, nyaman dan sangat nyaman.


"Nanti kita pikirkan solusinya yah,, kan masih beberapa minggu lagi,, gimana luka Abang sekarang?" tanya Mentari.


"Sudah berangsur membaik,, tangan kanan sudah bisa dipakai beraktivitas walaupun masih harus pelan-pelan," ucap Ujang.

__ADS_1


Mentari langsung tersenyum penuh arti dengan pipi merona,, menimbulkan kecurigaan pada Ujang.


"Kenapa,, Tari?" tanya Ujang.


"Tidak apa-apa,, Abang," ucap Mentari cepat sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?" tanya Ujang.


"Oh tidak kok Bang," ucap Mentari cepat.


Padahal Mentari tadi sempat berpikir jika Ujang sudah pulih berarti Ujang bisa memberikan nafkah batin untuk dirinya.


"Tari,,, begini kah rasanya berpacaran?" tanya Ujang.


Mentari langsung menganggukkan kepalanya.


"Jadi waktu dengan Samuel dulu,,, kamu juga merasakan seperti ini?" ucap Ujang yang terdengar jelas ada nada tidak ikhlas dari pertanyaan itu.


"Iya,, hanya itu dulu Bang,, tapi Tari tidak pernah menempel pada Samuel seperti ini," ucap Mentari sambil memejamkan matanya dan menempel ke dada Ujang,, detak jantung Ujang terdengar tidak teratur,, Mentari langsung menengadah.


"Dan kami juga tidak pernah berciuman," ucap Mentari dengan suara yang hampir tenggelam.


Ujang langsung terkesiap kecil,,, karena Mentari seperti mengundang dirinya saat ini.


"Tari,, apa boleh?" tanya Ujang.


#####


Saat ini Mentari bergerak gelisah,, mungkin apa yang dilakukannya barusan benar-benar sangat konyol,, dirinya terbiasa memakai kemeja, kaos oblong longgar ataupun celana jins,, tapi apa yang dilakukannya sekarang ini? dia malah nekad memakai gaun tidur yang sempat dibelinya di salah satu toko yang berada di Kota tadi.


Bukan karena gaunnya yang sexy,, gaun itu hanya gaun tidur biasa, yang berlengan pendek dan juga hanya sebatas lutut saja, warna pink,, hanya saja melihat gaun itu yang penuh renda membuat Mentari menjadi geli sendiri,, itu bukan dirinya sama sekali.


Mentari sempat berperang dengan dirinya sendiri,, apa tujuannya memakai gaun tidur yang bukan selera nya seperti biasa,, apakah dirinya saat ini berubah menjadi genit dan ingin menggoda suaminya? Mentari malu sendiri memikirkannya. Tapi menggoda suami sendiri tentu tidak ada salahnya bukan? hal itulah yang menguatkan tekad Mentari,, entah kenapa pria itu begitu memikat hatinya,, sampai-sampai membuat Mentari begitu kreatif memikirkan ide ini.


Mentari memejamkan matanya,, Ujang lagi mandi saat ini,, menggunakan kamar mandi baru mereka,, yang telah selesai dikerjakan oleh Azis.


Mentari langsung pura-pura tidur saat merasa Ujang masuk ke dalam kamar,, Mentari bingung harus bagaimana,,, jadi supaya dirinya tidak salah tingkah di depan Ujang lebih baik dirinya pura-pura tidur saja.


Klik!!


Pintu sudah dikunci,, jantung Mentari semakin berdetak tidak karuan saja,, apakah malam ini akan terjadi hal yang iya-iya? ataukah Ujang kembali menahan dirinya lagi.


Sangat banyak hal yang berputar dipikiran Mentari saat ini,, apa tanggapan Ujang nanti? apakah saat ini dirinya terlihat aneh?


"Tari," ucap Ujang.

__ADS_1


Sentuhan lembut dari Ujang membuat Mentari menahan suaranya,, sentuhan itu hanya di lengannya saja,, sentuhan yang sangat lembut,, tapi kulit Mentari merespon berlebihan.


"Udah tidur ternyata," ucap Ujang sedikit lemas.


"Belum Abang,,,," ucap Mentari yang mendadak bangkit dari pura-pura tidurnya,,, matanya terlihat masih sangat terang,, Ujang menatapnya saat ini dengan tatapan mata tak terbaca,, mata Ujang menggelap dengan aura misterius.


"Abang?" ucap Mentari sambil tersenyum kaku,, nyali Mentari langsung menciut seketika.


"Sudah shalat isya,, Tari?" tanya Ujang sambil mengeringkan rambutnya yang basah,, Mentari pun langsung mengangguk. Mentari menahan nafas saat wangi sabun yang begitu harum menguat disekelilingnya.


"Aku suka bajumu," ucap Ujang.


Mentari bingung entah harus tersanjung atau bersyukur,, sungguh Ujang begitu sangat polos sampai tidak bisa membedakan mana gaun untuk menggodanya dan mana baju.


"Eh iya," ucap Mentari ada sedikit nada kecewa,, tapi juga ada perasaan lega, Mentari lalu mengamati gerak-gerik Ujang, pria itu terlihat mengecilkan kipas angin, mungkin Ujang merasa kedinginan sedangkan dirinya saat ini merasa kepanasan.


Suasana saat ini sangat canggung menurut Mentari, dia menahan nafasnya sendiri, ini sungguh mengesalkan ketika menghadapi pria yang tidak peka seperti Ujang.


"Bajunya beli dimana,, Tari?" tanya Ujang.


Baju lagi? ya sudahlah Mentari pasrah saja ketika Ujang menganggap itu hanya baju.


"Di Kota tadi Abang,, ada toko langganan disana,, punya teman sih, dan udah lama juga nggak mampir disana," jawab Mentari.


"Oh,"


Cuma oh saja,, Mentari menjadi kesal lagi.


"Besok beli yang ada talinya," ucap Ujang lagi.


Hah tali? Mentari sedikit terkejut dan juga wajahnya kini benar-benar memerah,, Ujang menoleh menatap wajah istrinya yang saat ini sedang salah tingkah.


"Tari,, apa aku harus menunggu lebih lama lagi?" tanya Ujang dengan suara yang agak serak,, Mentari benar-benar gugup ingin menjawab tapi dirinya malu.


"Tari, aku benar-benar takut menyakiti mu,, aku sangat takut kamu tidak ikhlas saat aku mengambil hak sebagai suami mu, aku memberikan waktu untuk kamu sebanyak apapun yang kamu mau," ucap Ujang.


"Ti.. tidak,, bu..bukan begitu," ucap Mentari gugup setengah mati.


"Katakan dengan jelas,, meskipun aku sudah terdesak,,, tapi aku bersedia jika harus menunggu lagi,, Tari," ucap Ujang.


Mentari tersanjung mendengar ucapan Ujang,, senyumnya langsung merekah,, Mentari mendekat lalu memeluk suaminya itu.


"Abang kita sudah punya banyak waktu,, jadi tidak ada lagi yang perlu dipikirkan," ucap Mentari sambil tersenyum malu.


Ujang tersenyum cerah,,, kalimat itu menandakan Mentari telah mau dimiliki seutuhnya oleh dirinya,, Ujang mengelus rambut Mentari, mengecup kening Mentari sekilas, membawa Mentari ke dalam pelukannya,,, lalu mencium bibir istrinya lembut hingga berubah menjadi ciuman yang menginginkan lebih. Mentari hanya pasrah saja menyerahkan dirinya seutuhnya kepada suaminya.

__ADS_1


Akhirnya malam pertama mereka yang sempat tertunda,, saat ini tengah berlangsung,, dengan penuh kenikmatan dan juga rintihan-rintihan yang terdengar dari Mentari. Sakit,, nikmat bercampur menjadi satu.


__ADS_2