Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Bahagia itu sederhana..


__ADS_3

Mentari mendapatkan tawaran kerja sebagai guru honorer di SDN 20 yang tidak jauh dari rumahnya. Sekolah itu terletak diperbatasan desa, cukup ditempuh dengan mengendarai motor selama dua belas menit melewati jalan menurun dan juga berkerikil. Sekolah negeri itu baru diresmikan oleh pemerintah tiga tahun yang lalu, jadi angkatan pertama masih duduk di kelas tiga,, seluruh murid berjumlah tujuh puluh orang. Dua belas orang guru yang rata-rata Pegawai Negeri Sipil.


Mentari diminta mengajar ilmu komputer di kelas satu sampai kelas tiga, jam nya tidak banyak hanya enam jam saja satu minggu,, setidaknya Mentari bisa mencari kesibukan lain selain mengurus rumah.


Kandungan Mentari sudah berusia tujuh bulan saat ini,, tapi besarnya sudah seperti sembilan bulan saja,, namun dia bukanlah wanita hamil yang malas bergerak, bahkan jika pekerjaan rumah sudah selesai,, dia membantu mengecet perabot buatan suaminya.


Mentari sangat senang saat keinginan nya untuk bekerja disetujui oleh suaminya, selain jaraknya yang dekat dari rumah, Mentari hanya perlu datang di jam mengajar saja jika jam nya kosong dia tidak perlu ke sekolah.


"Belum datang suamimu,, Tari?" tanya salah satu guru bahasa Inggris yang seusia dengan Mentari,, wanita itu belum menikah statusnya juga masih guru honor,, dia baru lulus tahun lalu.


"Belum,, mungkin sebentar lagi," jawab Mentari.


Wanita yang bertanya tampak memakai helm nya dan juga menarik motornya dari parkiran.


"Oh,, kalau gitu aku duluan yah,, Tari,," ucap wanita itu lagi.


"Iya hati-hati di jalan yah," ucap Mentari.


Selain mereka seumuran mereka juga sekelas waktu SD,, dia tinggal di desa tetangga, desa yang hanya dipisahkan oleh sungai kecil sebagai pembatas kedua desa.


Kondisi sekolah sudah terlihat sepi, karena para siswa di jemput lebih awal oleh orang tua mereka masing-masing, rumor penculikan anak yang lagi marak membuat orang tua dan pihak sekolah lebih hati-hati. Beberapa guru yang piket pun pulang satu-satu,, tapi masih ada juga yang masih betah duduk di kantor.


Mentari langsung bernafas lega saat melihat motor Ujang telah muncul di gerbang sekolah. Motor baru yang mereka beli tiga bulan yang lalu.


"Maaf Tari,, tadi Pak Heru mengajak aku ngobrol,, jadi aku agak terlambat menjemput mu," ucap Ujang sambil memakaikan helm untuk Mentari.


Sejak Mentari hamil,, Ujang memang tidak mengizinkan istrinya itu membawa motor sendiri,, kalau mau kemana-mana harus diantar oleh dirinya.


"Nggak kok Bang,, masih ada guru lain di kantor,," ucap Mentari sambil memegang bahu Ujang sebagai tumpuan, dia mengangkat badannya yang berat agar dia bisa duduk di jok motor.


Mereka telah melakukan USG bulan lalu,, dan berkah Allah mereka diberikan dua bayi sekaligus,,, anak mereka kembar laki-laki dan perempuan, hal itulah yang menyebabkan perut Mentari lebih besar dari usia kandungannya.


Mentari masih sangat ingat betul, Ujang menitikkan air mata haru saat dokter mengatakan ada dua bayi di dalam perut Mentari,, tidak pernah melihat Ujang sebahagia itu,, bahkan Ujang sudah berinsiatif mengadakan syukuran dan mengundang anak yatim ke rumah mereka.


"Abang," ucap Mentari sambil melingkarkan tangannya erat di perut Ujang.

__ADS_1


"Iya,, Tari," ucap Ujang sambil fokus mengendarai motornya.


"Perut Abang," ucap Mentari sambil terkekeh kecil.


Sejak Mentari hamil,, perut suaminya ikut membesar juga dan itu membuat Mentari merasa lucu.


"Mulai besok aku akan olahraga lagi," ucap Ujang cepat.


Tubuhnya selama ini menjadi andalan untuk menarik perhatian istrinya itu,, tapi sekarang dia malah ikutan hamil juga.


"Nggak apa-apa kok Abang,, asal jangan cacing saja isinya," ucap Mentari lalu terkekeh geli.


"Ini karena makan ku sudah tidak terkontrol lagi,, habis masakan kamu selalu enak, membuat aku makan terus,, pegangan Tari,, kita mau mendaki," ucap Ujang.


########


Mereka baru saja menyelesaikan shalat isya berjamaah,, seperti biasa Mentari akan mengeluhkan betisnya yang sakit,, perut besarnya itu tidak seimbang dengan tubuhnya yang masih ramping,, kadang Mentari merasa sesak nafas kalau makan terlalu banyak.


Tangan Ujang dengan telaten memijat betis Mentari,, itu adalah kegiatan rutin yang selalu dilakukannya setiap malam, bahkan tidak jarang Mentari akan tidur keenakan.


Mentari masih ingat dengan jelas ucapan salah satu ibu-ibu,,, Ibu itu baru masuk setelah cuti melahirkan, dia mengatakan betapa beratnya menjadi ibu baru,, dia bahkan akan begadang tiap malam untuk mengatasi bayi nya yang rewel. Belum lagi cerita tentang sakitnya melahirkan membuat Mentari langsung ngeri sendiri.


"Terus?" tanya Ujang belum puas dengan cerita Mentari. Tangannya kembali memijat betis Mentari yang belum membuka mukena nya itu.


"Kalau kita bagusnya gimana Abang? apa kita akan memakai KB juga?" tanya Mentari.


Ujang tampak merenung sejenak.


"Jangan,, aku suka punya banyak anak Tari, dulu aku adalah anak satu-satunya dan sangat tidak enak jika main sendiri,," ucap Ujang sambil mengingat dirinya yang masih kecil selalu meminta adik, bahkan selalu memaksa ibunya ke rumah sakit untuk membawa pulang seorang adik,,, pemikiran yang sangat sederhana waktu itu,, Ujang pikir rumah sakit bisa memberikan bayi pada siapa saja,,, karena dalam pengamatan Ujang yang masih kecil,, setiap orang yang pulang dari rumah sakit, selalu membawa bayi.


"Kita sudah punya dua,, Abang," ucap Mentari.


"Baru dua,, belum dua belas," ucap Ujang sambil tersenyum manis melihat istrinya itu.


"Hah dua belas? ya ampun ada anak sebanyak itu?" tanya Mentari kaget sendiri.

__ADS_1


"Ada Pak Heru, empat belas bersaudara malah," ucap Ujang.


"Luar biasa sekali ibunya,, tidak terbayang punya anak sebanyak itu," ucap Mentari.


"Kita tidak usah sebanyak itu,, setengahnya aja jadilah,," ucap Ujang.


"Tujuh Abang?" ucap Mentari sambil membulatkan matanya,, mulutnya menganga alangkah repot nya memiliki tujuh anak.


"Iya bisa kurang sedikit jadi enam," ucap Ujang sambil mengulum senyumnya.


"Tari,, maunya tiga aja Abang," ucap Mentari.


"Tiga kali melahirkan tapi kembar semua kan jadi enam juga," ucap Ujang.


"Hah alangkah repot nya,," ucap Mentari.


"Repot nya kalau masih kecil-kecil aja,, kalau udah besar nanti pasti enak, apalagi kalau sukses semua,, aku tidak mau anak-anak ku menjadi seperti aku,, Tari,, terkurung di desa ini tanpa melihat dunia luar," ucap Ujang. Ada ekspresi wajah sedih di wajahnya itu.


"Nah itu Tari heran juga,, keluarga Abang itu terkenal berada,, tapi kok Abang nggak sekolah tinggi-tinggi?" tanya Mentari.


"Di zamanku dulu lulus SMA saja sudah bisa dikatakan sekolah tinggi, rata-rata teman ku itu lulus SD saja, saat itu aku tidak pernah terpikir untuk kuliah, orang tua ku juga tidak pernah memaksa aku, setelah lulus SMA aku kerja bantu-bantu Ayah buat perabot,," ucap Ujang sambil membantu Mentari duduk, kemudian beralih memijat tengkuk Mentari setelah melepaskan mukena istrinya.


"Tapi saat ini pendidikan sangat penting, aku ingin anak-anak kita di sekolah kan di pesantren, setelah itu lanjut kuliah ke Timur Tengah,, kita tidak perlu anak kita kaya, Tari,, tapi mereka bisa mendoakan kita saat kita sudah tiada nanti,, terkadang bukannya menyesali Ayah dan Ibu, mereka tidak cukup tegas mengajari aku ilmu agama,, mereka pergi dengan meninggalkan harta warisan yang banyak," ucap Ujang lagi.


Mentari memeluk Ujang,, memeluk punggung suaminya itu,, apa kabar dengan dirinya? yang masih enggan menggunakan jilbab? bukankah sebentar lagi dia akan menjadi orang tua? Mentari merasa tertampar sendiri.


"Kita harus banyak belajar dulu karena pendidikan pertama anak itu adalah di rumah,," ucap Mentari.


Ujang baru saja akan menyahut,, saat tendangan keras menyentuh perutnya,, mereka sama-sama tertawa,, sambil melihat perut Mentari yang bergerak bergelombang.


"Mungkin mereka sedang berkelahi,," ucap Mentari di sela tawanya.


"Atau mereka merasa terganggu karena ditimpa perut Ayahnya," ucap Mentari lagi.


Mereka langsung tertawa lagi,, bahagia itu sederhana,, syukuri dan nikmati,, itu pesan Almarhum Ayah Ujang dulu.

__ADS_1


__ADS_2