
Kening mereka saat ini sama-sama menempel,, mereka sama-sama kesulitan menata nafas berat yang memburu,, Mentari bahkan saat ini masih memejamkan matanya menikmati sensasi baru yang dia dapatkan,, pengalaman baru yang sungguh manis. ini merupakan ciuman biasa tapi Ujang mampu memporak-porandakan pertahanan nya selama ini,, Mentari menyerah.
Tidak ada paksaan sama sekali,, mereka sama-sama belajar secara alami,, saling membujuk dan juga merayu,, lalu kemudian berhenti untuk mengatur nafas masing-masing.
"Aku sangat senang kamu tidak menolak aku,, Tari," ucap Ujang dengan suara berat yang mengalun indah di telinga Mentari,, menggetarkan hati Mentari. Tapi Mentari tidak bisa berkata apa-apa,, lidahnya mendadak kelu saat ini.
Mentari membuka matanya menatap sayu pada wajah yang kini sudah mulai ditumbuhi cambang sedikit,, Mentari tidak sanggup berkata apa-apa,, rasa kopi yang manis bahkan masih terasa di dalam mulutnya.
"Ayo kita tidur sekarang,, kita butuh istirahat," ucap Ujang sambil memegang bahu Mentari,, mengajak Mentari naik ke atas tempat tidur,, Mentari tidak punya kuasa atas dirinya sendiri,, Mentari hanya menurut saja.
"Mulai malam ini kita tidak boleh lagi tidur saling memunggungi,, Tari," ucap Ujang dan Mentari hanya mengangguk saja dengan pipi yang masih merona,, kemesraan singkat itu sungguh luar biasa dirasakan oleh Mentari.
"Selamat tidur,, Mentari,," ucap Ujang sambil mengelus lembut pipi Mentari sekilas,, lagi-lagi Mentari merasakan debaran jantungnya begitu kuat.
Mentari benar-benar salut dengan pengendalian diri Ujang,, disaat Mentari merasa masih kurang,, Ujang tampak tenang dan memberi Mentari waktu untuk mencerna situasi yang terjadi saat ini diantara mereka,, situasi bahwa mereka berdua masih pemula yang perlu sama-sama belajar,, mungkin untuk saat ini begitu sudah cukup untuk Ujang.
Tidak lama setelah itu Ujang sudah tertidur lelap,, wajah nya terlihat damai dan tenang,, ada gurat lelah yang Mentari sendiri ikut menanggungnya,, dan akhirnya Mentari tidak dapat tidur sampai subuh.
Pagi yang berbeda mungkin hanya bagi Mentari saja,, buktinya Ujang masih menampakkan ekspresi wajah tenang dan tetap bersikap seperti biasa,, padahal Mentari tidak bisa tidur setelah kemesraan yang sebentar namun manis itu.
"Abang mau dibuatkan apa?" tanya Mentari,, biasanya Mentari tidak akan bertanya seperti itu mengenai Ujang mau sarapan apa,, karena yang dia tau,, Ujang tidak pernah meminta,, Ujang akan memakan apa saja yang Mentari buatkan untuknya tanpa berkomentar sedikit pun.
"Terserah saja,, Tari," ucap Ujang dengan mata yang fokus ke meteran kayu,, padahal luka Ujang belum kering tapi Ujang masih aktif dengan tangan kirinya.
"Nasi goreng Abang mau?" tanya Mentari lagi.
"Iya boleh,, Tari," ucap Ujang tanpa melihat Mentari.
Mentari bertanya-tanya apa kejadian manis semalam tidak berpengaruh apa-apa untuk pria itu? hingga sampai saat ini dia begitu tenang,,, padahal Mentari sendiri seperti sudah tidak punya muka untuk melihat Ujang.
Tidak lama bagi Mentari untuk menyiapkan nasi goreng itu,, beberapa menit kemudian hidangan itu sudah ada di atas meja.
"Abang bisa makan dengan tangan kiri?" tanya Mentari lalu mengutuk dirinya sendiri,, apa saat ini dia lagi berharap untuk menyuapi Ujang,,, itu sungguh konyol,, Mentari malu sendiri memikirkan pertanyaannya.
"Bisa kok Tari,, sebenarnya aku kidal," jawab Ujang.
Ada rasa kecewa yang Mentari rasakan entah itu apa.
"Kamu tidak makan,, Tari?" tanya Ujang.
"Abang saja dulu yang makan,, tadi Tari habis minum susu jadi masih kenyang," jawab Mentari.
__ADS_1
"Baiklah," ucap Ujang.
Mentari lalu memandang wajah tenang itu,, Azis memang benar seandainya Ujang lebih rapi dengan mencukur jenggot,, dan kumisnya,, lalu memotong rambutnya juga, Ujang pasti akan terlihat lebih tampan,, sehingga bibir manis itu tidak terhalangi ketika mereka...
Mentari langsung menggelengkan kepalanya,, pikirannya begitu kotor saat ini,, sangat besar pengaruh Ujang saat ini bagi dirinya.
"Tari,, kamu kenapa?" tanya Ujang.
"Hah? tidak Bang,, aku hanya mengantuk saja," jawab Mentari.
"Tidur saja Tari,, semalam kamu kurang tidur," ucap Ujang.
Mentari benar-benar malu karena tertangkap basah,,, Mentari menyelipkan rambutnya ke telinga dengan perasaan gugup.
Siangnya mereka kedatangan tamu,, yaitu Pak Mamad dan juga istrinya,, Dika, Azis dan istrinya juga, suasana di rumah Ujang jadi ramai.
"Kenapa kamu pergi mancing nggak ngajak-ngajak,, kalau aku ikut kan jadi asik," ucap Pak Mamad.
"Kalau Pak Mamad ikut malah jadi repot,, karena tidak hanya suami Tari saja yang kena pohon tumbang,, tapi Pak Mamad juga, nanti pusing yang mana mau di urus," ucap Azis.
"Iya juga yah," ucap Pak Mamad.
"Kalau Ujang larinya cepat jadi bisa sedikit terhindar sehingga lukanya tidak terlalu parah,, sedangkan Pak Mamad larinya lama,," ucap Azis lagi.
"Aduh,, Pak Mamad tidak tau saja kalau rambut ini jadi model kekinian,," ucap Azis lagi.
"Model apa Azis? model ubanan yah?" ucap Pak Mamad sambil terkekeh.
"Hm sudah,, sudah,, ayo kita makan siang dulu,," ucap Ibu Mentari menengahi,, Mentari ikut membantu meletakkan hidangan di atas meja,, Ibu Mentari sengaja membawa sambal dan lauk yang banyak,, dengan alasan agar Mentari fokus merawat Ujang.
"Ayo aku sudah sangat lapar sekarang," ucap Pak Mamad sambil bangkit dari duduknya mengajak Azis dan istrinya ke meja makan.
Ujang sejak tadi hanya menjadi pendengar saja dan duduk di dekat Mentari,, ketika tangan kiri Ujang hendak mengambil piring,,, Mentari pun menghentikannya.
"Biar Tari aja yang ambilkan," ucap Mentari.
Ujang pun mengangguk.
"Lauknya apa?" tanya Mentari.
"Ini Ibu sengaja makan Ikan asin dan juga jengkol,, Ujang pasti akan sangat suka,, sebelum minum obat,, Ujang harus makan dengan lahap dulu," ucap Ibu Mentari.
__ADS_1
Mentari dan Ujang pun langsung saling pandang.
"Jangan siksa suami mu,, kalau kamu tidak suka makan jengkol dan Ikan asin jangan juga melarang suamimu,,, ayo Jang makan saja kalau Tari memarahi kamu bilang sama Ibu,, biar Ibu yang tanggung jawab," ucap Ibu Mentari.
Ujang pun tersenyum tipis.
"Nanti aku makan Ikan asin dan jengkol nya,, aku mau makan tumis kangkung dulu, bolehkan Bu?" ucap Ujang.
"Tentu saja, ini semua Ibu masak untuk kamu," ucap Ibu Mentari lagi.
"Terima kasih," ucap Ujang.
Mentari lagi-lagi terpana,, Mentari tau betul tadi Ujang sempat tertarik begitu Ibunya mengatakan Ikan asin dan jengkol,, tapi Ujang memilih memakan sayur saja,, apakah Ujang melakukan itu untuk dirinya? tiba-tiba Mentari merasakan debaran halus pada dadanya.
"Ujang makan yang banyak, kamu sangat membutuhkan energi untuk mengurus Mentari,, asal kamu tau saja Jang,, mengurus Mentari lebih susah jika dibandingkan dengan mengurus Dika," ucap pak Mamad.
"Mentari itu kalau maunya tidak dituruti bisa ngambek tujuh hari tujuh malam dia tuh,," ucap Ibu Mentari juga.
"Ibu sama Ayah kok kompak banget sih menjelek-jelekkan aku," ucap Mentari.
"Nah kamu lihatkan Jang?" ucap Pak Mamad lagi sambil terkekeh.
"Nanti kalau sudah punya anak pasti akan dewasa dengan sendirinya kok," ucap istri Azis.
"Yah memang harus dewasa nanti,, massa saingan sama anak sendiri," ucap Ibu Mentari juga sambil terkekeh.
Mentari cemberut,, tapi tiba-tiba sebuah sentuhan hangat terasa dijemarinya,, Ujang menggenggam tangan Mentari dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya masih aktif menyuap nasi.
Mentari menoleh tapi Ujang terlihat fokus dengan piringnya,, Mentari tau genggaman itu bertujuan untuk menenangkan dirinya,, seolah-olah Ujang mengatakan bahwa Mentari tidak sendiri,, ada dia yang akan membelanya.
"Mau punya anak berapa nanti Tari?" tanya Azis.
"Hah?" Mentari tampak terlihat kebingungan.
"Aku ingin cucu yang banyak,, kakaknya Mentari tinggal terpisah,, Mentari sekarang ikut suaminya,, tinggallah Dika saja yang bandel ini di rumah,," ucap Pak Mamad.
"Ayah," ucap Dika yang protes,, sejak tadi dirinya hanya diam saja tapi kena juga.
"Nah kamu dengarkan Jang,,, Pak Mamad ingin punya cucu yang banyak,," ucap Azis sambil terkekeh geli,, sedangkan Mentari pipinya langsung merona.
Belum sempat Mentari menjawab tiba-tiba ada suara yang terdengar dari pintu masuk.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap Marni.
Marni muncul dengan senyum termanisnya.