Memaksa Perjaka Tua Menikah

Memaksa Perjaka Tua Menikah
Indri iri...


__ADS_3

Semuanya langsung bernafas lega saat Ujang menekan dada Indri beberapa kali hingga Indri mengeluarkan air dari mulutnya,,, air yang sudah masuk ke paru-parunya tadi. Semua orang yang dilanda penasaran langsung berkerumun, siapa korban tenggelam yang baru saja diselamatkan itu, kondisi di tepi sungai memang lumayan ramai,, tidak hanya mereka satu posko saja yang bermain di sungai itu,, tapi mahasiswa lain juga yang tinggal di posko yang dekat dengan sungai.


"Kamu tidak apa-apa kan,, Indri?" tanya Andre sambil mendekati Indri,,membantu gadis itu untuk duduk,, karena Ujang langsung menjauh begitu melihat Indri sudah bisa mengeluarkan air yang sempat ditelannya tadi, Indri melirik Ujang sejenak dengan nafas yang masih agak sesak, Indri melihat Ujang yang selalu menjaga jarak dengan wanita manapun,, Ujang hanya dekat dengan istrinya saja buktinya setelah tadi Ujang menolongnya,, tampak Ujang langsung menjauhinya tanpa membantu dirinya untuk bangun padahal dirinya juga cantik di kampus banyak pria yang memuja dirinya dan ingin dekat dengannya tapi Ujang tidak sama sekali,, Ujang tidak pernah menunjukkan ketertarikan padanya sedikit pun,, dan itu tipe pria dia,,, sedangkan Andre benar-benar dilanda kekhawatiran, sebagian orang masih berbisik-bisik sambil melihat Indri, sementara sebagiannya lagi telah bubar dari kerumunan.


Indri langsung menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak apa-apa," ucap Indri,, dia tahu laki-laki di dekatnya ini sedang menaruh hati padanya, Andre sering sekali kedapatan menatap dirinya, dia sudah biasa dipuja laki-laki seperti Andre,, itu sudah sangat biasa bagi Indri tidak ada yang spesial.


Akan tetapi kenapa di saat dia hampir mati, pria yang di dekatnya ini masih berpakaian kering, padahal pria itu sudah meraih juara lomba renang tingkat nasional, jika memang pria itu mengaguminya,, bukankah dia mestinya bersikap sebagai pahlawan? Indri sangat benci laki-laki pengecut.


"Bang Ujang yang menyelamatkan aku?" tanya Indri pura-pura bertanya padahal dia sudah tahu lalu melirik Ujang, Ujang sama sekali tidak mengatakan apa-apa setelah menolong dirinya dan malahan menjauhi dirinya,, saat ini Ujang bahkan terlihat sibuk mengobrol dengan orang lain yang ingin tahu dengan kejadian barusan.


"Aku kalah cepat," ucap Andre sambil tersenyum kecut.


"Bahkan dengan umurmu yang jauh lebih muda dari Bang Ujang,, kamu bisa kalah cepat,, apa artinya lomba renang mu selama ini?" ucap Indri lalu bangkit dibantu dengan Ratu.


Andre tidak menjawab hingga panggilan Bang Azis membuat mereka langsung berjalan ke arah parkiran, mereka akhirnya pulang ke posko, acara bermain yang hampir merenggut nyawa Indri itu berakhir.


Mentari yang sedang memasak heran begitu melihat mobil Ujang yang datang, Mentari sudah memprediksi, mereka akan datang paling cepat satu jam kemudian,, itu makanya dia menyiapkan cemilan saat ini.


"Kenapa cepat sekali?" ucap Mentari heran dan mentari lebih heran lagi begitu melihat Ujang yang basah kuyup.


"Abang kenapa?" tanya Mentari.


"Basah, Tari," ucap Ujang,, kemudian mata Mentari menangkap sosok Indri yang juga tidak kalah basah kuyupnya.


###########


"Ada apa sebenarnya Abang?" tanya Mentari menyusul Ujang ke kamar, dia melihat Indri telah diantar oleh Ratu ke kamar mereka.


"Anak itu terpeleset masuk ke sungai dia tidak bisa berenang, aku menyelamatkan dia," jawab Ujang sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, lalu membuka lemari dan mengambil pakaian bersih.


"Abang melompat ke sungai?" tanya Mentari seakan tidak percaya.


"Iya," jawab Ujang,, tadi Ujang tidak tau juga sebenarnya bahwa Indri yang tenggelam,, tadi dia hanya berniat menolong orang yang tenggelam saja.


"Lalu?" tanya Mentari.


"Aku menolong dia sampai dia sadar kembali," jawab Ujang.


"Memberi nafas buatan?" tanya Mentari dengan ekspresi wajah yang sudah menegang. Yang dia tahu, memberi nafas buatan selalu dilakukan sang penyelamat jika menyelamatkan orang yang tenggelam, hatinya sungguh benar-benar panas jika Ujang melakukan hal itu.


Ujang langsung tertawa sambil mengusap gemas rambut istrinya itu.


"Kamu terlalu banyak nonton film," ucap Ujang.


"Menolong korban yang tenggelam kan memang seperti itu," ucap Mentari.


"Itu hanya salah satunya saja," ucap Ujang.


"Terus Abang pakai cara apa?" tanya Mentari.


"Menekan dadanya," jawab Ujang dengan santai karena waktu dia menyelamatkan Mentari yang masih kecil juga seperti itu, itulah yang dia lakukan dulu pada Mentari juga.


"Apa?" ucap Mentari dengan suara yang makin kesal.


"Iya menekan dadanya istriku kan dia tenggelam,, masa aku menekan kakinya,, waktu kamu tenggelam aku juga menekan dada mu waktu itu," ucap Ujang apa adanya.


"Abang Tari sekarang lagi serius," ucap Mentari yang benar-benar sebal,, karena sekarang malah dijadikan bahan lelucon.


"Abang juga serius," jawab Ujang.

__ADS_1


"Tadi Abang bilang menekan dadanya," ucap Mentari.


"Iya menekan dadanya bukan memegang," ucap Ujang yang mulai mencium aroma kecemburuan istrinya,,, istrinya itu wanita yang cepat cemburu meskipun sebenarnya bukan seperti yang dipikirkannya yang terjadi,, tapi dia pasti akan cepat cemburu, padahal keputusan untuk menerima anak KKN dialah yang bersikeras,, malahan waktu itu Ujang tidak mau menerima anak KKN.


"Sama saja itu," ucap Mentari.


"Berbeda istriku yang cantik," ucap Ujang.


"Apa bedanya?" tanya Mentari.


"Kalau memegang itu seperti ini," ucap Ujang yang mempraktekkan langsung apa itu memegang di tubuh Mentari.


"Abang ishhh," ucap Mentari marah, bagaimana bisa suaminya itu mempraktekkan padanya dengan santai di tengah kecemburuannya saat ini.


"Sudah tahu kan bedanya,, jadi kesimpulannya jangan marah," ucap Ujang.


"Tari tidak marah," ucap Mentari.


"Tapi wajahmu cemberut dan terlihat cemburu,," ucap Ujang.


"Tidak sama sekali," ucap Mentari menolak untuk mengakuinya.


"Iya," ucap Ujang lagi sambil mengelus lembut pipi istrinya.


"Tidak," elak Mentari.


"Biar ku lihat dulu mana yang tidak cemburu," ucap Ujang lalu menarik tengkuk Mentari. Tapi bukannya melihat dia malah mencium bibir wanita cantik yang sedang cemburu itu,, padahal itu sesuatu yang tidak perlu dia cemburukan, dan hal itu membuat Mentari berontak kesal.


"Tari lagi tidak bercanda," ucapan Mentari.


"Abang juga tidak istriku," ucap Ujang.


"Nah ini apa?" ucap Mentari sambil mengusap


"Aku serius kalau tidak serius,, aku tidak mungkin lakukan itu," ucap Ujang.


"Abang,, kita itu sekarang lagi membahas Indri," ucap Mentari


"Aku tidak tertarik sama sekali lebih tertarik membahas kamu saja! ayo bagian mana yang mau dibahas apa bagian yang dipegang tadi," ucap Ujang.


"Abang," ucap Mentari sambil memukul tangan nakal Ujang yang ingin beraksi lagi.


"Abang bercanda terus," ucap Mentari lagi.


"Aku salah lagi? kamu cemburu padahal kamu tak perlu cemburu karena wanita yang aku sangat cintai itu hanya kamu saja tidak ada yang lain dan tidak pernah ada niat untuk macam-macam," ucap Ujang.


"Tidak,, Tari tidak cemburu," ucap Mentari.


"Terus?" tanya Ujang.


"Tidak apa-apa," ucap Mentari sambil membelakangi Ujang.


"Tari, dengarkan abang dulu," ucap Ujang sambil menarik bahu Mentari agar menghadap kepadanya.


"Dia tenggelam terus aku menyelamatkannya dan kalaupun bukan dia yang tenggelam tadi aku akan tetap menyelamatkan orang itu dengan cara seperti tadi, Abang saja tidak tahu tadi siapa yang tenggelam,, abang langsung pergi menolong saja. Terus salah Abang di mana?" tanya Ujang.


"Tidak ada yang salah tapi memegang Indri..," ucap Mentari.


"Ya allah,, menekan Tari bukan memegang," ucap Ujang.


"Sama saja kenapa mesti ditekan," ucap Mentari.

__ADS_1


"Tentu beda kan tadi Abang sudah praktekkan perbedaan menekan dan memegang,, kalau tidak ditekan dia pasti akan mati tadi,, dan pasti kita akan merasa bersalah jika ada yang meninggal karena mereka juga tinggal di rumah kita," ucap Ujang.


"Kenapa mesti Abang kan ada orang lain," ucap Mentari.


"Trus siapa lagi bang Azis? nah kalau dia pasti memegang bukan menekan," ucap Ujang.


"Hmm terserah Abang lah," ucap Mentari yang sudah kalah telak.


Ujang hanya menggaruk keningnya yang tidak gatal.


##########


"Bagaimana perasaanmu?" tanya Ratu kepada Indri begitu selesai membuatkan teh hangat untuk temannya itu.


"Sudah lebih baik,, aku pikir aku akan mati tadi,, alangkah konyolnya jika aku benar-benar mati," ucap Indri sambil tersenyum geli.


"Padahal aku sudah memperingatkanmu tadi,, tapi kamu tetap saja keras kepala, untung saja Bang Ujang menyelamatkan kamu," ucap Ratu.


Indri mendekati Ratu lalu menatap Ratu dengan ekspresi wajah serius.


"Kamu melihat bagaimana dia menyelamatkan aku tadi?" tanya Indri.


"Tentu saja aku lihat,, karena aku yang menjerit dengan panik, tanpa pikir panjang Bang Ujang langsung naik ke pagar beton dan meloncat dari sana," ucap Ratu seperti yang dilihatnya.


Mata Ratu terlihat jelas berbinar kagum begitu mengingat kejadian itu.


"Aku berhutang nyawa pada dia,, andaikan terlambat sedikit saja, entahlah!" ucap Indri sambil mengela nafas,, Indri langsung membayangkan wajah kedua orang tuanya.


Indri pun bangkit dari duduknya.


"Mau kemana?" tanya Ratu.


"Mau ketemu Bang Ujang," jawab Indri.


"Aku ikut," ucap Ratu.


Mata mereka menemukan Ujang tengah asik berbicara dengan Doni dan Andre,, mata Andre langsung berbinar begitu melihat kedatangan Indri.


Indri duduk di dekat Doni sekilas dia melirik Andre.


"Bagaimana keadaanmu Indri," tanya Doni.


"Aku jauh lebih baik," jawab Indri sambil melihat pada Ujang yang tampak tidak tertarik sama sekali.


"Hmm....Bang Ujang," ucap Indri.


Ujang pun melihat ke arah Indri menunggu apa yang akan dikatakan oleh anak itu yang tampak terlihat gugup saat ini.


"Saya mengucapkan banyak terima kasih,, karena Bang Ujang sudah menyelamatkan nyawa saya," ucap Indri.


"Sama-sama,, lain kali berhati-hatilah!" ucap Ujang dengan santai,, lalu dia segera bangkit dari duduknya.


"Anak-anak batas waktu bercerita hanya sampai jam sembilan malam saja, setelah itu kalian harus berada di dalam kamar masing-masing, subuh-subuh harus bangun tidak ada yang boleh tidur sampai jam tujuh pagi, paham?" ucap Ujang.


"Paham Bang," ucap mereka serentak,, namun Indri terus memandang punggung Ujang yang semakin menjauh masuk ke dalam kamarnya.


"Bukankah Bang Ujang itu adalah laki-laki yang sangat dingin? sama seorang Indri pun dia sangat dingin,," bisik Ratu.


"Tidak sama sekali,, aku tidak sengaja melihat dia menggendong Kak Mentari tadi sore,," ucap Indri yang tidak menyangka ada pria yang sangat cuek padanya,, padahal Indri sangat melihat jelas,, bagaimana Ujang tersenyum pada Mentari dan bagaimana dia memanjakan Mentari. Sedangkan pada wanita lain tidak senyum sama sekali,, boro-boro mau senyum dilihat pun tidak.


Dari situ Indri tau bahwa Ujang tidak dingin sama sekali pada orang yang dia cintai,, Indri menyukai pria yang seperti itu,, entah mengapa dia iri pada Mentari.

__ADS_1


Percakapan kecil mereka itu terdengar ditelinga Andre.


__ADS_2